
"Jawab saja Huda, toh sudah ketahuan semua kan? ngapain di tutupi lagi?" ujar Hilmi, berbisik mesra ke telinga sang asisten, mata kirinya mengerling centil seraya tersenyum manis.
Huda menjauhkan diri dari Hilmi, tapi tubuhnya membentur Gani yang juga tengah menatap tajam padanya.
"A-aku normal kok, Tuan Hilmi. A-anda juga kan?" cicit Huda takut sebab Hilmi kerap menggodanya. Huda juga sering berpikir apakah asisten senior tersebut kini menyukai sesama sebab terlalu lama menduda.
"Kalau kau tak mau terus terang, aku akan membuatmu lemas, tak berdaya dan memohon ... itu akan membuatku kian bergairah," bisik Hilmi lagi, disertai lirikan yang memindai wajah mulus Huda seraya menggigit bibirnya seakan mendamba pria itu.
Dalam otak Hilmi, kalimat miliknya di gunakan untuk gambaran menyiksa Huda, lelaki gemulai itu takkan sanggup menerima pukulan, tamparan atau kekerasan lain sehingga Huda memohon dan itu justru menaikkan keinginan untuk terus menyiksa korban. Dia hanya menggoda agar bocah tengil ini merasa risih.
Lain hal isi kepala Hilmi maka berbeda dengan pemikiran Huda. Dia mengira akan di buat lemas dalam hal memberikannya pada pria pecinta sesama, sehingga Huda memohon agar tak kecanduan hal demikian atau menjadi menyukai meski tetap tertarik pada kaum hawa.
"Kamu mau jawab di sini atau di ruang privasi dengan Hilmi, Huda?" desak Ghala, menatap tajam sekretaris Janu. Sementara sepuh Magenta hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan Huda tak jua berubah menjadi greng.
Ucapan Maghala sontak membuat pemikiran Huda tentang Hilmi yang seperti itu kian tajam. Dia mengangguk setuju tetapi sekilas melirik ke arah Maharani. Wanita itu memelototinya.
Maghala melirik ke arah Maharani, dia menduga dalang dibalik semua ini adalah bibinya sendiri.
"Lekas!" sentak Maghala lagi, tak dapat menunggu.
"Ba-baik, Tuan muda. Sa-saya diminta oleh beliau sebab Nyonya Maharani yang membantu saya hingga menjadi sekretaris pribadi Tuan besar. Ini sebagai balas jasa, saya hanya menjalankan tugas, tidak memikirkan dampak lainnya. Ampun, Tuan besar," ujar Huda, jujur mengatakan yang sesungguhnya. Dia bersimpuh di kaki Janu sebab takut akan tatapan Maghala.
Janu bergeming, dia tak mengira bocah polos ini dimanfaatkan Maharani. Kini, dia hanya pasrah pada keputusan Maghala saja. Jiwa raga telah lelah dan Janu hanya ingin hidup damai menjalani sisa usia.
Madaharsa menoleh ke arah Maharani. Ketiga putrinya pun menunduk dalam, malu akan sikap sang ibu. Mulia, putri sulung Maharani, angkat bicara.
"Aku atas nama pribadi, Melanie dan Maghfir, meminta maaf atas sikap dan perilaku Mama yang menyakiti terhadap keluarga besar. Aku akan sentiasa mengingatkan beliau juga adik-adik agar tetap santun dan menjaga adab di masa depan. Mohon kiranya Kakek, Kak Mada dan Ghala tidak membenci keluarga kami," tutur Mulia, bangkit dari duduknya membungkukkan badan lalu mengajak kedua adiknya pamit setelah menyalami Janu dan Mada.
__ADS_1
Maharani tak suka dengan sikap Mulia yang dinilai sok tahu dan menghakimi dirinya. Maharani mendengus seraya berseru memanggil ketiga anaknya untuk kembali akan tetapi di cegah Maghala.
"Mulia benar. Ini antara Bibi dan kami saja. Jadi, sekarang, silakan kemasi barang pribadi Bibi dan kita ketemu di ruang meeting," ucap Ghala untuk Maharani. Dia melirik ke arah Gani agar menggiring Maharani ke sana.
"Huda, awas saja jika melarikan diri, Hilmi akan membabat habis kamu nanti. Setelah meeting, ikut kami ke Al Islah," imbuh Maghala lagi.
Penghuni ruangan satu per satu meninggalkan kantor sang CEO. Maghala lalu menghampiri Mada, memberikan minum juga menyeka keringat dingin di dahi kakaknya.
"Kak, masih kuat gak? kalau sangat sakit, pulang saja ya. Biar Kakek yang bacakan keputusan di rapat nanti," pinta Ghala, berjongkok di depan kursi roda Mada.
"Aku oke, hanya mual dan pening. Ingin lekas selesai semua urusan dan segera menemui Eira. Kamu tahu rasanya bukan, bagaimana memendam cinta lama dan kalian tahu saling suka," ucap Mada, kelepasan. Dia lupa ada Ashadiya di sana.
Degh.
Degh.
Degh.
Ashadiya mendongakkan kepala, telinganya tak salah dengarkah tadi. Maghala memendam cinta lama, pada siapa? pikir Asha, melihat ke arah sang suami yang masih berjongkok disampingnya.
Maghala sedikit terkejut, dan melirik Asha sehingga Mada peka akan sikapnya. Lelaki sulung Magenta itu lalu memejam, sadar dia telah salah bicara.
Tak lama, pintu ruangan terbuka, Gani bersiap mendorong Madaharsa menuju ruangan meeting. Sementara Ghala, mengikuti mereka dengan Ashadiya.
Situasi rapat internal management kali ini diliputi ketegangan. Sebagian direksi terkejut atas pembagian dua kubu Magenta. Janu menekankan agar mereka tak perlu panik sebab ketentuan lainnya akan menyusul di bicarakan setelah pemisahan jajaran manajemen resmi dilakukan.
Janu juga mengutarakan tentang kesalahan Maharani mengelola sejumlah dana. Berkenaan dengan hal pemisahan dua kubu Magenta, maka dana yang dipakai oleh Maharani akan dibebankan sebagai piutang perusahaan Mada, padanya.
__ADS_1
Kiranya keputusan Maghala yang memberikan saran agar Maharani mendapatkan shock terapi, adil adanya. Wanita paruh baya itu pada awalnya tak terima tapi tatapan tajam Maghala membuatnya menciut hingga dia sedikit menahan diri.
Maharani teringat ancaman Ghala tentang waris saat kemarin di bawah pohon halaman belakang. Kalimat semua tergantung amal perbuatan, apakah ini maksudnya. Janu memberikan harta utuh juga perusahaan tanpa hutang sementara Mada menanggung akibat tak sedikit karena ulahnya, dan kini, semua utang dibagi rata.
"Sekian pengumuman penting hari ini. Untuk legalitas sedang dalam proses. Tidak menutup kemungkinan jika di masa depan, apabila salah satu perusahaan Magenta grup goyah, maka proses merger atau bahkan konsolidasi kembali terbuka," pungkas Janu. Dia pasrah jika direksi akan mundur atau menarik aset mereka. Dia yakin, Mada dan Ghala bisa mengatasi hal ini.
Hari yang berat perlahan di lewati Janu dengan lancar. Kini dia akan ke Al Islah dengan Madaharsa juga Huda guna menjelaskan dari sisi pelaku sesungguhnya.
Saat sebagian keluarga Magenta akan meninggalkan gedung, Maghala masih bicara dengan Hilmi di lobby. Dia berniat menuju Solo petang nanti untuk bertemu seseorang keesokan harinya. Tiba-tiba.
"Maghala? apa kabar?" sebuah suara membuat kedua pria menoleh. Bahkan Asha yang sedari tadi hanya diam, ikut mendongakkan kepalanya.
Degh.
Hilmi memilih mundur, dia tak ingin terlibat kisruh kali ini. Duda hot itu justru tebar pesona pada staf frontline di sana.
"Kamu di sini? kemana saja, pergi tanpa kabar?" tanyanya beruntun, menatap Maghala dengan penuh kerinduan.
"Sedang mengunjungi kakek sekaligus mengenalkan istriku pada kedua almarhum, dia belum kenal ayah dan ibu," ujar Ghala, menghampiri Asha dan berjongkok disamping kursi rodanya.
"Istri?" sebutnya lagi. Matanya pun beralih pada wanita ayu dan berhijab yang duduk di kursi roda.
"Iya. Istriku, Ashadiya," ucap Ghala, menatap teduh wajah Asha saat mengucapkan namanya untuk mengenalkan pada seseorang yang masih berdiri tertegun memandang mereka dengan tatapan sendu.
.
.
__ADS_1
...______________________...
...Maharani satu vs Mada, done....