
Devan menatap putra kecilnya yang terbaring nyenyak di tempat tidur. Darren memang tidak memiliki kemiripan dengan Devan, dia hanya mewarisi sedikit gen ibunya, Vania.
Devan ragu untuk melakukan tes DNA, namun dia tidak bisa mengabaikan kata-kata Monica begitu saja. Apakah benar Darren bukan anak kandungnya? Devan sudah terlanjur mencintai anak itu. Tes DNA hanya akan melukai perasaannya. Seandainya yang dikatakan Monica itu benar, Devan tidak akan membiarkan Darren sendirian. Namun jika tuduhan Monica tidak terbukti. Devan akan merasa bersalah, telah meragukan putranya sendiri. Biarlah semua berjalan seperti sebelumnya, pikir Devan.
Devan, melangkahkan kakinya, ke salah satu, kantor milik Harland, di dalam kota Jakarta. Hari ini Harland bekerja di sana, sebagai manager keuangan di kantor pusat. Bianca menyambut Devan dengan ramah.
"Silahkan masuk, kak! Saya Bianca adiknya Kak Harland!" Bianca memperkenalkan dirinya.
"Saya Devan, senang bertemu dengan anda, Bianca!" ucap Devan ramah.
"Kak Harland sudah cerita tentang kak Devan, katanya Kak Devan cocok untuk mengisi jabatan manajer keuangan yang sedang kosong,"
"Terimakasih kepercayaannya, Bianca!" Devan tersenyum mengangguk,"Sebuah kehormatan bagi saya untuk bekerjasama dengan perusahaan ini,"
"Kalau begitu selamat bekerja, Kak?" ujar Bianca dan memperkenalkan Devan pada semua karyawannya.
...----------------...
Bianca baru saja selesai mengadakan pertemuan dengan relasi bisnis perusahaan yang dipegangnya sekarang.
Dia menyadarkan.tubuhnya yang terasa lelah disandaran kursi kebesarannya. Tiba-tiba, seseorang menghubunginya lewat telepon.
"Ibu Bianca, ini saya Amy, dari bagian resepsionis, ada seorang wanita yang mencari anda?" kata resepsionis itu.
"Wanita?? Seperti apa dia?" tanya Bianca menautkan kedua alisnya.
"Seorang wanita baya, biasa saja Bu, katanya beliau ibunya Pak Arsen!"
"Ibunya pak Arsen?" ulang Bianca, sebelum menikah dengan Arsen, Bianca tidak pernah mengenal keluarga suaminya itu.
"Iya Bu, apa yang harus saya katakan?"
"Suruh menunggu sebentar, aku akan turun."
"Baik Bu," Amy menutup panggilannya. Bianca buru-buru turun ke lantai bawah. Dia melihat seorang wanita baya duduk diruang tunggu, yang sepertinya bingung melihat orang yang berlalu lalang di depannya.
Bianca mendekatinya dan duduk bersimpuh di depan wanita lusuh itu
"Ibu, aku Bianca! Ibu ini Ibunya Arsen?" tanya Bianca lembut.
"I_iya, aku Ibunya Arsen, kamu Bianca? Istrinya Arsen," tanya wanita berpenampilan lusuh itu.
"Iya Bu, ibu darimana?Kok bisa tahu tempat ini." ujar Bianca ramah.
__ADS_1
Wanita itu mengeluarkan selembar kertas, berisi alamat perusahaan yang dulu dipegang Arsen.
"Ibu menemukannya di kantong celananya, Arsen!
"Bu, sebaiknya kita makan dulu yuk, nanti kita bicara, ibu belum makan, kan?" Bianca mengajak wanita itu keluar dari kantornya dan menuju sebuah restoran yang tak jauh dari sana.
Setelah selesai makan, Bianca mengajak Wanita itu kerumah yang dulu dia tempati bersama Arsen.
"Ini rumahnya Arsen, Bu! Tapi Arsen tidak bersamaku sekarang, dia sudah pergi!" ucap Bianca lirih. Wanita itu menatap Bianca dengan sedih.
"Arsen bodoh, dia meninggalkan istri yang cantik dan baik hati sepertimu, nak!!" Marisa memegang wajah manis itu sambil tersenyum haru.
"Kamu sedang hamil, Bianca?" tanya Marisa, memperhatikan perut Bianca yang mulai membesar.
"Iya Bu, sudah 7 bulan," jawab Bianca. Wanita itu menangis.
"Maafkan Arsen ya Nak?" ujar Marisa sambil mengusap matanya yang basah.
"Ibu, kalau boleh tahu, ibu dari mana?" tanya Bianca.
"Ibu dari Surabaya, ....tadi pagi ibu sampai disini dan langsung mencari alamat kantor Arsen, ternyata tidak sudah mencarinya,"
"Tapi Bu, Arsen tidak ada disini,"
Ternyata Arsen yang mengalami semuanya.
"Lalu dimana Arsen sekarang, Bu!" tanya Bianca.
"Dia di Surabaya, ibu pergi tanpa sepengetahuannya," Jawab Marisa tanpa rasa bersalah.
"Ibu, Arsen pasti mencemaskan ibu, kenapa tidak memberitahunya," Bianca tampak cemas dengan keadaan Arsen
"Kalau ibu beritahu, dia pasti akan melarang ibu, ke Jakarta!" Bianca menarik nafas perlahan. Buru-buru Bianca mengambil ponselnya dan menghubungi Arsen lewat Video Call.
"Halo," suara Arsen terdengar lemah.
"Arsen, ini aku Bianca!" Arsen membulatkan matanya, tak percaya Bianca menelponnya setelah 4 bulan lebih mereka berpisah.
"Bianca...!" Panggilnya lirih, Bianca menggigit bibir bawahnya, melihat keadaan Arsen yang memprihatinkan, tubuhnya kurus dan pucat, kelopak matanya membentuk garis kehitaman karena kurang tidur.
"Bagaimana keadaanmu, Arsen?" Bianca mencoba meraba wajah itu di layar ponselnya.
"Aku sakit, Bi ! Aku tidak bisa melakukan apapun, karena kata dokter, aku mengalami kehamilan simpatik, benarkah kamu sedang hamil anakku, Bianca!" Bianca mengangguk.
__ADS_1
"Sabar ya, Arsen, 2 bulan lagi aku akan melahirkan, semoga penderitaanmu juga berakhir," ucap Bianca tulus.
"Aku ikhlas menerima semuanya, Bi! ini karma , karena aku terlalu sering menyakitimu, maafkan aku ya! " Bianca tak mampu lagi membendung air matanya. Hatinya sedih melihat keadaan Arsen yang lemah dan tak berdaya.
"Arsen, ada ibu Marisa disini?" kata Bianca mengarahkan kamera ponselnya pada Ibunya Arsen.
"Ibu, aku sudah menyuruh tetangga untuk mencarimu, ternyata ibu ada di Jakarta, kenapa ibu tidak memberitahuku?" Arsen tampak marah.
"Sudahlah Arsen, jangan marah-marah! Aku akan mengantar Ibu Marisa ke Surabaya besok!" ujar Bianca menenangkan Arsen. Laki-laki hanya diam memandang Bianca, dengan raut wajah yang sedih dan mata yang berkaca-kaca.
"Aku menunggumu, Bi!" gumam Arsen lirih.
Bianca mengajak Marisa kerumah keluarga besarnya. Mommy Sarah menyambut nya dengan hangat, namun tidak dengan Harland, Sepertinya dia masih marah dengan Arsen.
"Maafkan anak saya, Bu Sarah, Nak Harland, semua kejadian yang menimpanya adalah kesalahan saya," Marisa mulai menceritakan awal kehancuran keluarganya sejak Arsen berumur 8 tahun.
"Menyedihkan sekali nasib Arsen, Bu Marisa, aku ikut prihatin, semoga dia bisa melewati semuanya dengan sabar," doa Mommy Sarah.
"Iya Bu Sarah, ...karena itu aku menyusul Bianca ke Jakarta, hanya Bianca yang bisa membuat Arsen sembuh, Arsen membutuhkan Bianca, Bu Sarah!"
"Tidak bisa, Bu Marisa, adikku tidak akan pergi ke Surabaya!" Tegas Harland.
"Kak!" Bianca ingin protes, tapi dia takut dengan Harland jika pria itu marah besar.
"Bianca, kakak tidak mau kamu di aniaya cukup sekali saja Bi, Kakak tidak mau kamu terluka lagi,"
"Nak Harland, ibu yang akan menjaga Bianca, Ibu pastikan, Bianca akan kembali ke Jakarta dengan selamat," Marisa memohon.
"Aland, biarkan Bianca pergi, walau bagaimana pun, Arsen adalah ayah dari anak yang di kandung Bianca!" ujar Mommy Sarah.
Harland diam, dia tampak masih tidak rela, Bianca pergi.
"Kak, biarkan aku pergi, kasihan Arsen kak! Dia juga menderita dengan penyakitnya itu!"
"Dengar Bianca, sekali kamu melangkah keluar dari rumah ini, kamu tidak boleh kembali lagi kemari!" Harland tampak geram, dan meninggalkan semua orang, masuk ke kamarnya. Shanum mengikuti suaminya ke kamar, dan berusaha memenangkannya.
Bianca tampak bingung, di satu sisi, dia ingin melihat keadaan Arsen, di sisi lainnya, ia takut membantah Harland, Karena dia sangat menghormati kakaknya itu.
"Pergilah Bi, biar mommy yang akan menghadapi kakakmu!" ujar Mommy Sarah menyakinkan Bianca.
Bianca mengangguk. Malam itu, Bianca mengajak Marisa berbelanja di Mall, dan memberikan beberapa helai pakaian dan tas bermerk. Dan beberapa barang yang akan dia bawa ke Surabaya.
Bianca dan Ibunya Arsen, berangkat ke Surabaya dengan penerbangan pertama pada pagi harinya.
__ADS_1
Bersambung...