
Vania dan Mama Sonia, hanya bisa menatap iri pada pasangan yang sedang bersanding di pelaminan. Vania masih memikirkan cara untuk memisahkan Harland dengan Shanum. Sementara Nyonya Sonia memikirkan kelangsungan perusahaan keluarganya setelah Shanum menjadi Nyonya Harland.
Pesta pernikahan Shanum dan Harland berlangsung mewah, Sesuatu yang tidak pernah di dapatkan Shanum dari Devan.
Hidup Shanum begitu sempurna, memiliki suami tampan, kaya raya dan baik hati, mertua yang menyayangi dan ipar yang selalu memberi dukungan untuknya.
"Shanum, kamu capek?" Harland meminta Shanum untuk duduk di kursi pelaminan.
"Iya kak, ....!"
"Ya udah, duduk saja!"
"Kak, Flo mana ya?" Shanum memutar matanya sekeliling.
"Ada, Flo lagi sama Bianca!" jawab Harland.
"Oh ya, itu dia...!" Shanum memanggil Bianca untuk membawa Flo padanya.
"Udah kak, biar Flo sama aku saja, kakak tenang aja disini," ujar Bianca.
"Flo sudah makan, Bi?" tanya Shanum cemas.
"Udah kak, jangan khawatir, ...setelah ini aku akan membawa anak-anak pulang, kakak dan Kak Harland bersenang-senang saja disini?" ujar Bianca tersenyum menggoda.
Pesta usai setelah pukul sepuluh malam, para tamu undangan sudah bubar, Mommy Sarah mengajak Jasmine dan si kembar Shera dan Shena pulang kerumahnya. Namun Nyonya Sonia menghadang mereka di depan pintu keluar hotel.
"Ada apa ini, Bu Sonia? kenapa anda menghadang kami?" tanya Mommy Sarah bingung dengan tingkah wanita itu dan menantunya Vania.
"Aku akan membawa pulang cucuku! Jasmine ! bawa adik-adik mu ke mobil!" perintah Nyonya Sonia.
"Aku mau tinggal sama Bunda, Oma!" kata Shera menolak ajakan Omanya.
"Bukankan kalian sudah berjanji akan kembali kerumah setelah pesta pernikahan Bunda kalian!" seru Sang Oma.
"Iya, tapi kan...!" Jasmine menghentikan ucapannya saat Vania menariknya dengan kasar.
"Ayo Jasmine, ayahmu sudah menunggu di mobil," Jasmine terpaksa mengikuti Vania ke mobil begitu juga Si kembar Shera dan Shena.
__ADS_1
Mommy Sarah hanya bisa memandang kepergian Jasmine dengan tatapan iba, namun dia tidak bisa berbuat apa-apa, karena mereka adalah cucunya keluarga Mahendra.
"Mommy, apakah kita perlu memberitahu kak Shanum?" tanya Bianca.
"Nggak usah, jangan ganggu kakakmu, nanti kita akan beritahu jika mereka sudah berada dirumah!" kata Mommy Sarah, menarik nafas pelan.
"Ayo kita pulang Arsen!" Mommy Sarah keluar dari gedung hotel menuju mobil mereka yang sudah terparkir didepan hotel. Arsen mengambil alih mobil itu dan meninggalkan hotel bersama Mommy Sarah, Bianca dan juga Flower.
...----------------...
Shanum sudah masuk terlebih dahulu kedalam kamar yang telah disediakan pihak hotel sebagai tempat malam pertama mereka. Walau pernikahan ini bagi Shanum bukanlah pernikahan pertama, tapi dia merasa gugup dan canggung. Shanum sudah selesai membersihkan diri dan berbaring di ranjang big size hotel yang ditata rapi dengan bertabur kelopak bunga mawar yang harum menggoda. Shanum menunggu Harland dengan debaran di dada yang semakin kencang.
Sepuluh Menit, Lima belas menit...hingga setengah jam, namun Harland masih belum masuk kedalam kamar pengantin mereka. Shanum merasa ada yang janggal. Shanum mencoba menghubungi kontak Harland, namun telpon dari Shanum tidak diangkat.
"Arsen, kamu dimana?"tanya Shanum menghubungi Arsen.
"Aku dirumah kak, ada apa?" tanya Arsen khawatir.
"Tolong kembali ke hotel, Arsen! Kak Harland tidak ada di kamar, kakak sudah mencarinya diluar, tapi Kakak tidak melihatnya," Shanum tampak panik.
"Ada apa Arsen?" tanya Bianca penasaran saat melihat Arsen bergegas keluar rumah.
"Kak Harland menghilang, ...barusan kak Shanum menelpon, Kak Harland tidak masuk ke kamar yang sama dengan kak Shanum,"
"Kalau begitu, aku ikut!" Kata Bianca tanpa menunggu persetujuan Arsen.
Keduanya menyusuri jalanan menuju hotel Garuda. Arsen segera menuju keruang kendali hotel, untuk memeriksa CCTV.
"Itu, kak Harland!" tunjuk Bianca melihat Harland berjalan sempoyongan dipapah oleh seorang wanita, menuju sebuah kamar hotel yang bersebelahan dengan kamar tempat Shanum menginap.
"Itu kak Monica, kurang ajar sekali dia!" Bianca tampak marah. Dia bergegas keluar dari ruangan itu, dan berlari menuju kamar yang telah digunakan Monica untuk menjebak Harland.
Arsen datang bersama petugas hotel untuk membuka pintu kamar dengan kunci duplikat.
Monica kaget, saat Bianca dan Arsen masuk kedalam kamar, disaat wanita itu sedang berusaha membuka pakaian Harland.
"Dasar ular!" Bianca langsung menerjang Monica yang setengah telanjang, hingga terjungkal kebawah tempat tidur.
__ADS_1
"Aduhh, apa yang lakukan Bianca, sakit tahu!" Monica tampak kesakitan sambil memegang pantatnya yang sakit karena membentur lantai.
"Harusnya aku yang bertanya padamu Monica, apa yang kau lakukan dengan kakakku? Dasar tidak tahu malu!" maki Bianca. Bianca menarik tubuh Monica dan mendorongnya kembali ke lantai.
"Aku tidak rela, Harland menikah dengan perempuan rendahan itu, dia bukan level Harland," sahut Monica kesal.
Bianca tertawa lebar, "Heh, dengar ya Monica, kak Shanum lebih baik darimu, walaupun dia bukan dari keluarga kaya, tapi dia tidak murahan sepertimu, menggunakan segala cara untuk mencapai keinginanmu, Aku dan Mommy bersyukur, kak Harland menceraikanmu, Karena kamu itu hanya sampah," maki Bianca.
"Bianca...! berani sekali kamu menghinaku!" bentak Monica.
"Karena kamu memang hina, Monica!" Bianca keluar dari kamar itu, setelah Arsen berhasil membawa Harland keluar dari kamar Monica.
Dan memapahnya ke kamar Shanum.
"Arsen, Bianca...trimakasih kalian sudah menolong kakak!" ucap Shanum merasa lega karena Arsen telah berhasil menyelamatkan Harland tepat waktu.
"Tidak perlu berterimakasih, Kak! ini sudah tugas kami!" kata Arsen.
"Apa yang terjadi sama Kak Harland?"tanya Shanum melihat Harland yang mulai terjaga dan menggeliat kepanasan.
"Sepertinya Kak Harland sudah meminum obat yang telah diberikan Monica, sebaiknya kami pergi dulu, kak! kami serahkan Kak Harland pada kakak!" Ujar Arsen tersenyum penuh makna, Bianca memahaminya dan keduanya keluar dari kamar Shanum dan Harland.
Shanum, tidak tahu harus berbuat apa, menghadapi Harland yang dipengaruhi obat perangsang. Dia hanya bisa pasrah, saat Harland menarik tubuh Shanum ke tempat tidur. Wajah Harland sudah ditutupi kabut gairah yang teramat menyiksa dan ingin segera dituntaskan.
"Shanum...!" bisik Harland lirih. Harland merasa tubuhnya seperti dibakar.
"Ya kak!" Shanum menggigit bibirnya saat pria yang telah sah menjadi suaminya itu mencumbunya dengan kasar dan liar. Bukan percintaan seperti ini yang Shanum inginkan. Namun Shanum terpaksa menerima semua perlakuan Harland, Karena pria itu juga tidak menyadari apa yang dia lakukan.
"Kenapa panas begini, Shanum?...oh aku tidak tahan lagi, maafkan aku Shanum," Harland diantara sadar dan tidak, menarik seluruh pakaian Shanum dan menjamah tubuhnya dengan penuh nafsu. Harland telah melepaskan seluruh pakaiannya dan menyatukan raganya dengan Shanum tanpa pemanasan.
Shanum menjerit, tubuhnya terasa sakit, begitu juga hati dan perasaannya.
"Kak Alan, jangan begini! sakit...!" jerit Shanum menangis pilu.
"Aku tidak bisa mengendalikan diriku, Shanum, ....tolong aku ini panas sekali" Harland terus memompa tubuhnya tanpa peduli jeritan Shanum.
Tidak ada lagi yang bisa menghentikan Harland. Tubuh ramping Shanum seolah dicabik-cabik dengan pisau tajam. Shanum lemah, dia tak berdaya untuk melawan. Hingga tubuh ramping itu, jatuh tergeletak tak sadarkan diri.
__ADS_1