Bunda (Cinta Yang Hilang)

Bunda (Cinta Yang Hilang)
BIANCA DAN DEVAN


__ADS_3

Menjelang kepulangan Harland dan Bianca dari Jepang, Arsen menemui keduanya di hotel. Arsen datang sendiri, untuk menitipkan sepucuk surat untuk Bianca.


"Nggak usah pake surat-suratan segala, Arsen! pake WhatsApp kan bisa," Harland tidak Sudi menatap laki-laki itu.


"Aku tidak bisa melakukannya lewat ponsel kak, ini adalah surat penting, untuk Bianca dan juga untuk ibuku!"


"Baiklah, Arsen, kami akan menyampaikannya pada Bianca dan Ibumu!" kata Shanum, merasa tidak enak dengan sikap dingin suaminya.


"Kalau sudah tidak ada keperluan lagi, silahkan pergi, kami akan segera berangkat," kata Harland.


Arsen mengangguk. Kemudian dengan gontai dia meninggalkan hotel tempat Harland dan Shanum menginap.


...----------------...


Harland dan Shanum tiba di Jakarta, saat waktu sudah menunjukkan pukul 19.00 malam. Sebelum pulang ke rumah besar mereka, Keduanya mampir di rumah Bianca.


"Kakak !" Bianca kaget melihat kedatangan Harland dan Shanum dirumahnya.


"Kenapa kaget begitu, Bi?" tanya Shanum.


"Ya kaget, karena kata mami Kak Alan dan Kak Shanum sedang berada di Jepang," jawab Bianca.


"Iya, kami baru saja sampai," kata Harland.


"Silahkan duduk kak!" kata Bianca.


"Arkan mana, Bi?" tanya Shanum, saat tidak melihat anak Bianca bersamanya.


"Arkan sedang bermain dengan Darren di ruang bermain, ada kak Devan juga!" kata Bianca jujur.


"Oh! Begini Bianca, Di Jepang kami bertemu dengan Arsen. Dia menitipkan surat ini untukmu dan juga Ibu Marisa," kata Harland.


Bianca memandang Shanum dengan tatapan sedih saat Harland menyebut nama Arsen.


"Arsen di Jepang?" tanya Bianca.


"Ya!" jawab Aland.


"Apakah dia baik-baik saja?" tanya Bianca.


"Baik, sangat baik, jadi kamu tidak perlu mengkhawatirkan dirinya. Dia lebih bahagia sekarang!" jawab Harland.


"Syukurlah, kak!" jawab Bianca."Apakah dia bersama perempuan lain," tanya Bianca penasaran.


"Tidak, tapi...!" Harland mengentikan ucapannya.


"Tapi apa kak!" tanya Bianca. Harland memandang Shanum dengan bimbang, harus bicara jujur atau tidak. Shanum mengangguk.


"Dia bersama Pria lain!" ujar Harland berat. Wajah Bianca berubah pucat, dia tidak menyangka Arsen memiliki perilaku menyimpang seperti itu.


"Terlalu banyak yang dia sembunyikan dari kita, Bianca! Jadi kakak harap, kamu bisa segera melupakan Arsen," kata Harland.


"Ya Kak!" jawab Bianca lirih.


"Kalau begitu, kami permisi dulu, Bianca, Salam buat Devan," kata Harland.


"Kakak tidak ingin bertemu Kak Devan!" tanya Bianca.


"Tidak usah, nanti saja! Kami harus buru-buru, kasian Gabriel dan Flo terlalu lama ditinggal," jawab Harland.


Setelah mengantar Harland dan Shanum ke depan pintu rumahnya, Bianca masuk kedalam rumah, dan mencari Ibu Marisa di kamarnya.


"Ibu," panggil Bianca lembut.


"Ada apa, nak? " tanya Marisa.


"Ada surat dari Arsen!" kata Bianca menyerahkan sepucuk surat untuk Marisa. Dan satunya lagi untuk Bianca.


Bianca penasaran dengan isi surat yang dikirim Arsen. Dengan cepat dia membuka surat itu.

__ADS_1


Untuk Bianca


Bianca, maafkan aku, Karena tidak berani berterus terang tentang keadaanku. Mungkin saat ini, Kak Shanum dan Kak Harland sudah menceritakan tentang aku.


***Ya, sekarang aku tinggal di Jepang, bersama seseorang yang memiliki kisah kelam yang sama dengan diriku, namanya Ryuzu. Aku bertemu dengan Ryu, satu bulan sebelum kita berpisah. Aku nyaman jika bersamanya, jika sangat mengerti diriku. ***


Sebenarnya, aku sudah memiliki perilaku menyimpang itu sejak aku duduk di bangku kuliah. Tapi, karena dalam masyarakat kita, hal itu adalah tabu dan menjijikkan, aku menyembunyikannya. Aku berusaha untuk hidup normal dengan menikah denganmu. Tapi, hati kecilku berontak, aku tidak membutuhkan wanita.


Diriku yang lain, menginginkan orang yang seperti aku. Dan aku menemukannya pada diri Ryu.


Maafkan aku Bianca. Tolong, jangan hakimi aku! Walau kita sudah berpisah, aku ingin tetap menjadi temanmu. Jaga Arkan, jangan sampai dia mengalami nasib yang sama sepertiku. Semoga kamu bisa menemukan laki-laki lain yang lebih baik dariku, Bianca.


Arsen.


Bianca menutup surat itu dan meletakkannya diatas meja. Dia menarik nafas dalam-dalam, sebenarnya dia tidak ingin menangis. Tapi hati kecilnya, tidak sanggup untuk berbohong.


Air mata berderai di pipinya yang ranum.


"Bi, sepertinya Arkan.." Devan menghentikan langkahnya, saat melihat Bianca menangis, dengan sebuah surat di depannya.


"Ada ada Bianca?" tanya Devan. Duduk disamping Bianca.


"Kak Devan, maaf!" Bianca mengusap wajahnya. Dia menyerahkan surat yang di kirim Arsen lewat Harland.


Devan menarik nafas panjang. Pria itu memeluk Bianca erat.


"Lupakan Arsen!" kata Devan. Bianca mengangguk. "Jika kamu punya masalah, jangan malu untuk berbagi denganku!" kata Devan.


Bianca mencoba untuk tersenyum kembali, kehadiran Devan, cukup membuatnya merasa tenang.


"Mana Arkan kak? Tanya Bianca.


"Itu, sudah tertidur dilantai!" Bianca tersenyum, melihat putra kecilnya, tertidur di lantai setelah lelah bermain. Bianca mengantar Arkan ke kamarnya. Dan kemudian kembali ke depan. Darren sepertinya juga sudah mengantuk.


"Sebaiknya, aku pulang dulu, Bi, sudah larut malam, Darren juga sudah mengantuk,"


"Ya kak, terimakasih, sudah menemaniku," kata Bianca.


"Hati-hati kak!" Bianca melambaikan tangannya, saat Devan dan Darren masuk ke dalam mobilnya.


Bianca masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu depan. Dia masuk ke kamar Ibu Marisa, wanita itu menangis sedih sambil memegang kertas surat ditangannya.


"Ibu!" panggil Bianca.


"Bianca, maafkan Arsen nak!"


"Ya Bu, aku sudah memaafkan Arsen, ibu jangan sedih lagi ya! Arsen sudah bahagia dengan hidupnya sekarang,"


"Ibu malu, nak!"


"Jangan begitu, Bu!" Bianca memeluk wanita paruh baya itu erat.


Sejak mengetahui perilaku putranya yang menyimpang, Marisa larut dalam kesedihan, hingga wanita itu sakit dan meninggal.


Bianca menyesali kepergian Ibu Marisa. Walau hatinya tidak rela, dia terpaksa mengikhlaskan kepergian mantan ibu mertuanya itu.


Setelah pemakaman Ibu Marisa, Bianca dan keluarga besarnya berkumpul di rumah besar mereka. Harland juga mengundang Devan dan ibunya.


Mommy Sarah, bermaksud untuk menanyakan hubungan antara Devan dan Bianca.


"Mommy, aku dan kak Devan memang sudah merencanakan untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius, " ucap Bianca.


"Bagaimana denganmu, Devan!" tanya Mommy Sarah.


"Ya Bu Sarah, aku ingin menikahi Bianca, jika anda dan Harland setuju," kata Devan.


"Apakah kamu sudah bercerai dengan Vania?" tanya Mommy Sarah.


"Sudah Bu, tapi Vania belum menandatangi surat perceraian itu, karena dia sudah pergi dari Jakarta.

__ADS_1


"Kalau begitu, selesaikan dulu urusanmu dengan Vania, Ibu tidak mau nantinya, hal itu akan menjadi penghalang bagi pernikahan kalian," kata Mommy Sarah.


"Baik Bu Sarah, saya akan mencari Vania nanti, sebelum kami menikah!" kata Devan.


"Kalian sudah menetapkan tanggalnya?" tanya Harland.


"Sudah, tanggal 10 bulan depan!" kata Devan.


Harland mengangguk, tanda setuju.


Devan berangkat ke Surabaya untuk menemui Vania yang bekerja di sana.


"Van, ada orang nyariin lo, " kata temannya Vania bernama Vita.


"Siapa, pelanggan baru!"


"Mungkin, orangnya ganteng!"


Vania keluar dari kamarnya, dengan penuh percaya diri, Vania berjalan menghampiri tamunya.


"Devan!" Vania kaget melihat mantan suaminya itu, duduk dengan tenang di tempat nya.


"Apa kabar, Vania?" tanya Devan tersenyum sinis.


"Mau apa kamu kemari?" tanya Vania cemas.


"Aku hanya mau, kamu segera menandatangani surat cerai kita," kata Devan menyodorkan kertas pernyataan talak untuk Vania.


"Kamu mau menikah lagi, Devan?" tanya Vania ingin tahu.


"Tentu saja Vania, aku masih muda dan aku laki-laki normal," jawab Devan.


"Siapa wanita itu?" tanya Vania lagi.


"Kamu tidak perlu tahu!" Devan melipat surat yang telah di tandatangani Vania.


"Bagaimana kabar Darren?" tanya Vania sebelum Devan berdiri.


"Darren baik!" kata Devan.


Vania hanya diam setelah Devan melangkah pergi meninggalkan tempat kerja Vania.


Dengan percaya diri, Devan melangkah masuk ke dalam rumah besar keluarga Harland Myers. Dia datang bersama ibunya untuk melamar Bianca. Mommy Sarah, Harland dan Shanum menyambut mereka dengan tangan terbuka.


Bianca tersenyum bahagia, saat Devan memasangkan cincin tunangan untuk Bianca.


Pesta pernikahan Devan dan Bianca digelar secara sederhana di rumah kediaman mereka, dengan mengundang teman-teman terdekat mereka. Kebahagian terpancar diwajah setiap anggota keluarga mereka. Anak-anak Shanum dari pernikahan sebelumnya dengan Devan, tampak bahagia dengan pernikahan Ayah mereka dengan Bianca.


"Selamat ya Kak!" Shanum menyalami Devan dengan tulus.


"Terimakasih, Shanum!" jawab Devan tersenyum. Harland menarik Shanum dengan cepat dari hadapan Devan. Sepertinya Harland itu masih cemburu dengan mantan suami Shanum itu.


"Selamat ya Bi!" ucap Shanum pada Bianca.


"Makasih, Kak!" Bianca memeluk Shanum erat.


Harland gantian memeluk Bianca dan mengucapkan selamat atas pernikahan keduanya.


Mommy Sarah tak ketinggalan memberikan selamat untuk putrinya.


"Mommy harap, ini akan menjadi pernikahan terakhir untuk kalian, Mommy tidak mau lagi, mendengar ada perceraian," Nasehat Mommy.


"Ya Mom, Saya berjanji akan menjaga Bianca dengan segenap hati saya," janji Devan.


"Kamu juga Harland, " kata Mommy Sarah.


"Ya Mommy," jawab Harland tersenyum manis pada sang Mommy.


"Anak-anak, Ayo semua kumpul, kita foto bersama!" kata Mommy Sarah, mengumpulkan cucu-cucunya.

__ADS_1


Happy Ending.


__ADS_2