
Daniel dan Devan sudah menyelesaikan makan siangnya, kemudian mereka bersiap-siap untuk pergi ke kantor sementara mereka, disamping hotel yang baru dibangun.
"Buk bos,.... makasih ya untuk makan siangnya, masakan buk bos enak, pantas Tuan Devan tergila-gila sama buk bos!" ujar Daniel sopan.
"Sama-sama, Daniel..." balas Shanum tersenyum lebar.
"Ayo Daniel, nggak usah kebanyakan drama, besok aku akan mencarikan istri untukmu, biar tahu rasanya menikah," canda Devan.
"Tapi nyarinya yang kayak buk bos Shanum, ya bos, cantik, pintar masak dan juga sholehah!" puji Daniel.
"Kalau begitu kau cari saja sendiri, Daniel..." gerutu Devan. Daniel tertawa terkekeh-kekeh.
"Sayang, aku berangkat ya!" pamit Devan.
"Ya kak, hati-hati ...!" Shanum mencium tangan suaminya hormat, Devan mencium kening Shanum lembut.
"So Sweet...!" Daniel tersenyum memandang keduanya. Baru pertama kali, sejak menjadi asisten Devan, Bos nya itu sangat bucin pada seorang wanita. Bahkan, sebelumnya Devan tidak pernah menyentuh perempuan yang menjadi kekasihnya apalagi menciumnya.
Kedua orang itu segera keluar dari rumah Shanum. Dan masuk kemobil yang dibawa Daniel dari kantor.
"Bos, nyonya Sonia menanyakan keberadaan bos dari semalam," ujar Daniel, begitu mereka sudah berada didalam mobil.
"Terus...!" ucap Devan singkat.
"Aku bilang, bos tidak bersamaku, kupikir bos masih di Jakarta," jawab Daniel.
"Trus, ngapain kamu kerumah Shanum, ...!" ketus Devan.
"Ya nyariin bos lah, ... soalnya tadi pagi Tuan Adam juga nelpon, katanya Bos tidak ada dikantor, jadi aku yakin kalau bos sudah dirumah Buk Bos,"!
Begitu sampai di kantor, Devan segera mengambil ponsel dalam saku jasnya, ponsel itu sengaja dia matikan dari semalam. Karena dia yakin, Mamanya dan Vania akan terus menghubunginya, dan memintanya untuk pulang.
"Bagaimana hasil pertemuan kemaren, Bos !" tanya Daniel.
"Papa tidak setuju!" sesal Devan.
"Itu artinya kita akan berada disini, hingga 3 bulan kedepan Bos!" sela Daniel.
"Iya ... kamu keberatan !" tukas Devan.
"Nggak ...!Aku sih nggak masalah, Bos! Bos, kan enak...bisa lama-lama disini, apalagi ada Buk Bos Shanum," ucap Daniel.
"Benar juga ya, Niel ! Itu artinya aku masih bisa menghindari Mama dan Vania tiga bulan kedepan!"ungkap Daniel sambil tersenyum tipis.
"Bos, kalau seandainya Nyonya Sonia tahu, Bos menikah dengan Shanum, apa yang akan Bos lakukan?"tanya Daniel.
"Entahlah, aku belum kepikiran, bagaimana cara menghadapi Vania dan Mama, tapi kuharap, Shanum hamil sebelum kita kembali ke Jakarta," lanjut Devan.
"Kenapa begitu, Bos!" Daniel memicingkan matanya.
"Mama dan papa bisa menolak kekasihku, tapi mereka tidak mungkin menolak, jika Shanum sedang mengandung keturunan keluarga Mahendra," ungkap Devan.
__ADS_1
.
Daniel mengangguk paham. Devan adalah anak satu-satunya keluarga Mahendra, mereka pasti menginginkan penerus keluarga mereka.
...----------------...
"Kak,...makanan sudah siap, kakak mau makan sekarang?" tanya Shanum saat Devan sudah berada dirumah malam itu.
"Sebentar lagi, sayang...oh ya aku lupa, semalam aku membawakan hadiah untukmu!" Devan ingat belanjaannya semalam masih berada didalam mobil. Buru-buru Devan keluar rumah dan mengambil barang belanjaan didalam mobil.
"Banyak banget kak! kakak mau jualan?" celetuk Shanum.
"Ini semua untukmu!" Devan mengeluarkan sebuah kotak perhiasan dari dalam sebuah paper bag.
"Makasih kak....!" Shanum tersenyum manis.
"Cincin ini, kamu harus memakainya ...sini !" Devan memasangkan cincin permata itu dijari Shanum dan satu lagi untuk dirinya.
"Cincinnya cantik, kak !" Puji Shanum.
"Yang memakainya juga cantik !" sahut Devan merangkul pundak istrinya dan membawa tubuh ramping itu kedalam pelukannya.
Pembangunan Hotel Bluesky telah selesai dibangun, Devan kembali ke Jakarta, dengan mengajak Shanum ikut bersamanya. Shanum berusaha untuk tenang. Dia belum pernah bertemu orang tua Devan sebelumnya. Ada rasa takut dan cemas, jika orang tua Devan menolak kehadirannya.
Mereka sampai disebuah rumah besar berpagar tinggi dikawasan elite ibu kota. Shanum semakin tak percaya diri karenanya.
"Ayo masuk, Sayang!" Devan menarik tangan Shanum untuk masuk kedalam rumah. Mbak Surti menyambut majikannya didepan pintu.
"Mbak Surti, ini Shanum ... istriku !" Devan memperkenalkan Shanum pada asisten rumah tangganya itu.
"Istri...!?" ulang Mbak Surti tidak percaya, tapi wanita itu kemudian menggangguk, Dia tidak punya hak untuk bertanya lebih jauh.
"Mama mana, Mbak?" tanya Devan sambil menenteng koper Shanum kedalam rumah.
"Nyonya belum pulang, Tuan ...mungkin sebentar lagi !"
"Kalau begitu, tolong bawa semua barang-barang ku kekamar Mbak!" Perintah Devan.
"Baik, Tuan !" Mbak Surti membawa barang-barang milik Tuannya itu ke kamar Devan dilantai atas.
Devan mengambil minuman didapur dan memberikannya pada Shanum, "Minumlah,...kamu pasti haus !"
"Makasih kak...!" Shanum menghabiskan minuman itu hingga tandas.
Tak lama berselang, suara mobil terdengar berhenti didepan rumah besar itu. Seorang wanita paruh baya, turun dari mobil dan masuk kedalam rumah dengan gayanya yang elegan.
"Selamat sore, mama...!" Devan menyambut mamanya dengan hangat.
"Tumben kamu, Van...biasanya nggak pake pelukan...!" Nyonya Sonia merasa sedikit heran dengan tingkah putra semata wayangnya itu.
Matanya menatap penuh selidik kearah Shanum yang berdiri menunduk dibelakang Devan.
__ADS_1
"Mama, ...kenalkan ini Shanum !" Devan menarik Shanum mendekat kearahnya. Wanita itu menaikkan sebelah alisnya.
"Siapa dia ...?" Nyonya Sonia memindai tubuh Shanum dari kaki hingga ujung kepala, dengan raut wajah dinginnya.
"Shanum istriku Ma...!" jawab Devan pelan.
"Apa !?....jangan bercanda Devan!" Nyonya Sonia tampak marah dengan pengakuan Putranya.
"Ma ...! jangan marah dulu...biar aku jelaskan !" Devan berusaha menenangkan mamanya yang tampak menahan rasa kecewa.
"Mama kan sudah pernah bilang, Van...kamu hanya boleh menikah dengan Vania,...tidak dengan orang lain," Wanita itu tampak emosi. Shanum menunduk dalam diamnya.
"Ma, aku sudah pernah bilang kan, kalau aku tidak menyukai Vania,...tapi mama memaksa...jadi aku terpaksa menikah diam-diam," ujar Devan membela diri.
"Mama tidak setuju Devan, bawa perempuan itu keluar dari rumah ini!" Nyonya Sonia semakin emosi.
"Ma, mama belum mengenal Shanum...Cobalah mama buka hati mama untuk menerimanya. Aku mencintainya Ma!" Duduk bersimpuh di kaki mamanya. Shanum pun ikut duduk bersimpuh disamping suaminya.
Wanita itu memalingkan wajahnya, menahan rasa kecewa karena kelancangan putranya menikah tanpa sepengetahuannya.
"Ada apa ini, Ma...!" Tuan Adam Mahendra baru saja datang dari luar. Sepertinya, pria baya itu baru pulang dari kantornya.
"Lihat anakmu, Pa...dia tiba-tiba pulang membawa perempuan yang entah dari mana asalnya!" Sarkas nyonya Sonia.
"Apa maksudmu, Devan...?" Tuan Adam duduk disamping istrinya Nyonya Sonia, memandang kearah Devan dan Shanum secara bergantian.
"Pa, aku dan Shanum sudah sudah menikah 3 bukan yang lalu di Bandung," Aku Devan.
"Berani sekali kau menikah tanpa sepengetahuan kami Devan...lalu kau anggap apa orangtuamu ini ?" bentak Tuan Adam.
"Pa, jika aku minta izin dulu, pasti papa dan mama tidak akan mengizinkannya, karena kalian memaksaku menikah dengan Vania," ujar Devan mulai menaikan nada suaranya.
"Papa tetap tidak setuju, Devan!" ujar Tuan Adam marah.
"Ma...! Pa...! kami sudah menikah? tolong restui kami!" pinta Shanum, memohon.
"Aku tidak Sudi, punya menantu sepertimu !" ucap Mama Devan Angkuh.
"Kau pikir jika menikah dengan putraku, kau akan mendapatkan segalanya, jangan mimpi !" Nyonya Sonia beranjak dari tempat duduknya, meninggalkan ruangan itu.
"Dengar Van, ....mama tidak mau melihat perempuan itu berada di rumah ini," ujar wanita itu sebelum masuk kekamarnya.
Devan menarik nafas panjang. Shanum berdiri dengan lemah, ketakutannya benar-benar terjadi. Dia tidak diterima dengan baik oleh keluarga Devan.
"Ayo sayang...sebaiknya kita pergi dari rumah ini!" ajak Devan. Dia kembali kekamarnya mengeluarkan koper-koper yang belum sempat dibereskan Shanum kedalam lemari.
"Kita akan kemana, kak ?" tanya Shanum, suaranya bergetar menahan rasa gundah dihatinya.
"Kita akan tinggal di apartemenku, untuk sementara!" ucap Devan.
"Aku minta maaf, kak! aku sudah menyusahkan mu!" sesal Shanum.
__ADS_1
"Tidak usah dipikirkan....! Kita bisa menjalani semuanya dengan baik, papa dan mama mungkin hanya syok, mereka butuh waktu untuk menerima pernikahan kita," ujar Devan merangkul Shanum untuk keluar dari rumah besar itu.