
Menjelang petang tadi, bimbingan private selesai. Kini, pasangan Cyra berbincang dengan sang paman di teras setelah salat Maghrib.
Pramudya memeriksa hasil goresan Asha. Sejatinya apa yang keponakannya lakukan ini sudah sesuai standar sebab Asha telah memiliki skill dasar. Pram hanya melatih melenturkan pergelangan tangannya lagi setelah cedera.
Maghala duduk di sebelah Asha sambil melafalkan Al waqiah, meski tangan kiri tak henti mengusap pinggang Asha sebab istrinya mulai tak nyaman duduk tanpa penahan panggul.
Prameswari bergabung dengan mereka di sana, ikut menilik hasil goresan tangan wanita kota yang dia nilai biasa saja.
"Ashara, besok coba buat nama Rosulullah ya. Gambarkan sosok kekasih Allah menurut versi kamu," pinta Pram, menatap lekat Asha yang menunduk sambil berdzikir dengan menghitung buku jari.
Ashadiya menengadahkan wajah, tatapannya bertemu dengan pandangan sang paman yang masih melihatnya. Sementara Maghala hanya menyembunyikan senyum, saat Asha terlihat terkejut Pram menyebut nama pena putri Adhisty.
Prameswari tak kalah kaget, sang ayah menyebut satu nama yang tak asing di telinga. Dia bertanya, menoleh pada sang ayah dengan ekspresi wajah keheranan.
"Anda tahu aku?" sebut Asha pelan, lalu menunduk kembali.
Pramudya tersenyum. "Ternyata Ashara itu sangat pemalu dan pendiam ya. Tidak percaya diri kecuali saat menggoreskan kuas di atas kanvas. Aku melihat karyamu di Diazae park, seorang gadis kecil berdiri di bawah pohon dengan memegang payung rusak, terdapat kubangan lumpur di depannya yang bisa mengotori badan bocah itu kapan saja, jika seseorang melintas dan menginjaknya. Dia tengah berlindung dari hujan," tutur Pram.
"Kehidupan memang kejam, Ashara, tapi kamu punya senjata untuk melindungi diri, kan? Tuhan akan menghapus segala noda dengan rahmat-Nya sebab hujan itu berkah. Maknanya dalam, Nduk, kamu sudah mulai dakwah sejak semula," ungkap Pramudya Brata, dia memang mencari tahu Asha sejak Ghala menceritakan latar belakangnya.
Prameswari, dibuat menganga oleh penjelasan sang ayah. Gadis yang terlihat manja pada Ghala ternyata pelukis yang mengisi galeri milik seorang ekspatriat. Beliau, pecinta seni karya para maestro di negeri ini.
Diazae park adalah gedung pameran yang berisi berbagai hasil karya seni. Mulai seni patung, lukis dan banyak lainnya. Impian para pelukis bisa memajang karya di sana. Seleksi untuk masuk dalam jajaran kategori yang dipromosikan di wall of frame saja sangat ketat, apalagi jika bisa bertahan lama di gedung megah itu.
Aksi amal, even tahunan bergengsi, juga banyak informasi kegiatan yang di fasilitasi oleh Diazae, membuat nama tersebut kian berkibar di dunia seni.
Diazae kerap menawarkan opsi kegiatan dengan paket perjalanan juga akomodasi menuju ke lokasi tujuan. Jadi, para pelaku seni tak perlu jauh-jauh mencari informasi atau bahkan menyiapkan cost berlebih sebab mereka memiliki segudang pilihan fasilitas sesuai budget.
"Sebab lukisan itu, Asha lolos ke even Jerman, Pak Lek. Namun, karya untuk ke sana belum sempat naik sebab dia cedera karena aku," sahut Ghala, dia pun baru tahu nama pena sang istri kala melihat koleksi lukisan di belakang kediaman Cyra beberapa bulan lalu.
__ADS_1
"Mas!" tegur Asha, dia malu.
Pramudya mengangguk, tebakannya tidak salah, salah satu pengurus Diazae adalah rekan kerja saat masih bekerja di museum dulu. Dia mengantongi identitas Asha dan menunjukkan padanya.
Betapa Pram terkejut, dimana sang keponakan mengenal wanita ayu tersebut. Namun, itu bukan titik perhatian Pram, dia bahagia dapat mengenal Ashara lebih dekat tanpa sengaja bahkan berkesempatan menyalurkan ilmu yang dia pahami untuk si gadis.
"PB, Pramta, itu juga Anda kan? Mas Ghala bilang jika karya Anda famous dan aku ingat, pernah membaca nama tersebut pada lukisan lafadz Allah. Terpajang apik di gedung kedutaan besar saat berkunjung ke Hongkong sebelum cedera," tebak Ashadiya, sesekali melihat ke arah Pram.
Pramudya tersenyum, dia mengenang karyanya yang dulu. Tak sengaja ketiban bulan kala seorang teman datang memintanya agar membuat banyak lukisan islami untuk dipajang di gedung pemerintahan.
Lelaki paruh baya itu lalu menyerahkan satu paket peralatan lukis khusus untuk Asha agar mudah membuat shade, juga kuas kecil tiada di pasaran sehingga dapat menjangkau bagian tersulit nanti.
"Di terima ya, Ashara, pergunakan sebaiknya. Ini custom khusus melihat kepribadian pelukisnya. Kamu itu detail, jadi aku berikan banyak kuas kecil. Pak Lek tunggu hasil karya perdana Ashara ya. Jangan lupa, isi formulir untuk ikut even lomba saat ulang tahun Solo pekan depan," tutur Pramudya, meminta Prameswari memberikan lembar kertas untuk Ashadiya isi.
Asha menoleh pada Ghala sebelum menerima pemberian sang paman. Maghala pun membalas dengan anggukan juga senyum menawan untuk istrinya.
Keesokan pagi.
Seperti biasa, Ghala hanya membantu agar istrinya nyaman. Menguncir rambut Asha juga memakaikan apron agar bajunya tak kotor terkena cat.
"Sini, dilemaskan lagi sebelum mulai," ujar Ghala ketika Asha menarik nafas panjang dan memijat pergelangan tangan sejenak.
"Bismillah. Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad," lirih Asha mulai menuang beberapa cat ke atas kanvas. Dia lalu menyalakan hairdryer dan mengarahkan ke media lukis hingga genangan cat itu mulai memudar dan terpencar seiring tiupan udara dari hairdryer.
"Maa sya Allah. Tehnik bikin background ya, Sayang," kata Ghala, takjub akan skill istrinya yang baru di ketahui.
Asha hanya mengangguk, masih mengatur arah cat agar sesuai keinginannya.
"Ini ada maknanya gak, Asha?" tanya Ghala saat melihat pencampuran warna yang Asha buat, meneduhkan.
__ADS_1
"Ada dong. Rencana pake khat naskhi sebab aku belum begitu menguasai lainnya, Mas. Sekaligus menggambarkan kesederhanaan Rosulullah. Aku memilih hijau yang bermakna pertumbuhan, alam, asri, teduh, damai. Bagai beliau," tutur Asha, seraya mematikan mesin pengering rambut dan menggantinya dengan kipas kecil agar warna lekas mengering.
"Biru itu menggambarkan kepercayaan, loyalitas, tanggung jawab. Betapa Rosulullah sayang ummatnya bukan? ummati ummati ummati. Menjaga, selalu percaya tanpa menghakimi kaumnya meski tahu dia salah, percaya mutlak pada Allah meski jalan dakwahnya berliku," sebut Asha, menunduk melihat warna background yang dia buat.
Maghala Sakha, memasang telinga juga hanya diam mendengarkan penjelasan Asha.
"Gold ini apa?" tanyanya kemudian.
"Muhammad itu istimewa, kekasih Allah, mulia nan agung, cocok dilambangkan dengan Emas. Namun, Rosulullah tidak ingin menonjolkan itu jadi aku membuatnya samar ... putih, sebab hati beliau bersih, tiada hasad dibuktikan dengan kisah malaikat Jibril yang membersihkan hatinya kala Muhammad kecil," ungkap Asha lagi, masih dengan wajah menunduk.
"Yang akhir, biru muda, Rosulullah itu menenangkan dalam setiap ucapannya. Professional jika menjalankan bisnis juga hal lainnya. Jadi aku menggambarkan beliau ... sosok sederhana nan istimewa yang sanggup melindungi, menenangkan, selalu bertumbuh bagai dakwahnya yang terus mengalir, profesional, loyalitas juga percaya pada ummatnya."
Ashadiya Cyra tanpa sadar terisak, dia baru tahu kisah manusia mulia nan agung itu semalam. Kala tak dapat tidur sebab harus menggambarkan namanya.
Putri Adhisty tak mengira, sikap suaminya hanya sebagian kecil dari apa yang risalah tuntun dalam menjalankan biduk rumah tangga.
Sungguh, Asha jatuh cinta dengan sosok Muhammad. Bahkan tak henti bersalawat sepanjang malam kala memandangi wajah lelap Maghala yang tertidur.
"Sayang ... allahumma sholli ala sayyidina Muhammad wa ala alihi wa sohbihi ajmain. Pandanglah istriku, wahai kekasih Allah." (ðŸ˜)
Maghala Sakha memeluk Asha yang terisak. Rahmat Allah turun ke relung hatinya. Ashadiya berusaha mengenali siapa yang akan menjadi syafaat di Yaumil akhir nanti setelah masa kejahilan dalam hidupnya.
.
.
...____________________...
...Sholli wa sallim wa barik alaih....
__ADS_1
Source pinterest : ini hanya opini mommy ya guys, mrebes Mili sebab gak bisa menggambarkan dengan kata-kata jika menyangkut Rosulullah.