BUKAN MENANTU BIASA

BUKAN MENANTU BIASA
BAB 40. JUNGKIR BALIK


__ADS_3

"Kakak selalu jujur padaku sejak awal, dia tidak mengambil semua uang mama. Hanya menyimpannya sementara. Alka, memakai itu untuk menggolang dana dan berjanji akan mengembalikan dalam waktu satu tahun ini. Surat perjanjian itu ada di kamarku," ungkap Asha membeberkan satu rahasia.


Maghala terkejut, dia mendengar proyek palsu juga penggelembungan dana terhadap pengadaan bahan baku suatu malam.


Lelaki itu akhirnya membuka kecurigaan terhadap semua yang dia temukan. Sesuai dugaan Ghala, Ashadiya membeberkan rencana Alka.


"Kakak memang salah memakai cara seperti itu sebab mama selalu meremehkannya. Jadi, Alka menipu beliau dengan dua kali proyek fiktif dengan nominal lumayan juga beberapa hal kecil lainnya yang tidak terdeteksi oleh mama. Alka juga mempunyai niatan menyingkirkan penjilat di sekitar mama. Ghala, orang tuaku anarki, tidak menerima perkataan anaknya sebab dinilai tak mumpuni," ungkap Asha, dia meremat ujung selimut seraya menundukkan kepala sebab malu akan sikap Adhisty.


Ashadiya tidak dapat mengatakan bahwa sikap kasar Alka hanya mengikuti alur keseharian ibunya. Jika tak menurut pada Adhisty maka wanita itu takkan memberikan segala fasilitas kemudahan bahkan kemewahan.


"Aku memilih melukis, hakku di pegang mama. Aku tak berhak mengelola perusahaan sampai kapanpun meski mama menulis namaku sebagai pewaris. Alasan mama hanya karena tidak percaya kakak," imbuh Asha.


"Alka perlahan membangun rumah sakit, klinik dengan biaya terjangkau bagi masyarakat biasa, berkat Aisel. Sebelum aku kecelakaan, aku pernah bertemu dengan wanita itu. Dia memiliki tanah luas warisan orang tuanya dan kakak yang membangunnya. Jika Alka hura-hura itu sebagai kamuflase saja. Sudah ku bilang bukan, dia bukan yang suka ehm itu lah," sambung Asha, masih menunduk.


Maghala diam. Semuanya jelas sudah. Dua mega proyek Cyra ternyata dananya digunakan untuk membangun rumah sakit. Bahkan beberapa anggaran fiktif. Aisel mempengaruhi Alka berbuat demikian. Wanita itu bisa dikatakan baik atau malah sebaliknya.


Tujuan Alka baik, tapi caranya salah. Maghala mencurigai mengapa Adhisty tak menggelandang Alka ke pihak berwajib. Bukankah yang dilakukannya adalah ilegal. Dia pun bertanya pada Asha.


"Asha, mengapa mama tidak menyeret Alka ke kepolisian? apakah itu tandanya mama tahu? dan menyuap direksi?" tanya Maghala. Jika iya, maka Cyra perusahaan yang sangat tidak sehat. Maghala akan meminta rapat direksi guna membahas ini. Jangan sampai dia ikut terseret dalam pusaran setan.


Ashadiya hanya diam, meneguhkan dugaan Maghala. Lelaki itu bangkit, meraup wajah kasar. Kini dia menghubungi Hilmi, berdiri menjauh dari Asha.


Tuan muda Magenta meminta Hilmi mengundang semua direksi untuk meminta laporan kinerja Adhisty. Jika terbukti pucuk pimpinan membiarkan borok anaknya, maka mau tak mau, Maghala akan mengambil alih Cyra.


Kepalanya mendadak pusing. Ini di luar prediksinya. Cyra harus merombak management total. Hilmi di tugaskan untuk mengurus semuanya termasuk pengesahan legalitas saham Maghala di Cyra.

__ADS_1


"Majulah Ghala, aku akan meminta pada pengacara untuk mengurus hakku sebab kini aku telah menikah dan sanggup mengambil keputusan mandiri. Go on, agar dapat mendukungmu saat rups nanti. Aku tahu, kamu yang membeli saham Alka bukan? jika di gabung dengan milikku, maka posisinya akan setara Mama. Identitasmu sudah saatnya dibuka," ujar Asha, memandang ke arah suaminya. Dia hanya tak ingin keluarganya hancur meski telah terlihat rusak sejak awal.


Maghala kembali ke sisi brangkar Asha. Dia tadinya berniat mengembalikan hak Alka tapi jika mendengar kisah Asha, Maghala ragu.


"Sade, bagaimana?" tanya Ghala lirih. Dia penasaran dengan status bayi itu hingga meminta tes DNA, ada rambut juga sesikit goresan kulit Sade yang menempel di kuku dan bajunya saat mereka bersitegang kemarin.


Ashadiya menunduk. Dia ingin menyelesaikan dengan Anggun untuk masalah ini. Tak ingin melibatkan Ghala sebab dendam pribadi.


"Aku menunggu Anggun pulang. Kita berjuang masing-masing ya. Misimu banyak, cukup temani aku saja. Tolong selamatkan perusahaan yang papa rintis, pikirkan ribuan karyawan kami," pinta Asha memandang sendu suaminya.


Tuan muda Magenta mengangguk. Dia meminta Hilmidar menyusun nama para pemangku jabatan baru di Cyra. Maghala juga melakukan panggilan dengan Alka untuk mengetahui siapa saja para penjilat di belakang Adhisty.


Awalnya Alka menolak tapi Ghala mengatakan semua yang Asha sampaikan. Bahkan Asha membantu meyakinkan Alka bahwa tujuan Ghala baik.


Kedua pria yang berseteru itu kini menjalin komunikasi sebab tujuan mereka satu, menyelamatkan perusahaan Cyra.


Maghala tak mengira, pengorbanan sang putra sulung demikian besar. Dia mengingat Mada, apakah kakaknya juga melakukan hal yang sama.


"Ghala, aku siap jika harus masuk bui, palingan sebentar kan, sebab Aisel akan menjaminku. Kau benar, berdiri di kaki sendiri itu lebih tenang tapi aku sadar caraku salah. Thanks ya Ghala, sudah menyadarkan aku. Ke sini lah, ku kenalkan dengan Aisel. Dia memang mempengaruhi aku tapi ini tak semua salahnya," ucap Alka jujur setelah Ashadiya mengatakan tentang niatan Ghala juga identitas asli sang suami.


"In sya Allah. Doakan saja, maaf sudah salah duga," ucap Maghala merasa kepalanya akan pecah. Mereka pun akhirnya mengakhiri panggilan setelah saling bertukar informasi.


Dua hari lagi, perang antara dia dan Adhisty. Hasil lab DNA pun akan segera keluar, dengan begitu, status Asha akan lepas dari bayang Sade.


Ada hal baik dalam setiap peristiwa. Jika Asha tak keguguran mungkin rahasia kakak adik ini takkan terungkap. Juga masalah tes DNA bisa segera rampung. Sade akan terus membayangi dan mengimingi Adhisty sebab bayi yang dikandung Asha adalah jalan pengikat langkah tuan muda Sadana.

__ADS_1


Maghala melupakan semua pekerjaan. Dia fokus melakukan multi call dengan Gani dan Hilmi hingga tanpa sadar, peluhnya menetes dan mata teduh itu mulai panas.


Menjelang petang.


Hilmidar datang dengan membawa lawyer menemui Maghala di kamar perawatan. Dia akan meminta tanda tangan tuan muda Magenta untuk dokumen legalitas tambahan.


"Nyonya muda Sakha, salam kenal, saya Hilmidar," sapa Hilmi mendekat ke brangkar Asha.


Ashadiya mengangguk pelan, memindai tampilan sang asisten. Dia lalu menjulurkan sesuatu untuk Hilmi, mumpung Ghala tak melihatnya.


Hilmi pun mendekat ke sisi brangkar, menerima uluran benda di tangan sang nyonya muda.


"Tolong, terima kasih," ucap Asha lirih seraya mengisyaratkan dengan telunjuk yang menempel di mulutnya agar Hilmi tak membuka rahasia mereka.


Lelaki matang itu melihat sekilas catatan pada kertas yang kini telah berada di tangannya. Kedua sudut bibir Hilmi tertarik ke atas melengkungkan sebuah senyuman.


Dia mengangguk masih dengan sisa bahagia tercetak di wajah. "Terima kasih. Baik, Nyonya muda, akan aku siapkan," ucap Hilmi, membungkukkan badannya lalu melangkah mundur dari sana.


"Hilmi, jangan dekat-dekat Asha! Cari sendiri sana. Humaira pendiam tapi dia milikku!" tegur Ghala, menjeda dan menatap tajam Hilmi di sela penandatanganan dokumen.


Glek.


.


.

__ADS_1


..._______________...


__ADS_2