
Hilmi mengetuk pintu kamar penghuni Cyra satu per satu. Dia mengatakan bahwa saat ini, lawyer mereka telah menunggu di ruang keluarga.
Ketika ingin menemui mereka, Asha terlihat sangat lesu. Dia tak ingin melepas pelukan dari Ghala. Pun demikian dengan Alka, dia berjalan gontai. Outfit pangeran Cyra bahkan sangat mencerminkan kekosongan dirinya. Celana panjang longgar dipadu kaos oblong oversize berlogo kepala kelinci, persis dirinya dulu, playboy.
Hilmi bergabung dengan mereka sebab dia akan ikut meredam gejolak apabila Cyra di tiup isu yang merongrong kekuasaan milik keluarga tersebut.
"Silakan dimulai," ujar Hilmi ketika semua anggota keluarga telah hadir.
Team lawyer pun mulai mengeluarkan banyak berkas, berjaga jika Alka ingin mengajukan banding untuk ibunya. Setelah urusan berkas selesai, salah satu pengacara mereka kini membuka suara.
"Untuk tuntutan Tuan muda Ghala, lelaki tersebut di dakwa dua pasal tentang perbuatan tidak menyenangkan, penganiayaan atau pemaksaan terhadap korban untuk melakukan persetubuhan di luar perkawinan ketika dalam keadaan tidak berdaya, juga merencanakan aksi kejahatan ... hukumannya dobel, dan dikabulkan majelis meski mereka akan mengajukan banding nanti," tutur sang pengacara satu. Dia kemudian membacakan dakwaan.
Para penghuni masih diam mencerna. Mereka hanya ingin mendapatkan kepastian hukum untuk para lawan.
Karena tiada tanggapan, maka pria yang masih mengenakan setelan formal tersebut, melanjutkan informasi mengenai sidang putusan siang tadi.
"Untuk kasus Nyonya Adhisty, kami akan berusaha mengajukan subsider sebab beliau koperatif. Dan bilamana Diazae memaksa banding, pilihan hukuman bisa jadi lebih berat sebab dia memaksa seseorang melakukan sesuatu juga mengancam secara fisik atau verbal hingga merugikan seseorang ... ini juga masuk pidana KUHAP, dengan dua dakwaan," ungkap sang pengacara.
Ashadiya tak lagi bernafsu. Dia telah memasrahkan urusan balasan pada Sang Pencipta. Masalah kisruh dengan manusia telah dia upayakan mengambil jalur hukum demi keadilan dunia yang kian sulit terpuaskan.
Hari demi hari, hubungan antara keluarga kian erat. Maghala rutin menjenguk Adhisty bergantian shift dengan Alka. Jika pasangan Cyra memilih waktu pagi untuk sarapan bersama beliau di dalam rutan, maka Alka memilih menemani sang mama menjelang malam.
Sesekali Alka membawa Aisel menemui calon mertuanya bahkan dia kerap mengintip keseharian Sade yang berhasil memangkas masa hukuman menjadi hampir separuhnya. Pria itu tetap saja arogan meski menjalani siklus kebebasan yang berbeda.
Sudah sepuluh pekan, hunian Cyra berkurang personil. Asha tengah menghitung sisa masa tahanan sang mama yang akan berakhir empat bulan kemudian. Dia sudah tak sabar, setiap pagi hobi barunya adalah menyanyi. Seperti hari ini, Asha sudah sangat ayu dan wangi kala menyambut sang suami yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Ku mencintaimu tuk sempurnakan ibadahku. Kau anugerah, terindah darinyaaaaaa," ucap Asha melantunkan bait lagu milik Alvian. Dia memutari Maghala yang hanya berdiri melihat tingkah Asha.
Setiap kali istrinya berlaku seperti ini, Maghala hanya memberikan senyum menawan bagi sang wanita atau bahkan justru memeluknya erat meski tetesan air masih melekat di badan.
"Manis banget, pagi-pagi. Bawaan bukan?" bisik Ghala, sangat berharap.
Ashadiya seketika menghentikan aksinya memutari sang suami. Dia terlihat berpikir.
"Masa? iya gitu?" tanya sang nona Cyra, menelengkan kepala ke arah kanan agar dapat melihat kalender meja yang dia lingkari.
"Aku nanya, Humaira. Ke dokter yuk, setelah dari mama. Kalau menurut tanggal sih ... ehm, semoga," ujar Ghala, menunjuk ke arah almanak di atas meja.
Lama-lama dia gemas melihat mimik wajah Asha yang kian berisi, mata sipitnya mengerjap ditambah bibir nan menggoda. Maghala akhirnya menyerah, memilih menciumi wajah sang nyonya meski dirinya telah berwudhu.
__ADS_1
"Ish, Mas jadi batal kan," keluh Asha, menghapus sisa air yang menempel di wajah dan bulu mata lentiknya, akibat rambut basah Ghala.
Tuan muda Magenta tak ambil peduli, dia hanya harus mengulang wudhu. Daripada kehilangan momen manis dengan pujaan hati.
Perjalanan menuju rutan kali ini di tempuh dengan singkat sebab mereka lebih awal pergi sebelum para pekerja memenuhi lajur jalan.
Saat telah tiba di sana dan menunggu Adhisty datang. Merasa pusing dan mual karena ruangan sempit terisi oleh beberapa pembesuk, Ashadiya memilih menunggu di luar dengan Denok. Dia menyandarkan tubuhnya di balik tembok gedung kunjungan.
Tiba-tiba terdengar kericuhan tak jauh dari tempat Asha berdiri.
"Be-go! gini aja gak bisa!" sentak tahanan wanita bertubuh gempal, terlihat jika dia dominan di kawasan ini sebab ketika sipir memperingatkan aksi mereka, dia sangat santai.
Plak.
"Awh! sakit!" seru sang wanita yang di tindas. Rambutnya di tarik oleh si wanita jangkung.
"Lambat, lelet!" ujarnya.
"Awas aja kamu ya! gue laporin lawyer!" ancam sang tertindas.
Asha mengenal suara itu, gestur tubuh, juga emosi yang baru saja dikeluarkan olehnya. Wanita ayu menoleh ke sumber keributan, terlihat seorang gadis tengah menarik banyak tong sampah sendirian. Dia terintimidasi oleh dua wanita di samping kanan kirinya.
"Lah iya, dia ya, Non," timpal Denok, kian mengukuhkan penglihatan Asha.
"Lapor aja sono, tempat lu lagi di sini. Ayo sini," titah sang wanita bertubuh gempal. Meminta Anggun menurunkan banyak sampah dari gerobak yang dia bawa.
"Busuk kayak lu!" cibir si wanita jangkung.
Asha melihat mereka tengah memindahkan keranjang ke dalam sebuah bak penampungan yang akan diangkut. Namun, kejadian tak terelakkan kembali menimpa sang sahabat.
Gundukan sampah yang telah ada di bagian atas bak itu runtuh dan menimpanya. Ingin rasa hati tidak tertawa tapi itu terlalu lucu untuk dilewatkan.
Denok bahkan terbahak melihat kejadian sial tersebut. Jika Ghala tak menghentikan mereka sebab Adhisty telah hadir, mungkin Asha akan mendapatkan tatapan balasan dari para napi.
"Asha isi, Nak?" tanya Adhisty kala melihat putrinya pagi ini terlihat lain dari hari biasa. Pertanyaan ini mencuat sebab Ghala juga tadi mengatakan tentang firasatnya.
"Gak tahu, Ma. Ini mau ke dokter lepas dari sini," balas Asha sambil menyuapkan makanan ke dalam mulut ibunya.
"Semoga ya, aamiin. Temanmu Anggun di pindah ke sini, kata keluarganya berharap dia gak di bully lagi. Anggun kerap berteriak jika malam hari, dia pernah di itu oleh napi wanita yang agak anu ... ya kali trauma dan kabarnya lagi dapat pengobatan batin gitu," beber Adhisty menceritakan penggalan kisah sahabat putrinya.
__ADS_1
"Aamiin. Doain ya, Ma. Aku ngarep banget soalnya," imbuh Ghala, karena hatinya mengatakan iya.
Ashadiya berpura tak menanggapi meski dalam hati sedikit bersorak. Namun, dia juga tetap merasa iba. Di lecehkan sesama, mungkin trauma itu akan jauh lebih berat ketimbang dirinya.
"No komen, Ma. Allah Maha Adil," sahut Asha.
Tak lama, keduanya pamit pada Adhisty guna melanjutkan niatan menuju rumah sakit. Wajah senja itu sumringah seandainya saja Ashadiya hamil. Dia membayangkan keluar dari rutan nanti tengah menanti kelahiran seorang cucu.
Sudah dua jam pasangan Cyra ada di rumah sakit. Mereka adalah pasien terakhir di ruangan poli obgyn.
Asha menangis tersedu kala alat ultrasonografi berputar di atas perutnya, memperlihatkan kantung janin juga titik kehidupan mulai tumbuh di rahimnya. Ini adalah keturunan Maghala Sakha. Lelaki yang dia puja dan cinta.
"Dia milikmu. A-aku bakal jadi ibu dari anakmu, Mas?" lirih Asha seraya menutup wajahnya karena haru.
"Milik kita. Dari rahim Umma akan banyak mencetak generasi Qurani, in sya Allah. Aku akan menjaga kalian," balas Ghala, membuka tautan tangan yang menutup wajah Asha.
Maghala menyeka butir air mata dari wajah ayu. Menelisik ke dalam retina coklat terang. "Bismillah ya, Humaira sayang. Kita sama-sama belajar jadi orang tua yang baik sejak dia dalam kandungan."
Dokter yang memeriksa kondisi Asha tersenyum simpul melihat kemesraan pasiennya. Sang dokter seakan baru kali ini mendengar segala ucapan yang keluar dari sang suami berisi doa. Suster pun tak kalah ikut senyam senyum, merasa iri dengan perlakuan manis keduanya.
Kabar bahagia ini Ghala bagikan ke keluarga Magenta ketika dia telah bergelung di atas ranjang dalam kamar mewah Ashadiya. Di saat yang sama, Janu pun memberikan kabar serupa, Eira telah lebih dulu mengandung, kini kehamilannya memasuki usia delapan Minggu selisih dua pekan dengan Asha.
"Alhamdulillah, punya dua cicit langsung," kata Janu saat Ghala menghubungi via video call.
"Alhamdulillah. Nanti aku call kakak juga," balas Ghala.
"Ghala, bisa pulang kapan? kakek sudah jelaskan ke Haidar perihal Mada menikah meski belum resepsi. Tetapi dia malah meminta kamu datang menjenguk Layla," ujar Janu.
Maghala menimbang, di sebelahnya ada Asha yang mulai terlihat kesal. "Aku gak akan pulang sampai anakku lahir dan kuat untuk dibawa mudik, Kek ... maksudnya agar om Haidar gak ngarep, sampaikan saja begitu. Aku dan Layla sudah selesai sejak kami pergi menempuh jalur masing-masing. Kurasa, kini tiada keperluan personal lagi, bukan?" pungkas Ghala tidak ingin kejadian masa lalu membayang dan berlarut larut. Tak lama panggilan mereka pun berakhir.
Maghala melihat Asha memiringkan tubuhnya, dia memeluk calon bunda dari belakang. Ketika hendak menautkan jemari, Ghala terkejut sebab Asha sedang berdzikir menggunakan tasbih digital nan melingkar di telunjuknya.
"Alhamdulillah."
.
.
...____________________...
__ADS_1
...Yolo rasanya kok pegel 😂...