BUKAN MENANTU BIASA

BUKAN MENANTU BIASA
BAB 64. SETERU


__ADS_3

Sebuah suara seorang wanita mengganggu keseriusan Ghala saat akan membalas pernyataan Anggun.


Tuan muda Magenta hanya sekilas melihat ke arah gadis itu, dia akan menyelesaikan masalah dengan Layla setelah ini.


"Ghala!" panggil Layla lagi, dia menatap penuh harap pada lelaki teman kecilnya. Maghala tak menghiraukan, padahal Norma susah payah membantunya masuk hingga ke tempat ini.


Denok pun sigap menghalau lalat kecil pengganggu, tuan mudanya tengah dalam situasi genting. Asisten Asha lalu meminta Layla menyingkir sejenak hingga pasangan Cyra selesai.


"Silakan lanjutkan saja, Tuan," ucap sang ketua komunitas.


Maghala meminta tab dari clutch milik Asha lalu membuka banyak berkas di galery yang telah dia siapkan dan menyerahkan pada pria di depannya.


Lelaki paruh baya itu menerima benda pipih dengan layar 10 inchi tersebut. Memutar beberapa video kala Asha fisioterapi, belajar menggerakkan pergelangan tangan bahkan saat memulai berlatih menggerakkan kuas ketika di Solo kemarin.


Banyak slide foto secara candid yang Ghala capture saat Asha membuat background lukisan juga kegiatan lainnya, termasuk pelatihan di kediaman Pramudya Brata beberapa waktu lalu.


Tab yang berisi himpunan semua bukti, kini bergilir ke para anggota pengurus inti komunitas. Beberapa di antara mereka berbisik dan mengangguk, membuat Anggun kian penasaran.


"Ashara kecelakaan dan cedera lumayan parah?" tanya sang ketua menegaskan.


Maghala mengangguk, hasil Rontgen juga diagnosa akhir dokter pun dia simpan dalam file pdf di tabnya.


"Benar, capture rontgen dengan nama Ashadiya terlihat jelas pada bagian atas identitas pasien. Di situ juga tertera nomer kontak dokter pribadi istriku." Maghala tegas mengatakan hal tersebut, karena bukti akurat terlampir.


Ashadiya menoleh ke arah sang suami, dia melakukan semua tanpa banyak bicara. Janji untuk membalas dengan elegan pun dibuktikan kini. Apakah ini yang Ghala maksud dengan pengumpulan bukti saat dia mendapat ancaman Anggun di Solo kemarin, pikir wanita ayu.


"Pramta, bukannya sudah tidak menerima murid dalam waktu dekat ya? tapi Ashara ternyata malah tergabung dalam klub miliknya?" ujar salah satu anggota lainnya.


"Beliau tertarik dengan lukisan Ashara di gedung seni Diazae lalu memberikan test dengan meminta istriku membuat satu lukisan. Jika Anda tahu even Solo, Back to Buana yang di helat kemarin, karya Ashara terpajang di sana, ulasan lengkap mengenai hal tersebut ada di slide paling akhir. Pramta baru mengirimkan artikel siang tadi," ungkap Ghala, menunjuk tabnya kembali. Ekor mata teduh itu melirik ke arah Anggun yang kini nampak gelisah.


"Bukannya lukisan anak kecil memegang payung itu di dapuk untuk even Jerman, Nona Ashara?" tanya ketua komunitas lagi, melihat pada Asha.


Ashadiya mengangguk. Dia juga mengatakan telah membuat sketsa setengah jadi untuk even Jerman tetapi gagal berangkat sebab cedera. Asha memperlihatkan sebuah golden tiket untuk even yang sama tahun depan.

__ADS_1


Para pengurus komunitas manggut-manggut. Mereka tak menemukan indikasi kesengajaan mundur dari komunitas, hanya sedikit kesalahpahaman semata.


"Jadi, dimana letak ketidakproduktifan Ashara, Nona Diazae?" ujar sang ketua, kali ini menoleh pada Anggun.


"Ya dia kan tetap vacum lebih dari enam bulan. Apapun itu, bukannya konfirmasi malah join klub lain," elak Anggun, enteng berkata seraya memainkan kukunya.


"Ashara kan cedera. Lagipula, dia masuk klub Pramta sebab di terima sebagai murid beliau. Bukankah Anda mengetahui kondisi istriku saat menghubungi Asha setelah pidato di China itu? mengapa Anda tak membantu mengabarkan pada komunitas?" cecar Ghala.


Anggun mendelik tajam, dia lupa menyiapkan alibi untuk ini. "Ya aku lupa, namanya lupa kan gimana ya," jawab nona Diazae santai.


"Maaf semuanya, Asha tak memegang ponsel sebab tangannya tak mampu menopang benda terlalu lama. Dokter pun saat itu melarang kontak dengan gawai untuk sementara waktu," ujar Ghala.


Pernyataan Ghala membuat Sade mempunyai alasan ikut bicara.


"Kau kan bisa mewakili. Seharusnya bisa menjalin komunikasi dengan para pengurus atau kalian ada sesuatu yang disembunyikan, sehingga tak terbuka satu sama lain?" kata Sade, menatap sinis Ghala dengan senyuman mengejek. Dia mempunyai kewenangan bicara sebab keluarga Sadana salah satu donatur untuk komunitas ini.


Maghala tak mungkin menjawab hal pribadi bahwa dirinya dan Asha dipaksa menikah sehingga menjaga hal privasi satu sama lain kala itu.


Manakala Ashadiya akan menjawab, telapak tangannya ditahan Ghala.


Maghala bangkit, mencondongkan tubuh lalu berbisik ke telinga Sade. Seketika raut wajah tuan muda Sadana memucat, manik matanya membola tak mengira dengan apa yang Ghala sebutkan.


"Gimana? berani?" lirih Ghala, tersenyum sinis sambil menepuk lengan Sade.


Anggun mulai kesal, Sade tak banyak membantunya menekan pengurus malah dia kini terlihat kalah terintimidasi oleh suami Asha. Putri Archiba Diazae akhirnya geram.


"Pokoknya dia menyalahi aturan lah, intinya itu," desak Anggun.


Pengurus lalu memutuskan Ashara, nama pena Ashadiya Cyra akan tetap menjadi anggota komunitas. Mereka mengabaikan laporan Anggun kemudian saling berjabat tangan.


Gurat kecewa jelas terlihat di wajah eksotis Anggun, dia menatap sinis Asha yang terlihat lega akibat pembelaan suaminya berhasil membuat pengurus mengabulkan permintaan pasangan Cyra. Anggun dan Sade akan beranjak dari sana saat sebuah suara justru membuat mereka tersenyum sumringah penuh kepuasan.


Tiba-tiba teriakan Layla membuyarkan segalanya. "Ghala, istrimu itu pezina! dia wanita murahan!" teriak Layla kesal sebab menunggu terlalu lama.

__ADS_1


Denok kecolongan, dia lalu membekap mulut Layla dan menggiringnya keluar ruangan meski dihalangi oleh Norma.


Layla mencari kediaman Asha guna menyusul Ghala tapi usahanya sia-sia. Dia di jegal petugas keamanan setiap kali mendekat ke sana. Ditambah anak buah sang ayah yang terus memaksanya pulang membuat Layla kabur dan tinggal di rumah Norma, sang sahabat.


Dhuar!


"Apa? pezina!" kata para pengurus melihat ke arah pasangan Cyra dengan tatapan heran dan tak mengira.


Kesempatan bagi Anggun untuk mendesak lagi agar Asha di coret dari komunitas sebab akan mencoreng nama baik perkumpulan mereka. Gurat kecewa tersemat di wajah ketua, mereka akan mempertimbangkan hal ini lagi lalu rombongan pun bubar meninggalkan pasangan Cyra.


"Tuan, bukan begitu kisahnya." Ghala berusaha mencegah kepergian mereka tapi kali ini Asha menahan lengannya dan menggeleng pelan.


"Well, bye Asha! ... akan ku pastikan kau kehilangan segalanya," bisik Anggun saat melewati Asha sebelum melenggang pergi.


"Skandal Ashara!" teriak Layla lagi. Dia menggigit jari Denok sehingga asisten Asha melepas bekapan, meski tak dapat mendekati Asha.


Maghala melihat istri ayunya. Tak memedulikan seruan Layla. "Sabar ya, aku selesaikan dengan Layla dulu," ucap Ghala, menghapus setitik air mata di ujung netra Asha.


Wanita ayu pun terduduk lemas, dia tiba-tiba merasa sangat lelah. Meski itu bukan kesalahannya tapi aib tetaplah aib. Asha hanya tak ingin hati Ghala terluka sebab di rendahkan Sade.


"Nok, lepas," kata Ghala mendekat pada Layla.


Denok memilih menjauh, dia ingin menenangkan majikan wanitanya.


Maghala memilih tetap berdiri, dia menghela nafas berat. "Layla, tidak ada yang harus ku jelaskan padamu lagi. Dia istriku, aku menerima Asha lahir batin apapun kondisinya saat itu. Darimana kau dapatkan fitnah keji tentangnya?" tanya Ghala, menatap tajam pada sahabat kecilnya.


"Mengapa kamu mau menikahinya sedangkan dia kotor! Ghala, kamu gak pantas buat dia!" teriak Layla, mulai bersuara parau dan berkaca-kaca.


"Lalu, apakah kamu pantas untukku, begitu?"


.


.

__ADS_1


...__________________...


__ADS_2