
Harland baru saja menandatangani kerja sama dengan salah satu, investor dari Jepang. Hari ini dia akan berangkat ke Jepang, untuk bertemu langsung dengan Tuan Nakamoto,di kota Tokyo. Dia mengajak Shanum untuk menemaninya ke Jepang.
Pada pukul 10.00 waktu setempat, Harland dan Shanum sampai di bandara Narita, Jepang. Asisten Tuan Nakamoto menyambut mereka dengan ramah, dan mengantar Keduanya ke sebuah hotel.
"Kamu lelah, sayang?" Harland menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa.
"Tidak juga, Kak! Aku menikmatinya!"
"Syukurlah, karena sepertinya kita akan lebih banyak menghabiskan waktu di dalam kamar," Kata Harland tersenyum menggoda.
"Aku sudah tahu, cuaca disini sangat dingin sekali, rasanya ingin bersembunyi di balik selimut," Shanum merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang empuk.
"Makanya aku mengajakmu ke sini, sayang!" Harland kemudian berpindah dari sofa ke samping Shanum. Dan langsung memeluk Shanum dan menjadikannya guling.
"Mm, " Shanum tersenyum manis, saat Harland mulai melepaskan kancing kemeja yang dipakainya satu persatu. Menyisakan kain penutup dadanya yang berwarna hitam.
Harland membelainya dengan lembut.
"Sorry Gabriel, minuman kesukaanmu Daddy minta ya!" ucap Harland, seolah-olah bicara dengan putranya. Dan langsung menyesap dengan rakus kedua buah dada Shanum yang padat berisi.
"Kak!" Shanum menggeliat manja, dirinya sudah terbakar api gairah, saat jemari suaminya sudah merayap di seluruh lekuk tubuhnya.
Harland memang pandai membuat Shanum merasakan puncak terlebih dahulu. Hingga tubuh polos Shanum, bergerak seperti ulat.
Tak sabar menunggu Harland menyatukan raga mereka dalam sebuah lautan cinta yang bergelora.
Pertemuan dengan Tuan Nakamoto, berlangsung di sebuah restoran mewah di kota Tokyo. Setelah berbincang-bincang mengenai banyak hal, Pria jepang itu mengajak Harland dan Shanum berkeliling kota. Tanpa sengaja, mata Harland menangkap sesosok pria yang di kenalnya, dengan baik. Pria itu berjalan bergandengan dengan seorang pria yang sepertinya warga lokal.
"Arsen!" Harland memandang pria itu dengan geram.
"Ada apa kak!" tanya Shanum, heran melihat sikap Harland, yang tampak diliputi amarah.
"Lihat yang di sana itu," Harland menunjuk pasangan yang sedang duduk di dalam sebuah restoran.
"Kita kesana, Sayang!" Harland berjalan cepat memasuki restoran. Restoran itu sedang ramai pengunjung.
"Kak, jangan membuat keributan! Kita sedang di negara orang, aku tidak mau kakak mendapat masalah disini," ucap Shanum menenangkan Harland yang tampak emosi, saat melihat Arsen.
"Aku harus memberi pelajaran pada anak yang tidak tahu diri itu, Shanum!"
"Aku tahu kakak marah, tapi jangan disini, kita lihat saja, dia akan kemana?" kata Shanum, sambil menarik Harland agar menjauh.
__ADS_1
Harland memutuskan untuk menunggu Arsen dan temannya keluar. Satu jam berlalu, pasangan tak biasa itu, berjalan keluar dan menuju sebuah apartemen yang tidak jauh dari restoran.
Harland membuntutinya dan berhasil menemukan apartemen tempat Arsen tinggal.
"Kak kita kembali lagi besok, sekarang sudah malam," Cegah Shanum saat Harland ingin mengetuk pintu kamar.
"Tidak bisa, Sayang! Aku ingin meminta penjelasan darinya sekarang." ujar Harland keras kepala. Dengan keras Harland mengetuk pintu kamar apartemen itu. Seseorang pria bermata sipit membukanya, dengan hanya memakai handuk yang menutupi tubuh bagian bawahnya.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" tanyanya.
"Aku ingin bertemu dengan, Arsen?"
"Oh, Arsen?"pria itu mengernyitkan dahinya.
"Siapa honey," suara Arsen terdengar menjijikan di telinga Harland. Pria itu melangkah masuk. Sebuah pukulan mendarat di wajah Arsen. Arsen terkejut, dengan kehadiran Harland di Apartemennya dan Ryu.
"Bajingan kamu, Arsen! Dasar tidak tahu diri!" Harland kembali menampar Arsen dengan keras. Pria itu hanya diam menunduk, sementara Ryu menjerit, melihat kekasihnya di hajar oleh Harland.
"Kak Harland, sudah hentikan!" lerai Shanum saat Harland ingin memukul Arsen kembali.
"Jelaskan padaku Arsen, apa yang membuatmu berubah seperti ini, hah? Jawab?" teriak Harland.
"Alasanmu tidak masuk akal, Arsen!" geram Harland murka.
"Kakak boleh memarahiku, memakiku, tapi inilah aku sekarang, aku dan Ryu saling mencintai.
"Hoek !" Harland merasa perutnya mual mendengar penuturan Arsen. " Tidak ku sangka kau akan menjadi menjijikan seperti ini Arsen,"
"Aku bahagia dengan hidupku sekarang, Kak! tolong jangan menghakimi aku dan Ryu, ada hal yang kakak tidak akan kakak mengerti, kenapa aku jadi seperti ini." ucap Harland.
"Apa? Katakan padaku, Apa alasanmu itu, hingga kamu tega meninggalkan istri dan anakmu, pria itu?" Harland menunjuk pada Ryu yang duduk dengan diam di sudut ruangan.
"Aku dan Ryu memiliki kisah kelam yang hampir sama, kami sama-sama pernah dilecehkan saat kami kecil. Hingga aku kuliah, aku terpaksa untuk melayani seorang dosen, agar mendapat nilai sempurna, agar kakak bangga padaku. Sebagai tanda terimakasih karena kakak telah membiayai hidupku," Arsen menundukkan wajahnya.
"Lalu, kenapa kamu menikah dengan Bianca?"
"Aku terobsesi dengan Bianca, awalnya, aku ingin membalas sakit hatiku pada Bianca, karena pernah meremehkan ku, tapi hati kecilku berkata lain, aku tidak bisa menyakiti Bianca, karena di dengan tulus menerimaku apa adanya."
"Bianca mengetahui semua ini?" tanya Harland.
"Tidak kak! Maafkan aku, aku hanya tidak ingin menyakiti Bianca terlalu lama lagi,"
__ADS_1
"Baiklah, kalau itu keputusanmu, tapi ingat, jangan pernah menginjakkan kakimu di rumah keluarga kami lagi, dan jangan pernah mendekati Arkan, aku tidak mau Arkan tahu seperti apa ayahnya," geram Harland.
"Kak Shanum, maafkan aku!" Arsen meraih tangan Shanum, untuk meminta maaf.
"Singkirkan tanganmu dari istriku!" bentak Harland menepis tangan Arsen.
"Ayo kita pergi, Sayang!" Harland menarik tangan Shanum dan keluar dari unit Apartemen itu dengan wajah kesal dan kecewa.
Arsen mengusap wajahnya yang masih terasa panas, akibat tamparan Harland.
"Are you Oke?" tanya Ryu sambil mengusap wajah Arsen yang memerah.
"Ya, aku baik-baik saja!" Arsen memeluk Ryu yang menyandar di bahunya.
"Siapa mereka?" tanya Ryu.
"Kakak iparku!" Ryu pun diam, tidak ada yang bisa dia lakukan selain mengusap wajah Arsen dengan lembut.
"Kamu menyesal hidup bersamaku?" tanya Ryu sambil membaringkan tubuhnya di pangkuan Arsen. Arsen memandang wajah Ryu yang mendongak menunggu jawabannya.
"Tidak," jawab Arsen memaksakan diri untuk tersenyum, dan menyentuh bibir Ryu dengan jemarinya. Ryu tersenyum dan menarik Arsen untuk ke kamar bersamanya.
Sementara, Harland dan Shanum sampai di hotel tempat mereka menginap. Harland masih dengan wajah kesalnya.
"Kak, mau makan sekarang?" tanya Shanum sambil mengeluarkan makanan yang baru saja mereka beli, sebelum pulang.
"Nanti saja Sayang, aku belum lapar, bertemu bajingan itu, benar-benar membuat perutku mual,"
"Sudahlah, nggak usah dipikirkan, toh Bianca dan Arsen sudah bercerai. Aku perhatiin, Bianca lebih bahagia sekarang, setelah berpisah dengan Arsen." kata Shanum.
"Benarkah?" tanya Harland, seolah tidak percaya.
"Kata Mommy, Bianca sering jalan sama Kak Devan, berempat bersama Arkan dan juga Darren, kurasa mereka cocok," kata Shanum.
"Kamu tidak cemburu!" tanya Harland.
Shanum memandang Harland sambil tersenyum lebar.
"Nggak lah kak, suamiku ini lebih sempurna dari pria manapun, walaupun kak Devan mantan suamiku, tapi Kak Harland lebih baik dari dia." kata Shanum sambil duduk di pangkuan Harland, dengan senyum menggoda.
"Mm, nakal ya!" Harland tersenyum penuh gairah, saat Shanum telah memancing hasrat bercintanya. Dan kemarahan Harland sirna seketika.
__ADS_1