
Maghala menunggu Asha mendongakkan kepala. Dia bingung, apakah wanita ini sedang merasakan kesakitan sebab pergelangan tangan masih terlihat membengkak.
"Asha!" panggil Ghala lembut, menepuk lututnya pelan.
Ashadiya bergeming, kembali ke mode pendiam sebelum mulai membangun komunikasi dengan Maghala.
"Humaira!" sebut Maghala, mengulang panggilan seraya menyentuh dagu Asha agar menegakkan kepala.
Manik mata kehitaman terang itu bersitatap dengan pemilik retina elang. Ghala memberikan senyuman tipis nan manis. "Kenapa sih?" tanya sang pria tampan.
Ghala menarik kursi roda Asha mendekat, menggenggam tangan kiri agar wanita itu nyaman ketika bicara.
Aksi Maghala justru membuat debaran jantung Asha kian cepat. Dia semakin rikuh. "Ehm, a-aku," ujar Asha ragu, sementara tatapan Ghala kian intens.
Menunggu Ashadiya bicara bagaikan antri saat operasi pasar harga minyak murah atau obralan di mall. Lama.
Maghala sakha, menyodorkan makanan dalam porsi kecil ke depan mulut Asha. Dia ingin wanitanya nyaman ketika bicara tanpa paksaan meski dalam hati pun rasa tak sabar.
Asha ragu, meski akhirnya dia membuka mulut sebab Ghala menggantung sendok berisi salad di udara. Dia lalu menunduk kembali.
"Tenang aja, suamimu ini punya pabrik sabar bin sabaaaaaar. Gak bakalan habis sebab terus berproduksi, nungguin kamu ngomong lengkap itu ngalahin antrian bocah kalau mau naik odong-odong. Gak ditungguin takut nangis, ditunggu malah lapar. Makan dulu, Sayang, kali pita suara kamu butuh belaian makanan," tutur Ghala panjang, tanpa sadar menyebut kata sayang yang selama ini dia tahan jika Asha dalam keadaan sadar.
"Eh!" gumam Asha, sekaligus mendongak kembali. Mulut pun berhenti mengunyah, mata sipit itu mengerjap dengan kepala yang sedikit miring, telinganya tak salah tangkapkah tadi, pikir sang gadis.
Degh.
Degh.
Degh.
Maghala bangkit, membelakangi Asha sambil meraup wajah kasar, dia kelepasan menyebut kata sayang.
Dada pria tampan bergemuruh, Ghala mengusap pelan dengan tangan kanan seraya beristighfar tetapi bibirnya menyunggingkan senyuman.
__ADS_1
Benar-benar berada di sisi Asha akhir-akhir ini membuat kesehatan jantungnya sedikit bermasalah. Dia lalu duduk kembali, menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Gha la, tahu darimana tentang kecoa? apa kau membaca jurnalku?" tanya Ashadiya, lirih dan menunduk dalam.
Ghala mengangkat salad kembali menuju mulut Asha, sekaligus ingin melihat rona wajah istrinya nanti. "Buka, aaaa," bujuk Maghala.
Asha terpaksa mengikuti kemauan pria di sisi. Lambungnya memang meminta di isi sebab terlalu lama kosong.
"Jujur gak ya? tulisan kamu enak dibaca sampai gak berasa buka halaman itu. Ehm, maaf ya, kelepasan atas sesuatu yang seharusnya aku gak tahu dan lakukan," sesal Ghala, sambil meletakkan sendok di atas meja. Tangan kirinya menggenggam jemari Asha.
Ashadiya tak lagi mampu bahkan berniat mengangkat kepalanya. Dia terlalu malu jika benar Maghala membaca semua hal pribadi di jurnalnya.
Ukuran tubuh, kesukaan, bahkan ide gila untuk konsep sebuah lukisan. Yang paling parah adalah Asha menulis tentang sesuatu yang dia rasakan jika setelah haid atau menjelang masa datang bulan datang.
Sebuah keinginan vulgar, imajinasi gadis polos yang baru mengenal alat dan sistem reproduksi. Bahkan Asha menulis sebuah link situs edukasi untuk masalah tersebut.
"Sisi baiknya banyak loh, Humaira. Aku jadi tahu keinginan kamu. Nanti kita praktek ya kalau adek bayi sudah bisa di tengok," kekeh Maghala. Tanpa sepengetahuan Asha, Ghala menyelipkan kaki guna menekan tuas untuk mengunci manual kursi rodanya. (ðŸ¤)
"Ugh!" kesal Asha, menekan keras tombol kursi roda yang ia duga telah rusak.
Maghala tertawa renyah, melihat kepolosan dan sikap malu Asha. Dia lalu bangkit, meraih tubuh mungil yang sekuat tenaga menahan malu itu. Membopongnya dan kembali duduk di sofa. Asha, kini dalam pangkuan Maghala.
Asha berontak, dia sungguh ingin menghindar dari Ghala.
"Diem, makan dulu baru omeli aku ... aku gak mau ganggu dia sampai lahir, oke? kau bisa tenang merawat bayi dalam kandunganmu," ujar Ghala, memeluk Asha agar dia tenang.
"Karena bukan bayimu?" cicit Asha masih menunduk.
Maghala mengecup dahi Asha. "Iya, aku menyambut dia saat lahir nanti. Asha, aku gak mau menambah bebanmu dengan rentetan kewajiban seorang istri. Kakimu belum pulih benar, itu sulit bagi ibu hamil jika usia kandungan telah membesar ... ehm, lagipula apa kau juga sanggup menahan bobot tubuhku nanti?" gelak Ghala lagi, membuat nyali Asha kian ciut dan mencubit lengan suaminya.
"Enggaklah. Aku tahu hatimu belum siap, kita lakukan semua selayaknya pasangan halal jika kondisi telah sempurna. Aku meminta keridhoanmu, bagaimana?" sambung Ghala, menyelipkan rambut ke belakang telinga Ashadiya.
Wanita ayu itu menoleh, jarak antar wajah yang hanya beberapa inci membuat Asha dapat mencium wangi mulut Maghala. Manik mata Asha menemukan ketulusan di sana, dia pun mengangguk pelan.
__ADS_1
Keduanya saling mendekatkan kepala. Ghala mendekap raga dalam pangkuan, menempelkan hidung dan bibirnya ke pipi Asha, sementara gadis itu membalas pelukan sang suami erat.
"Apakah aku mulai menjadi ratumu, Ghala?"
Keduanya lalu menghabiskan waktu dengan saling terbuka mumpung Adhisty dan Alka sibuk oleh urusan saham. Maghala mengajak Asha agar jujur terhadap setiap keinginan sebab dia takut salah tafsir tentang beberapa hal di kemudian hari.
...***...
Keesokan hari.
Alka nampak bersiap lebih pagi, bahkan Adhisty sudah pergi setelah subuh entah kemana. Yang jelas, hari ini adalah transaksi penjualan saham Alka.
Maghala masih berdiskusi dengan Hilmi melanjutkan pembicaraan malam tadi tentang rencana penawaran langsung ke Adhisty. Hilmi mengatakan ide Maghala di sambut baik oleh nyonya besar Cyra dan keduanya sepakat bertemu hari ini.
"Jangan lupa, videonya. Aku ingin lihat tampang Alka juga penandatanganan pembelian saham yang di kuasakan padamu," pinta Ghala, dia tengah berdiri di balkon sebab keluarga Cyra tak sarapan pagi ini. Maghala pun melihat mobil Alka mulai meninggalkan Mansion.
"Baik. Aku sudah menunggu nyonya Adhisty di lokasi, Tuan muda," balas Hilmi di ujung panggilan.
"Thanks, Hilmi. Aku percayakan padamu," sahut Ghala menutup panggilan.
Kemarin, setelah Asha tidur, Maghala meminta agar Janu membuka akses bagi aset miliknya dari mendiang sang ayah agar dapat membeli saham Alka hari ini. Penggelontoran dana masuk ke rekening Hilmi agar transaksi tersebut tak di curigai Adhisty.
Awalnya Janu meminta Huda untuk mengurus dokumen tapi di tolak Maghala dan dia telah meminta Gani yang menjalankan tugas tersebut.
Dia juga menghubungi Gani, asisten Mada untuk membantu kali ini. Saat sang kakek meminta alasan mengapa Huda tak di libatkan, Ghala menjawab tidak tahu, hanya mengikuti nurani saja.
Maghala melebarkan pandangan ke udara pagi. Menghirup nafas panjang berharap Tuhan berada di pihaknya kali ini.
.
.
..._________________...
__ADS_1