BUKAN MENANTU BIASA

BUKAN MENANTU BIASA
BAB 73. NGAJI RASA


__ADS_3

Menjelang petang.


Hilmidar menunggu Denok di halaman samping hunian Cyra. Dia telah berkirim pesan padanya satu jam yang lalu. Meski tak mendapat respon balasan, tetapi tulisan itu dibaca oleh si gadis.


Kini, duda tampan usia matang itu siap membawa seorang gadis untuk membicarakan sesuatu mengenai dirinya.


"Mau kemana sih?" tanya Denok, memanyunkan bibir, tanda kesal hari liburnya di usik.


Gadis ayu itu berdiri menyandar pada kusen pintu, mengurai rambut panjangnya yang masih setengah basah. Dia pun hanya mengenakan celana pendek di atas lutut dipadu kaos ketat nan mencetak jelas lekuk badannya, membuat Hilmidar susah payah mengalihkan pandangan.


Hilmi hanya mampu menunjuk dengan jari telunjuknya ke arah luar garasi, tanpa bisa berkata apa-apa. Dia seketika teringat pesan Maghala untuk sentiasa menjaga pandangan. Susah payah hatinya merapal doa dan memerintahkan otak agar mengimpuls syaraf leher guna melemaskan otot supaya kepala tegak itu sedikit menunduk.


"Kemana?" tanya Denok lagi kian menatap tajam Hilmi.


"Ehm, ganti baju aja dulu. Cuma ke cafe dekat sini aja, ngopi."


Hilmi lalu mencoba melangkah meninggalkan sang gadis. Namun, bukannya masuk ke dalam untuk mengganti busana agar lebih sopan, Denok malah melenggang pergi begitu saja.


"Nok!" sebut Hilmi ketika mereka sejajar.


"Ehm, apa?" jawabnya singkat, tak menoleh ke arah Hilmi.


"Ganti bajunya, masa gini sih?" ucap Hilmi sambil menarik lengan Denok, hingga gadis itu berhenti.


"Kan cuma ke depan. Lagian kenapa? gue pake sniker juga kok, hype anak muda lah," balas asisten Asha.


"Enggak. Ganti baju dulu!" Hilmi menarik Denok ke dalam meski mendapat penolakan dari sang gadis.


"Lepas, Tuan."


"Nok, please lah. Jangan kayak gitu. Pandangan orang bakal gak bagus nanti ke diri kamu," lirih Hilmi, berdiri di hadapan Denok.


"Mbak Haifa pake gaun seksi kok diem aja, kan situ suaminya," balas Denok tiba-tiba teringat Haifa saat maid bercerita tentang keanggunan wanita Magenta, hingga membuat Hilmi sangat setia terhadap istrinya itu.


Hilmidar memejam, menarik nafas panjang. "Kontrak Haifa sisa sebulan dan kecolongan ketika mendapat job tersebut. Dia pun saat itu menangis meminta izin padaku sebab kalau tidak dilanjutkan, bakal kena banyak sanksi dan rencana untuk resign dari dunia model takkan diloloskan," terang Hilmi teringat kisah lama dengan sang istri.


"Lalu urusannya dengan saya, apa?" desak Denok, menunggu jawaban Hilmi.


Asisten Janu, menatap tajam manik mata gadis di hadapan. Dia hanya ingin melindungi Denok dari pandangan nakal para pria lapar. Juga sebagai pengingat agar Denok bisa mulai menjaga auratnya. Sama seperti pada Haifa dulu, hanya saja, cinta lebih mendominasi Hilmi ketika protective pada salah satu kerabat Magenta itu.


"Sayang."


Hilmi menunduk setelah satu kata terucap. Dia lalu berbalik badan, melangkah pelan menuju depan garasi dan memilih menunggu di mobilnya. Itupun jika Denok masih bersedia untuk pergi.


"Hah?"


Denok tak lantas percaya, dia sejenak mencerna satu kata penuh makna dari sang duda. Bibirnya mengulas senyum, lalu kepala pun ikut menunduk guna menyembunyikan wajah yang terasa merona.


Tanpa di komando siapapun, Denok masuk ke hunian, bahkan kini setengah berlari agar lekas tiba di kamarnya.


Trouser longgar, kemeja coklat tua berlengan panjang kini membalut tubuh ramping Denok. Tak lupa, hairpiece dia sematkan di bagian kanan agar rambutnya tertata rapi. Setelah semprotan parfum beraroma lime dan rose membasahi tengkuk juga pergelangan tangannya, Denok pun melangkah keluar dengan percaya diri.


Wajah kalem tanpa make up tampak sempurna dengan keseluruhan penampilan kini. Dia berjalan menunduk dengan sesekali senyum terulas di wajah. Kini, Denok tiba di sisi mobil Hilmi lalu mengetuk kacanya dua kali.

__ADS_1


Tuk. Tuk.


Sejenak, Hilmi terpaku hingga suara pintu terbuka membuatnya kembali ke alam semula.


"Nah, kan gini lebih cantik," ujar Hilmi sembari menghidu wangi lembut milik sang wanita.


Seketika ingatan kala mendesak Denok di dalam mobil beberapa bulan lalu, muncul kembali. Wangi yang sama dengan malam itu. Senyum pun menghias wajah si duda tampan, seiring laju kendaraan mereka meninggalkan hunian Cyra.


Obrolan ringan menjadi pembuka kata sebelum percakapan serius di utarakan. Hilmi memilih jujur daripada Denok salah kira.


"Makasih ya, sudah dipakai. Itu tersetting agar terkoneksi denganku," ujar Hilmi, menunjuk pada jam tangan yang Denok kenakan, seperti miliknya.


"Ehm, kata Den Ghala juga gitu. Makasih ... sekarang mau ngomongin apa?" tanya Denok tak sabar, waktu me-timenya hampir habis.


"Aku pengen jadi teman kamu sebab Maghala dan Asha adalah tanggung jawabku juga. Aku butuh kamu untuk berkoordinasi. Jika komunikasi kita gak baik, bagaimana bisa bekerjasama?" tutur Hilmi menjelaskan maksudnya.


"Yaelah, kirain apaan. Jauh-jauh kesini kirain buat ngelamar," seloroh Denok, terkekeh begitu saja.


Hilmi tertawa ringan, sepertinya Denok tak sepelik yang diduga.


"Aku gak pernah pacaran, Nok. Dulu pun, Haifa yang memintaku jadi suaminya. Jadi maaf jika tidak bisa bersikap lembut dengan wanita," sahut Hilmi, menyesap kopinya guna menghilangkan rasa grogi.


"Kata maid, Anda sayang dan cinta banget ya sama Non Haifa," tanya Denok penasaran.


Hilmi mengangguk. Dia akui, Haifa segalanya.


"Cinta sejak dia masih sekolah dasar. Dan iya, aku memujanya," jawab Hilmi.


Denok tersenyum getir, sangat berbeda dengan kehidupan rumah tangganya dulu yang baru seumur jagung. Dia terpaksa memilih berpisah ketika di hadapkan pada dua pilihan antara diagnosa dokter atau di duakan.


Hilmi tahu, pernikahan Denok hanya bertahan dua tahun sebab intervensi keluarga suaminya. Dia juga mengerti keputusan buruk yang diambil Denok kala itu. Menjauh dari kedua orang tua karena merasa membuat malu hingga ketika ayah ibunya tiada pun, Denok hanya mampu melihat prosesi pemakaman dari jauh.


"Nok, jika suatu saat ada rasa yang berkembang di antara kita, maukah kamu tidak menjauh dariku? Haifa terlalu sempurna, sedangkan aku kini bagai tenggelam dalam kenangan dan hampir tidak punya tempat pulang," ucap Hilmi jujur, menatap lekat wanita ayu di hadapan.


Denok bergeming. Dia takut.


"Ghala bilang aku harus membuka ini agar tiada salah paham."


"Aku," jawab Denok ragu, dia masih menunduk sambil memainkan ujung kukunya.


Denok paham arti dibalik semua perkataan Hilmi. Sang duda ingin mengurai kenangan indah bersama mantan istrinya agar wanita lain dapat masuk ke relung hati. Antara otak dan qalbu tak lagi sinkron, dia tersiksa. Hilmi membutuhkan kawan untuk melepas penat sedangkan Denok mendamba sosok bagai Hilmi.


Denok akui, karakter Hilmi sejenak membuatnya nyaman. Tegas, tanggap, peduli hingga sesekali perhatian amat dia impikan ada pada diri calon suaminya kelak, itupun jika dia masih ingin membina rumah tangga.


"Nok!"


"Ehm, aku takut. Biarkan seperti ini dulu, oke?" pintanya, mengangkat wajah melihat ke arah Hilmi.


Lelaki itu mengangguk. Dia ingin mendengar penuturan Denok tentang arti keluarga. "Tujuanmu apabila menjalin hubungan dengan seseorang, apakah masih sama seperti dulu?" tanya Hilmi.


Denok menggeleng. "Enggak. Kalau sekarang seandainya ketemu yang cocok pun, entah menikah lagi atau tidak. Anda pasti telah mencari tahu tentang aku, kan?" tuduh Denok, sembari melirik ke arah Hilmi. "Niatku cuma ingin punya teman curhat yang bisa bebas ngomongin apa aja. Tidak menuntut mempunyai...."


Hilmi paham, dia mengangguk cepat. Ternyata memang sama-sama membutuhkan teman.

__ADS_1


"Aku paham. Well, semoga komunikasi kita jauh lebih baik. Biarkan seperti ini kan?" ujar Hilmi, sekilas tersenyum kala memandang wanita ayu di hadapan.


Denok mengangguki ucapan sang duda. Biarlah semua berjalan semestinya. Hingga rasa nyaman itu perlahan berubah menjadi kebutuhan lalu kecanduan satu sama lain.


...***...


Keesokan pagi.


Maghala baru selesai membantu Asha bersiap untuk melanjutkan terapi ke rumah sakit ketika Hilmi mengetuk pintu kamarnya.


"Tuan, ada tamu," ujar sang asisten.


"Siapa?" kata Ghala ketika membuka pintu saat keduanya akan keluar kamar.


"Archiba Diazae. Ingin meminta maaf agar Anda menarik gugatan," kata Hilmi lagi.


Maghala Sakha menimbang. Dia lalu meminta agar Hilmi yang menemui sang tamu sebab dirinya di tunggu oleh lawyer Adhisty dan Alka untuk penandatanganan masalah hibah.


Belum juga rampung masalah Archiba, Denok ikut mengabarkan tentang utusan keluarga Sadana.


Merasa dicecar oleh lawan, Maghala memilih mundur. Meminta pada para asistennya untuk mengurus mereka dan bertemu dua hari kemudian di ruang sidang. Ada rasa sakit ketika melihat Asha yang masih sering menunduk jika membicarakan tentang Sade. Meski dia telah menghapus jejak dari raga wanitanya, Ghala cemas bilamana Asha memiliki trauma.


Patrianusa mengatakan semua berkas lengkap. Artinya Adhisty pun mulai akan di periksa secara intensif lusa nanti. Untuk itu, semua urusan pengalihan kuasa di perusahaan Cyra akan dilimpahkan pada Alka saat ini.


Hilmi dan Denok menuju ruang tamu sesuai arahan Maghala sementara pasangan Cyra ke ruang kerja Adhisty.


"Ghala, ayo sign," ujar sang mama mertua ketika melihat Maghala tiba.


"Sini, Ghala. Nanti Hilmi juga sign sebagai wakil kamu di Cyra." Alka menggeser posisinya kala Ghala mendekati meja.


"Baik, Kak."


Setelah semua dokumen di tanda tangani, hanya tersisa bagian Hilmi saja, Adhisty membuka percakapan untuk kedua lelaki di hadapannya.


"Mama minta maaf pada Alka, Asha dan Ghala. Maafin mama ya, itu aja," ujar sang wanita paruh baya tak lepas memandangi satu per satu putra putrinya.


Asha langsung menghabur ke pelukan ibunya. Meluapkan kesedihan sebab setelah ini Adhisty akan di gelandang ke mabes polri selama penyidikan berlangsung. Ada rasa tak tega tapi kesaksian beliau penting agar Sade mendapatkan pelajaran setimpal.


Adhisty tak menyalahkan Ghala atau siapapun. Sadar dirinya salah, dan ini bagian dari proses penebusan dosa antar manusia. Dia hanya berharap, Tuhan masih berbaik hati memperpanjang usia agar dapat bertaubat.


Semua harta Cyra telah di bagi rata. Adhisty akan membangun sebuah rumah bagi Asha dan Ghala sebagai hadiah terakhir darinya. Pelukan Alka pada sang mama kian membuat suasana ruang kerja mengharu biru. Ghala pun hanya menunduk, hatinya ikut sesak. Suara ketukan di pintu, tanda bahwa Hilmi telah berhasil menahan desakan dan bujukan kedua lawan Ghala. Mereka pun mengurai pelukan.


"Ghala, titip Asha ya. Mama tahu, kamu lebih dari sekedar mampu melakukan segalanya. Kamu bukan menantu biasa. Mama minta maaf, maafiin mama ya, Ghala," ucap Adhisty kali ini menatap nanar sang tuan muda Magenta.


Maghala perlahan menekuk lututnya. Dia kini bersimpuh di bawah kaki Adhisty. "Maafin Ghala ya, Ma. Maaf," cicit Ghala.


Adhisty trenyuh, dia ikut menurunkan posisi tubuhnya, dan kini memeluk sang menantu sesaat. Menepuk bahu juga menghapus jejak kesedihan dari pemilik wajah tampan.


"Mama ikhlas. Berkah untukmu, Nak," ucap Adhisty lalu bangkit dan bersiap menuju kantor untuk mengumumkan pengalihan kuasa pada Alka dan Hilmi.


Esok hari, gejolak batin Ashadiya akan bermula.


.

__ADS_1


.


...___________________...


__ADS_2