BUKAN MENANTU BIASA

BUKAN MENANTU BIASA
BAB 49. MENGURAI KISRUH SANG CEO


__ADS_3

Semua penghuni di ruang keluarga itu menoleh ke arah sumber suara. Maghala meminta bantuan maid agar mendorong Asha lebih dulu ke ruang makan, supaya dia merasa aman. Sifat Maharani yang meledak-ledak bisa membuat Asha merasa tidak nyaman saat melihat mereka adu mulut nanti.


"Jangan ikut campur, anak buangan!" sentak Maharani, menunjuk dengan telunjuknya, tegas ke arah Maghala di sertai tatapan nyalak.


"Rani!" sentak Janu, matanya membelalak dengan tangan mulai terangkat ke atas.


"Kek! jangan," cegah Ghala berseru sambil menggeleng, dia lalu terburu mendekati sepuhnya agar kekerasan tak terjadi di rumah ini.


Maghala mengatakan pada Maharani, apa yang Janu lakukan semata agar dia dapat lebih leluasa bersama ketiga anaknya. Salah seorang dari mereka sedang sakit, maka sepatutnya ibu berada di sisi sang buah hati.


Hilmi ditugaskan sementara menggantikan Mada, tapi tidak untuk menandatangani semua dokumen penting. Hanya menerima laporan dari para management saja.


Wanita paruh baya tak terima atas saran Ghala, justru dia membalikkan kalimat agar fokus menjaga Asha saja, jangan sampai dia cedera parah atau lainnya.


"Jangan sok ngatur urusan keluargaku. Kamu tahu apa, Ghala? anak ingusan baiknya menjauh, nanti kamu nangis," kata Maharani, mendorong bahu Ghala dengan jari telunjuknya. Senyum remeh terulas di bibir tipis sang bibi.


"Pokoknya Senin itu kan laporan akhir quartal, Ayah juga harus ada di sana. Mungkin sudah waktunya Magenta restrukturisasi jajaran," tutur Maharani, melangkah berbalik badan meninggalkan keluarganya yang lain.


"Rani! sadar, Nak. Ayah gak menjatuhkanmu lusa nanti. Jangan membuatku susah, Rani!" seru Janu, menahan sesak di dada hingga suaranya serak.


Maghala memapah kakeknya, sementara Maharani kembali menghampiri Janu. Wanita itu seakan telah menemui jalan buntu bagi masalahnya.


"Jangan menahan diri sebab aku perempuan, Ayah. Lakukan saja jika menurut Ayah, aku pantas mendulang petaka," kata si putri bungsu Magenta, sejenak matanya memejam, menundukkan kepala lalu Maharani berbalik badan.


Maghala menarik Janu agar tak lagi mengejar Maharani. Putra bungsu Mahananta lalu mengajak sang kakek menuju ruang makan. Setelah ini mereka akan mengunjungi Mada dan meminta untuk melanjutkan perawatan di rumah. Janu harus mendengarkan sendiri niatan Mada untuk masalah hatinya.


Setelah waktu asar, pasangan Cyra memilih pulang lebih dulu ke hunian Magenta sebab Ghala ingin mengenalkan Asha ke suatu tempat di bagian belakang kediaman luas itu.


Maghala meminta Asha berlatih menggunakan tongkat penahan juga alat lain yang terpasang di kaki dan pinggangnya. Mereka lalu menuju pohon nangka dan jambu yang rimbun.

__ADS_1


"Tempat aku belajar setelah pulang sekolah, tidur siang juga melakukan hal lain. Di atas sana, aku membuat itu dengan Hilmi," Ghala menengadah ke atas, telunjuknya mengarah pada bangunan terbuat dari papan kayu jati.


Ashadiya ikut mendongakkan kepala, rumah pohon yang tidak terlalu besar nampak di atas sana. Kini, bangunan semi permanen itu terlihat bagai sarang burung.


"Asik banget masa kecil kamu, Ghala. Ehm, aku suka melukis sebab jarang keluar jadi cuma bisa membayangkan betapa sejuk pemandangan, rasa menginjak rumput basah atau lainnya. Hingga perlahan tertuang dalam satu karya lalu memilih sebuah aliran melukis," beber Asha, masih mengamati rumah pohon dengan sorot mata berbinar.


"Sekarang jadi sarang burung tekukur, entah milik siapa. Aku sepertimu, lebih suka menyendiri dan bermain di alam bebas begini," ujar Ghala, menoleh ke arah Asha lalu mengajaknya duduk di bale.


Angin sore, suasana teduh sebab rindangnya kedua pohon yang menjulang tinggi, membuat semua terasa nyaman.


Senin nanti, setelah mengumumkan sesuatu, Janu berencana akan melepaskan semua urusan duniawi. Maghala mulai cemas, dirinya takut terseret padahal mengampu pimpinan bukanlah misi hidupnya.


Dia hanya ingin banyak menghabiskan waktu dengan keluarga, mengurus buah hati mereka, mendidiknya dengan tangan sendiri sebelum melepas ke tempat dimana banyak ilmu bermuara.


Mimpi ini, dia utarakan pada Asha. Ghala takkan melarang wanitanya melakukan aktivitas apapun terlebih masalah hobi melukis. Dengan syarat, apa yang Asha lakukan harus sesuatu nan manfaat.


...***...


Janu berencana akan menghadap pimpinan pesantren di temani dengan Ghala, sementara Hilmi ditugaskan untuk menjaga Asha. Kemarin, Madaharsa dan Janu saling mencurahkan isi hati hingga tercapai kesepakatan untuk pagi ini.


Keduanya berpapasan dengan Maharani saat akan keluar rumah. Mereka tak saling tegur sapa sebab Janu hanya diam sementara salam Ghala tak di gubris Maharani.


Beberapa menit kemudian, Al Islah.


Pimpinan pondok pesantren itu kini duduk di hadapan keluarga Magenta.


Maghala memulai obrolan dengan menyebutkan identitas diri dan maksud tujuan kedatangan mereka.


Hasyim Rois sedikit terkejut atas ucapan Maghala tapi dia mencoba menahan diri. Putri bungsunya sedang sakit sebab kecewa terhadap niat keseriusan khitbah Mada satu tahun lalu, dibatalkan sepihak.

__ADS_1


"Loh, ini bagaimana? bukannya beliau sudah membatalkan? makanya kami menunggu Eira sehat dulu sebab akan di nadzor oleh kandidat lain," tutur sang tuan rumah, heran akan situasi yang terjadi.


"Eira itu beralasan gak mau ganggu Den Mada, padahal kami hanya meminta kepastian. Gak baik menunda terlalu lama, meskipun saya tahu latar belakang keluarga jenengan sangat apik. Eira itu wanita, ada masa kadaluarsanya untuk melahirkan keturunan. Walau semua balik lagi masalah rezeki," ujar Yai Rois, sedikit menekan kalimatnya seakan terselip kecewa pada Mada.


Maghala pun tak mengerti, dia menangkap bahasa tubuh kurang mengenakkan dari sosok alim di hadapan tapi belum berani menebak.


"Betul, Yai. Mohon maaf apabila keluarga Yai tertekan atas intimidasi seseorang. Kami juga berniat menyelesaikan masalah internal," balas Maghala, menegaskan bahwa urusan keselamatan Eira tidak perlu dirisaukan.


Dua orang preman mengganggu aktivitas sang putri Yai kala Eira selesai mendampingi para santri wanita dari ziarah di Maqom sesepuh satu pekan lalu.


Mobil Eira, di jegal hingga gadis itu sedikit trauma. Dia juga mengirim paket berisi sebuah ulasan yang akan terbit ke publik tentang kedekatan mereka dan tertangkap berada dalam sebuah hotel. Ghala pun mengkonfirmasi alasan tersebut pada Yai Rois.


"Eira shock. Saya sempat murka pada putri kami, tapi sepupunya, Almahyra mengatakan bahwa mungkin itu editan dan sebagainya. Maklum, saya awam masalah begini, juga menyesal tak mendengar Eira lebih dulu."


"Ini, alasan kami memutus khitbah sepihak sebab Den Mada, mengirim pesan membatalkan pinangannya terhadap Eira begitu saja dengan alasan telah memiliki gadis lain yang sesuai status sosial jenengan. Kan kami emosi jadinya, orang pinter tapi tidak punya etika. Kadung mangkel jadi keluarga enggan bertemu Den Mada waktu dia ke sini," ungkap sang Yai menunjukkan sebuah pesan di ponselnya pada Maghala.


Putra bungsu Mahananta memeriksa pesan tersebut. Wajar jika sang kakak drop, dia dikira mempermainkan anak gadis pimpinan pesantren. Tidak sopan memutuskan satu perkara hingga Eira akan di jodohkan dengan pria lain.


Pekerjaan padat, penolakan keluarga Eira terhadap penjelasannya membuat Mada kehilangan konsentrasi dan mood sehingga penyakit pun muncul. Dia stres berat.


Janu akhirnya membuka suara, memohon mempertimbangkan kembali semua ini sebab bukan keinginan dari sang cucu. Tapi jawaban Hasyim Rois mengejutkan mereka.


"Eira...."


.


.


..._____________________...

__ADS_1


Nadzor : melihat calon istri/suami. Bisa via keluarga datang langsung atau melihat dari kejauhan.


__ADS_2