
Dokter yang memeriksa bayi Flo, keluar dari ruangan IGD. Shanum dan Nyonya Sarah, berdiri serentak.
"Bagaimana keadaan cucu saya, dokter?" Nyonya Sarah tak sabaran ingin melihat bayi Flo.
"Kita bicara di ruangan saya saja Bu Sarah!" ajak dokter anak yang bernama dokter Stella.
Nyonya Sarah dan Harland , mengikuti dokter Stella ke ruangannya. Sementara, Shanum menemani Flo diruang perawatan
"Dokter, apakah terjadi sesuatu dengan cucu saya," Nyonya Sarah tampak penasaran dengan sikap dokter Stella.
"Iya Bu Sarah, bayi Flo mempunyai Penyakit Jantung Bawaan," ucap dokter Stella.
"Sejak kapan, Dok? Sebelumnya bayi Flo sehat-sehat saja!" tanya Harland syok.
"Memang, terkadang ada penyakit Jantung Bawaan ini, tidak terdeteksi dari dini, bahkan hingga dewasa, begitu pun bayi Flo," ujar dokter Stella.
"lalu, apa penyebab terjadinya penyakit Jantung Bawaan itu dok?" tanya Nyonya Sarah.
"Penyebabnya macam-macam Bu Sarah, mungkin ibunya mempunyai masalah psikis sewaktu hamil, bisa juga karena si ibu mengkonsumsi alkohol dan obat-obatan dalam jangka waktu yang lama," terang dokter Stella.
"Apakah, penyakit itu bisa disembuhkan, dokter !" tanya Harland, dengan raut wajah yang sedih.
"Ya bisa, jika dilakukan dengan penanganan yang tepat, namun ada juga yang tidak, penyakit ini, tidak bisa sembuh dengan sendirinya, jadi diperlukan perawatan dalam jangka waktu yang tidak tentu, pengaturan makanan dan gizi yang seimbang, juga dibutuhkan agar penyakit jantung bawaan ini bisa dikendalikan," terang dokter Stella.
Harland memandang Mommynya dengan perasaan tidak menentu, dia tidak menyangka, bayi yang dia adopsi dirumah sakit beberapa bulan yang lalu, memiliki penyakit jantung bawaan.
"Dokter....! tolong berikan pengobatan yang terbaik untuk anak saya, berapapun biayanya!" pinta Harland.
"Baik, Pak Harland! Kami akan mengusahakan yang terbaik untuk bayi anda, untunglah bayi Flo cepat dibawa kemari, hingga kami bisa menanganinya dengan cepat," tegas dokter Stella.
...----------------...
"Nyonya,ada apa dengan Flo?" tanya Shanum, saat wanita baya itu, masuk kedalam ruang perawatan baby Flo dengan wajah gelisah.
"Flo, mengalami penyakit Jantung Bawaan, Shanum," jawab Nyonya Sarah dengan mata yang berkaca-kaca.
"Sakit jantung ??" Shanum menutup mulutnya, tak percaya.
"Iya Shanum, aku harap kamu mau merawatnya dengan baik, hingga dia sembuh!" pinta Nyonya Sarah.
"Saya akan merawat bayi Flo dengan baik Nyonya, saya akan menjaganya dengan sepenuh hati," ucap Shanum dengan suara yang bergetar.
Dia memandang bayi malang itu yang terlelap setelah dokter memberinya obat.
"Nyonya, jika anda ingin pulang terlebih dulu, tidak apa-apa, biar saya yang jaga baby Flo disini, " Ujar Shanum.
__ADS_1
"Baiklah Shanum, ...besok pagi aku akan kemari, trimakasih !"
"Tidak perlu berterima kasih, Nyonya....ini sudah tugas saya," kata Shanum.
"Kalau ada apa-apa, segera telpon kami Shanum!" kata Harland sebelum keluar dari ruangan tempat baby Flo dirawat.
" Baik, Tuan!" sahut Shanum mengangguk lemah.
Setelah mengantar Nyonya Sarah dan Tuan Harland keluar, Shanum kembali ke tempat baby Flo dirawat. Air matanya menetes dari sudut matanya yang berkaca-kaca.
"Kasihan sekali kamu nak ! Bunda janji, Bunda akan menjaga Flo dengan baik. Flo harus kuat, biar cepat sembuh!" gumam Shanum sambil duduk disisi brankar tempat baby Flo dirawat.
Hatinya sedih, melihat tubuh mungil itu harus merasakan sakitnya tusukan jarum dan alat-alat medis yang terpasang ditubuh yang tidak berdaya itu. Shanum meraih tangan mungil itu dan menciumnya dengan lembut.
Hati orang tua mana yang tidak akan sedih, melihat anaknya tergolek lemah di ranjang rumah sakit, dengan tubuh yang dipenuhi alat-alat medis.
Begitupun, Shanum, walau dia hanya pengasuh baby Flo, tapi hati kecilnya merasa teriris, melihat kondisi Flo yang tiba-tiba drop.
Shanum tidak pernah membayangkan sebelumnya, jika bayi mungil yang cantik itu memiliki penyakit bawaan. Dia memandang iba bayi mungil itu. Semua bagai mimpi buruk dalam diri Shanum, walau bagaimanapun dia bertanggung jawab karena merasa lalai dalam menjaga Flo.
"Shanum... !" suara lembut Nyonya Sarah, membangunkan Shanum dari tidurnya. Dia tidak ingat, sudah berapa lama, ia tertidur disamping baby Flo.
"Nyonya Sarah...maaf, saya ketiduran," Shanum meluruskan tubuhnya yang terasa pegal, karena tidur dengan posisi duduk dan kepala menangkup di brankar.
"Shanum, kamu pulanglah! kita gantian jagain Flo!" ujar Nyonya Sarah.
"Kamu bisa pompa dulu ASI-nya, setelah itu, kamu bisa pulang,kamu juga harus istirahat, Shanum!" titah nyonya Sarah.
"Baiklah, Nyonya!" Shanum mengangguk, kemudian dengan diantar Pak Hasan, sopir keluarga Harland. Shanum kembali kerumah.
...----------------...
"Tidaaak....!" teriak Shanum, bangkit dari tidurnya dengan nafas terengah-engah, wajahnya tampak pucat, keringat dingin membasahi tubuhnya yang gemetar.
"Shanum, ada apa denganmu?" Mbak Mirna lari kekamar Shanum, saat mendengar teriakan wanita itu.
"Mbak, aku mimpi buruk," gumam Shanum, sambil mengusap wajahnya yang tampak kacau.
"Mimpi apa toh, Num?" Mbak Mirna duduk disisi ranjang, menatap Shanum dengan penuh tanda tanya.
"Aku bermimpi, bayi Flo meninggal. Aku takut, Mbak!"
"Jangan percaya mimpi, Num!" berdoalah agar Non Flower cepat sembuh!" ucap Mbak Mirna.
"Aku merasa bersalah, Mbak ! aku merasa gagal menjaga baby Flo..!" lirih Shanum.
__ADS_1
"Kita tidak tahu rencana Tuhan, Shanum! penyakit yang diderita Non Flower, sudah menjadi takdir-Nya, tugas kita hanya berdoa agar non Flower diberi kekuatan, untuk melewati masa kritisnya," ujar Mbak Mirna bijak.
"Ya Mbak, semoga!" sahut Shanum sedih.
Menjelang sore, Tuan Harland sudah pulang ke rumah dan bersiap untuk berangkat ke rumah sakit.
"Shanum, kamu mau ikut kerumah sakit atau istirahat dirumah?" tanya Tuan Harland, saat melihat Shanum di dapur.
"Saya ikut, Tuan! kasihan Nyonya Sarah, jagain Flo sendirian, saya akan bersiap sebentar," kata Shanum sambil bergegas kekamarnya untuk mengambil pakaian ganti untuk baby Flo dan dirinya dirumah sakit.
"Saya siap, Tuan!"
"Ayolah, kita berangkat sekarang, nanti keburu macet," kata Harland.
"Baik, Tuan!"
Di mobil, Shanum hanya diam, dia tidak berani menatap Harland, ...pria itu memang dingin dan irit bicara. Hingga sampai dirumah sakit, tidak ada kata yang keluar dari bibir keduanya.
Buru-buru Shanum berjalan ke kamar tempat baby Flo dirawat. Dia mengkhawatirkan anak asuhannya itu.
"Bagaimana keadaan Flower, Nyonya !" tanya Shanum begitu masuk ke ruangan itu.
"Sudah mulai membaik Shanum, mana Harland ?"
"Tadi ada diparkiran Nyonya, sebentar lagi, juga sampai," Shanum merasa lega, setelah melihat baby Flo, tampak tenang, mata indahnya terbuka lebar, bayi itu menggerakkan tangannya, seolah senang dengan kehadiran Shanum.
"Sayang, maafin Bunda ya ! Bunda nggak bisa jagain Flo, sampai Flo harus dirawat dirumah sakit," keluh Shanum, memandang wajah manis itu dengan iba.
"Jangan menyalahkan dirimu, Shanum ! semua terjadi bukan atas kehendak kita,tugas kita hanya menjaga dan merawatnya, dengan memberikan pengobatan terbaik, agar Flower cepat sembuh," ujar Nyonya Sarah.
Shanum mengusap matanya yang berkabut. Jika bisa, Shanum ingin menggantikan posisi Flo, agar anak itu tidak merasakan sakit.
"Mommy, apa dokter sudah memberitahukan, langkah apa yang akan dilakukan selanjutnya? " tanya Harland yang masuk, kekamar tempat baby Flo dirawat.
"Belum, Nak! Tim dokter masih melakukan observasi, apakah Flo harus dioperasi atau hanya menerima perawatan secara intensif, mudah-mudahan mereka cepat mengambil keputusan agar baby Flo, bisa segera ditangani," tutur Nyonya Sarah.
Harland mendekati ranjang tempat, baby Flo dirawat. Bayi mungil itu tampak ceria sambil tertawa dan ngoceh yang tak jelas.
"Anak Daddy harus kuat, biar cepat sembuh !" Harland menggenggam tangan mungil itu dan mengusapnya dengan lembut.
"Da...da...da...dah...!" ocehan baby Flo, membuat Harland tersenyum haru.
"Mau ngomong apa sayang! mau Daddy gendong?" Harland mengulurkan kedua tangannya. Bayi mungil itu tertawa, sambil menggerak-gerakkan kakinya dengan riang.
"Ohh...rupanya pingin digendong Daddy ya, sini Daddy gendong!" Harland mengangkat tubuh kecil Flo, dan mendekapnya erat dalam pelukan.
__ADS_1
Shanum tersenyum haru, saat pria dingin itu ternyata sangat mencintai putri kecilnya itu.