BUKAN MENANTU BIASA

BUKAN MENANTU BIASA
BAB 63. TANTANGAN


__ADS_3

"Dandan ala pria, he em."


Asha lalu mulai menyusuri jajaran rak yang memajang berbagai jenis kuas unik, macam-macam cat, palet, juga banyak benda lain sebagai amunisi kala melukis.


Maghala memperhatikan satu persatu benda yang istrinya ambil sekaligus menanyakan nama juga fungsinya, dia tengah mengingat bilamana Asha meminta bantuan untuk membeli semua barang tersebut.


"Gak usah diinget semua, Mas. Kalau aku butuh bantuan buat dibelikan ini itu, pasti bakal ngasih contoh gambarnya," kata Asha, menoleh sekilas ke arah sang suami. Dia tersenyum hingga matanya kian menyipit sebab melihat wajah serius Ghala.


Maghala Sakha gemas, dia mencubit pipi Asha karena mulai sering menebak jalan pikirannya dan rata-rata benar.


"Ahli baca pikiran aku ya, sekarang."


Asha tak menanggapi, dia hanya tersenyum lalu mulai berjalan kembali memilah semua barang yang dia butuhkan.


Maghala mengeluarkan platinum card saat dia membayar tagihan istrinya lalu meminta Asha menyimpan kartu sakti tersebut.


"Mas, ini CC, ya? nih, aku punya," kata Asha, saat di parkiran, mengembalikan kartu milik Ghala.


"Bukan, ini debet. Aku gak pakai CC, simpan dulu, itu untuk kebutuhan sehari-hari dan keperluan rumah. Jangan meminta pada mama lagi ya. Juga, aku sudah transfer buat jajan kamu ke rekening milikmu," balas Ghala, seraya memakaikan helm di kepala Asha.


"Maksudnya?


Maghala menghela nafas. "Nanti aku jelaskan. Naik, Sayang, aku sudah di tunggu orang yang mau kerja," jelas Ghala, meminta Asha segera duduk membonceng di atas motor sebab dia akan membawanya menuju kontrakan.


Ashadiya masih mencerna kalimat tadi, akan tetapi dia memilih diam hingga beberapa saat kemudian, mereka tiba di sebuah bangunan petak berjajar.


Maghala memarkirkan motornya di garasi depan sebelah pagar. Dia lalu menuntun Asha berjalan pelan.


"Mas Ghala, kok baru kelihatan?"


"Bang Ghala, kemana aja, ih. Gak jualan lagi?


Banyaknya pertanyaan serupa, sapaan ganjen dari sesama penghuni kontrakan, membuat Asha gerah. Dia menekuk wajah saat Ghala meladeni semua tetangga dengan sikap ramah.


"Maaf ya semuanya ... aku cuti jualan sebab menikah dan mudik bawa dia, istriku," jawab Ghala menoleh pada Asha lalu sedikit membungkukkan badan melewati beberapa kontrakan untuk menuju unitnya di ujung sana.


"Lah, gak ngundang!"


"Sih, nikah? ini istrinya?"


Cuitan ibu-ibu penghuni komplek rumah petak saling berbisik kala Asha melintas. Karena berjalan hati-hati dan perlahan sehingga memungkinkan indera pendengaran masih dapat menangkap suara sumbang para wanita.


Asha hanya menunduk, menyembunyikan senyum. "Sorry ya, gue yang menang, jadi istri Mas Ghala, yee!" . Lelakinya ternyata digandrungi kaum hawa di semua tempat yang mereka singgahi. Asha beristighfar sekaligus banya mengucap syukur dalam hati, saat perlahan mengetahui semua sisi kehidupan sang suami.


Tak lama, dua orang pemuda menyalami Ghala ketika melihat pasangan Cyra. Mereka pun berbincang selama hampir dua jam di dalam kontrakan. Akhirnya kesepakatan di raih, Maghala akan mulai membuka angkringannya lagi di tempat semula, dia yang bakal meracik bumbu dan mereka akan memasak lalu menjajakan. Perjanjian bagi hasil pun di tanda tangani secara sederhana.


Setelah semua selesai.


"Pulang, yuk," ajak Ghala, menarik lengan Asha yang sedari tadi hanya diam. Wanitanya memang tipe pengamat situasi, tetapi dia pasti menyimpan pemikiran.


Asha mengangguk dan mengikuti langkah suaminya meninggalkan rumah petak tersebut.


Sepanjang jalan, nyonya sakha di buat tertawa oleh kekonyolan Ghala. Ashadiya sungguh merasa bahagia, ternyata pacaran halal dengan menaiki sepeda motor lebih berkesan romantis.

__ADS_1


Dia dapat leluasa memeluk, mencubit, menepuk bahkan mencium dan menggoda Ghala dengan meniup tengkuknya.


Tepat makan siang, pasangan Cyra tiba di hunian. Hidangan sehat bagi Asha telah menanti di kamar sementara Ghala memilih mandi lebih dulu.


Setelah aktivitas masing-masing selesai, Asha naik ke ranjang. Matanya mulai berat meski Ghala masih sibuk dengan Denok mengurus konten, duduk di sofa kamar mereka.


Menjelang pukul dua.


"Sayang, aku bilang simpan ini, untuk kebutuhan rumah," ujar Ghala saat melihat card miliknya tergeletak di sisi ponsel sebelah meja nakas.


"Aku ada uang kok," jawab Asha dengan nada malas.


Maghala Sakha, bergabung naik ke ranjang lalu menarik tubuh istrinya masuk dalam pelukan.


"Hak kamu mendapat nafkah lahir itu ada tiga. Kebutuhan rumah, anak, ekstra dan pribadi. Jika aku tidak mampu maka wajib memenuhi yang paling inti saja, tapi karena suamimu sanggup, maka aku mencukupi semuanya," bisik Ghala tepat saat tangannya membelai surai yang menutupi wajah ayu.


"Ehm, apa aja yang termasuk ekstra dan pribadi, Mas?"


"Jika kamu atau anak kita sakit, butuh beli hampers atau angpau untuk undangan ... kalau kebutuhan pribadi ya semua hal privasi kamu, termasuk merawat aset," lirih Ghala lagi, kali ini dia menekankan nada bicara untuk kalimat yang terakhir.


Ashadiya membuka kelopak mata yang sudah mulai berat karena sangat mengantuk.


"Aset?"


"Ini, ini, dan semuanya. Aku ingin istriku selalu wangi, ayu dan seksi. Satu lagi, siaga," ucap Maghala, sangat lirih sambil menciumi beberapa bagian tubuh Asha.


Ashadiya sukses merona, sehingga merasakan pipi bersemu kemerahan akibat malu. Suaminya mulai nakal menjamah sana sini. Namun, kini dia mengerti keinginan Ghala. Tak salah jika selama ini Asha sangat lama berada di kamar mandi. Dia ingin selalu sempurna di depan lelaki pujaan.


"Nanti aku bantu merawat semuanya ... ingat ini ya, Sayang. Jika di analogikan sebagai makanan. Apabila seorang pria telah kenyang karena suguhan di rumahnya, maka ketika dia di tawari untuk mencicipi makanan enak nan lezat di luaran pun, dia takkan tergoda," kata Ghala, menjawab pertanyaan tersembunyi Asha yang tak terungkap.


"Bener. Jadi, bukan hanya tugas istri harus menjaga semua keindahan di depan suami. Tapi di modalin, dan aku juga menjaga pandanganku pada selain mahram ... menyenangkan pasangan tak harus macam-macam, cukup kenali maunya dan lakukan dengan ikhlas, karena?"


"Kewajiban, tugas IRT kan gitu ya," sahut Asha lagi, kantuknya menjadi hilang.


"Tugas IRT itu bukan kewajiban, Sayang. Tapi jihad. Berjuang di jalan Allah, tanpa gaji gak ada libur dan siaga kapan saja. Pahalanya setara dengan kaum mujahid kala ikut berperang dulu ... aaah, Humaira, aku ridho terhadapmu. Jika surgamu ada padaku, maka rezekiku terletak di hatimu. Semoga kamu ikhlas hidup denganku ya, Sayang," tutur Ghala panjang, dia kian merapatkan pelukannya lalu memejam.


Ashadiya Cyra meneteskan air mata bahagia. Dia di puja sedemikian rupa oleh Maghala. Putri bungsu Adhisty berjanji akan menjadi suguhan indah nan mengenyangkan bagi suaminya ini. Pasangan Cyra lalu menghabiskan siang dengan beristirahat sebelum datang ke acara nanti malam.


...***...


Bada Maghrib.


Ashadiya terlihat sangat cantik dalam balutan gamis hitam dengan aksen bordir emas melintang dari dada kiri hingga ke pinggang, lalu payet kristal itu membentuk garis lurus hingga mata kaki.


Sneaker silver di pilih Ghala agar kaki Asha nyaman melangkah juga untuk menyempurnakan penampilan istrinya.


"Mas!" Asha tak mengerti terhadap apa yang dilakukan oleh Denok sejak tadi dengan suaminya.


"Take video ya, Nok, kalau Asha mulai jalan nanti, inget cut di beberapa bagian agar estetik jika di edit nanti," titah Ghala, meminta Denok sedari tadi untuk membuat banyak potongan video istrinya.


"Siap, Den. Fix, Non Asha kayak Barbie ini sih ... ayo Ken, dandan juga," seloroh Denok meminta Ghala berganti pakaian. Dia menyebut panggilan beken kekasih Barbie dalam film kartun ala princess.


Asha mendengus kesal, dia melempar Denok dengan undangan sebab menggoda suaminya, akan tetapi gadis itu malah cengengesan.

__ADS_1


Adhisty sedang duduk di ruang keluarga ketika melihat anak dan menantunya keluar kamar. Dia sungguh terpesona oleh penampilan Maghala.


Setelan formal berwarna hitam itu begitu pas membalut tubuh menantunya. Adhisty tahu, keduanya akan menghadiri acara galadiner tahunan komunitas pelukis Indonesia, kegiatan yang cukup penting bagi karir Asha untuk menjaring kolega.


"Hati-hati." Adhisty menyerahkan satu kunci mobil Honda Civic hitam milik Asha, pada Ghala.


"Makasih, Ma," sahut pasangan Cyra meninggalkan ruang keluarga menuju garasi.


Beberapa saat kemudian.


Gedung megah dengan dekorasi mewah menyambut semua tamu malam itu. Asha menyerahkan undangan ke petugas lalu mereka mulai menapaki red carpet menuju table yang telah di siapkan.


"As-haa?" sapa seorang wanita, dia takjub dengan penampilan nona Cyra.


Ashadiya menoleh. "Hai, Anggun! kamu sudah datang, dengan siapa?" tanyanya memancing sang sahabat.


"Aku ... kita ketemu lagi, Bro!" balas Sade, menepuk lengan Maghala.


"Halo, cantik. Sudah bisa jalan, ya. Kamu hijrah setelah ehm...." kata Sade melihat Asha dengan tatapan mesum.


"Hati-hati bicara jika ingin lidahmu utuh," balas Ghala, menghalau pandangan Sade pada istrinya.


Anggun heran, apakah ini pria sama yang dia temui pagi tadi dengan Norma di toko alat lukis. Penampilannya sangat berbeda dan mengagumkan bagai seorang tuan muda keluarga kaya, pikirnya saat menatap Ghala.


"Sudah ku bilang kan, suamiku tampan sampai kamu kesulitan mengedip," bisik Asha, terkekeh seraya menepuk lengan Anggun.


"Eh!"


Kehadiran Asha menarik banyak perhatian para sahabatnya. Namun, Maghala berpesan agar dia tetap berhati-hati meski ada Denok yang mengawasi.


Pasangan Cyra berada di sana hingga pukul sebelas malam, sengaja menunggu hingga suasana lengang. Maghala berusaha melobi pengurus komunitas agar tetap mempertahankan Asha karena istrinya hanya pindah aliran melukis.


Tuan muda Magenta mempunyai bukti konkrit atas kegiatan Asha selama vacum. Namun, intervensi oleh Anggun membuat beberapa anggota meragu.


Perdebatan sengit di depan pengurus komunitas, Maghala lakukan dengan Anggun yang bersikukuh mengatakan bahwa Asha tak produktif sebab menyembunyikan aib.


"Aib apa?" cecar pria paruh baya, yang menjabat sebagai ketua persatuan.


"Jangan memancingku. Aku bersedia menutup borokmu jika kau berhenti menyudutkan Asha!" kecam Ghala, menatap tajam bergantian pada Anggun juga Sade yang berdiri di belakang kursi wanita ini.


"Ceritakan saja, Tuan Maghala," pinta anggota lainnya.


Ashadiya menggenggam lengan Ghala erat, dia malu dan takut jika semua ini malah berujung ricuh.


"Kau siap, Nona Diazae? tak ingin mundur?" sindir Ghala, sekali lagi menatap tegas pada putri pemilik galeri seni Diazae itu.


Anggun masih duduk santai seraya bersedekap tangan di depan dada, dia malah tersenyum sinis pada Asha. "Silakan saja," jawabnya.


Tiba-tiba. "Ghala!"


.


.

__ADS_1


...___________________...


__ADS_2