
Anggun menatap tajam pada Sade, wajahnya pias akibat shock mendera. Perihal surel saja belum selesai, ditambah tampilan dalam video.
"Kau!" sentak Adhisty, bangkit lalu mencengkeram jas Sade.
Ashadiya menunduk, aibnya sebagian terbuka. Bibir semerah Cherry itu berulang kali mengucap maaf pada Ghala sebab telah menuai dosa atas apa yang mereka lakukan.
Maghala menarik kursi Asha mendekat, dia pun berbisik. "Habis ini kita salat taubat ya, Sayang. Mohon ampun, membuka aib hanya demi nama baik dan pengakuan dari manusia," tuturnya lirih.
"Kalian sekongkol, menuduhku!" ujar Sade, menepis kasar cekalan Adhisty dan mendorong wanita itu hingga terhuyung.
"Mama!" seru Asha panik, hingga dia bangun dari duduknya.
Denok menahan bobot tubuh Adhisty agar tak jatuh setelah di dorong tuan muda Sadana. Gadis itu lalu membantu agar nyonya besar Cyra duduk kembali.
"Kenapa Asha sampai teler sedangkan yang diminum hanyalah jus, Nona Diazae?" desak Ghala mengalihkan perhatian Anggun yang masih menatap Sade.
Anggun menoleh, dia tersenyum sinis. "Jangan kau kira Asha itu polos, dia meminum alkohol di pestaku," kata Anggun mencibir.
Brak! "Saksi!" Asha tak terima, dia menggebrak meja dan memanggil waiter yang bertugas malam itu.
Denok lantas membuka pintu sebab terlihat seorang wanita di balik panel kaca ruang meeting tersebut. Saksi malam pesta, telah hadir.
Anggun bahkan Sade terkesiap. Gadis itu lalu menuturkan bahwa dia memberi setetes cairan ke dalam minuman dingin yang akan di sodorkan pada Asha, atas perintah seseorang.
Maghala bertanya siapa sosok tersebut. Gadis itu menunjuk foto seorang pria, tak lain adalah asisten pribadi wanita ayu yang tengah duduk menopang kaki.
"Ini fotonya," ucap sang gadis menyerahkan pada Maghala.
"Ngadi-ngadi emang semua. Kamu mau balik fitnah aku, Asha?" tuduh Anggun, mulai gusar. Pandangannya menajam melihat ke arah Asha.
Maghala mengambil alih alibi sang sahabat untuk menjelaskan kebenciannya.
"Anggun Diazae, merasa sakit hati sebab lelaki yang dia cinta malah menyukai Asha. Impian menuju Jerman dan menetap di sana karena dia mendamba pekerjaan sebagai kurator seni di salah satu Museum ternama, pupus karena dia tak lolos sebagai nominee."
"Museum Croschorg adalah kiblat bagi pelaku seni selain Hongkong. Mereka menggelar even Jerman untuk menyeleksi bakat para rising star terutama artist. Asha justru mendapatkan keduanya, masuk salam nominee bahkan di beri golden tiket sebab dia gagal berangkat."
__ADS_1
"Lukisan Diazae sama sekali tidak di lirik sehingga membentuk kebencian berkali lipat terhadap Asha," pungkas Ghala, membeberkan asal muasal akar kecemburuan Anggun hingga berubah manjadi dengki.
Putri Archiba Diazae sejenak membola, motifnya terbaca jelas oleh Maghala. "Jika kau teruskan fitnah tuduhan ini, maka siap-siap akan banyak dampak buruk datang," ancam Anggun, menatap Asha dan bangkit berdiri.
"Aku tahu, kamu kecewa pada Sade. Kau tak mengira bukan jika dia yang melukai aku? ... seharusnya itu pria lain. Kau akan membongkar aibku ini jika komunitas atau bahkan pihak museum Jerman tetap mempertahankan aku," kata Asha.
"Kamu juga kian benci, sebab tahu bahwa Sade menekan mama untuk menikahiku dengan imingan pinjaman sebab tahu, bayiku anak biologis Sade ... Anggun, aku tak habis pikir, kau jahat sekali!" teriak Asha, melepaskan emosinya yang tertahan.
Ashadiya memutar meja, mendorong lawyer agar dapat menjamah Anggun.
"Lampir!" seru Asha, menyerang Anggun.
"Jangan sentuh!" teriak Anggun mendorong tubuh Ashadiya, saat dia berhasil menarik rambutnya tetapi Asha terus menyerang.
"Awh!" pekik Anggun kesakitan karena cekalan kuat Asha membuat kepalanya sampai menengadah.
"Aku benci kamu!!!!!!!!" Asha menggeram, tak peduli teriakan dari seisi ruangan.
Maghala pun ikut panik, dia menaiki meja agar dapat menghalau serangan wanita itu pada istrinya.
"Sayang, lepas! jangan kotori tanganmu," ucap Ghala, melerai genggaman Asha pada rambut juga bahu Anggun.
"Tujuan utamamu hanya merusak Asha. Memperburuk citra perusahaan Cyra dengan banyak skandal tapi Sade malah terbawa sejauh ini. Ckckck, kalian berdua pantas jika bersama," sinis Ghala menunjuk ke wajah Anggun dan Sade.
Ashadiya menangis dalam pelukan Ghala. Dia teramat malu membuka keburukannya sendiri.
Angggun menjauh, dia sibuk merapikan penampilannya yang berantakan sebab ulah bar-bar Asha.
Kala suasana kisruh, tuan muda Sadana memanfaatkan keadaan dengan menyelinap keluar. Namun, langkahnya di jegal seorang petugas berwajib yang ikut masuk ke dalam bersama asisten Ghala.
"Silakan duduk di tempat semula, ladies and gentleman," kata Patrianusa, dengan suara berat dan tenang.
Dia melihat ke arah Maghala lalu membungkukkan sedikit badannya sebagai tanda hormat.
Semua yang hadir dalam ruangan akan di mintai keterangan perihal gugatan Maghala untuk Nona Diazae juga tuan muda Sadana.
__ADS_1
Berkas dokumen juga kelengkapan bukti telah ada di tangan Patrianusa. Dia sengaja di undang Maghala atas bantuan Mada untuk hadir saat kisruh sehingga ketika membuat pelaporan resmi, mereka dapat memangkas waktu.
"Tuduhanmu asal, mana buktinya jika itu anakku?" tuntut Sade. "Aku menginginkan menikahi Asha kan hanya iseng saja," kilah Sade, santai. Dia bahkan menyandarkan punggungnya ke kursi.
Pernyataan ini memancing reaksi Adhisty. Ibu kandung Asha bangkit menghampiri sang tuan muda. Plak. Plak!
"Tante!" Sade menepis tangan pimpinan Cyra, lalu menahannya di udara.
"Keterlaluan!" geram Adhisty, tatapan nyalak dia layangkan meski sambil menahan sakit.
"Benarkah? bukankah kau ingin agar tampuk pimpinan jatuh ke tanganmu sebab Asha adalah pewaris Cyra? ... Tuan muda Sadana, aku mengajukan tuntutan pada Anda secara pribadi. Kau masih ingat kan, dengan misi menjebakku kala mengantar paket ke rumah wanita itu?" sambung Maghala, melirik ke arah Adhisty yang juga pucat pasi. Dia memiliki bukti test DNA saat Asha keguguran.
Sade terkejut, itu adalah rencananya dengan pimpinan Cyra. Dia tak menduga jika Ghala akan nekad menyeret Adhisty atas kasus ini.
Tiba-tiba.
Pintu ruangan di ketuk seseorang dari luar. Denok kemudian membuka panel kaca tersebut.
"Aku siap jadi saksi." Alka ikut hadir atas permintaan Maghala. "Maaf, Ma," ucap sang sulung keluarga Cyra saat melihat ke arah ibunya.
"Juga mereka," kata Pierre. Dia membawa gadis suruhan Sade untuk menjebak Ghala juga asisten Anggun.
Adhisty memejamkan mata, dia memegangi dadanya dan menyandarkan punggung ke kursi di ujung meja.
Maghala sibuk menenangkan Asha. Keluarganya hancur, Adhisty akan dimintai keterangan atas pelaporan pasangan Cyra terhadap Sade. Juga Alka bakal menguatkan argumen.
Patrianusa bertanya apakah ini akan di bagi ke publik atau di protect. Maghala meminta untuk kasus dirinya agar mendapatkan privasi secara utuh demi menjaga perasaan Asha.
Kisruh tersebut membuat Anggun menghubungi pengacaranya. Maghala lalu meminta pihak lain yang hadir, agar menandatangani perjanjian aksi tutup mulut atas apa yang mereka dengar. Jika melanggar maka siap di berikan sanksi seperti nan tertera di surat perjanjian.
Patrianusa dan Pierre berkordinasi dengan para lawyer. Sade bahkan meminta team pengacara untuk melawan tuntutan Ghala nanti.
.
.
__ADS_1
...______________________...
...Gak rame ah 🤪...