BUKAN MENANTU BIASA

BUKAN MENANTU BIASA
BAB 42. SANG MENANTU


__ADS_3

Maghala menjejakkan kaki di lobby kantor Cyra. Banyak pasang mata tak berkedip kala dua pria melintas. Apalagi Hilmi kerap melempar diskusi hingga membuat Ghala terlihat serius dan berwibawa.


Hilmi meminta tuan muda Magenta menunggu di ruang tunggu private yang di sediakan gedung. Dia baru akan naik ke ruang meeting saat Hilmi telah memberikan sambutan juga hal lainnya.


Sang asisten lalu menuju kantor Adhisty untuk memperkenalkan diri secara langsung sebab perjumpaan awal mereka, Hilmi masih di balik tabir kala transaksi jual beli beberapa waktu silam.


Tok. Tok.


Suara khas wanita pimpinan Cyra menyahut dari dalam. Panel pintu bercat coklat itu terbuka, menunjukkan sosok Adhisty yang duduk di kursi kebesaran nya tengah menandatangani dokumen.


"Selamat pagi, Nyonya," sapa Hilmi, mengenalkan diri.


Adhisty seketika mengangkat kepalanya. Nada bicara yang masih dia kenal dan ditunggu-tunggu kemunculannya, kini hadir di depan mata.


"Pagi, Anda ... Tuan Hilmidar?" tanya Adhisty ragu, dahinya sedikit berkerut sehingga alis melengkung bak celurit itu hampir bertaut.


Asisten Janu, tersenyum seraya membungkukkan badan sedikit dengan kedua tangan merapat di samping tubuhnya.


"Alhamdulillah. Tuan muda Anda ikut hadir? ini maunya dia bagaimana, sih? kan semua orangku itu loyal. Takkan lah mereka berlaku culas," sanggah Adhisty sembari bangkit dari kursinya dan menyilakan Hilmi agar duduk di sofa.


"Tentu, beliau datang. Anda tidak dapat mempertahankan pekerja hanya karena mereka telah lama mendedikasikan diri. Itu bukan tolak ukur yang baik jika di tilik dari kinerja mereka belakang ini," balas Hilmi, memilih tetap berdiri sebab sepuluh menit lagi rapat akan dimulai.


Adhisty tak langsung menanggapi, sekretarisnya telah meminta beliau untuk segera memasuki ruang meeting.


Keduanya pun keluar kantor pribadi pimpinan Cyra, melangkah beriringan menuju ruangan serba kaca yang di hiasi stiker berbagai produk unggulan Cyra, mulai apparel hingga sepatu dan starter kit.


Pembukaan dan agenda basa basi telah berlangsung selama lima belas menit. Kini Hilmi sedang mendengarkan laporan perkembangan penjualan dalam tiga bulan terakhir.

__ADS_1


Banyak kejanggalan di sana. Dana Sade tidak di sebutkan. Pengalihan saham pun terlewati. Dan promosi sesuai standar di paparkan presentator di depan.


Asisten Janu, meminta Maghala agar naik ke lantai lima belas, dan menunggu dirinya memberikan isyarat, melalui pesan yang dia kirimkan.


Akhirnya giliran Hilmi tiba. Lelaki itu mengatakan bahwa dia mewakili sang tuan muda, mengajukan permohonan perombakan susunan manajemen dan sistem promosi seperti kebanyakan para perusahaan besar lainnya.


"Yang akan kami ajukan perombakan adalah divisi keuangan, marketing, divisi produksi juga pembaruan kerjasama dengan vendor terkait pendistribusian untuk ekspor. Tapi sebelum itu, saya akan memperkenalkan pemegang saham terbaru menggantikan posisi tuan muda Alka," papar Hilmi, mengundang riuh.


"Sebaiknya beliau adalah orang yang kompeten. Tidak hanya sekedar pemilik modal juga penekan kinerja," ucap salah seorang direktur.


"Apakah tuan muda Anda, telah berpengalaman memegang suatu perusahaan besar?" tanya direksi lainnya.


Hilmidar tak dapat menjawab. Maghala memang belum pernah mengampu jabatan secara formal tapi analisanya bisa di jadikan acuan. Dia lalu melayangkan netra ke arah luar ruangan tembus pandang itu, melihat Maghala baru saja keluar dari lift.


Kepala asisten Janu mengangguk, sebagai isyarat bagi Maghala agar masuk ke ruangan transparan meski kedap suara.


Sekretaris Adhisty yang membantu menarik handle dari dalam, bahkan terpesona oleh aura positif sang tuan muda. Hilmi pun bangkit dari duduknya lalu membungkukkan badan kala Maghala tiba.


"Tuan muda," sapa Hilmi, seraya menghampiri Maghala.


Sikap seorang Hilmi, membuat para direksi ikut terbawa suasana. Mereka bangkit berdiri, sebagai penghormatan antar sesama anggota direksi, kecuali Adhisty.


Wajah pimpinan Cyra seketika memucat, mulut menganga di sertai tatapan mata membola. Suaranya menjadi tercekat bahkan dia kesulitan untuk berdiri sebab kakinya mendadak lemas. Bulir keringat dingin perlahan muncul di dahi sang pimpinan Cyra, Adhisty juga memilin ujung blazer yang dia kenakan, tanda tercengang baru mengetahui sebuah fakta.


"Selamat pagi, dewan direksi yang saya hormati," ucap Maghala, menangkupkan kedua telapak di depan dada sebagai isyarat menyapa di sertai bungkukan badan.


"Beliau Tuan muda Maghala sakha, cucu tuan besar Janu Janardana, pendiri Magenta grup. Perusahaan pengekspor furniture juga kerajinan sejenis," imbuh Hilmi memperkenalkan sang majikan yang baru membongkar identitas diri.

__ADS_1


"Ghala? Gha-laa?" suara Adhisty, lirih mengulang apa yang dia dengar. Tubuhnya lunglai, Magenta grup, perusahaan lokal tapi beberapa kali masuk ke dalam majalah bisnis dalam bidang best kategori etnic furniture dan ulasan artikel sebab management mereka tertata rapi.


Madaharsa menjadi tameng sekaligus motor penggerak sehingga membawa Magenta tetap berkibar di tengah kondisi ekonomi Indonesia nan fluktuatif terdampak resesi.


Rapat dilanjutkan dengan agenda promosi yang di inginkan Ghala. Tuan muda pun duduk, saat Hilmi memulai menunjukkan grafik slide perkembangan omset yang seret meski Cyra masih ada di urutan atas.


"Kita gaet influencer, blogger atau mengajukan ulasan di podcast terhadap produk Cyra. Menggunakan media berbayar tak hanya untuk papan reklame tapi adsense atau alternatif lainnya yang sanggup menjangkau hingga ke dasar. Jangan lupakan promo media sosial by akun official Cyra, konsisten membuat konten yang sesuai dengan niche juga pertimbangkan para kompetitor. Aplikasi joged itu pun bisa kita manfaatkan kok," tutur Ghala, menebar semua jenis promo yang dia tahu. Selama ini Cyra hanya menyentuh area atas, tidak sampai ke dasar.


"Senjata promosi tercepat saat ini rata-rata menggunakan sosial media yang merakyat. Tidak perlu menjaga gengsi, toh kita mau tidak mau harus mengikuti trend. Jika ingin menggunakan brand ambassador, pilih talent yang sesuai misi, tak hanya cantik dan seksi," tegas Maghala lagi.


Pembicaraan alot tentang dana alokasi promosi juga ketidaksiapan management untuk di gulir posisi menjadi kendala usulan Maghala.


"Posisi Cyra saat ini di tepi jurang. Recycle bisa jadi pilihan, sama-sama gambling kok, kita juga punya azas tekan mitra bukan? pemutus hubungan kerja jika tak sesuai harapan. Itu bisa menjadikan semua lini bergerak bersama. Ibarat mengayuh sepeda, mereka push produksi dengan bahan baku terbaik, kita mendistribusikan. Bukankah Cyra masih memegang omset tertinggi di kelasnya? why harus takut dengan terobosan baru?" ujar Maghala. Dia mengamati konten-konten yang disukai oleh masyarakat terhadap minat produk sejenis.


"Apa Anda akan mengambil alih pimpinan?" tanya Adhisty, merasa posisinya terancam.


"Untuk saat ini, tidak. Aku hanya akan berada di tengah Cyra, sesuai posisiku saja, Nyonya," jawab Maghala tenang. Netranya menyapu satu per satu anggota direksi.


Jajaran yang hanya mementingkan kepentingan segelintir orang. Mereka memang pemilik modal terbesar dan risiko kehilangan pun tak kalah seram sehingga wajar jika menuntut kinerja dan data akurat, agar sumber daya tak ikut terbakar.


Kesepakatan menggeser beberapa posisi di setujui, setelah Hilmi menilai kinerja divisi secara keseluruhan. Adhisty tak banyak bicara, dia sibuk dengan rasa hati yang beraneka ragam. Mata sipit bagai milik Asha tak berkedip memandang sang menantu di ujung meja.


Maghala sakha membalas tatapan sang mertua. Seakan menegaskan kalimat, "Menantu babumu ini bisa di andalkan."


.


.

__ADS_1


...________________...


__ADS_2