Bunda (Cinta Yang Hilang)

Bunda (Cinta Yang Hilang)
AKU BAHAGIA BERSAMA MU


__ADS_3

Shanum terbangun dari tidurnya, saat cahaya matahari mengintip dari balik tirai jendela kamarnya.


Devan masih pulas dalam tidurnya, sambil memeluk tubuh ramping Shanum yang masih polos. Shanum memindahkan tangan kekar itu perlahan dari tubuhnya, agar suaminya tidak terjaga. Setelah berhasil melepaskan diri, Shanum segera mandi dan berganti pakaian.


Shanum bergegas pergi kedapur, untuk membuat sarapan pagi untuk dirinya dan Devan. Dengan cekatan Shanum mulai memasak nasi goreng dengan telur mata sapi kesukaan Devan. Baru saja Shanum mematikan kompornya. sebuah tangan kekar memeluk pinggangnya dari belakang.


"Kak Devan, kau mengagetkanku!" protes Shanum saat merasakan sentuhan hangat suaminya yang masih bertelanjang dada.


"Masak apa sayang?" bisik Devan lembut sambil mengikat rambut Shanum dan mencepolnya keatas.


tanpa menggubris protes dari istrinya.


"Nasi goreng....!"jawab Shanum


"Nggak pake udang, kan?"


"Nggak dong, kak ! Masa aku mau mencelakakan suamiku sendiri...sana mandi dulu !" usir Shanum berbalik mendorong tubuh kekar itu dari hadapannya.


"Bentar dulu, ... aku ingin merasakan sensasi bercinta denganmu didapur ini," gumam Devan mengangkat tubuh Shanum keatas meja dapur.


"Nggak mau, kak ! nanti saja, masih sakit ini " Shanum menunjuk bagian bawah tubuhnya.


"Sebentar saja!" rayu Devan sambil menciumi wajah istrinya dan menggigit kecil leher jenjang itu dan meninggalkan tanda cinta disana.


"Kak Devan...Ahh!" Shanum merengek manja, dia pasrah karena tidak mampu lagi menolak hasrat liar suaminya.


...----------------...


Tidak ada yang dilakukan keduanya hari itu, selain bercinta dan bercinta. Devan mengabaikan panggilan dari Vania dan juga orang tuanya.


"Kak, ...ponsel kakak dari tadi berbunyi terus!" seru Shanum. Saat suaminya selesai mandi untuk yang kesekian kalinya.


"Biarkan saja, paling Daniel mengabarkan tentang proyek Hotel," jawab Devan santai.


"Oh,...kirain telpon penting,kak !"jawab Shanum polos.


"Nggak ada yang lebih penting selain istriku yang cantik ini sekarang!" ujar Devan sambil duduk dipinggir ranjang. Shanum masih tiduran disana, karena bagian tubuh bawahnya sulit untuk digerakkan.


"Apa masih sakit, sayang ?" tanya Devan.


"Sakit sih nggak, kak! cuma nggak nyaman untuk berjalan, rasanya seperti ada yang mengganjal," ujar Shanum polos.


Devan tertawa lepas, semua itu salahnya sendiri, menggempur istrinya berkali-kali.


"Sayang bagaimana perasaanmu, sekarang!" tanya Devan sambil menarik tubuh polos itu ke pangkuannya.

__ADS_1


"Aku senang kak, aku juga bahagia bila bersamamu !" gumam Shanum.


"Aku juga bahagia, sayang!" balas Devan. "Aku rasa aku telah jatuh cinta padamu."


"Kalau begitu jangan lama -lama jauh dariku, kak! bisik Shanum manja.


"Ya sudah, kamu istirahat saja ! Aku mau ke hotel sebentar !" Devan mengganti kaosnya dengan sebuah kemeja berwarna hitam dan celana panjang berwarna cream. Membuat kadar ketampanan pria itu bertambah saja. Shanum seolah tak puas untuk memandangnya.


"Perginya naik apa, kak ?"tanya Shanum.


"Sebentar lagi Daniel menjemput, kalau ada apa-apa, telpon aku ya !" kata Daniel.


"Tapi, aku kan tidak punya hp, kak !" rajuk Shanum.


"Oh ya, aku lupa....aku akan meminta Daniel untuk membelinya dikota nanti !" Shanum memgangguk.


Begitu Daniel tiba dengan mobilnya, Devan segera keluar dari rumah dan mengunci pintu dari luar.


"Wah Bos, ...enak ya, jadi pengantin baru!" goda Daniel.


"Memang enak, Niel! makanya cari istri dong, biar tahu rasanya," celetuk Devan.


"Cie, aku jadi iri pada anda Bos, lihat, leher bos merah semua, seneng ya bos, dapat istri perawan?" tanya Daniel lagi. Devan memandangi lehernya dari balik kaca spion. Warna merah keunguan itu hampir menutupi seluruh lehernya. Dia tersenyum lebar, membayangkan percintaan panasnya bersama Shanum semalam.


"Bos, Nyonya Sonia dan Vania, meneror ku sejak semalam, " adu Daniel.


"Orang tua Vania, meminta pertunangan kalian segera dilangsungkan," Devan mengernyitkan dahinya.


"Bilang sama mereka, aku akan pulang setelah pembangunan hotel selesai, sekitar 3 atau 4 bulan lagi. aku tidak mau diganggu sekarang!"


"Oke,... nanti aku sampaikan bos," Seloroh Daniel, yang terus menerus menggoda bosnya itu.


Daniel bukan hanya sebagai asisten pribadi bagi Devan, namun juga sahabat dan saudara. Tidak ada jarak diantara mereka. Daniel akan selalu ada untuk Devan, baik disaat senang maupun dalam keadaan terpuruk.


Pembangunan hotel sudah hampir mencapai 80%, Hotel itu hanya memiliki 5 lantai, dengan 50 buah kamar dan satu kamar president suite. Devan akan segera merampungkan pembangunan hotel itu. Dan akan mengajak Shanum untuk menginap di President suite room pada pembukaan hotel itu nanti.


Seharian Devan berada di proyek, dia menambah beberapa orang pekerja untuk mempercepat penyelesaian pembangunan hotel.


,


Dia sibuk menghubungi beberapa orang investor untuk menyampaikan keputusannya untuk segera menyelesaikan pembangunan hotel. Dan dia harus berangkat ke Jakarta untuk mengadakan pertemuan dengan para investor tersebut di kantor pusatnya di Jakarta.


"Daniel, besok aku akan berangkat ke Jakarta, aku akan mengadakan pertemuan dengan para investor agar pembangunan hotel cepat diselesaikan,"ujar Devan saat mereka tiba dikantor.


"Bagaimana dengan nona Shanum bos, bos akan mengajaknya," ucap Daniel.

__ADS_1


"Untuk saat ini, tidak...aku hanya 2 hari di Jakarta, kau bisa tinggal dulu disini," jawab Devan.


"Oke bos, siap...!" seloroh Daniel sambil mengacungkan ibu jarinya.


...----------------...


Shanum baru saja selesai menyiapkan makan malam, saat Devan pulang kerumah hampir jam delapan malam.


Shanum menyambut kedatangan suaminya dengan senyuman manis dan menggoda.


"Mandi dulu atau makan dulu, kak!" Shanum melingkarkan tangannya di pinggang suaminya dan menatap wajah tampan itu dengan hangat.


"Aku akan memakan mu terlebih dahulu!" sahut Devan sambil mengangkat tubuh ramping itu ke kamar.


"Ih...kakak mesum,..." Shanum menyembunyikan wajahnya yang memerah diceruk leher suaminya.


"Sebentar saja, ....tanggung kalau harus mandi lagi." Devan merebahkan tubuh Shanum diranjang dan mulai mencumbu istrinya dengan penuh gairah.


"Kak....Ahh!" Shanum mendesah saat kedua tangan kekar suaminya merayap masuk kedalam piyama satin berwarna merah muda yang dipakai Shanum.


"Sayang,...aku tidak tahan bila jauh darimu,...seharian aku berada di proyek, dari tadi rasanya ingin cepat pulang," ujar Devan sambil melucuti pakaian Shanum satu persatu.


Shanum pun tak tinggal diam, dia mulai agresif membuka kancing kemeja hitam yang dipakai Devan. Aroma tubuh itu tetap sama, harum dan menyegarkan. Shanum terbuai oleh belaian dan sentuhan yang diberikan suaminya, jiwanya melayang menyentuh nirwana, indah namun tidak terlukiskan.


Devan bergerak semakin lama semakin cepat diatas tubuh Shanum. Kedua raga itu telah menyatu dalam buaian cinta yang memabukkan. saling berbagi keringat, ******* dan lenguhan mengiringi percintaan mereka yang panas dan mengairahkan.


"Kak...aku sudah keluar " desis Shanum.


Devan tersenyum puas, melihat Shanum mulai menikmati penyatuannya, tanpa mengeluh sakit lagi.


...----------------...


"Sayang,besok aku akan ke Jakarta, paling lama 2 hari, tapi kalau pertemuannya cepat selesai, aku akan segera kembali," kata Devan saat mereka sudah berada dimeja makan.


"Penting ya kak !" tanya Shanum.


"Iya, aku berencana akan mempercepat pembangunan hotel, jika sudah selesai, kita akan menginap disana, saat peresmian hotel itu nanti," ungkap Devan.


"Oh, ya udah...pergilah !" ucap Shanum santai.


"Tidak masalah kan, aku tidak mengajakmu sekarang!" Devan menyentuh pipi sang istri dengan tangan kanannya, dan mengelusnya lembut.


"Tidak masalah, kak...! cuma dua hari bukan waktu yang lama,bukan?"


"Iya...aku pasti kembali secepatnya, karena aku tidak bisa jauh darimu, Sayang !"

__ADS_1


"Aku percaya padamu, kak !" Shanum tersenyum sumringah.


"Terima kasih, sayang!" Devan mencium pipi istri cantiknya itu dengan mesra.


__ADS_2