BUKAN MENANTU BIASA

BUKAN MENANTU BIASA
BAB 72. KALUT


__ADS_3

Keesokan pagi.


Saat Ghala keluar melalui pintu belakang, guna memanaskan motornya sejenak sebelum dia keluar dengan Asha, tanpa sengaja melihat Pierre yang sangat fokus dengan gawainya.


Maghala terkejut atas apa yang diihat, dia mengendap menghampiri dan berdiri di belakang Pierre.


Tiba-tiba. "Ya Tuhan!" ucap Pierre tersentak kaget akan kehadiran majikannya.


Tuan muda Magenta menggeleng kepala sementara Pierre cengengesan, merasa konyol sekaligus malu.


"Pulang sana, modelan begini emang gak boleh jauh dari bini. Segera temui istrimu. Jangan-jangan selama di sini kamu suka jajan, Pierre?" sindir Ghala, menatap tajam asistennya ini.


"Sumpah demi Tuhan dan Patricia, saya gak pernah kayak gitu, Tuan ... ehm, kalau saya pergi, nanti yang menemani Anda, siapa?" elak Pierre sekaligus tak enak hati.


"Ada Hilmi. Ckck, kalian. Satu nyandu sama istri, sementara yang itu kebelet nyari bini sampai nyusulin ke sini," sambung Ghala. Dia meraih gawainya dan langsung mentransfer salary juga ongkos pulang Pierre ke Semarang.


"Bantuin Tuan besar, Pierre! jangan begitu lagi, nanti rusak otakmu!" ujar Hilmi yang tiba-tiba muncul dan berdiri menyandar di kusen pintu belakang.


"Baik, Bos, Tuan."


Asisten Pierre, lalu meminta maaf dan langsung pamit dari hadapan setelah salary dari Maghala masuk ke akunnya.


Maghala pun meneruskan langkah meski Hilmi mengejarnya.


"Tuan muda, kalau kek gitu, wajib mandi besar tidak?" bisiknya, mensejajari langkah sang majikan.


"Ya kalau sampai keluar, wajib lah. Dosa pula tuh," jawab Ghala.


"Kalau enggak sampe anu, aman ya?" sambung Hilmi lagi.


Maghala menghentikan langkah, dia menoleh ke arah Hilmidar. "Menimbulkan dan menaikkan syahwat? sambil megangin itu gak tuh, waktu nontonnya?" tanya Ghala, sembari melirik ke bagian bawah tubuh Hilmi.


"Tuan! heran deh!" sergah Hilmi, spontan memutar badan membelakangi Ghala sembari menutup miliknya.


Maghala terbahak. Dia saja geli jika harus membayangkan.


"Istighfar, mandi aja lah biar aman. Lalu salat taubat ... Om, nikah gih. Wajib hukumnya kalau udah begini, nih. Takut zina kan? daripada dosa besar atau malah dapat nikmat tanggung karena main solo, mending lamar Denok sana," kekeh Ghala paham arah tujuan pembicaraan Hilmi.


Asisten Janu, menggaruk kepalanya yang tak gatal. Dia menimbang sesuatu. "Kan saya nanya ya tadi, kenapa jadi tersangka?" ujarnya.


"Hayo, Om Hilmi suka liat gituan ya?" tegur Asha tiba-tiba muncul dari arah depan garasi.


"Malah nyandu kali, Sayang. Makanya mulut gak bisa di filter," kekeh Ghala. Mulai mendorong motornya keluar garasi sebab Nyonya Sakha ingin menemaninya belanja ke pasar untuk melengkapi kebutuhan warung.

__ADS_1


Ashadiya tertawa renyah, terlebih Maghala mengarang cerita bahwa Hilmi sering nobar dengan Pierre menonton film abu-abu. Hilmidar mengibaskan tangan ke udara di depan Asha, dia menampik tuduhan tersebut meski majikan wanitanya tetap saja terkekeh riang.


"Diih, ketauan!" celetuk Denok melongokkan kepalanya.


"Heh! fitnah."


"Lah, Den Ghala bilang tadi itu apa? sih, pantesan gitu ya, fantasi aneh-aneh kali tuh," cibir Denok, dia sedang menjemur handuk lalu berlalu pergi masuk ke hunian kembali.


"Hoy! Nok, Denok."


Hilmidar mengejar Denok, dia mencekal lengan gadis itu lalu menariknya keluar hingga mereka ada di halaman belakang.


Maghala membiarkan keduanya saling mengklarifikasi sikon agar hubungan kerja di antara mereka menjadi lebih baik.


"Apa sih? ini weekend, gak ada kerjaan. Saya mau tidur," kata Denok mengibaskan cengkeraman Hilmi.


"Ya udah, ayo, tiduran."


"Hoy, emang gue cewek apaan, tidur sendiri sono lah!" geram Denok, Hilmi selalu saja vulgar.


"Astaghfirullah, ni mulut. Maaf ... maksud aku, daripada tidur, jalan yuk. Ada yang mau aku obrolkan," sahut Hilmi, mengejar Denok lalu merentang tangan di depannya.


"Ngomong aja ngapa sih, Tuan. Saya ngantuk beneran, semalam Den Ghala itu ngirim pesan banyak banget lewat hape istrinya dan saya kudu baca semua sebab itu job desk sepekan," keluh Denok, matanya memicing akibat sinar mentari menusuk pandangannya. Wajah yang terlihat lelah itu pun menunduk.


Hilmidar tak tega, tujuannya ke sini adalah untuk membantu Ghala sebab istri Pierre meminta pada Janu agar suaminya tidak dinas di luar kota.


Janu menilai, pekerjaan harian sudah tidak terlalu berat. Justru Ghala baru akan memulai karirnya. Kepemilikan saham di Cyra harus ada yang memantau, apalagi Adhisty terancam masuk bui sementara Maghala enggan mengurusi perusahaan istrinya itu.


Meski ada Alka, Mada menilai Hilmi wajib aktif mewakili Ghala di perusahaan. Tuan muda kedua Magenta memang memiliki jiwa entrepreneur tinggi apalagi dia telah merintis usaha dari nol. Peluncuran produk baru Cyra yang di gagas Ghala juga membuat Mada dan Janu memutuskan mengutus Hilmi guna membantu sang adik.


"Ya sudah, istirahat dulu aja. Nanti sore kita bicara ya, Nok. Bukan obrolan unfaedah, ini tentang aku," ujar Hilmi lembut.


Dia berlalu meninggalkan Denok, setelah mendaratkan usapan lembut di kepala gadis itu.


Denok Listya Anjani, terpaku atas sikap drastis Hilmidar padanya. Tak biasanya lelaki mesum itu lembut bertutur kata.


"Tumbenan, lagi anget kali ya ... tapi, aku juga mau ngomong sesuatu sih," gumam Denok, ikut melangkah meninggalkan pelataran belakang dan masuk menuju kamarnya.


...***...


Even organizer yang Alka sewa menghubungi Maghala, dia mulai berkoordinasi perihal perhelatan pernikahan tuan muda cyra nanti.


Maghala pun sekalian menyiapkan satu kejutan untuk istrinya kelak bersamaan dengan acara tersebut.

__ADS_1


"Ghala, mama terancam hukuman percobaan enam bulan. Masa gue nunggu selama itu?" ujar Alka dalam sebuah panggilan manakala Maghala baru saja pulang setelah aktivitas pagi tadi.


"Lawyer Asha mengatakan Anggun akan di jatuhi dua tuntutan pasal, penyalahgunaan obat dan perbuatan tidak menyenangkan. Bisa empat sampai lima tahun kurungan ... sementara Sade, agak berat. Tuntutannya bisa diatas sepuluh tahun. Itupun jika gak pake jalur ninja," balas Ghala.


"Lalu gimana?" cemas Alka lagi.


"Kita bahas dengan lawyer saja, Kak. Semoga sih gak lama, subsider beberapa bulan sebab mama kan kooperatif, juga keterlibatan beliau hanya untuk kasus aku ngantar paket saja kan, cairan itu sudah di siapkan Sade," ungkap Ghala jika melihat hasil laporan dari Patrianusa kala penyelidikan beberapa waktu lalu.


"Semoga semua selesai. Kamu tinggal dimana jadi?" imbuh Alka lagi.


"Entah, baru mau nyari rumah."


"Mama masih punya lahan kosong lumayan luas, ada bangunan rumah lantai satu di sana. Tapi sekarang posisinya ada di bagian belakang komplek cluster biasa. Kalian bisa bangun sisanya," usul Alka agar Ghala tak perlu mencari lokasi yang jauh dari kediaman lama Cyra.


Keduanya lalu sepakat membicarakan banyak hal esok hari, termasuk penandatanganan hibah juga lainnya.


Sementara di tempat lainnya.


Archiba Diazae mengamuk, tak mengira putrinya berlaku demikian. Dia merasa malu telah menurunkan karya Ashara dari gedung seni miliknya akibat laporan Anggun. Padahal lukisan tersebut mampu menarik minat pengunjung.


Team lawyer segera dia bentuk guna menghadapi tuntutan esok pagi. Penyidik akan memulai membuka kasus ini. Archiba lalu mengurung putrinya agar tak bepergian kemanapun karena khawatir hukuman akan semakin berat jika Anggun dinilai tak koperatif.


Teriakan, amukan tuan putri Diazae tak dihiraukan. Archiba bahkan kini mencari tahu Maghala, tujuannya satu, untuk membujuk agar menarik tuntutan terhadap Anggun.


Situasi tak berbeda menyergap keluarga Sadana.


Dua team khusus di utus ke hunian Cyra guna mengajukan perjanjian damai dengan Maghala Sakha.


"Siapa sih dia, belum tahu siapa Sadana Grup?" ujar Sanur Sadana, ayah Sade menilai remeh sosok Maghala.


"Maghala Sakha, dia adalah salah satu tuan muda Magenta, putra kedua Mahananta. Perusahaan lokal ekspor impor lumayan besar di negara ini, Tuan Sanur ... Maghala juga mempunyai saham kedua terbesar di Cyra, usaha franchise kuliner juga baru dia rilis. Salah satu penyandang label rising star affiliate di salah satu apps beberapa hari lalu. Bahkan isu mengatakan, pemuda ini adalah penggagas ide promosi Cyra yang dirombak saat mereka kolaps. Wacana Cyra akan launching produk baru. Itupun berkat ide nya," beber asisten Sanur Sadana tentang profil Ghala.


Pemilik Sadana Grup tercengang. Dimana Adhisty menemukan sosok lelaki ini. Dia bahkan mengakui secara kasat mata prestasi Maghala. "Si-aaall! bukan orang yang mudah!" geram Sanur, menggebrak meja.


Asisten mengangguki ucapan sang bos. "Magenta takkan tinggal diam jika tuan mudanya di usik. Ada Hilmidar di sisi pemuda itu, Tuan," imbuhnya.


"Tawari kerjasama dengan Sadana grup, kabulkan apa yang dia minta asal imbalannya adalah cabut gugatan," titah Sanur pada team lawyer juga asistennya.


"Ck, Maghala Sakha!"


.


.

__ADS_1


..._____________________...


...Jangan lupa rate ya guys. 😁...


__ADS_2