
Maghala seketika merasakan ngilu menjadi berkali lipat sakitnya. Dia sejenak mengabaikan Asha sebab mulut terasa asin akibat rembesan darah. Dia menuju bathroom untuk berkumur.
Ketika dia kembali, Ghala melihat Asha telah mengambil kotak obat dan kini ada di pangkuannya. Wanita ayu pun mendekat lalu menarik jemari Ghala agar duduk di dekatnya.
Tanpa suara, Ghala mengikuti keinginan Asha. Jemari lentik membuka kotak perlahan sebab pergelangan tangannya masih terlihat biru. Dia mulai membubuhkan cairan antiseptik pembersih luka di atas kapas.
Wanita ayu, menempelkan kapas tadi ke lipatan luka. "Awh! pelan, Asha," pinta Ghala, sudut bibirnya tertarik ke atas meringis menahan perih.
Ashadiya sekilas menatap manik mata Ghala, lalu menekan kuat di area robekan agar darah segar berhenti. Maghala menggelinjang akibat tekanan tangan Asha pada lukanya.
"Awh! sakit!" pekik Ghala terhenyak hingga air matanya menggenang, tapi dia tak beranjak. Ngeri akan lirikan tajam pemilik mata sipit.
"Diem!" titah sang nyonya Sakha. Asha mengganti kapas dan membubuhkan obat oles agar luka Ghala cepat mengering.
Jarak antara wajah yang kian dekat, hembusan nafas Asha menyapu sebagian bibir, membuat Ghala berdebar. Dia dapat melihat betapa sehat pori kulit istrinya, mulus dan glowing.
Netra teduh itu tak berkedip bahkan Ghala menahan nafasnya agar Asha tak menghirup aroma besi dari bekas luka yang mengeluarkan darah. (senyawa fe : zat besi, dalam darah kadang terasa asin dan anyir)
"Nah, selesai. Obatnya akan meresap ke dalam luka jadi gak bakalan berkerak dan membuatmu susah bicara nanti," jelas Asha, membelai wajah Ghala seraya membersihkan sisa obat yang menempel di sekitar wajah.
Ashadiya segera mundur, meletakkan kembali kotak obat di dekat meja nakas, lalu dia bersiap keluar kamar untuk memanggil Denok. Dia berusaha melupakan kekesalan sebab pertanyaannya tak di jawab Ghala.
Maghala melihat kepergian Asha bertepatan dengan dering ponsel yang berbunyi. Dia membiarkan istrinya keluar kamar sementara menerima panggilan.
"Ya, Hilmi. Bagaimana?" tanya Ghala, bangkit berjalan menuju balkon.
"Lancar, Tuan muda. Aku memerlukan tanda tangan Anda untuk memproses semua ini agar dokumen legalitas atas nama Maghala Sakha selesai," ungkap Hilmi, terdengar riuh suara beberapa pria di belakangnya.
"Itu suara para lawyer?" ujar Ghala lagi.
"Benar ... oh, iya, video sudah aku kirimkan by email, Tuan muda. Juga tentang bantuan dana untuk Cyra, bagaimana? apakah dilanjutkan atau tidak?" sambung sang asisten Janu di ujung sana.
__ADS_1
Jeda.
Maghala menimbang. Jika di gelontorkan saat ini, semua aset miliknya habis tak tersisa tapi dia belum dapat memprediksi pasti kapan akan ROI alias return of Investment (balik modal).
Dia dan Hilmi belum diskusi lebih lanjut tentang BEP (break even point, hitungan impas) berdasarkan laporan penjualan Cyra yang fluktuatif akibat dampak kecurangan. Data tersebut akan dia minta sebab kini telah menjadi haknya sebagai salah satu dewan direksi dengan status kepemilikan saham kedua terbesar setelah sang pimpinan.
Hening.
"Halo, Tuan muda?" sebut Hilmi merasa Maghala diam terlalu lama.
"Kita bahas nanti. Aku ingin melihat kinerja Adhisty setelah ini. Jika dia tak sigap mengambil keputusan dan tindakan untuk menutup ulah Alka. Memperbaiki kualitas produksi, maka kepercayaan publik dan end user akan terkikis. Daripada memikirkan menambah investasi, lebih baik aku genjot dulu kekuatan management mereka."
"Kita ajukan penyeleksian skill karyawan dan staf. Geser orang-orang yang bersekongkol dengan Alka, ganti dengan yang kompeten. Berikan sanksi tegas sebagai efek jera atau dispensasi setelah mereka menunjukkan kinerja berbeda dalam tri wulan ... minta grafik traffic customer dan langkah promosi yang dilakukan management. Itu dulu," titah Ghala panjang, matanya memandang hamparan langit luas.
Adhisty memperoleh suntikan dana Sade, dia harus membayar piutang dalam satu quartal depan. Sementara kinerja perusahaan masih belum berubah signifikan. Maka perombakan staf menjadi pilihan utama. Sama-sama bertaruh akan keberhasilan, tetapi atmosfer internal manajemen pasti akan berubah lebih positif dan itu bisa memicu semangat, ide lebih berkembang.
"Good, oke, Tuan muda. Anda kian jeli," puji Hilmi terhadap langkah yang diambil Ghala. Asisten Janu pun tersenyum meski Maghala tak melihatnya.
Merasa sudah terlalu lama membiarkan Asha di luar seorang diri, Maghala memutuskan menyusul dan mencari istrinya keluar kamar.
Maghala tak menemukan Ashadiya di ruang keluarga. Bahkan teras depan atau samping hunian. Ghala cemas wanitanya celaka.
"Asha, Asha!" teriak Ghala menyusuri sisi rumah.
Setelah beberapa menit memutar, tak jua dia temukan istrinya.
"ASHA!" teriak Ghala mengundang perhatian tukang kebun di sana.
Lelaki paruh baya, tergopoh menghampiri Ghala di teras depan Mansion. "Den, non Asha lagi belajar nginjek rumput dan bawa perlengkapan melukisnya. Di sana," ucap tukang kebun, menunjuk Asha di ujung Mansion. Wanita ayu itu terlihat mengecil di bawah naungan pohon Kamboja yang rindang.
"Makasih, Pak," jawab Ghala, menganggukkan kepalanya untuk si tukang kebun.
__ADS_1
"Pantas gak denger, dia pakai headphone? kebiasaan baru yang aku harus hafalkan," gumam Ghala, berjalan menyusuri rerumputan menuju ke tempat istrinya berada.
Putri bungsu Cyra, tengah menggerakkan perlahan telapak kakinya. Bergeser ke kanan dan kiri meski masih duduk di kursi roda. Asha hanya melipat panel tumpuan kaki agar tungkainya menyentuh tanah.
Di hadapan wanita ayu, terpampang kanvas besar juga meja kecil tempat berbagai macam kuas lukis dan cat diletakkan di sana. Asha juga terlihat memutar pergelangan tangan agar syarafnya melemas. Ghala hanya menyaksikan kegiatan Ashadiya dari jarak beberapa meter.
"Go on, Sayang. Aku gak akan membantumu. Kau ingin mencoba bangkit sendiri, kan?" gumam Maghala, dia hanya berdiri, melipat kedua lengan di depan dada.
Sebuah ide gila kini muncul. Ghala akan meminta Janu untuk membantu pembiayaan pengobatan Asha ke luar negeri atau mendatangkan tenaga ahli khusus syaraf dan tulang sehingga istrinya lebih cepat pulih, sebagai hadiah pernikahan untuknya jika dipaksa menggantikan Mada dalam waktu dekat.
Ashadiya pasti tengah mengincar sesuatu setelah melihat Anggun malam itu. Dia rela menahan sakit sedemikian rupa jika terapis datang ke rumah untuk fisioterapi.
Ghala mengamati istrinya dalam diam. Dia telah terbiasa berdiri dalam jangka waktu lama saat berjualan dulu. Ternyata, itu ada gunanya juga. Tiba-tiba dia teringat Karim, sang sahabat yang menjadi teman seperjuangan. Apa kabar keluarganya di kampung sebab Karim lama tak berjualan.
Dalam renung, tiba-tiba suara lembut mengaburkan lamunannya. "Ghala, bagus tidak?" tanya Asha, tak menoleh, dia menyadari bahwa Ghala memperhatikan dan berada di belakangnya.
Guratan halus, tekanan garis tegas, beberapa lekukan samar, menjadi objek abstrak yang Asha torehkan di kanvas.
"Kau sedang meluapkan perasaanmu?" tebak Ghala, berjalan mendekat lalu berjongkok di sisi Asha.
Ashadiya menoleh, menatap Ghala. "Ehm, kau...."
.
.
...____________________...
...Hilmidar...
__ADS_1