Bunda (Cinta Yang Hilang)

Bunda (Cinta Yang Hilang)
MENEMUI PSIKIATER


__ADS_3

Hujan turun dengan derasnya pagi itu, Arsen membatalkan niatnya untuk berangkat ke kantor. Padahal, Bianca sudah membuat janji dengan dengan seorang psikiater, untuk menanyakan kondisi kesehatan mental suaminya. Hari ini dia akan berangkat sendiri, hanya untuk mencoba memahami kondisi yang dialami Arsen dan cara untuk menghadapi pria yang mempunyai Alter ego seperti suaminya


"Nggak berangkat ke kantor, Arsen?" tanya Bianca duduk disamping suaminya, mencoba untuk bersikap wajar. Walau dalam hatinya sedikit takut, jika Arsen akan mengamuk lagi.


"Sebentar lagi, Bi! sekarang jalanan pasti sangat macet, jalanan licin," ucap Arsen sambil membuka laptopnya dan memeriksa beberapa pekerjaan dari rumah.


"Arsen, aku mau ke rumah Mommy,.boleh?" tanya Bianca pelan.


"Ngapain kerumah, Mommy?" tanya Arsen tetap fokus pada pekerjaannya.


"Aku kangen sama anak-anak, terutama Flo,"jawab Bianca.


"Suruh saja mereka kemari Bi, minta tolong mommy antar mereka,"


"Apa boleh?"


"Tentu saja boleh, sayang! kamu kesepian ya!" tanya Arsen memandang wajah Bianca dengan sayang.


"Ya, aku ingin punya anak seperti Flo, Arsen, pasti menyenangkan bermain dengan anak kita sendiri," ucap Bianca memancing reaksi Arsen.


"Aku juga ingin punya anak darimu, sayang! Seorang anak perempuan yang cantik seperti ibunya." puji Arsen.


"Benarkah?" Bianca tersenyum manis, melihat Arsen membelai wajahnya dan menciumnya lembut.


"Arsen, aku senang melihatmu seperti ini, " ucap Bianca menyandarkan tubuhnya dipundak suaminya.


"Maaf Bi, jika aku membuatmu, takut!"Arsen menyadari jika Bianca takut padanya, apalagi jika Arsen menginginkan dirinya untuk melayani hasrat liarnya.


Bianca hanya mengangguk, memaksakan diri untuk tersenyum.


"Arsen, jika ada sesuatu yang mengganjal di hatimu, katakan padaku, agar aku bisa memahami dirimu!" kata Bianca kemudian.


Arsen menarik nafasnya dengan kasar. Dia tidak bisa mengontrol dirinya jika Alter ego nya itu datang tiba-tiba. Dia akan merasa gelisah, jantungnya berdebar dengan kencang. kepercayaan dirinya hilang.


"Arsen, apakah kamu tidak ingin sembuh?" Bianca mencoba menatap wajah tampan itu.


"Tentu saja, aku ingin Bi!" jawab Arsen.


"Bagaimana kalau kita pergi ke psikiater?" ajak Bianca

__ADS_1


"Aku sudah pernah mencobanya, tapi hasilnya nihil, Bi!"


"Kita akan mencobanya lagi, sekarang aku akan mendampingi mu, percaya padaku!"


Arsen diam sejenak, dia ingin menceritakan tentang dirinya, masa lalu nya yang kelam, namun Arsen takut, Bianca akan meninggalkannya.


"Bi, aku punya masa lalu yang kelam, dari situlah penyakitku ini berawal!" ucap Arsen.


"Ceritakan padaku!" ujar Bianca.


"Jangan sekarang, Bi! Aku belum siap!" jawab Arsen, kemudian menutup laptopnya.


"Sepertinya hujan sudah reda, aku berangkat ya Bi, " Arsen mencium kening Bianca lembut.


"Hati-hati!" pesan Bianca.


"Ingat, jangan kemana-mana sebelum aku pulang!" ucap Arsen sebelum keluar dari rumah. Bianca hanya mengangguk lemah.


Bianca kembali menghubungi psikiater yang akan membantu mengatasi masalah Arsen. Bahwa dia tidak bisa datang hari ini.


...----------------...


Kehamilan Shanum membuat Harland menjadi suami yang siaga, dia menjaga kehamilan Shanum dengan sangat posesif.


Hari ini, Harland sengaja meliburkan diri ke kantor untuk menemani Shanum ke rumah sakit untuk USG, Harland tampak antusias untuk melihat jenis kelamin bayinya. Dokter ahli kandungan bernama Amira itu, menunjukan jenis kelamin bayi dalam kandungan Shanum.


"Selamat, anaknya laki-laki Bu Shanum," kata dokter Amira, membuat Shanum tersenyum lebar.


"Terimakasih dokter!" ucap Shanum penuh syukur. Melirik Harland yang tampak tidak bisa berkata-kata, air mata bahagia jatuh di pipinya.


Mommy Sarah menyambut kedatangan mereka dengan suka cita, setelah sebelumnya Harland memberitahukan jenis kelamin bayinya.


"Mommy senang mendengarnya Sayang, akhirnya Harland bisa punya anak juga, " Mommy Sarah memeluk Shanum erat.


"Aku juga bahagia, Mommy! Aku bisa mewujudkan keinginan Kak Harland. Aku akan menjaganya dengan baik!" ucap Shanum sambil mengelus perutnya yang semakin membesar.


"Mom, jangan biarkan Shanum melakukan pekerjaan. yang berat ya, nanti dia kelelahan," pesan Harland sebelum berangkat ke kantornya, siang itu.


"Iya, tenang saja,"

__ADS_1


...----------------...


Sore itu, Shanum pergi ke sebuah apotik seorang diri untuk menebus vitamin untuk kehamilannya habis. Saat mengingat rumah Bianca yang tidak jauh dari apotik itu, Shanum memutuskan untuk mampir di sana, terlebih dahulu. Shanum masuk ke dalam rumah Bianca yang pagarnya tidak terkunci. Begitu juga pintu rumahnya, Shanum berjalan kearah dapur, samar-samar dia mendengar suara tangisan Bianca dari dalam kamar,


"Bianca...!" panggil Shanum. "Bi!" tidak ada sahutan. Shanum memberanikan diri untuk mengintip ke dalam kamar, matanya membelalak sempurna saat melihat, Arsen memperlakukan Bianca seperti binatang. Tanpa rasa kasihan, Laki-laki itu mencambuk tubuh Ava dengan ikat pinggangnya.


"Arsen, hentikan!" teriak Shanum mendorong Arsen agar menjauhi Bianca.


Mata Arsen tampak menyala, menatap Shanum dengan tajam.


"Kak Shanum, pergi kak, jangan hiraukan aku!" teriak Bianca.


"Tidak Bi, ini tidak bisa dibiarkan, kamu punya harga diri, Bianca, kamu bukan hewan!" teriak Shanum membantu memakaikan pakaian Bianca.


"Jangan campuri urusanku, Kak! pergilah, sebelum kakak menjadi sasaranku!" ancam Arsen.


"Kamu tidak boleh melakukan ini pada Bianca, Arsen, kamu yang harus pergi!" teriak Shanum marah.


"Kak Shanum,cukup kak! Pergilah, aku tidak apa-apa!" jerit Bianca menyuruh Shanum keluar dari kamarnya. Arsen tampak semakin kalap, dia melayangkan ikat pinggangnya kearah Shanum.


"Awas kak?" teriak Bianca menahan pukulan Arsen dengan punggungnya. Membuat pakaian Bianca sobek memanjang, begitu juga dengan kulit nya.


"Pergi kak Shanum, pergilah, ku mohon!" Bianca mendorong Shanum keluar kamarnya dengan sisa-sisa tenaganya. Dan mengunci pintu kamar dari dalam.


"Bi, buka Bi, ayo kita pergi dari sini?" teriak Shanum. Bianca hanya diam. Dia melirik Arsen yang mulai sedikit tenang. Pria itu memakai pakaiannya kembali dan keluar dari kamar sambil berlari ke garasi, mengambil mobilnya dan pergi meninggalkan rumah mereka.


Shanum menarik nafasnya yang terasa sesak.


Dia memeluk Bianca dengan erat.


"Bi, kenapa kamu tidak cerita sama kakak, kalau kamu diperlakukan seperti ini oleh Arsen!" Shanum membantu mengobati punggung Bianca yang sobek karena lecutan ikat pinggang yang ujungnya terbuat dari besi.


"Kak,...aku mohon, jangan katakan sama mami dan kak Harland,"


"Tapi, Bi!" Bianca memotong ucapan Shanum "Kak, aku sudah berjanji pada Arsen untuk menerima semua ini, hingga dia pulih, Arsen sangat menderita kak, dia memiliki Alter ego yang sangat mendominasi dirinya. "


"Tapi itu bukan alasan untuk menyiksamu, Bi!"


"Sulit untuk ku ceritakan kak, tapi aku yakin aku bisa bertahan menghadapi Arsen, dia pasti sembuh, jika aku mendampinginya menghadapi dirinya yang lain." terang Bianca.

__ADS_1


"Baiklah kalau itu keinginanmu, Bi! Telpon kakak kalau kamu butuh sesuatu!" kata Shanum, segera pergi meninggalkan rumah itu, sebelum Arsen kembali pulang. Shanum pulang kerumahnya dengan wajah yang cemas memikirkan Bianca. Hingga Shanum tidak bisa tidur dengan nyenyak.


Bersambung...


__ADS_2