BUKAN MENANTU BIASA

BUKAN MENANTU BIASA
BAB 44. AISEL ALMAAS


__ADS_3

Sepanjang perjalanan, Maghala tak melepas pandang pada sosok ayu yang tengah menyapukan rangkaian tata rias wajah agar tidak terlalu pucat. Liptint jingga, blus on senada dengan eyeliner sebagai penegas mata sipit Asha, kini melekat pas di wajah ayu keturunan Asia.


"Gemesin sih," lirih Ghala, mendekat kala Asha akan menutup semua peralatan make-up nya. Dia mengepalkan tangan disamping pipi Ashadiya, ingin mencubit tapi tak tega.


"Tolong jangan buat aku ikut gemes-gemesin Mbak Denok, Tuan dan Nyonya. Meski tidak sesuai selera tapi daripada gak ada ya apa boleh buat. Sikat saja," ujar Hilmi, terkekeh akan ucapannya sendiri meski tatapan matanya lurus ke depan di balik kemudi.


"Eeuuw!" ucap Denok, geli, sembari melempar lirikan ke Hilmi dan menggeser duduknya ke tepi pintu.


Ashadiya ikut tertawa atas ucapan Hilmi tapi seketika mulutnya di bekap Ghala sebab tak ingin Hilmi mendengar suara tawa yang menurut Maghala sangat imut.


"Gak boleh ketawa. Ada Hilmi, ah!" tegur Ghala, menutup mulut Asha dengan telapak tangan kanannya.


"Mas! lepas ish," sebut Asha tanpa sadar memanggil Ghala dengan mas.


Maghala sakha tertegun, dia lantas melepaskan bungkaman tangan dan memilih menarik Asha menempel ketat dengannya.


Asha mengatakan bahwa Hilmi yang membantunya mencarikan gamis untuk kejutan hari ini, tapi rupanya pernyataan Asha kian membuat Ghala cemburu.


"Pilih saja, yang sesuai selera kamu. Jangan minta bantuan Hilmi lagi. Aku juga mampu jika hanya begitu," ucap Ghala sedikit kesal, dia menyerahkan gawai ke tangan Asha agar nyonya muda Sakha memilih baju. Wajahnya kini ditekuk dan sembunyikan di belakang kepala Asha.


Hilmi makin gencar menggoda Ghala. Baginya sebuah hiburan bisa melihat ekspresi sang tuan muda yang baru pertama kali jatuh cinta.


"Mbak Denok, kalau milih calon suami jangan yang posesif ya. Berabe nanti, bukan cuma ngatur urusan luaran aja, masalah daleman juga bisa seenaknya," tutur Hilmi, tanpa ekspresi.


"Daleman? apa sih?" balas Denok, menoleh ke arah Hilmi dengan sorot mata penasaran.


"Ya semua hal lah. Termasuk jadwal olah raga malam," jawab sang asisten.


"Hilmi!" tegur Ghala, tahu arah pembicaraan akan kemana. Dia masih setia melihat apa yang sedang Asha lakukan dengan ponselnya.


"Olah raga malam itu apa, Tuan?" tanya Denok kian penasaran. Memandang lekat Hilmi, yang acuh mengemudi.

__ADS_1


Merasa tak dapat jawaban, Denok bertanya pada Asha. "Non, olah raga malam suami posessif itu macam mana?"


Asha menengadah, melihat ke arah Denok lalu terlihat berpikir. "Ya macam itu kali, masa gak ngerti? olah raga malam sua-- ... eh," Asha menjeda ucapannya, dia mencubit paha Ghala hingga lelaki yang tengah bersembunyi di balik kepala dan terkekeh itu mengaduh kesakitan.


"Hahaha...." tawa Hilmi mengudara. Puas melihat ekspresi Denok, Asha bahkan Ghala. Hilmi menduga, Maghala belum menyentuh istrinya.


"Sakit, sakit, Asha," keluh Ghala mengusap paha yang terkena sasaran cubitan. Obrolan Hilmi sesekali memang absurd, mungkin sudah waktunya untuk mencarikan jodoh buat om asistennya ini, pikir tuan muda Magenta.


Tak lama kemudian, mobil mewah mulai memasuki pelataran rumah sakit. Hilmi memilih parkir di basement agar memudahkan Asha dan Ghala mencapai lift guna menuju kantor Alka.


Janji temu telah Hilmi kantongi sehingga kala dia menghubungi Alka, asisten pria itu telah menyambut kedatangan mereka di lobby basement.


"Selamat datang, Gent. Silakan," ucap sang asisten, menuntun langkah. Lantai sepuluh menjadi tujuan kala jemari lelaki muda menekan panel lift.


Ting. Pintu kotak besi pun terbuka. Rombongan satu per satu keluar dari sana menuju sebuah ruangan dengan pintu bercat hitam di ujung lorong.


Tok. Tok.


Pintu pun terbuka, menampakkan suguhan menggugah selera di siang hari itu. Alka menyiapkan jamuan makan siang bagi para tamunya.


"Siang semua. Hai Dek, kamu pake hijab sekarang?" tanya sang kakak, memeluk Asha yang duduk di kursi roda.


"He em. Biar nyaman kalau kemanapun," ujar Asha, membalas pelukan sang kakak seraya mengusap punggungnya lembut.


Pandangan kedua pria kini saling bertemu, Maghala melihat Alka sangat berbeda kini. Terlebih ada sosok wanita ayu disampingnya sejak tadi. Si suster Asha dulu.


"Bro, apa kabar?" sapa Ghala lebih dulu. Mengulurkan tangan pada tuan muda Cyra. Tujuannya baik untuk menemui Alka sang kakak ipar mantan musuhnya.


"Baik, duduk duduk." Alka menarik Ghala dalam pelukan sejenak. Dia tahu Asha telah jatuh cinta pada lelaki kharismatik ini.


Aisel menyalami Asha dan Denok. Menyiapkan hidangan bagi mereka. Pembawaan wanita ini sangat kalem, pantas jika Alka terpengaruh.

__ADS_1


"Aisel ini suster yang merawat papa dulu waktu sakit. Dia baru lulus saat itu. Aku suka mabuk dan selalu meminta penawar padanya agar tak mual pusing serta sakit kepala."


"Aisel juga yang membuat aku berpikir tentang masa depan sebab dia mengutarakan tentang mimpinya, ingin membantu merawat orang sakit yang kekurangan biaya. Aisel menyesal tak memiliki uang untuk pengobatan ayah dan ibunya. Berkali di tolak rumah sakit sebab tidak mampu bayar. Harta keluarga mereka pun habis tersisa tanah gersang saja," ungkap Alka, menjawab keingintahuan para reader eh Ghala.


Selama ini Adhisty tak pernah tahu jika Alka urakan di luar berkat Aisel yang selalu membantu menyembunyikan semua fakta. Pulang ke rumah dalam keadaan baik saja meski sebelumnya dia mabuk berat.


Mereka sempat hilang kontak tapi bertemu kembali satu tahun kemudian setelah kematian pendiri Cyra. Bahkan saat Ashadiya kecelakaan akibat Maghala. Alka meminta Aisel yang merawat sang adik.


"Hanya Asha yang tahu tentang dia. Mama tak pernah menyambangi kamar papa setelah beliau sakit," lanjut Alka lagi.


"Mbak Aisel telaten ngurusin papa. Aku tahu mimpi beliau itu tulus. Ketika Kakak mengajakku untuk menemuinya dan menunjukkan lahan gersang itu, aku menyetujui rencana mereka," imbuh Asha.


"Aku akan mengembalikan uang tabungan Asha yang di berikan pada kami kala itu. Abang juga sudah sepakat. Kami tahu, bahwa ini salah. Maka aku dan Abang siap menerima konsekuensi jika nyonya Adhisty menuntut. Setidaknya, orang-orang dengan nasib seperti keluargaku kini punya harapan baru untuk kelangsungan pengobatan mereka," kata Aisel Almaas Basafa, melempar pandang ke arah Alka yang tersenyum padanya.


Maghala tak berkomentar, dia justru asik menikmati cerita tentang pertemuan mereka. Alka menjadi pribadi lembut kala di dekat wanitanya. Begitu besarkah kekuatan cinta?


"Bukan hakku, Kak. Biar mama yang memutuskan. Kapan halal?" tanya Ghala pada keduanya.


"Menunggu mama." Alka menunduk.


"Jangan ditunggu. Datanglah ke rumah, ajak Mbak Aisel menemui beliau," saran Ghala, sebab Adhisty takkan peka.


Alka melempar tatapan pada wanitanya, dia memang harus mengambil langkah. Meminta maaf juga lainnya.


Saat penghuni ruangan lain asik menikmati sajian juga obrolan hangat. Hilmi membuat mereka seketika tersedak akibat pertanyaan nyeleneh sang asisten absurd.


"Tuan muda Alka. Itu nasib para gundik bagaimana? apakah akan dilelang atau di hibahkan saja, ada yang siap menerima jika cuma-cuma," ucap Hilmi, dengan wajah datar dan masih menyuapkan puding ke dalam mulutnya.


Uhulk. Uhulk.


.

__ADS_1


.


...____________________...


__ADS_2