
Kebahagiaan pasangan Cyra rupanya menular ke seluruh penghuni kediaman mewah Adhisty. Alka bahkan ikutan parno jika melihat Asha banyak berdiri atau berjalan bilamana Ghala tak ada di rumah.
"Balik kamar, Dek! kamu gak boleh capek. Gak lihat apa, si Ghala itu setengah hidup ke sana-sini nyiapin rumah buat kamu. Dia makin gencar aja. Apalagi Denok bilang, Ghala diminta ngisi workshop entrepreneur di sebuah instansi juga bulan depan," tutur Alka berdiri menghalau langkah adiknya seraya berkacak pinggang.
Ashadiya merasa semua penghuni membatasi segala aktifitas membuat dia jenuh. Maghala tak melarang ini itu, bahkan dia di izinkan menyiapkan segala pernak pernik untuk konsep studio terbuka miliknya nanti.
"Mas Ghala gak larang aku, kok," elak Asha ingin meneruskan langkah menuju garasi.
Alka awalnya bergeming saat Asha melewati dirinya. Tetapi dia justru kini memilih mengikuti sang adik, mensejajarkan langkah dan merangkul bahunya lalu memutar balik arah menuju kamar.
"Yang nurut, aku juga kan lagi belajar jadi bapak siaga. Hati-hati setidaknya hingga trimester awal kehamilan. Aisel pernah bilang gitu kan?" jelas Alka, dengan nada lembut menuntun adiknya ke kamar. Membuka handle pintu bahkan meminta Asha naik ke pembaringan segera.
Asha mendengus kesal tapi tak berani membantah. Ghala memang meminta tolong pada Alka sejak tahu Asha hamil agar sama-sama menjaganya.
Alka berani menunjukkan rasa sayang dengan jelas semenjak dia berdamai dengan keluarga ini. Dia adalah satu-satunya pelindung keluarga Cyra. Melihat Maghala begitu protektif pada sang adik, membuat dia merasa kerdil dalam hal pengungkapan perasaan.
Empat bulan selanjutnya.
Adhisty teramat suka cita menyambut hari ini. Kebebasan dirinya dari hotel prodeo yang beberapa bulan menjadi tempat singgah sementara.
Dia dijemput oleh Aisel dan Alka sementara pasangan Cyra menunggu di rumah karena Asha mulai mood swing saat memasuki trimester kedua.
Kala kaki sang nyonya besar menyentuh tanah kediaman, Adhisty menangis tersedu. Aisel memeluk calon mertuanya tanpa banyak kata, dia mengerti rasa hati wanita paruh baya tersebut.
"Alhamdulillah." Aisel lirih berbisik seraya mengusap punggung Adhisty.
"Mamaaaa," seru Asha, dari teras telah siap merentang tangan menyambut sang bunda.
"Asha!" Adhisty melangkah maju, sadar anaknya setengah kesulitan akibat kandungan yang mulai terlihat.
"Hati-hati, Sayang." Ghala menuntun Asha mendekat, menuruni tangga perlahan hingga Adhisty pun memeluknya.
Tangis haru kedua wanita menular ke semua orang yang berdiri di sekitar mereka, termasuk para asisten. Denok teringat momen kehilangan sang ibu akan tetapi dia tak seberuntung Asha, dapat memeluk raga pejuang nyawa nan menghantar diri ke dunia.
"Anja, ini." Hilmi menyerahkan sapu tangan untuk gadisnya.
__ADS_1
Bukannya menerima uluran sapu tangan dari Hilmi, Denok malah menyambar ujung dasi Hilmi yang tersapu angin dan melambai ke arahnya.
"Lah!" ucap Hilmi, terkejut meski sepertinya Denok tak menyadari kesalahan tersebut.
"Sabar, sabar. Ikhlas, ikhlas demi teman bobok," gumam sang duda, mesam mesem gak jelas.
"Mesum!" balas Denok setelah melepas ujung dasi yang dia pakai menyeka air mata.
"Pakai sapu tangan harusnya tadi, Baby. Bukan yang ini," tunjuk Hilmi pada kedua benda di tangannya.
Denok menoleh, lalu melihat ke wajah sang duda. "Salah ya? biarin deh, lagian aku gak suka dasi yang Abang pakai. Ganti!" sahut sang asisten, ikut melangkah masuk ke hunian kala keluarga Cyra membubarkan diri.
Hilmidar menghela nafas. Denok selalu saja begitu, penampilan telah rapi malah di acak dengan alasan kuno. Maghala bahkan menggeleng pelan dengan tingkah mereka.
Pernah satu kali, kemeja putih Hilmi sengaja di bubuhi tanda bibir dengan warna merah menyala di bawah kerah, saat duda itu akan memandu meeting dengan para klien wanita Cyra. Anehnya, Hilmi tak mengganti setelan kala itu hingga dia pulang kerja karena justru merasa nyaman sehingga tiada yang mengusik.
Maghala kerap mencibir, siapa yang mengandung tapi mereka seakan mewakili syndrom ibu hamil.
Ashadiya hanya sesekali mual dan muntah tapi moodnya selalu menempeli Ghala kemana dia pergi. Bahkan tak jarang menangis di depan bathroom bilamana suaminya mandi atau melakukan hal lainnya di dalam sana.
Seperti siang ini.
Dia meminta jus pare di campur seledri dan lemon. Entah apa rasanya tapi Asha meneguknya hingga tandas.
"Sayang, makin aneh saja. Jangan-jangan nanti kamu minta jus jengkol yang di bakar," kekeh Ghala.
"Mau itu. Makanan apa? enak gak?" tanya Asha ketika dia tengah mengunyah permen sugus sebagai penawar pahit dan getir.
Maghala juga harus rela berburu makanan jadul atau bahkan mencari kuliner khas Semarang di kawasan sekitar rumah demi memenuhi keinginan sang nyonya Sakha.
Adhisty membola. Dia mengisyaratkan dengan tatapan tajam pada Ghala agar tak mengikuti kemauan Asha.
Maghala paham arti pandangan itu, dia bahkan melirik ke arah Alka dan Aisel, berharap meminta bantuan untuk memperkuat argumennya nanti.
"Bukan makanan. Itu squezze," jawab Ghala mencoba mengelabui.
__ADS_1
"Jengkol? masa? betul Mbak Aisel?" tanya Asha pada tenaga medis disampingnya.
Aisel Almaas Basafa hanya tertawa kecil menanggapi keinginan ibu hamil ini. Dia lalu menjelaskan bentuk dan kandungan jenis makanan tadi, membuat Asha seketika mual tapi ingin melihat bentuknya.
"Anak mama gak tahu jengkol," seloroh Alka menertawakan adiknya yang polos untuk urusan satu ini. "Semoga Aisel gak kayak kamu. Hamilnya nyusahin suami,"imbuhnya lagi.
Ashadiya melihat ke arah Ghala, dia kini terbawa baper oleh ucapan Alka.
"Mas Ghala, kesusahan karena aku?" cicitnya.
"Enggak. Happy malah, jadi berasa ada buat kamu," balas Ghala, menoleh tajam ke arah Alka sebelum memeluk panda pink kesayangannya.
Ghala menyebut pink panda untuk Ashadiya sebab entah mengapa penampilan istrinya selalu menggemaskan juga pipinya kian bersemu merona. Panda hewan manja dan selalu butuh pelukan, persis Asha yang makin manja sejak awal kehamilan.
Pembicaraan hangat di ruang keluarga Cyra kemudian berlanjut ke acara pernikahan antara Alka dan Aisel. Rencana lamaran akan segera di gelar dalam waktu dekat.
Jika Cyra akan merayakan banyak syukur atas berbagai nikmat, tak berbeda jauh dengan Magenta. Mada berencana menggelar acara tujuh bulan kandungan Eira di dua lokasi, pondok dan kediamannya. Lusa nanti, Janu bakal melimpahi kedua calon cicitnya dengan banyak hadiah. Lagi-lagi, hal ini memicu ketidaksukaan Maharani.
"Mereka selalu jadi prioritas!" serunya suatu siang.
"Jangan sirik. Anakmu kan ku jamin dan akan ku perlakukan sama nanti," jawab Janu menanggapi santai keluhan putrinya.
"Bibi fokus saja dengan perusahaan. Jika kolaps lagi, aku akan mengakuisisi dan menarik Mulia untuk menggantikan posisi Bibi," ujar Mada yang mendengar kisruh kecil siang itu.
Maharani bungkam, sepertinya Madaharsa tahu tentang kondisi perusahaan miliknya kini.
"Bangkrut lagi?" tanya Janu menyelidik ke dalam retina Maharani.
Glek.
.
.
..._______________________...
__ADS_1