Bunda (Cinta Yang Hilang)

Bunda (Cinta Yang Hilang)
BIANCA CEMBURU


__ADS_3

Setelah menginap beberapa hari di rumah sakit, Shanum akhirnya di izin kan dokter untuk pulang. Tubuh nya memang sudah lebih baik sekarang, namun Shanum belum siap untuk menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri.


Malam ini, adalah malam yang pertama bagi Shanum tidur di kamar yang sama dengan Harland. Tentu saja, Shanum masih merasa gugup dan canggung.


Shanum baru saja masuk ke dalam kamar, setelah menidurkan Flo di kamarnya. Dia tidak melihat Harland disana. Shanum merasa lega, dia naik keatas ranjang dan menyelimuti tubuh nya dengan selimut, pura-pura tidur.


Harland keluar dari kamar mandi, dengan memakai handuk yang hanya menutupi tubuh bagian bawahnya. Dia tersenyum melihat Shanum yang tidur membelakanginya.


"Sudah tidur sayang?" tanya Harland.


"Sudah kak?" jawab Shanum


"Lho, orang tidur kok masih jawab ya?" goda Harland. Shanum menyadari ucapannya yang salah. Dia tersenyum sendiri. Shanum berbalik memandang Harland yang berbaring disebelahnya, hanya memakai celana pendek, tanpa atasan. Wajahnya bersemu merah.


"Kak, kok nggak pake baju!" tanya Shanum polos.


"Aku biasa tidur begini sayang, rasanya lebih nyaman!" ucap Harland, memandang Shanum dengan tatapan mesra. Shanum menutup wajahnya dengan bantal.


"Kenapa sayang?" Harland mendekati Shanum dan memeluk pinggang ramping istrinya dengan posesif. Jantung Shanum semakin berdebar dengan kencang, Shanum menahan nafas, agar debaran jantungnya tidak terdengar oleh sang suami.


"Kak, kakak nggak minta hak kakak sekarang kan?" tanya Shanum sedikit takut.


"Tidak, aku akan menunggu sampai kamu siap, aku tahu kamu masih trauma dengan kejadian kemaren," ujar Harland bijak.


"Terimakasih kak!" Shanum menyandarkan wajahnya didada pria itu. Terasa dingin, namun menghangatkan. Harland mengecup kening Shanum dengan lembut.


"Tidurlah! Selamat malam!" bisik Harland lembut. Shanum memejamkan matanya sambil tersenyum bahagia.


...----------------...


Suasana dikediaman Harland, sedikit ramai pagi itu, karena Bianca tampak marah-marah, karena Arsen mengabaikan panggilannya.


"Ada apa sih Bi? Pagi-pagi udah ribut, kayak kemalingan saja!" tegur sang Mommy.


"Itu Mom, Arsen,...aku mau minta tolong, untuk beliin Burger tapi dia malah kabur duluan ke kantor, aku jadi kesal!" Bianca memasang wajah cemberut.


"Bi, Arsen itu buru-buru ke kantor Karena nanti siang ada pertemuan direksi di kantor, jadi Arsen harus menyiapkan semuanya pagi ini," terang Harland.


"Lho, yang bos itu kan Kak Harland, bukan Arsen!" sanggah Bianca.

__ADS_1


"Memang, tapi kakak yang menyuruh Dia pergi ke kantor lebih awal, agar nanti begitu kakak sampai di kantor, semua sudah siap!"


jelas Harland.


"Bi, kalau cuma Burger kakak bisa buatin kok, ayo ikut kakak ke dapur!" ujar Shanum.


"Beneran kakak bisa?" Bianca tampak girang.


"Bisa, sini! kakak ajarin, biar kamu kalau lapar bisa bikin sendiri di Amerika," kata Shanum,sambil mengeluarkan bahan makanan untuk membuat Burger dari dalam lemari pendingin. Bianca membantu Shanum membersihkan sayuran.


"Kak Shanum, sebelum kakak menikah sama kak Harland, kak Harland cinta nggak sama kakak?" tanya Bianca.


"Nggak...!" jawab Shanum jujur.


"Kok kakak mau, kalau menikah tanpa cinta itu ibarat sayur tanpa garam kak, hambar!" kata Bianca menatap Shanum dengan wajah serius.


"Gampang Bi, setelah menikah, kita tambahin garam dan sedikit micin biar tidak hambar," jawab Shanum.


"Bisa aja kak Shanum!" Bianca tersenyum simpul. "Trus, kakak cinta nggak sama kak Alan?"


"Kakak sedang belajar mencintainya, ...kak Alan bilang, tidak ada syarat dalam rukun nikah, kalau menikah itu harus dengan cinta!" jawab Shanum lagi.


"Benar juga ya kak!" Bianca manggut-manggut, memahami ucapan Shanum.


"Mmh, jadi adikku yang cantik ini, pengen nikah sama Arsen!" seru Shanum tersenyum menggoda.


"Sssttt, kak jangan keras-keras, nanti kedengaran Mommy!" bisik Bianca.


"Kenapa emangnya? Arsen itu anak baik, pekerja keras, sepertinya Arsen juga menyukaimu Bi," kata Shanum sambil terus membolak-balikan ayam diatas penggorengan.


"Iya kak, ceritanya Arsen itu dulu suka sama Aku, sejak kami masih SMA. Tapi aku menolaknya, karena dia itu cupu, aku kan malu sama teman-temanku, sekarang aku gengsi kak, karena aku terlanjur menghina Arsen, dan berjanji tidak akan jatuh cinta pada Arsen, walau pun dia pria terakhir yang ada di bumi." sesal Bianca.


"Nanti kakak akan mencoba bicara dengan Arsen," kata Shanum tertawa kecil mendengar pengakuan Bianca.


"Tapi, apakah Mommy akan setuju kak? soalnya Arsen kan bukan anak orang kaya," keluh Bianca.


"Bi, mommy itu orangnya baik, beliau tidak pernah membeda-bedakan orang lain berdasarkan statusnya, contohnya kakak, justru Mommy yang mendorong Kakak untuk maju dan merasa pantas berada disisi Kak Harland." Bianca mengangguk. Mommy Sarah adalah seorang wanita yang baik dan bijaksana, Bianca sangat menghormatinya.


"Nah, burgernya sudah matang, ayo kita makan?" ujar Shanum membawa Burger buatannya ke meja makan. Shanum membuat 6 buah Burger.

__ADS_1


"Kak Aland, mau makan Burger?" tanya Shanum.


"Nanti saja, Sayang, masukin kedalam kotak bekal saja, aku masih kenyang," jawab Harland bersiap-siap untuk berangkat ke kantor.


"Ya kak, sekalian nitip buat Arsen ya!" kata Shanum sambil menyiapkan bekal untuk suaminya. Shanum mendekati Harland dan membantu Harland memakai dasi, untunglah Mommy Sarah sudah mengajarinya, cara memasangkan dasi.


"Udah kak!" Shanum menempelkan kedua tangannya di dada Harland.


"Trimakasih sayang!" Harland memberikan kecupan manis di kening istrinya.


"Hati-hati ya kak?" Shanum mengantar Harland sampai kedepan mobil.


...----------------...


Harland sampai dikantor, setelah Arsen menyiapkan ruang rapat, beberapa petinggi perusahaan sudah hadir dan duduk dibangku masing-masing. Rapat direksi kali ini, hanya melaporkan tentang pencapaian yang telah dilakukan perusahaan DHM company, selama dipegang oleh Harland. Juga pembagian laba yang akan diberikan pada awal bulan berikutnya.


"Pak Harland, kenapa Bu Sarah tidak hadir dalam rapat direksi kali ini?" tanya Pak Sugeng, seorang pemenang di perusahaan milik keluarga Harland.


"Mommy sedang tidak sehat, pak Sugeng, mungkin di rapat bulan depan Mommy bisa hadir bersama istri saya!" lanjut Harland.


"Baiklah, jika tidak adalagi yang mau disampaikan, kita tutup rapat dengan ketukan!" Ujar Harland sambil menutup Laptopnya, sambil mengetuk meja 3 kali.


Dan rapat dibubarkan.


Bianca merasa bosan berada dirumah, di keluar dari rumah itu, dan bermaksud untuk pergi ke perusahan Harland.


Tanpa bertanya lagi, Bianca masuk ke dalam ruangan Sang Kakak. Namun dia kaget saat melihat Arsen sedang asyik bicara dengan Seorang wanita cantill.Qk, diruang kerja Harland. Keduanya tampak akrab, Bianca merasa kesal dan cemburu, namun dia berusaha untuk tetap tenang.


"Mmmh....maaf mengganggu pacarannya,


.? Kak Harland mana ya?" tanya Bianca. Arsen kaget saat melihat Bianca masuk kedalam ruangan kerja Harland.


"Kak Harland sedang keluar," jawab Arsen berdiri, sementara wanita cantik yang merupakan sekretaris Harland kembali ke meja kerjanya.


"Ada apa Bianca?" tanya Arsen, menatap lurus gadis itu.


"Nggak, cuma heran aja, kenapa kalian berdua disini, sementara Kak Harland tidak ada," ketus Bianca.


"Oh,itu...aku dan Maya lagi membicarakan tentang salah seorang karyawan yang melakukan kecurangan di kantor, kak Harland meminta kesaksian dari Maya!" jawab Arsen memandang Bianca yang tampak jutek padanya.

__ADS_1


"Maya cantik ya!" kata Bianca, kemudian duduk di sofa didepan meja kerja Harland.


"Lumayan, tapi cantik kan kamu Bi" gumam Arsen.


__ADS_2