
Maghala melanjutkan pekerjaan berjualan live sembari mengecek stok juga meladeni berbagai pesan dari pelanggan dan suppliernya.
Semua dia lakukan secara cepat, tangan, otak, bahkan kakinya digerakkan saat menjangkau benda yang jauh sehingga tubuhnya tetap on cam.
Perawakan Maghala yang tegap, wajah kalem dan terlihat matang menjadi daya tarik kaum hawa ketika dia live. Kebanyakan dari mereka membeli produk hanya karena ingin melihat si tampan mengudara. (😅)
Usaha yang dirintis hampir seumuran dengan usia pernikahan mereka, kini telah berbuah hasil. Pendapatan layaknya pekerja kantoran dengan upah minimum Jakarta, berhasil di kantongi Maghala. Setara ketika dia berjualan angkringan dengan Karim.
Menjelang pukul sepuluh siang, dia menyudahi aktivitas duniawi. Maghala membangunkan Asha agar dia sarapan juga membersihkan diri.
"Asha, mau bangun sekarang atau nanti Zuhur? aku Duha dulu ya," bisik Ghala, mengguncang lembut bahu istrinya.
Wanita ayu menggeliat, membuka kelopak mata perlahan hingga rupa teduh itu nampak jelas. Asha tanpa sadar tersenyum manis meski sebagian wajahnya tertutup anak rambut.
"Manisnya nyonya Sakha kalau senyum gini. Aku siapin air hangat untuk kamu mandi. Malam nanti, kita menghadap mama," ujar Ghala, duduk di sisi ranjang dan menyelipkan rambut Asha ke belakang telinga. Wajah ayu pun kini terlihat jelas meski sesekali mata sipitnya masih memejam.
"Ehm. Bicara tentang apa ke mama?" tanya Asha malas, dia enggan keluar kamar jika tiada hal penting.
"Hak kamu. Perusahaan sepertinya akan meminta mama mundur sebab ketidakcakapan beliau menjaga aset mereka. Jika seperti ini, kepemilikan saham keluarga akan bergeser dan kalian tidak mempunyai kewenangan penuh atasnya," beber Maghala, dia menunduk, dilema antara membongkar jati diri atau bertahan. Wajahnya terlihat cemas.
"Siapa kamu?" tanya Asha, dengan suara parau memandang lekat suaminya.
Maghala menoleh, kedua tatapan pun bertemu. Belum saatnya Asha tahu, dia ingin melihat wanita ini bertahan dengannya tanpa embel-embel harta atau sejenis itu meski Ghala yakin, Asha bukan seperti kebanyakan para nona muda keluarga terpandang.
"Bukan siapa-siapa. Hanya mengerti sedikit dengan logika yang ada. Aku pernah memergoki mama dan Alka bertengkar hebat. Saling menuduh tentang bocornya dana perusahaan. Juga kata maid, beliau menjual belasan tas mahal beberapa waktu lalu hingga hanya tersisa tiga hingga empat buah saja," tutur Ghala, tak melepas pandang pada sang istri.
Ashadiya mengangguk, dia sebenarnya telah mengetahui bahwa sang kakak bermain di belakang ibunya.
"Kakak punya seorang kekasih rahasia. Apa yang dia lakukan dengan para wanita hanya sebatas kesenangan yang di sodorkan para partner bisnis. Alka pernah bilang, dia bukan pria yang celup sana sini. Waktu itu, aku belum mengerti apa arti kalimat itu," kekeh Asha, dia menarik selimutnya hingga menutupi wajah, malu dengan tatapan Ghala yang memberikan senyuman penuh arti padanya.
Maghala gemas sendiri. Dia merubuhkan dirinya memeluk Asha dan membubuhkan banyak kecupan dari atas selimut tanpa menyingkapnya.
__ADS_1
Sesuatu yang baru berani dia lakukan setelah melihat perubahan sikap Asha sedikit demi sedikit. Dia tak ingin salah tafsir. Memang haknya jika meminta agar Asha memenuhi salah satu kebutuhan biologis tapi Ghala ingin melakukan itu setelah hati keduanya siap.
Lama keduanya di posisi demikian hingga Ghala lupa akan niatannya untuk Duha. Dia justru ikut berbaring di sisi Asha, melipat lengan kanannya menyentuh kepala dipan sementara tangan kiri mendarat di atas dada.
Ashadiya, perlahan membuka selimutnya. Dia mencuri pandang pada sosok pria di samping. Ini pertama kali Maghala tidur di atas ranjang dalam posisi sempurna.
"Aahh!" pekik Asha kala Maghala beringsut menyamping, menarik tubuhnya hingga menempel.
"Gak boleh curi pandang. Nanti makin cinta. Aku jadi ngantuk lihat kamu begini," bisik Ghala, di atas pucuk kepala Asha. Membubuhi dengan kecupan meski matanya memejam.
Ashadiya bagai gedebok pisang, diam tak berkutik. Dekapan Ghala ternyata sangat nyaman. Dia memilih ikut memejam kembali meski perut rasanya telah meminta di isi.
...***...
Malam hari.
Setelah suasana sepi, Maghala hendak menemui Adhisty di ruang kerja. Namun, langkahnya tertahan sebab mendengar suara seorang pria di sana.
Niatan usil Ghala pun berubah kini. Dia akan menggunakan satu rahasia yang di dapat dari catatan Asha. Mungkin tak akan berdampak banyak tapi bisa jadi ini berguna.
Seringai Maghala pun tak dapat dia tahan. Dia bergegas menuju kamarnya dan membicarakan rencana esok hari dengan Asha.
Keesokan pagi.
Ternyata pria itu menginap semalam. Adhisty bahkan meminta Sade yang mendampingi Asha untuk kontrol ke dokter. Maghala sengaja di sibukkan oleh Alka sejak pagi sehingga dia tak memiliki celah untuk menghindar.
Adhisty memaksa Asha ikut dengan mereka, meski Asha berontak dan berteriak memanggil Ghala tapi semua usahanya sia-sia. Sade kini masuk ke kamarnya, sebab Maghala sengaja meminta Asha tak mengunci pintu..
Saat lelaki itu berdalih akan membantu membuka pakaian Asha. Wanita ayu berpura histeris meski sebenarnya dia ketakutan. Tapi demi memastikan sesuatu, Asha menahannya.
Perlahan, Sade mendekat, jemarinya kini mulai menyentuh lengan kursi roda dan akan mengangkat Asha menuju bathroom.
__ADS_1
Tepisan kasar, diterima Sade kala itu, akan tetapi niatannya tak urung. Saat seringai menjijikkan itu kian dekat. Asha menempelkan sesuatu di wajah Sade.
Satu detik.
Dua detik.
"Aaarrrrgghhhhh!!!" teriak Sade, dia berjingkrak, lari mondar mandir tapi tak berani menyingkirkan sesuatu yang menempeli wajahnya.
Pada awalnya Asha pun jijik, tapi dia memilih menahan itu demi keselamatan dirinya saat Ghala tak ada di sisi bila pria itu kembali mengancam.
Ashadiya terpingkal melihat sikap pria arogan nan mesum kini. Prediksi Ghala tepat. Tak lama, Sade berhasil melepas sesuatu yang menempeli wajahnya lalu mendekati Asha, meminta perlindungan.
Sungguh malang nasib Sade, dia di permainkan hari itu oleh pasangan muda Cyra. Asha masih menyimpan satu lagi benda yang sama. Dia lalu menggantungnya tepat saat Sade akan mendekat.
"Sh-iittt!! awas kau!!" umpat Sade, wajahnya langsung memucat, nafasnya memburu dan tersenggal. Dia jatuh, luruh lemas di atas lantai.
"Pergi! jangan dekati aku lagi!" sentak Asha, bersiap melempar sesuatu ke arah Sade.
Pria tegap itu, susah payah bangkit. Berkali dia gagal berdiri sebab kakinya lemas dan sepatu yang dikenakan memiliki permukaan terlalu licin.
Ashadiya geli, dia melempar benda itu ke samping Sade, membuat dia jatuh lagi hingga akhirnya merangkak menuju pintu.
"Dasar phobia kecoa!" gelak Asha, bahagia dapat selamat berkat ide Maghala.
Tawanya lepas melihat pria itu kesusahan, tapi seketika otaknya berpikir. Dia tak pernah menceritakan dugaan ini pada siapapun. Bahkan menyimpulkan sendiri kala Anggun sekilas bercerita tentang Sade dulu. Asha mengingat, darimana Ghala mengetahui hal pribadi seperti ini. Dia hanya menulis di sebuha jurnal.
"Oh God! Ghala baca jurnalku? ya ampun, tolong, aku malu," lirih Asha menepuk jidat, dengan wajah apa dia menghadapi Maghala nanti. Rahasianya tertulis di sana.
.
.
__ADS_1
...__________________...