
Maghala memeluk kakaknya erat, dia lega dapat menghadiri momen sakral dan penting di hidup Mada. Ini adalah keinginan keduanya, melangsungkan akad nikah secara sederhana, sebab tak lagi mampu menangkis jarak setelah menunggu sekian lama, ditambah kesalahpahaman yang hampir membuat mereka berpisah.
Gurat kelegaan juga bahagia terlukis di wajah Madaharsa, meski fisik sang kakak masih terlihat lemah. Putra sulung Mahananta lalu dipapah Maghala untuk menemui Eira, yang telah menunggu di teras rumah samping aula tempat berlangsungnya akad nikah.
Ashadiya baru pertama kali melihat prosesi pernikahan yang seperti ini. Dia ikut tersenyum merasakan getar kecanggungan hingga pipi putih itu merona kala pasangan pengantin ragu-ragu akan bersentuhan untuk pertama kalinya.
Sikap Asha, tak luput dari perhatian sang suami. Ghala menduga, mungkin terselip keinginan yang sama dalam benak Asha. Setelah berbincang sejenak dengan keluarga besar Yai Hasyim Rois, Madaharsa dipaksa Eira kembali melakukan perawatan di rumah sakit.
"Kakak harus nurut aku, opname lagi ya hingga pulih," pinta sang pengantin wanita, menoleh khawatir. Dia menjulurkan telapak tangan untuk mengusap dahi Mada yang duduk di sampingnya dan berkeringat dingin.
"Gih, bawa aja, Nduk. Paksa, kakek menyerah kalau urusan ginian. Mada keras kepala," ucap Janu meminta Eira membujuk cucunya.
"Ehm, iya Ara, iya," ujar Mada, mengusap kepala istrinya dan mengangguk. Dia lalu dipapah Eira menuju ambulance.
"Gani tolong urus sisanya ya. Minta Hilmi juga untuk membantu pekerjaan aku di kantor selama off sementara waktu. Si Huda balikin ke Bibi, biar Kakek di dampingi Pierre saja nanti," tutur Mada saat telah di ambulance.
"Baik, Tuan muda," balas Gani, mengangguk lalu menutup pintu mobil agar majikannya segera menuju rumah sakit.
Keluarga Magenta pamit seiring ambulance pergi membawa Madaharsa. Maghala lalu menghampiri dan memapah Asha yang masih berdiri di teras kediaman Yai, berjalan selangkah demi selangkah menuju mobil mereka.
Tiada percakapan di antara keduanya, hanya menikmati kedekatan satu sama lain. Namun, saat telah mencapai mobil dan membantu Asha duduk, Ghala membuka suara.
"Asha, mau ngulang prosesi nikah, gak? kamu kan belum sadar saat itu ya," ujar Maghala berjongkok dan meletakkan tangan disamping jok mobil sambil menatap intens wajah yang kian ayu. Dia merasa khawatir Asha menginginkan sesuatu tapi segan mengutarakan.
Ashadiya menimbang, dia tak memiliki momen indah yang diimpikan para gadis saat melepas masa lajang. Ingin meminta dan mengutarakan impiannya tapi Asha merasa sudah terlambat dan dia tak pantas mendapatkan hal itu.
Kepalanya menggeleng pelan. "Gak usah." Ashadiya tersenyum memandang wajah tampan yang masih menekuk lutut disampingnya.
Pintu mobil pun Maghala tutup lalu dia memutar untuk duduk di belakang kemudi. Mereka akan menuju Solo menggunakan Corolla Altis miliknya.
Ghala tahu, Asha menahan keinginannya. Tapi didesak pun percuma, wanita disamping akan tetap diam.
Tiada percakapan sepanjang perjalanan, hanya musik melow yang mengiringi dan memenuhi kabin pasangan Cyra. Asha asik main game sementara Ghala, kehabisan topik pembahasan sebab otak tengah berputar memikirkan perusahaan Cyra juga usahanya setelah kembali nanti.
Glatrak. Ponsel Asha jatuh.
Maghala menoleh, melihat Asha telah menunduk tanda dia tertidur. Tuan muda Magenta menepikan mobilnya guna melandaikan kursi dan mengambil ponsel Ashadiya.
Maghala sejenak menatap wajah ayu nan terlelap. "Masih saja susah mengungkapkan keinginan ya, Asha. Ataukah aku yang tak pandai membuatmu berterus-terang?" senyumnya terbit, seraya mengusap pipi sang istri.
Menjelang tengah malam, mereka tiba di Solo.
Maghala tak membangunkan Asha, dia meninggalkan sejenak untuk check in lalu membopong wanitanya menuju kamar di lantai dua.
__ADS_1
Besok mereka akan bertemu dengan dokter orthopedi senior kenalan Janu yang bertugas di salah satu rumah sakit khusus tulang di Solo.
"Sayang, isya dulu lalu tidur lagi," bisik Ghala, duduk di sisi ranjang, mengusap pipi Asha lembut hingga dia membuka mata.
"Sudah sampai ya?" lirih Asha, dengan suara serak khas bangun tidur seraya membuka kelopak matanya sejenak, lalu menutup kembali sebab kantuk masih menyergap.
"Baru tiba. Ponselmu berbunyi sejak tadi. Anggun ada perlu apa menghubungi malam-malam begini?" tanya Ghala terus terang, menatap manik mata Asha.
Putri Adhisty sontak membelalak, apakah sahabatnya telah kembali ke Indonesia. Ashadiya lalu mengambil ponsel yang Ghala sodorkan padanya, jemari pun langsung membuka pesan juga lainnya.
"Mas, dia udah balik ke sini?... Mas?" ujar Asha, memanggil Ghala yang malah asik membuka kaos kaki dan mengusap telapak kaki Asha agar hangat.
"Mas, jangan. Gak pantes, harusnya aku," tutur Asha, menarik kakinya akan tetapi di tahan Ghala.
"Jangan takut. Hadapi saja. Esok pagi kamu bakal ketemu seseorang. Kita mulai debut di sini, oke? ... kaki kamu harus selalu hangat, Humaira. Gak pantes apanya? bukankah raja juga harus melayani ratunya?" balas Ghala, melihat ke arah Asha sekilas lalu kembali memijat lembut tungkai dan buku jari kaki Asha.
Selalu saja bersikap manis bahkan untuk caranya dalam membalas keburukan. Ashadiya tak berkutik, tidak dia pungkiri berkat ketelatenan Ghala memijat syaraf kaki, dan pergelangan tangan, Asha perlahan mampu bergerak lebih leluasa.
Setelah selesai memijat kaki, lelaki itu merangsek naik merambati tubuh Asha hingga menyentuh pipi dengan ujung hidungnya, tepat saat sang istri mengatakan bahwa Layla mengirimkan pesan.
"Ghala, kamu lagi apa? ... Mas, dapat pesan dari si yayang kadaluarsa," cebik Asha, melirik dengan ekor mata pada Ghala yang menempel di sisinya.
"Bilang saja ... sedang bersenang-senang dengan istriku. Nanti kita selesaikan tentang Layla sebelum pulang ke Jakarta ya, Sayang. Sekarang isya dan witir dulu lalu ibadah yang lain," sambung Ghala, mulai menarik semua hal nan menutupi tubuh istrinya untuk membersihkan diri lebih dahulu.
Keesokan pagi.
Nyonya Sakha sangat dimanjakan Maghala pagi ini. Entah ini imbalan lemburan semalam atau untuk hal lainnya. Lelaki tampan itu seakan dapat membaca isi otak Ashadiya.
"Mas, akun jualan itu, aku sudah berusaha bikin konten tapi bukan produk sih. Coba deh lihat, view nya tinggi sekali ... maaf, aku iseng nyobain login pake email dan password yang Mas beri untuk di kelola Denok tempo hari," ujar Asha menunjukkan view konten di akun jualan Ghala dari ponselnya.
Maghala menerima uluran benda pipih itu dan tersenyum sumringah, Asha membuat video perjalanan mereka menuju pernikahan Mada kemarin. Rata-rata komen para ibu-ibu adalah, jenis skincare yang Asha pakai sebab wajah istrinya begitu glowing.
"Kak, skincarenya apa?"
"Bang, ini istri atau model?"
"Spill harga skincare, gamis dan clutchnya."
Maghala membaca komen satu per satu di video yang Asha buat. "Bisnis baru, nih, Sayang. Cari tahu skincare kamu yuk, kita bikin brand sendiri nanti," kata Ghala dengan sorot mata berbinar, melihat ke arah Asha yang tersenyum padanya.
"Mas bisa baca isi pikiran aku, ya? kok sama," balas Asha, sambil menyantap sarapan paginya.
"Skincare itu everlasting. Perawatan tubuh juga, apalagi untuk asetmu yang itu tuh ... aah, Sayang, kamu banyak menginspirasi otakku untuk membuka banyak peluang usaha," seru Ghala dengan sorot mata bahagia, dia meletakkan ponsel di atas meja lalu menghambur memeluk istrinya.
__ADS_1
Ashadiya bagai squezze di tangan Ghala pagi itu. Habis di unyel-unyel sebab perasaan gemas yang menyergap tuan muda Magenta.
Putri Adhisty lalu menyuapi suaminya dengan menu sarapan yang sama sementara Ghala menyalakan hairdryer guna mengeringkan rambut panjang Asha sebab masih basah, sebelum mengenakan hijab.
Satu jam kemudian.
Pasangan Cyra tengah berkonsultasi dengan dokter Randi di rumah sakit dan kini Asha diminta belajar berjalan tanpa alat.
"Coba melangkah tanpa bantuan alat dan stagen penopang kaki, masih sangat nyeri tidak?" ucap sang dokter.
"Sedikit, tapi pinggangku sedikit ngilu, sebab itu Mas Ghala masih suka menahannya," tutur Asha, meringis sambil melihat ke arah sang suami.
Dokter Randi, meminta mereka terapi rutin selama satu pekan ke depan di jam yang sama. Juga beliau merekomendasikan ke sahabatnya untuk dipijat pretek tulang guna mengembalikan tulang pinggul yang sedikit bergeser.
Ashadiya kerap mendengar berita bahwa tehnik seperti itu akan menimbulkan rasa sakit saat melakukannya. Namun, Maghala meyakinkan bahwa semua akan baik saja sehingga hati Asha sedikit tenang.
Setelah mereka selesai melakukan terapi, Ghala mengajak Asha menemui seseorang di kawasan pusat kota Solo. Corolla Altis itu kini telah memasuki pelataran sebuah hunian khas Jawa.
"Rumah siapa, Mas?" tanya Asha, melihat ke sekeliling halaman yang nampak asri, saat Ghala akan membantunya turun dari mobil.
"Guru kamu, Sayang," balas Ghala, sumringah, dia akan memberikan kejutan bagi Asha.
Tiba-tiba. "Mas Ghala!"
Ashadiya menoleh, dia melihat seorang gadis cantik dengan rambut panjang tergerai menghampiri.
"Bapak ada kan?" tanya Ghala, menoleh pada si gadis sembari menuntun Asha lalu memeluk pinggang sang istri saat menutup pintu mobil.
Gadis ayu sontak menatap sinis pada wanita ayu dalam pelukan Maghala. Sorot matanya menyelidik, memindai penampilan Asha dari atas hingga bawah. Sudut bibir pun menyeringai remeh.
"Ini istriku. Ashadiya, ayo salim sama Mbakmu," kata Ghala, meminta pada gadis di depannya dengan menunjuk menggunakan isyarat dagu ke arah Asha.
"Dih, ogah ... bapaaaaakkk!" jawab si gadis, berbalik badan berlari memanggil ayahnya masuk ke dalam hunian.
"Namanya Prameswari. Jutek sejak dulu, putri pelukis kaligrafi ternama di Solo. Karyanya banyak terpajang di gedung pemerintahan juga Masjid di kota-kota besar," ungkap Ghala, mengalungkan lengan di pinggang Asha saat keduanya melangkah perlahan menuju joglo kediaman Pramudya Brata.
"Jutek ke aku, ke Mas kan enggak," cebik Asha. "Jadi, aku ke sini, tujuannya adalah?" Sedetik kemudian dia menoleh ke arah suaminya dengan sorot mata berbinar.
Maghala hanya tersenyum melihat istrinya antusias.
.
.
__ADS_1
...___________________...