
Menjelang pukul sembilan malam.
Setelah pembicaraan dengan keluarga Cyra, Maghala memilih kembali ke kamar untuk mengerjakan pekerjaan yang tertunda.
Dia membuat konsep konten untuk satu pekan ke depan berdasarkan report dari Denok tentang hal yang tengah hipe di dunia medsos. Sekaligus, mendengar laporan Pierre terhadap perkembangan kasus Sade dan anggun.
Ashadiya terlihat bosan, dia baru saja selesai menggambar design studio yang akan di bangun nanti, sementara Ghala masih berkutat dengan pekerjaannya. Merasa jenuh, Asha memilih membuat sketsa khat naskhi lagi, kali ini untuk lafadz Allah.
Bahasa tubuh sang istri, ditangkap oleh ekor mata Maghala. Lima menit kemudian, lelaki tampan yang masih mengenakan baju koko dan sarung itu mengajak Asha keluar kamar.
Jaket, kaus kaki bahkan masker, sudah Ghala siapkan. Dia ikut duduk di hadapan wanita yang sangat serius membuat sketsa. Menarik pelan kakinya untuk dipakaikan kaus kaki.
"Eh, mau ngapain, Mas? aku gak ngerasa dingin kok. Nyeri pun sudah hilang," ujar Asha, heran sebab Ghala membawa banyak benda.
"Jalan-jalan. Ke warung, mau ikut gak?" tawar Ghala. Dia lalu menarik lengan kanan Asha untuk memakaikan jaketnya.
Manik mata sipit itu kian menyipit karena sebaris senyuman cerah terlukis jelas di wajah. "Mau! pake motor ya, Mas," pinta Asha semangat, sambil menggenggam lengan Ghala.
Tuan muda Magenta mengangguk, lalu menarik kedua tangan Asha agar perlahan bangkit. "Pake ini, banyak debu, dan juga biar aman," imbuh Ghala, memakaikan masker ke wajah ayu istrinya.
Asha tak banyak protes, dia persis anak te-ka yang manut didandani ibunya jika ingin berpergian. Tak lama, pasangan Cyra pun mulai keluar hunian, menyusuri jalanan yang ramai lalu lalang kendaraan muda mudi untuk menghabiskan malam panjang.
Wanita ayu, melingkarkan kedua tangan di pinggang Ghala. Dia mendekap tubuh suaminya erat seakan khawatir Maghala bakal mendapat hujan lirikan kaum hawa lainnya.
Angkringan Mazzee.
Maghala memarkirkan motornya persis di samping tenda. Beberapa tikar yang terhampar, penuh terisi. Pun dengan kursi depan gerobak juga dua meja lainnya. Belum ditambah antrian beberapa pelanggan yang berdiri.
"Assalamualaikum. Sini, aku bantu. Pesanan mana yang belum siap?" tanya Ghala pada Misnen, yang terlihat sibuk membakar aneka sate.
"Wa alaikumsalam. Sudah semua, Bang, tinggal bungkus. Alhamdulillah, ini stock yang terakhir ... Abang, duduk aja," ujar Misnen, menarik kursi kosong untuk bosnya.
Asha celingukan ke kanan dan kiri, beginikah suasana warung makan pinggir jalan, pikirnya. Bau wangi dari sajian yang di bakar menggunakan arang, menusuk hidung hingga membuat dia tergugah. Asha, menarik pelan jaket Ghala yang dia gelayuti berharap sang suami mengerti.
"Bener?" tanya Ghala, memastikan karena Dullah, sedang wara Wiri mengantar pesanan pelanggan.
__ADS_1
Maghala paham keinginan istrinya, lalu meminta Asha duduk sejenak sementara dia akan menyiapkan semua menu yang masih tersedia. Setelah itu, Ghala meminta pada Dullah membuat jahe hangat bagi Asha juga teh jahe susu untuknya.
"Kalau ada tikar kosong, nanti tolong bakarkan itu ya. Juga minumnya," pinta Ghala, dia mengajak Asha keluar tenda sejenak.
"Oke, Bang!" jawab Dullah, mengangguki semua pesanan sang bos, saat Ghala berlalu pergi.
"Begini suasana malam hari, Sayang. Baru pertama kali kan, makan di tempat seperti ini?" ujar Ghala, menarik Asha berdiri didepannya lalu dia mengalungkan kedua lengan memeluk sang istri.
Asha mengangguk, lalu menunjuk sebuah tempat kosong yang bisa mereka tempati. "Mas, duduk di sana?" ujar Asha, kian antusias menarik lengan Ghala.
Maghala tertawa kecil melihat istrinya semangat untuk menikmati makanan pedagang kaki lima. Keduanya pun duduk beralaskan tikar.
Suasana malam Minggu, membuat warung Ghala yang sudah lama dirindukan pelanggan, kini kian ramai oleh hiburan angklung anak jalanan.
Ashadiya terhibur, binar matanya cerah menikmati suasana seperti ini. Dia lalu menatap lekat suaminya, masih dengan senyum terkembang. Berkat tatapan Asha, Ghala memanggil kelompok seniman itu, mengajaknya duduk dan berbincang sejenak.
Maghala menawarkan kerjasama dengan mereka jika bersedia konsisten datang ke tempat ini untuk menghibur para pelanggannya setiap akhir pekan.
"Kalian ngekos ramean di kawasan gang kancil? deket kan. Nah, JuSaMi boleh ngetem di sini. Aku booking mulai bada isya hingga warung tutup sekitar jam sepuluh malam. Fee nya pakai lagu atau gimana nih?" tanya Ghala serius menatap satu per satu anak-anak yang berjumlah enam orang.
Maghala setuju, bukan karena perkara uang. Dia hanya ingin Asha happy jika berkunjung ke warung sekaligus memberi peluang bagi para anak-anak yang mau ikhtiar jemput rezeki.
"Oke. Kalau ada yang ngasih tips, itu rezeki kalian ya. Saat warung mulai beres-beres, temen-temen bakal dapat satu porsi makan gratis dari kami. Jadi, pulang dari sini langsung istirahat. Jangan ngelem atau mabok, denger gak? kalau aku tahu di antara kalian berbuat begitu, kontrak kerjasama putus dah," tegas Ghala menatap tajam satu per satu wajah anak-anak jalanan itu.
"Iya, Bang. Siap!" Mereka manggut-manggut senang meski wajahnya tegang, entah karena bahagia atau takut di intimidasi suami Asha.
Maghala Sakha lalu memanggil Misnen dan Dullah agar menyimpan alamat kost mereka, meminta nomer ponsel ala kadarnya untuk koordinasi. Tak lupa menyampaikan aturan kerjasama juga konsumsi bagi anak-anak tersebut. Ghala juga meminta tukang parkir agar menata dan memberi ruang bagi kelompok band angklung itu.
Para remaja ngamen itu lalu diminta Ghala melanjutkan performance mereka tepat saat hidangan baginya tersaji.
"Makasih, Maaassss! aku happy. Gini ya, suasana malam jalanan. Menyenangkan," ujar Asha, kian sumringah melihat aneka makanan dengan wangi menggoda.
"Berkat kamu, mereka jadi punya tempat. Makasih ya, Sayang. Bentar lagi kita pulang, istirahat dulu. Karena besok, sudah mulai penyidikan Sade dan Anggun," balas Ghala.
Ashadiya mengeluh perutnya terasa penuh akibat banyak memakan berbagai macam sajian. Teh jahe hangat lumayan membantu meredakan nyeri yang mulai datang lagi.
__ADS_1
Pasangan Cyra menemani Dullah dan Misnen berkemas. Mewanti para bocah agar langsung pulang setelah memberikan beberapa bungkus nasi kuching juga aneka sate yang masih tersisa sedikit.
Tak lama kemudian. Ghala pamit.
Asha, mengoceh sepanjang jalan, meminta Ghala agar mengajaknya ke warung setiap akhir pekan. Jalan-jalan mencicipi berbagai makanan di tenda yang berjajar di sekitar kawasan itu. Keduanya lalu membagi tawa, senyum bahkan celotehan unfaedah tapi menghibur hati.
Saat mereka tiba di kediaman Cyra. Maghala dikejutkan dengan kehadiran Hilmi.
"Loh, Hilmi, ada apa? bukannya Pierre yang harusnya ke sini?" tanya Ghala saat memarkirkan motornya di depan garasi.
"Ehm, anu, Tuan muda. Itu," kata Hilmi, terbata. Ingin menyampaikan sesuatu tapi dia tahan sebab Asha ikut menatapnya. Dia terbius kecantikan nyonya Sakha.
"Kangen aku, katanya. Den, dapat tawaran live promo dan potongan harga dari apps, gimana, terima gak?" tanya Denok, menunjukkan tampilan layar gawainya.
"Heh, ulet jambu! nyosor aja, nih, kalau mau sosor," balas Hilmidar, memanyunkan bibirnya ke arah Denok yang berdiri disamping.
"Euuwww! pede amat!" sahut Denok, mendorong bahu Hilmi dengan pulpen ditangannya.
"Nok, nanti di bahas besok ya," balas Ghala, sembari melihat tajam ke arah Hilmi.
"Mata, mata! dibilangin jangan suka liatin Humaira!" sergah Ghala, mengibaskan tangan di depan wajah Hilmi. "Lagian, ampun, Om!" seru Ghala, gerah akibat ulah si duda. Dia menarik Hilmi menjauh dari kedua wanita di teras.
"Ni jidat lama-lama nanti bisa jadi saingan sama Dejjol, setelah selamat dari serbuan awan dukhon. Kalau onoh muncul tanda Kafara, Hilmidar malah kata mesum," sengit Ghala, menepuk lengan asisten Janu.
"Amit-amit. Besok lagi dah, alasannya," tawar Hilmidar, berbalik arah masuk ke garasi menuju kamar Maid di samping rumah Cyra.
"Jangan bilang, mau pedekate dengan Denok. Om, dia punya luka loh, hati-hati jika bicara."
.
.
...________________...
...Kan mau keluar dari Cyra, dikukuhkan dulu ya usaha MC-nya biar logis. Gak sabar pen buru tamat 😅....
__ADS_1