
Semua yang ada di dalam ruangan diminta kooperatif agar menuju kantor kepolisian terdekat, untuk dimintai keterangan sebab Pierre telah mewakili Ghala melapor pagi ini.
Patrianusa meminta pasangan Cyra menyusul mereka sebab dia tahu, Ghala akan mengurus satu hal penting lainnya.
"Den Ghala, nanti ke kantor setelah klarifikasi ke organisasi saja. Jika butuh bantuan, apapun itu, jangan sungkan call saya, nggih," ujar pak polisi tampan meski usianya tak lagi muda. Dia tersenyum ke arah pemuda kalem yang di fitnah oleh orang-orang nan sama beberapa bulan lalu.
Maghala mengangguk. Dia masih mengurusi Asha yang kini duduk menunduk di kursi semula.
"Nggih, Pak. Siap, makasih banyak atas bantuannya," balas Ghala, membungkukkan sedikit badannya seraya menyalami sang petugas.
Beberapa saat berlalu.
Ghala setia menemani Asha hingga dia tenang kembali. Pierre sudah berusaha menahan keputusan yang akan diambil oleh pihak komunitas terhadap Ashara selagi menunggu kisruh selesai.
Denok berkali mendapat teror panggilan dari Hilmidar, akan tetapi dia mengabaikan karena situasi tak memungkinkan untuk menjawab rasa keingintahuan pria itu.
Tuut. Tuuut.
"Ya, Tuan," sapa Denok kala menggeser tombol hijau ke atas layar.
"DENOK!!!!" seru Hilmidar.
Teriakan asisten Janu sampai terdengar ke telinga Ghala. Tuan muda Magenta lalu meminta Denok meloudspeaker panggilan dari Hilmi dan meletakkan ponselnya di atas meja.
"Apa sih? lagi dapet ya? marah mulu. Kan saya lagi kerja, tadi ricuh masa iya telponan terus ngeladeni kekepoan Tuan," kesal Denok, dia mendudukkan dirinya ke kursi sambil meletakkan lengan di atas meja dan menopang dagu.
"Harusnya kamu tekan tombol panggilan cepat agar aku dapat mendengar semua percakapan di sana. Lain kali di ingat, jangan teledor lagi," ujar Hilmidar, masih dengan nada tinggi dari seberang sana.
Maghala yang meminta Denok agar tetap fokus tanpa melakukan apapun.
"Saya tahu meski tanpa mengingat itu, Tuan, tetapi permintaan Den Ghala lebih utama dari Anda," elak Denok masih di posisi semula.
"Aku juga penting!" cecar Hilmidar, tak menyadari pilihan kata yang dia sebutkan.
"Sih, siapa kau kau kau kau kau! bukan ayang tapi ngaku sok penting ... mereka baik-baik saja, kini akan menuju komunitas pelukis sebab konferensi pers akan di gelar," sambung Denok, mulai bersiap bangkit karena melihat pasangan Cyra tengah berkemas.
__ADS_1
"Anggap aja bagai ayang kamu, yang akan terus mengusik jika kau lalai," balas Hilmidar, jika Denok tahu, wajah lelaki itu kini tersenyum.
"Modus! mulai sekarang, hubungi Pierre jika ingin mengetahui kabar aku," sahut Ghala, menoleh ke arah ponsel yang masih tergeletak di atas meja sambil menggamit pinggang Ashadiya saat akan bangkit dari duduk.
"Nok, kamu loud speaker ya? Nok!" sebut Hilmidar saat mendengar suara Ghala.
"Atas permintaan Den Maghala, Tuan."
Denok meraih gawai dari atas meja, dia lupa tak mematikan panggilan. Benda pipih itu lalu dia tenteng.
"Lagian hal standar itu bukanlah satu hal penting, gue juga ngerti lah. Byuh, males amat ya mikirin terong-terongan."
Pet.
Asisten Asha tak menyangka bahwa kalimat akhir keluhan dirinya masih di dengar oleh lawan bicara di ujung sana.
Ketiganya lalu berpisah tujuan saat lift tiba di basement. Pasangan Cyra menaiki mobil milik Asha sementara Denok melangkah menuju parkiran khusus sepeda motor untuk melanjutkan perjalanan ke kontrakan Ghala, memantau pekerjaan partner bisnis sang tuan muda di bidang kuliner.
Dalam perjalanan menuju gedung komunitas para artist, Asha hanya diam. Dirinya pasrah dan sudah tak bernafsu lagi bertahan di sana.
Honda Civic hitam perlahan memasuki kawasan kantor. Tampaknya, konferensi pers baru akan di gelar. Pewarta seketika mulai mengerubungi kendaraan yang baru masuk manakala mengetahui isi penumpang didalamnya adalah sang bintang utama.
Pihak keamanan menenangkan mereka sehingga pasangan Cyra dapat turun dari mobil dengan aman dan masuk ke gedung melalui pintu samping guna menuju ruangan tetua.
Tanpa basa basi, Maghala menyampaikan permintaan maaf atas kelancangan meminta penangguhan waktu atas gelaran agenda hari ini.
Tuan muda Magenta lalu menyodorkan tab berisi video peng-galan kesaksian pelayan hotel juga asisten yang wajahnya di samarkan. Keduanya adalah saksi kunci penyebab Ashara teler.
Ghala tak ingin membuka aib orang lain, biarkan itu menjadi tugas semesta. Apa yang dia lakukan pagi tadi, semata hanya tabayyun, langsung mengklarifikasi pada sasaran dan itu adalah sesuatu hal nan wajib ditempuh.
Kini semuanya jelas dan terkonfirmasi. Para pengurus pun berniat mengubah hasil keputusan mereka. Namun, Asha menolak tawaran tersebut.
"Aku hanya ingin tenang. Mungkin memang harus begini jalannya. Aku mengundurkan diri dari komunitas," ucap Asha tegas melihat ke arah Ghala juga para pengurus.
"Sayang!" tegur Maghala, menoleh pada Asha, menatap dalam manik mata sipit disampingnya.
__ADS_1
"Gak apa, Mas. Sudah niat biar bisa fokus ke hal lainnya. Bebas tidak terikat apapun, toh rezekiku dijamin oleh Allah melalui tanganmu, kan?" ujar Asha, menggenggam jemari suaminya agar dia kian yakin dengan keputusan ini.
Maghala tahu maksud Asha, dia lalu tersenyum dan mengangguk. Jemari keduanya saling bertaut. "Oke, Humaira."
Tuan muda Magenta kemudian memohon pada para pengurus agar mengklarifikasi status berita bahwa itu ulah seseorang yang memfitnah Ashara. Bukti telah ditunjukkan dan proses hukum tengah berjalan. Lelaki tampan itu juga meminta penegasan keanggotaan Asha bukan di coret karena adanya kasus ini, melainkan mengundurkan diri.
Pasangan Cyra bangkit, memilih langsung meninggalkan gedung sebelum konferensi pers dimulai. Kini keduanya hanya akan berkeliling kota, mengunjungi taman atau tempat lain hingga senja menjelang nanti.
Dalam kesunyian kabin mobil mereka.
"Kenapa kok tiba-tiba ambil keputusan begitu?" tanya Ghala saat Asha hanya diam memejamkan mata.
"Kata pak Lek, lillah kan, Mas? ... yang penting impian ku sebagian telah tercapai. Mungkin kini saatnya fokus untuk melakukan hal lainnya. Aku bisa membuka pelatihan dasar seperti pak Lek sembari tetap upgrade skill dan ikut even sekedar menyalurkan hobi saja, bukan lagi mengejar karir," tutur Asha, menyandarkan kepalanya pada headband dan menoleh ke arah Maghala.
"Ganti haluan ya?" balas Ghala, tersenyum sekilas saat melihat istrinya.
"Ehm, jihad meniti karir yang lain. Ingin betul-betul hadir seutuhnya denganmu sepanjang hari."
Asha puas memandangi lelaki tampan disisinya kini. Dia ingin mengubah arti hidupnya agar menjadi lebih manfaat bagi sekitar. Banyak hal yang bisa dilakukan Asha setelah ini.
"Alhamdulillah, niat baik telah tercatat. Semoga apa yang sedang kamu susun dalam otak cantikmu ini, bisa mendulang banyak pahala jariyah ya, Humaira," pungkas Ghala, meraih pucuk kepala istrinya dan menghembuskan doa di sana.
"Aamiin. Mas paling tahu aku, kan?" senyum Ashadiya mengembang hingga matanya kian menyipit.
...***...
Semarang.
Hilmi memandang benda pipih digenggaman tangannya. Dia mencerna kalimat akhir dari Denok, beberapa saat yang lalu. "Begitu ya, oke, maaf," gumam sang duda.
.
.
..._______________________...
__ADS_1
...Hore, selesai....