BUKAN MENANTU BIASA

BUKAN MENANTU BIASA
BAB 61. ULAH SI ANU


__ADS_3

Hilmidar menyiapkan keperluan Maghala saat akan berangkat ke Jakarta. Semua berkas dokumen telah di serahkan pada Pierre dan pemuda itu yang akan menggantikan posisinya di sisi Tuan muda kedua Magenta.


Saat pasangan Cyra tiba, Eira baru saja akan naik ke lantai dua dimana kamar Mada berada.


"Mbak, sudah pulang?" sapa Ghala pada kakak iparnya.


"Eira saja, kita seumuran kan? Kakak minta pulang, kangen udara rumah katanya. Kalian mau balik ya? aku sampaikan ke kakak dulu," balas Eira menunjuk ke atas sambil menapaki anak tangga.


"Gak usah, besok kita berangkat, kok. Ya emang seumuran tapi statusmu jadi Kakak ipar aku. Titip keluargaku ya, Mbak," sambung Ghala saat Asha sudah masuk dipapah Denok sebab Ghala sibuk menurunkan bawaan mereka dari mobil.


...*...


Setelah sarapan, pasangan Cyra pamit pada Janu dan Madaharsa. Putra bungsu Mahananta itu banyak memberikan pesan agar Madaharsa menjaga kesehatan juga banyak hal lainnya.


"Harusnya kamu, yang ngurusin Magenta. Bukan aku," ujar Mada, melihat ke arah Eira yang akan keluar kamar membawa baki bekas makanan mereka.


"Kakak lebih pantas. Aku gak ngerti masalah itu, lebih suka jualan dan nemenin Asha kemana-mana," balas Ghala, tersenyum sambil melihat istrinya yang hanya diam.


"Aku juga maunya begitu," sambung sang kakak.


"Ehm, aku gak yakin sih Kak Mada bisa kayak aku, dari kecil kan sudah di siapkan untuk semua ini oleh ayah," sahut Ghala, dia kini meraih tangan Asha dan menariknya mendekat.


"Siapa bilang gak bisa?"


Maghala Sakha menengadahkan kepala ke atas, menatap wajah ayu yang juga melihatnya.


"Gak bisa, sebab kakak tidak terbiasa hidup di lingkungan luar yang keras seperti aku. Mungkin akan bisa menjalani tapi tidak yakin sebab...." Maghala melirik ke arah pintu, takut Eira muncul tiba-tiba.


"Apa?"


"Sebab identitas Kakak sudah seperti ini. Lain hal dengan Asha sedari awal tahu suaminya cuma pedagang angkringan," kekeh Ghala. "Eira dan keluarga besarnya melihatmu demikian. Mungkin Eira bisa menerima tapi belum tentu dengan batin Kakak. Entahlah, intinya Kak Mada memang pantasnya begini," sambungnya lagi.


Madaharsa mengerti, mentalnya kalah dengan Ghala jika dihadapkan pada situasi terpuruk. Dia mungkin bisa bertahan tapi tidak akan sabar dalam keterbatasan. Maghala mendapatkan tempaan lahir batin di luar sana.


Ashadiya mengangguki ucapan sang suami. Dia setuju karena melihat pasangan kakak ipar memang harus mapan segalanya. Bukan berarti dirinya tidak, akan tetapi sosok Ghala bakal lebih tangguh jika di hadapkan pada situasi yang sama.


Di lantai dasar, Hilmidar menatap tajam Denok dengan duduk menopang kaki di sofa ruang keluarga. Gadis itu sangat cuek dan terkesan menghindari dirinya sejak kejadian malam lalu.

__ADS_1


Asisten Asha itu kini tengah di sibukkan dengan pekerjaan yang Ghala amanahkan padanya. Dan mulai di berikan setumpuk desk job oleh Asha, di antaranya memesan perlengkapan melukis, membayar gamis pilihan sang suami juga hal lain.


"Sibuk banget kayaknya," tegur Hilmidar, masih tak melepas pandang pada sosok di hadapan.


"Ada suara tapi tak nampak wujud. A'udzubillahi minasy syaitonirrojim." Denok tak memedulikan kicauan Hilmi. Dia enggan berurusan dengannya lagi.


"Sombong amat. Baru asisten doang," sambung Hilmi.


"Lama-lama gak enak hawanya. Jangan ganggu ya, kita punya kerjaan masing-masing."


Denok pun memilih bangkit, seiring langkah pasangan Cyra yang turun dari lantai dua dengan Janu. Sesaat kemudian, semua telah tertata rapi di dalam mobil. Ketika Denok akan duduk ke kursi samping supir, Hilmi menarik rambutnya.


"Awh! lepas ish!" Tepis Denok pada cekalan tangan Hilmi, matanya mendelik tak suka.


"Lindungi mereka, jangan lalai karena Asha masih banyak butuh bantuan. Yang rajin, jaga kesehatan juga atur waktu. Tanyakan padaku jika tak mengerti kebiasaan Tuan muda," kata Hilmidar beruntun.


"Wejangan atau perhatian ini tuh, Tuan? ... ngapain tanya ke Anda jika menyangkut Tuan muda, kan ada istrinya? bilang aja kalau berat melepasku," tawa Denok menggoyangkan kepalanya dan meletakkan kedua punggung tangan di bawah dagu, meniru gaya Cherrybelle.


Hilmi mendengus kesal. Dia tak menanggapi aksi menyebalkan asisten Asha. Lelaki duda itu lalu memilih mundur beberapa langkah dan melambaikan tangan.


"Jangan lupa, dipakai. Itu sangat berguna untukmu nanti."


"Bilang ke Haifa, kalau mau nikah lagi. Sana, kamu biasanya curhat sama nisan dia. Ghala juga belum sempat nyekar," ujar Janu, paham bahasa tubuh Hilmi.


"Entahlah Tuan, aku masih malas memeluk guling hidup. Haifa itu tak pernah merepotkan dalam segala hal bahkan untuk urusan melentang," kekeh Hilmi, vulgar seperti biasanya.


"Semprul. Model ayu macam Haifa kok mau kawin sama kamu yang begini," balas Janu.


Haifa adalah keponakan jauh Janu, dia meninggal dunia setelah melahirkan bayi mereka yang prematur sebab pendarahan kala Hilmi terlambat menemukan sang istri setelah dinas luar kota.


"Haifa segalanya bagiku, Tuan. Aku masih sangat menyesal. Tidak dapat melupakan tatapan mata tulus ikhlas itu bahkan dia memberikan senyum terindahnya di saat terakhir ... dia sangat cantik di mataku," tutur Hilmi, menghela nafas seraya memejam. Butir bening ikut muncul di ujung netra setiap kali mengingat kejadian belasan tahun silam.


Janu mengangguk, menepuk bahu Hilmi pelan. Haifa yang memilih lelaki ini menjadi suaminya dulu sebab Hilmi kerap memberikan penjagaan dalam diam, kemanapun Haifa pergi.


Kedua lelaki akan beranjak kala sebuah suara panggilan menahan langkah mereka.


"Tuan besar, Om Hilmi," seru seorang gadis, masih berada di sebuah mobil yang akan berhenti di depan mereka.

__ADS_1


Keduanya menoleh. "Layla, ada apa?" tanya Hilmidar heran dengan putri Haidar, salah satu kerabat Janu dan pemegang saham Magenta, saat gadis itu menghampiri.


"Ghala mana? katanya mau jelasin ke aku alasan dia menikah?" ujar Layla. "Nih, dia ternyata nikahin pezina? Ghala berzina dengan dia atau dijebak wanita licik itu?" sambungnya lagi, matanya mulai berkaca-kaca seraya menunjukkan sebuah chat dari seseorang.


Hilmi terkejut, darimana dia mendapat kontak tersebut. Tatapan asisten Janu pun menelisik tajam hingga membuat gadis ayu sedikit ketakutan.


Janu menoleh ke arah Hilmi. Dia ingat saat Ghala meminta agar tak mempercayai berita tidak senonoh tentangnya dulu, ketika meminta anak itu kembali ke Magenta. (hayo, bab piro)


"Baiknya Anda tidak percaya, Layla. Jangan usik kehidupan Maghala lagi. Berita itu tidak benar ... darimana Anda mendapatkan kontak ini?" cecar Hilmidar, menunjuk ke ponsel Layla.


"Aku dan dia pernah satu kampus, fakultas dan kelas. Gak mungkin dia bohong, katanya valid. Istri Ghala bukan wanita baik!" seru Layla lagi.


"Memang kamu mau apa?" tanya Janu, tidak paham jalan pikiran gadis di depannya.


Layla tak membalas, dia lalu menanyakan kemana Maghala pergi sebab akan menyusulnya.


"Jangan ganggu mereka, Nona Layla Akhmaloka Haidar! ini pesanku. Tapi jika Anda ingin mempermalukan diri sendiri, silakan susul Tuan muda ke Jakarta," ucap Hilmi. Janu menepuk lengan asistennya itu, tak setuju dengan ucapan Hilmidar.


"Ah, iya. Aku tahu kemana dia pergi," kata Layla. Dia membungkukkan badan lalu berbalik arah meninggalkan kedua pria di sana.


Janu meminta Hilmidar untuk menghubungi Haidar tentang niatan Layla menyusul cucunya. Asisten Janu pun mengikuti arahan majikannya tersebut.


...***...


Sementara di Bandara.


Maghala asik memeluk Asha, mengalungkan kedua lengan di atas dada, kala antri untuk melewati pintu boarding, sementara sang istri masih mengecek ponselnya.


Asha sedang membaca sebuah pesan, lalu membalasnya dan menyunggingkan senyum saat tanda enter itu dia tekan. "Ayo, ketemu rame-rame ... Mas Ghala itu milikku! awas saja kau!" gumam Asha membalas pelukan suaminya, lalu mematikan gawai.


"Iya, aku milik Humaira seorang, kok." Maghala mendengar gumaman Asha tapi tak melihat tampilan ponsel, dia hanya menikmati keintiman mereka.


"Kenal dimana ya? niat banget menjelekkan namaku."


"Ya Tuhan, ternyata suamiku ini idola para gadis ya. Bahkan temanku mengenali wajah Ghala saat kontennya fyp ... Mas, kamu pernah kuliah? dimana, sih? kok beken?"


.

__ADS_1


.


...____________________...


__ADS_2