BUKAN MENANTU BIASA

BUKAN MENANTU BIASA
BAB 41. ITS ME


__ADS_3

Satu pekan kemudian.


Ashadiya telah diizinkan pulang, tapi dia meminta Ghala agar membawanya ke tempat fisioterapi untuk berlatih berdiri.


Maghala sangsi tapi dia tak ingin menolak permintaan Asha sebab khawatir akan mematahkan semangatnya untuk bangkit. Pasangan muda Cyra pun kini menuju poly lain, masih di rumah sakit yang sama.


Setelah berbincang beberapa saat dengan dokter yang biasa menangani Asha. Wanita itu melihat ke arah Ghala, seakan meminta persetujuan juga tambahan semangat saat kakinya mulai menyentuh lantai.


Maghala mengangguk, siaga merentang tangan untuk menopang pinggang wanitanya kala akan bangkit.


"Bisa yuk, pelan Asha," ujar sang pria. Tak rela jika tubuh istrinya di sentuh bukan oleh mahram kecuali kondisi darurat seperti kemarin. Ghala mengizinkan Asha dan mengucap kata ridho untuknya sebelum dilakukan tindakan.


"Takut," cicit Asha, dahinya mulai mengeluarkan keringat. Bahkan telapak tangan pun ikut basah akibat gugup.


Maghala tak banyak bersuara, dia meraih pinggang Ashadiya dan meminta kedua lengannya bertumpu pada bahu Ghala.


"Bismillahirrahmanirrahim," bisik Maghala tepat saat akan memapah Asha berdiri.


Tenaga medis membantu menarik kursi roda tersebut agar keduanya leluasa. Maghala lalu meminta Asha berpegangan pada tiang besi sebab kakinya belum mampu menopang. Meski tiada rintihan keluar dari mulut Asha, akan tetapi Ghala tahu, dia menahan sakit.


Ghala menghapus keringat yang muncul dengan telapak tangan kanannya seraya mulai meminta Asha melangkah meski beban tetap berada di Maghala, Asha hanya mampu menyandarkan diri ke tubuh tegap sang suami.


"Jangan dipaksa, pakai besi penopang kaki dulu mungkin lebih baik agar kondisi tulang belakang tidak bergeser, bagaimana?" bisik Ghala, masih memeluk pinggang Asha saat belajar meniti tepi tiang.


Permintaan Maghala di setujui oleh dokter, latihan berjalan pun urung di lanjutkan. Progres Ashadiya sudah kian baik jika di bandingkan dulu sebelum dia merespon segala jenis bantuan Ghala.


Keduanya lantas melanjutkan segala prosedur untuk menunjang proses Asha untuk dapat berjalan normal kembali. Mengukur panjang penopang hingga memilih material bahan yang digunakan agar kaki Asha nyaman menggunakan alat bantu dalam jangka waktu lama.


...***...


Sepuluh hari kemudian.


Hilmi menghubungi Maghala agar bersiap sebab esok pagi Cyra akan menggelar rapat internal khusus direksi dan jajaran management.

__ADS_1


Adhisty awalnya tak menyetujui hal tersebut, akan tetapi suara kesepakatan terbanyak mendesak sang pimpinan untuk segera menggelar rapat, guna mengenalkan pemegang saham baru sebab Hilmi menghembuskan isu.


Setelan bagi tuan muda Magenta telah siap diantar oleh Pierre yang menyamar menjadi kurir paket.


Keesokan pagi.


Ashadiya bangun pagi buta sebab ingin melihat Maghala bersiap. Dia sudah di atas kursi roda menuju dapur padahal waktu baru menunjukkan pukul tiga pagi. Bahkan Maghala belum terbangun dari tidurnya.


"Ini tugas pertamaku sebagai istrinya. Semoga kamu suka ya, masakan hasil tanganku," ucap Asha, berkutat di dapur di bantu seorang maid membuat sarapan juga bekal makan siang bagi Ghala.


Tepat sebelum azan subuh, Asha sudah di kamar kembali. Dia menata pakaian Ghala di sisi ranjang dan telah siap memakai mukena.


"Asha? kok gak bangunkan aku? kelewat tahajud jadinya kan?" ucap Ghala ketika membuka mata dan melihat istrinya telah bersiap bahkan sedang memegang mushaf.


Suara Asha mengeja huruf hijaiyah terdengar bagai anak te-ka yang masih awam tapi Ghala menghargai segala usaha wanita ayu itu dan membiarkan dia belajar mandiri. Jika telah hafal hijaiyah, maka Ghala akan membantunya menyempurnakan pelafalan.


"Ehm, kamu pules banget dan aku gak tega bangunin. Ayo siap-siap dan sarapan sebelum ke kantor," ucap Asha seraya menunjuk ke troley makanan dengan sorot mata berbinar.


Maghala menoleh mengikuti arah telunjuk Asha. Dia terkejut, nampak beberapa pinggan berisi makanan juga lainnya. Bahkan setelan yang akan Ghala gunakan telah siap menggantung rapi di sisi ranjang.


Semenjak Alka meninggalkan rumah, Adhisty tak pernah meminta sarapan di rumah. Semua pekerjaan rumah tangga yang masih di bebankan pada Maghala tetap dia berikan melalui catatan di atas meja makan setiap pagi. Kondisi ini membuat Adhisty hampir tak pernah berjumpa dengan sang menantu.


Sang mertua, pagi ini takkan mengira jika menantu babunya adalah seseorang yang sangat berpengaruh di perusahaan Cyra beberapa hari ini.


Ashadiya mulai mendekat saat Ghala telah memakai setelannya. Dia ingin membantu sang suami pagi ini. Asha pun memegang dasi milik suaminya.


Maghala berjongkok di depan kursi roda Asha, menahan lengan besi itu agar tak bergeser kala tangan putih mulus mulai mengalungkan dasi ke leher Ghala.


Pandangan tajam Maghala yang memindai setiap inci wajah Asha, membuat wanita ayu tersipu, konsentrasinya terganggu hingga dua kali salah memutar simpul dasi.


"Jangan liatin begitu," lirih Asha tak berani menatap manik mata teduh.


Tuan muda tampan mengulas senyum. Dia mengecup dahi Asha yang tertutup poni. "Makasih ya, Humaira. Yakin gak mau hadir? kau juga punya hak di sana," ucap Ghala mengajak serta Asha.

__ADS_1


Wanita ayu punya rencananya sendiri. Dia dan Hilmi telah sepakat. Tak lama, terdengar mobil Adhisty meninggalkan hunian. Maghala pun bersiap bangkit setelah semua tampilannya rapi.


"Jangan lupa, bawa bekalnya ya. Maaf jika tak sesuai," kata Asha masih malu-malu.


"Ini tuh ceritanya mulai jadi Nyonya Sakha?" goda Maghala, saat akan keluar kamar dan membawa sebuah kotak bekal berwarna biru.


Ashadiya hanya diam, menyembunyikan senyum di balik rambut yang menutupi wajah saat menunduk.


Maghala membelai lembut kepala Asha dan berpesan agar dia mengunci pintu setelah kepergiannya. Ashadiya mengiyakan semua ucapan sang suami dan mengantarnya di ambang pintu kamar.


Beberapa detik selanjutnya.


Hilmi menjemput sang tuan muda dan meminta akses masuk hunian Cyra sebagai tamu Maghala. Lexus hitam mengkilap itu tiba di hadapan sang majikan tepat saat Ghala muncul dari pintu depan.


Pandangan tukang kebun, maid, bahkan supir keluarga Cyra tak melepas tatap pada sosok tampan, gagah, tegap juga terlihat memesona yang tak lain sang menantu babu, tengah menunggu mobil mewah yang akan membawanya.


"D-Den Gha-laa kan?" tanya salah satu maid saat membuka pintu.


Maghala hanya mengangguk seraya tersenyum dan berlalu melanjutkan langkah. Dia bahkan menepuk bahu tukang kebun yang di lewati, ekspresi kaget dan melongo mendominasi sebab takjub melihat tampilan dirinya pagi ini.


"Titip Asha ya, Mang," ujar Ghala, sebelum masuk ke kursi sebelah kiri. Tukang kebun Cyra, mematung, hanya mampu mengedipkan kelopak mata seakan syaraf melarangnya bergerak.


Kedua pria perlente lalu meninggalkan hunian menuju perusahaan Cyra.


Dalam perjalanan, Hilmi memberikan berkas untuk Maghala pelajari. Tekadnya bulat sudah, dia akan menekan Adhisty untuk mengganti jajaran orang-orang yang pro padanya dengan wajah baru.


Sementara di tempat lainnya.


"Bantu aku bersiap, ayo." Pintu kamar itu terbuka, rak baju berisi banyak gaun panjang di dorong oleh maid, masuk.


.


.

__ADS_1


...____________________...


__ADS_2