BUKAN MENANTU BIASA

BUKAN MENANTU BIASA
BAB 55. MISI BARU GHALA


__ADS_3

Ponsel Maghala tak henti berdering, ketukan di pintu pun intens terdengar, akan tetapi pasangan Cyra masih setia bergelung dalam selimut, tak menggubris semua itu sebab dunia bawah sadar mereka tengah indah bersemi.


Lima menit kemudian.


Ashadiya mendengar semua keributan tersebut, dia memaksakan kelopak matanya membuka perlahan.


"Mas! Mas!" sebut Asha beberapa kali. Dia tak dapat berbalik badan sebab Maghala menempel ketat di punggungnya. Tangan kanan pun berusaha menjangkau, membelai pipi Maghala lembut.


"Mas, Honey. Ponsel Mas Ghala bunyi terus, juga ketukan di pintu gak berhenti sejak tadi. Mungkin ada hal penting untukmu, bangun dulu, Mas," bisik Asha, kini mengusap rambut sang suami yang masih terlelap.


Maghala hanya menggeliat, tetapi malah kian menarik Asha menempel padanya bahkan kini tangan kekar itu menyelinap ke bawah dada kanan Asha sehingga makin sulit menggeser posisi.


"Ya, ada apa ya?" seru Asha masih dalam dekapan Ghala.


Suara maid terdengar. "Tuan Hilmi menghubungi Anda, juga Pak Gani dan Tuan besar. Mbak Denok juga telah menunggu, Nona," jawab maid tak menyebut keperluannya mengetuk pintu sejak tadi.


"Untuk apa, Mbak?" sahut Asha lagi, berusaha melepaskan diri dari dekapan Ghala. Dia sangat ingin membuka pintu atau menjangkau gawai sang suami guna mendapatkan informasi detail langsung dari para asisten Magenta.


"Ndak tahu, Non. Pak Gani hanya bilang agar Den Ghala membuka ponselnya," sambung maid, masih berdiri di balik pintu.


"Baik, Mbak, makasih ya," ujar Asha, tepat saat mendengar maid meninggalkan area depan kamar mereka.


Ashadiya Cyra memaksa sekuat tenaga mendorong Ghala menjauh sehingga kini tubuh Asha terlentang, akan tetapi apa yang dilakukan justru kian membuatnya semakin terjepit. Ghala menjadikan dia bagai guling.


Kepala Asha menoleh ke arah suaminya, wajah tampan itu kian meneduhkan kala tidur seperti ini. Putri Adhisty pun memandang sejenak tuan muda Magenta nan saleh.


Jam dinding telah menunjukkan pukul setengah lima sore, tanda waktu asar akan habis. Tak terasa mereka telah tertidur hampir dua jam lamanya setelah berpetualang mendaki gunung lewati lembah bagai ninja Hatori.


Saat Asha merasa kelopak mata Ghala akan membuka, dia berpura memejam kembali. Seketika ingatan panas siang tadi memenuhi benaknya.


"Sayang, mandi yuk. Tadi kan baru wudhu doang." Maghala melepaskan tindihan pada kaki dan tubuh bagian atas Asha, dia meraih ponsel dari atas meja nakas sebab mendengar samar benda itu berbunyi tadi.


Ghala membuka notif, terdapat jejak panggilan yang berjumlah puluhan kali, juga belasan pesan dari Hilmi dan Gani. Dia melirik ke arah Asha yang mulai beringsut akan turun dari ranjang. Secepat mungkin, Ghala menarik tubuh seksi itu kembali menempel pada dada bidang tanpa busana itu.


"Aah, Mas! lepas, mau mandi," rengek Asha tak dipedulikan Ghala.


"Sstt, diem dulu," pintanya sambil mengucek gemas rambut Asha.

__ADS_1


Tuut. Tuut. Maghala melakukan panggilan balik ke Gani dan meloudspeaker agar Asha juga dapat mendengar.


"Ada apa?" tanya Ghala dengan suara malas khas bangun tidur. Dia malah menempelkan wajahnya kembali di pipi Asha.


"Tuan muda Madaharsa akan menggelar akad nikah setelah Maghrib petang hari ini, Tuan muda. Anda di harapkan hadir dengan nyonya Asha seraya membawa Mahar yang telah di sediakan tuan muda Mada, di laci dalam lemari kamar beliau ... mohon siapkan uang tunai senilai delapan belas juta sesuai tanggal hari ini," pinta Gani.


"Alhamdulillah. Oke, hadiah dan lainnya bagaimana?" tanya Ghala, melirik ke arah Ashadiya yang terdiam mendengarkan percakapan mereka.


"Sudah di siapkan Pak Hilmi," pungkas Gani menutup panggilan setelah Maghala mengiyakan apa yang diperintahkan untuknya.


Tuan muda Magenta tak mengatakan apapun lagi, dia langsung bangkit dan berlari memutar ke sisi ranjang agar dapat menggendong Asha.


"Mau ngapain, aku bisa sendiri. Aku bisa, enggak, enggak. Maaaass!" Asha menolak kala sang suami membawanya. Dia masih malu, sangat malu dengan Ghala saat ini.


"Menghemat waktu sebab kudu cepat siap-siap."


"Setelah dari pernikahan kakak, kita ke Solo dulu untuk bertemu seseorang di sana, Sayang. Jadi, ngebut yuk."


Brak. Suara pintu kamar mandi di tutup kencang menggunakan kaki oleh Ghala.


Jika pasangan Cyra sibuk mencocokkan kostum seragam keluarga mereka. Lain hal dengan Denok. Dia sudah rapi sejak tadi menunggu majikannya keluar kamar.


Menjelang Maghrib, rombongan pun bersiap berangkat.


Ashadiya terkejut dengan tampilan Denok, tapi Ghala memilih diam dan meminta Asha agar tak menegur sementara waktu.


"Mas, saltum," bisik Asha sangat lirih.


"Biarin dulu, waktunya mepet. Nanti dia ganti baju di sana saja. Aku bawakan gamis yang dibelikan Hilmi, ada satu motif dan itu gak sesuai seleraku. Sepertinya longgar jika dipakai kamu, Sayang," balas Ghala, saat merapikan gamis Asha sebelum menutup pintu mobil.


Ashadiya mengangguk. Denok sangat cantik tapi apakah Hilmi tak memberitahunya tentang lokasi akad nikah yang mengharuskan berbusana santun dan tertutup, mungkinkah asisten Janu itu sengaja mengerjai Denok, pikir Asha.


Saat iringan mobil mempelai pria mulai masuk ke pelataran pesantren, Denok membelalakkan matanya. Dia merasa konyol. Hilmi tak memberi tahu dengan detail. Lelaki itu hanya meminta dia bersiap untuk menghadiri sebuah pernikahan mewah saja.


Wajah Denok seketika panik. Dia enggan turun dari mobil meski Asha sudah membujuknya. Terpaksa, pasangan Cyra meninggalkan Denok menungu di mobil dengan gamis yang telah Ghala siapkan di sana.


Beberapa menit berlalu, saat pembacaan ayat suci Al-Quran terdengar. Hilmi mendekat ke mobil Ghala, dia mengetuk kaca bagian kiri dimana Denok duduk membelakangi jendela.

__ADS_1


"Gak turun? aku temani ganti baju di sana," bujuk Hilmi seraya menunjuk ke arah Utara dimana toilet umum khusus pengunjung wanita berada.


Denok menoleh, mematikan game fruit slice yang tengah dia mainkan lalu membuka pintu. Gadis ayu itu turun dan siap memuntahkan lahar bak gunung Sinabung. "Gak usah, toh Denok gak penting bagi keluarga Magenta. Tidak mengenal siapa tuan muda Mada juga pasangannya. Saya catat ini sebagai utang Tuan Hilmi saja, bagaimana?"


Denok berdiri dengan anggun di hadapan Hilmi, meski tangan bersedekap di depan dada. Dia mengenakan setelan skirt berwarna hitam dengan leher Sabrina yang menunjukkan salah satu bahu mulusnya. Rambut kuncir kuda itu ditata dengan style mini cepol dan menjuntaikan sebagian anak rambut di sisi kanan kiri wajahnya. Sangat natural ditambah polesan tipis serba nu-de.


Sesaat Hilmi tertegun. Denok terlihat lain dari biasanya. Perasaan bersalah menyergap batin sang asisten Janu. Dia tak mengira gadis ini totalitas menghargai seseorang meski bukan berhubungan langsung dengannya.


"Maaf." Hilmi menunduk, membungkukkan badan meminta maaf secara resmi.


Melihat asisten Maghala menunjukkan sikap resmi, Denok seketika ikut membenarkan posisi berdirinya. Dia tahu sopan santun.


"Sah!" suara riuh hadirin di aula pondok mengaburkan percakapan antara Denok dan Hilmi.


"Ganti baju, ya atau mau pergi dari sini?" ujar Hilmi menawarkan pilihan, tak ingin lagi bercanda.


Jika Hilmi merasa bersalah, maka Denok tak demikian. Dia berniat membalas. "Pergi dari sini," jawab Denok, dengan senyum tipis menyiratkan sesuatu di otaknya.


Sang asisten pun mengangguk menyetujui, dia lalu pergi mengambil mobilnya, meninggalkan Denok sementara di tempat semula.


...***...


Jakarta, Gate kedatangan luar negeri. Saat yang sama.


Seorang wanita ayu tampak baru saja menjejakkan kaki kembali ke tanah air. Dia di sambut oleh para penggemar juga lelaki tampan sahabatnya.


"Welcome home, Baby," sapanya kala kedua pandangan mereka beradu.


"Haaaii, thanks sudah luangkan waktu buat jemput aku," balas sang wanita, dengan nada manja, memeluk lelaki yang menyambutnya.


Seruan para fans hanya dia tanggapi dengan lambaian tangan seraya berlalu keluar gate kedatangan.


.


.


...__________________...

__ADS_1


Denok Listya Anjani



__ADS_2