BUKAN MENANTU BIASA

BUKAN MENANTU BIASA
BAB 79. AKUISISI


__ADS_3

Teringat ucapan Ghala, Hilmi mengurai tautan jemari mereka. Tak ingin di tegur atau menyalahgunakan arti sebuah kepercayaan.


Dia menemani Janu dan mengutarakan niatnya untuk melamar Denok dalam waktu dekat dan meminta pendiri Magenta itu agar turut hadir di momen special dirinya.


"Haifa udah gak nyamperin lagi?" tanya Janu.


"Enggak. Udah lama banget, terakhir dia malah seakan pamit pergi. Putriku juga dadah dadah tapi keduanya happy," timpal Hilmi menerawang jauh.


Janu mengangguk, tiada hak baginya melarang Hilmi memulai hidup baru. Tenggelam dalam kenangan indah memang menyenangkan tapi sekaligus membawa kesedihan sebab rasa hampa kerap hadir.


Acara berakhir menjelang sore. Rombongan pun kembali ke hunian Cyra.


Janu menyarankan agar Ghala pindah ke kediaman baru sekaligus syukuran tujuh bulan Asha sehingga tak perlu repot menggelar dua kali acara.


"Rumah yang di sana belum rampung. Malah yang buat Om Hilmi sudah selesai. Jadi kapan mau nikah?" tanya Ghala lagi, ketika mereka duduk santai di teras samping.


Kedua keluarga menghabiskan malam bercengkrama di ruang keluarga. Sementara Hilmidar menghindar guna berbicara dari hati ke hati dengan Denok.


"Anja, jadi gimana?"


"Entah. Aku bingung. Apa gak terlalu cepat? apa kata keluarga mantan suamiku nanti?" cicit Denok, dia masih teringat masa lalunya.


"Kau ingin silaturahim dengan mertuamu atau bagaimana? aku temani," tawar Hilmi melihat Denok tak nyaman.


"Aku boleh cerita?" kata Denok menoleh ke sampingnya.


Hilmidar mengangguk, dia justru menanti saat ini.


"Aku divonis tak dapat memiliki keturunan, suamiku bungsu dari tiga bersaudara. Hanya dia yang cocok menggantikan usaha catering milik keluarga sebab memang suka di dapur kek Den Ghala, seneng kerjaan rumah tangga gitu ... tiba-tiba setelah dua tahun, aku dimintai izin untuk meloloskan keinginan ayah mertua agar suamiku menikah lagi," ucap Denok, dia tak memperhatikan lagi susunan kalimat yang diutarakan. Hatinya kembali sakit.


(Sengaja ya, gak enak susunan kalimatnya sebab kesedihan Denok kembali datang. Orang galau kan, gak mikirin bener gak ucapannya sing penting maksud e nyampe hihi)


Denok menunduk. Rasanya luka itu masih basah meski kini telah tiga tahun berlalu.

__ADS_1


"Aku memilih pisah tapi rupanya keputusan ini salah. Ayah ibuku marah. Kata mereka, aku tak dapat mencium bau surga sebab menggugat cerai suamiku ... mana ada lelaki macam dia yang bisa menerima gadis dari kalangan biasa juga sabar menanti hingga aku lulus kuliah," kata Denok, mulai menahan suara serak sebab hatinya memerih.


Hilmidar masih setia mendengarkan. Dia membuka telinga lebar sebab suara wanita pujaan itu kian lirih.


Asisten Janu bahkan tak berani menatap wajah Denok, dia terlalu sungkan. Wanita disampingnya tengah rapuh, tak semestinya dia memberikan tatapan belas kasihan.


"Ya sudah. Aku gak bisa pulang sebab dikata bawa aib. Juga gak tahu kemana pergi. Inginnya gak membawa uang pemberian mertua tapi aku butuh itu untuk hidup menjauh."


"Namun, suamiku salah paham. Dia menuduhku menjual pernikahan dengan sejumlah uang agar dapat berpisah dengannya ... aku sakit hati. Di saat ayah mertua meminta izin padaku, dia diam saja. Apakah itu tanda berjuang bersama?"


"Dia setiap hari menjejali ku dengan dosa menggugat suami. Durhaka pada orang tua hingga makian lainnya dan membuatku gila. Aku pernah mengkonsumsi obat selama satu tahun. Abang tahu itu kan?" tanya Denok, menoleh ke arah Hilmidar.


Air matanya sudah jatuh. Isakan halus pun mulai terdengar. Denok baru saja membuka luka lama.


Hilmidar mengangguk. Dia tetap memandang lurus ke depan, sesekali menunduk. Hatinya ikut sakit mendengar kisah miris wanitanya.


"Aku depresi. Beasiswa lanjut studi pun tak ku teruskan. Ayah dan ibu meninggal dalam waktu hampir bersamaan, sebab heat stroke, gak kuat terpapar panas ekstrem saat umroh di musim peralihan antara dingin ke panas. Mereka sakit dan saling susul menuju alam baka. Aku gak punya harta peninggalan warisan kedua orang tua. Mereka sengaja menjual semua aset untuk beribadah kala itu," ungkap Denok, kian terisak.


Hilmidar tak tega. Dia meminta Denok berhenti menceritakan kisah pilunya itu.


Denok menoleh. Menyeka air matanya lalu menatap nanar sang pria.


"Sampai kapanpun, aku gakkan bisa lepas dari bayangan rongrongan dia, Bang. Aku gak mau Abang jadi lemparan sampah dari keluarga mantan suamiku," sahut Denok.


"Coba saja kalau berani. Jadilah istriku, ya Anja, agar aku leluasa melindungimu, oke?" pinta Hilmi terus terang, sudah bukan masanya untuk basa basi lagi. Tujuannya jelas.


Denok bergeming. Dia ragu.


"Anja!"


"Ehm. Akan aku pikirkan. Jikalau pun iya, kita hanya datang berdua ke rumah pamanku lalu langsung ke KUA saja. Aku malas harus ini itu lagi," pinta Denok.


Hilmidar mengerti. Trauma seseorang yang pernah mengalami kegagalan tentu bakal terus membayangi.

__ADS_1


"Istirahat ya. Besok kita ke sana dengan Tuan besar," sambung Hilmi.


Denok mengangguk. Dia menyeka sisa kesedihan di wajahnya. Entah mengapa, dengan Hilmi, kisah kelam itu begitu lancar dia ungkap meski tak di pungkiri, hatinya sakit.


...***...


Semarang.


Saat keluarga Magenta ke Jakarta untuk syukuran pernikahan Maghala. Maharani kalang kabut. Dia mencari Mulia ke kediaman Magenta.


Putrinya telah diizinkan bahkan di tarik oleh Mada untuk belajar memegang tanggung jawab di bagian advertising miliknya, meninggalkan hunian sang ibu dan tinggal di paviliun Magenta.


"Mulia!"


"Gak mau pulang, Ma. Kata kak Mada, aku tinggal di paviliun saja. Lagipula ini sedang kerja," ujar Mulia, sulung Maharani.


"Pulang. Bagaimana nasib perusahaan mama jika begini?" ujarnya mulai emosi.


"Perusahaan Maharani akan kembali di akuisisi oleh Magenta sebab adanya penurunan omset secara signifikan sehingga pembayaran piutang akan tersendat. Sebelum jatuh ke lubang yang sama dua kali, maka keputusan tersebut mutlak. Hibah Anda, ditarik oleh tuan besar Janu," terang Gani, menjelaskan kedudukan Maharani saat ini.


"Enak aja, gak semudah itu dong. Ada jalur hukum dan lainnya," elak sang nyonya besar.


"Betul. Dan itu akan di proses setelah tuan besar kembali ke Semarang. Demikian, Nyonya," imbuh sang asisten Mada.


Maharani lemas, dia jatuh terduduk. Pagi ini, dirinya tak menemukan Huda. Lelaki itu raib entah kemana membawa sejumlah uang miliknya.


"Mama pantasnya jadi ibuku saja." Mulia, memeluk sang ibu yang kini terlihat tak berdaya.


.


.


..._____________________...

__ADS_1


...Hore. selesai....


__ADS_2