
Bianca baru saja, selesai menidurkan putra kecilnya di kamar malam itu. Saat Arsen pulang dari suatu tempat, keadaannya tampak kacau.
"Ada apa Arsen? Kamu sakit?" Bianca mendekati.
"Aku capek, Bianca! Aku mau istirahat!" Arsen masuk ke dalam kamar dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang, tanpa membuka sepatunya.
"Ada apa, Bianca?" Bu Marisa datang menghampiri Bianca yang tampak bingung dengan keadaan Arsen.
"Entahlah Bu, Arsen kelihatannya kacau sekali!" Bianca menarik nafas pelan.
"Biarkan dia tenang dulu, mungkin dia butuh waktu untuk menenangkan pikirannya,"
Ujar Bu Marisa menghibur Bianca.
"Ya Bu!" Bianca membiarkan Arsen untuk tenang, dia tidak menyapa ataupun menegur Arsen. Bianca mendekati Arsen yang berbaring di tempat tidur. Membukakan sepatu Arsen dan meletakkannya diluar kamar.
Bianca duduk disisi ranjang, sambil menatap wajah Arsen yang memerah.
Lama Bianca memandangi wajah tampan itu, belakangan ini, Arsen kelihatan berbeda dari biasanya. Dia sering marah-marah tidak jelas, bahkan membanting barang-barang yang ada di rumah. Walau tidak sampai menyakiti Bianca.
"Arsen, kamu ada masalah?" tanya Bianca lembut. Arsen menatap Bianca dengan tatapan tajam. Membuat Bianca sedikit ngeri.
"Apakah Alter egomu muncul lagi?"
Arsen memalingkan wajahnya, "Aku ingin kita bercerai, Bianca!" Ucapan Arsen tiba-tiba. Bagaikan petir di siang bolong, Bianca kaget mendengarnya. Dia tidak pernah membayangkan Arsen akan menceraikannya.
"Kenapa?" tanya Bianca dengan mata yang berkaca-kaca.
"Aku tidak mencintaimu lagi!" Jawab Arsen gamblang.
"Aku salah apa Arsen? Katakan! Apa salahku, hingga kamu bersikap seperti ini," jerit Bianca.
"Aku capek menjalani kehidupan yang penuh pura-pura ini, Bianca!"
"Pura-pura bagaimana, Arsen?" Bianca tampak bingung dengan sikap Arsen.
"Maaf, Bianca! Aku tidak bisa memberikan alasannya sekarang, aku harap kamu mau mengerti keadaanku,"
"Arsen, tidak bisakah kita bicara baik-baik? Jika kamu punya masalah, mari kita hadapi bersama, aku akan membantumu!"
"Tidak Bianca, tidak ada yang bisa membantuku menghadapi masalahku, aku hanya ingin kita berpisah baik-baik," Ujar Arsen.
Bianca menangis tidak tahu harus berbuat apa lagi, untuk menahan keinginan Arsen untuk bercerai.
Ibu Marisa pun tidak mampu membujuk putranya untuk bicara yang sebenarnya. Ada apa gerangan dengan Arsen? Yang pasti kesehatan mental Arsen kembali memburuk.
Hingga menjelang pagi, Bianca tidak bisa memejamkan mata sama sekali. Pagi sekali, Arsen sudah bangun dan mengemasi pakaiannya ke dalam koper. Bianca tidak lagi menangis, dia hanya menatap Arsen, dengan perasaan iba. Pria itu menyembunyikan banyak hal buruk tentang dirinya. Dan hal itu membuatnya sangat menderita.
"Bianca! Aku pergi, jaga Arkan baik-baik ya! Aku titip ibu!" Pamit Arsen.
"Arsen, tidak bisakah kamu mengubah keputusanmu, untuk pergi dari rumah ini,"
__ADS_1
"Tidak Bi, keputusanku sudah bulat, aku tidak mau menipu diriku sendiri dan juga dirimu lebih lama lagi, maafkan aku!" Bisik Arsen lemah, sambil memeluk Bianca erat.
"Arsen, ibu ikut denganmu!" kata Marisa berniat untuk mencegah putranya pergi.
"Ibu, ibu disini saja menemani Bianca, aku akan pergi jauh!" kata Arsen sedih.
"Kamu akan pergi kemana, Nak?" tanya Marisa menangis.
"Nanti ibu akan tahu, maafkan aku sebelumnya, aku telah membuat ibu kecewa!" Arsen memeluk Ibunya erat.
"Apa ada hubungannya dengan masa lalu mu?" tanya Marisa menatap Arsen lekat.
"Secara tidak langsung, iya!" jawab Arsen lirih.
Arsen mengendong Arkan dalam pelukannya.
Mencium kening putranya lembut, dan berkata,"Jangan nakal sama Bunda ya nak! Jagain Bunda kalau Arkan sudah besar! Ayah sayang sama Arkan, sama Bunda, tapi Ayah harus pergi."
Dengan langkah gontai, Arsen menyeret kopernya keluar dari rumah, seseorang sudah menunggu Arsen dalam sebuah mobil, yang terletak tidak jauh dari gerbang rumah mereka. Senyum lebar mengembang disudut bibirnya. Saat Arsen masuk ke dalam mobil. Dan menyambut Arsen dengan sebuah pelukan hangat.
Arsen pergi meninggalkan rumah itu dengan meninggalkan duka dan tanya tanya besar dalam benak Bianca
Bianca duduk di sofa dengan perasaan bingung dan gelisah. Bingung harus bagaimana memberitahukan keluarganya, jika Arsen sudah menceraikannya.
Bu Marisa datang mendekat, dengan membawa kopernya juga.
"Ibu, mau mau kemana?" tanya Bianca kaget.
"Ibu, ibu tidak boleh pergi dari sini! Walaupun Arsen sudah tidak bersamaku, ibu tidak boleh kemana-mana, ibu bisa tinggal denganku, ada Arkan disini, dia cucu ibu juga," ujar Bianca.
"Tidak Nak, ibu malu, Arsen telah menyia-nyiakan wanita sebaik kamu!"
"Aku hanya berharap, Arsen bisa menjalani hidupnya dengan tenang, dia tidak pernah terbuka padaku ibu, dia selalu menyimpan masalahnya seorang diri," kata Bianca.
"Dia mengalami banyak kejadian pahit dalam hidupnya, Bianca!" tangis Marisa pecah saat mengingat Arsen yang menjadi korban kekerasan seksual, suami keduanya. Walau, Arsen sudah menikah dengan Bianca, namun masih banyak rahasia yang dipendam putra tunggalnya itu.
Bianca menelan Saliva nya kasar, "Sebagai seorang istri, aku sudah berusaha menerima masa lalu kelam Arsen. Tapi sepertinya Arsen tidak puas dengan semua itu," gumam Bianca.
"Maafkan Arsen, Ya nak! Mungkin dia punya alasan tersendiri untuk menceraikan mu, Ibu yakin, kamu akan mendapatkan pengganti Arsen, seorang laki-laki yang baik dan bertanggung jawab,"
Bianca mengangguk. "Ibu jangan pergi ya!" bujuk Bianca. "Temani aku dan Arkan disini, aku akan menyembunyikan semua ini dari keluargaku."
"Baiklah!" kata Marisa akhirnya setuju untuk tetap tinggal.
Arsen menghempaskan tubuhnya yang terasa lelah, di atas ranjang sebuah kamar Apartemen, di sebuah kota di negara Jepang. Seseorang tersenyum menatap Arsen dengan tatapan mesra.
"Arsen, aku akan keluar sebentar, untuk membeli kebutuhan kita selama di sini, Kamu mau titip sesuatu?" tanya orang itu lembut, dengan gerak tubuhnya yang sedikit gemulai.
"Tidak, Ryu! Aku lelah, aku ingin tidur!" jawab Arsen memejamkan matanya yang sudah terasa berat. Ryuzu adalah seorang pria Jepang yang dia jumpai sebulan yang lalu, saat berkunjung ke negara matahari terbit itu.
Tujuan utama Arsen datang ke Jepang saat itu adalah untuk mengikuti seminar tentang Informasi Teknologi Komputer. Dengan pembicara seorang doktor ahli sains dan komputer asal Jepang yang bernama Ryuzu Watanabe.
__ADS_1
Arsen tertarik dengan cara Ryuzu, menyampaikan materinya. Singkat dan mudah dipahami. Hingga mereka berkenalan dan saling berbagi ilmu tentang teknologi komputer. Ryuzu sangat baik dan ramah, Arsen sangat nyaman berbincang-bincang dengannya. Hingga pembicaraan keduanya menjurus ke arah yang lebih pribadi.
"Apakah kamu sudah menikah, Arsen?" tanya Ryu siang itu, saat mereka selesai makan di sebuah restoran.
"Sudah, aku sudah memiliki seorang anak!" kata Arsen jujur. "Kalau kamu?"
"Aku single, aku tidak mau menikah!" katanya santai.
"Kenapa?"
"Aku gay!" katanya dengannya gamblang. Arsen mengerutkan dahinya. Dia kaget dengan pengakuan Ryu.
"Di negaraku, LGBT dilarang keras, Ryu bahkan jelas di tentang oleh Agama!"
"Apa itu Agama? aku tidak punya agama di sini," ucap Ryu.
"Agama itu adalah sebuah ajaran untuk kita mempercayai adanya Tuhan yang mengatur seluruh umat manusia," jawab Arsen.
Memang di Jepang sebagian besar penduduknya beragama Shinto bahkan ada yang tidak mempunyai agama, sementara Islam hanya sebagian kecil penduduk yang menganutnya.
"Arsen, maaf aku tidak percaya agama, tapi aku menghormati agamamu," kata Ryu kemudian.
"Kenapa kamu jadi gay?" Tanya Arsen penasaran.
Pria itu menundukkan wajahnya, Dia menceritakan kisah kelamnya saat masih kecil, Ryu kecil dilecehkan oleh tiga orang teman Ayahnya yang bermain judi di rumahnya. Hingga dia tumbuh menjadi anak yang pemalu dan tidak punya kepercayaan diri. Arsen kaget mendengar kisah Ryu yang hampir sama dengan kisahnya. Bedanya, Ryu dilecehkan berkali-kali, jika sang ayah kalah dalam bermain judi.
Tanpa sadar, Arsen memeluk Ryu dengan erat, pria itu menangis di dadanya. Membuat Ryu merasa nyaman.
"Aku pernah berada di posisimu, Ryu, Ibuku membunuh pria yang melecehkan aku. Dan menyuruhku pergi dari rumah,"
"Benarkah? Nasib kita sama," kata Ryu.
"Kehidupan kelamku berlanjut saat aku kuliah, aku bermasalah dengan salah seorang dosen, demi untuk sebuah nilai A plus, aku terpaksa melayani dosen brengsek itu. Agar aku tidak mengecewakan orang yang telah membiayai kuliahku,"
"Arsen!" Ryu meraih jemari Arsen dan menciumnya lembut. Sekarang giliran Ryu yang memeluk Arsen dengan erat. Saling berbagi kepedihan.
Perkenalan yang berlangsung singkat itu, meninggalkan kesan yang dalam bagi Ryuzu, hingga dia nekat mengikuti Arsen ke Jakarta.
"Ryu, kenapa kamu mengikuti ke Jakarta? Aku sudah menikah dan mempunyai seorang anak, aku tidak mau istriku mengetahui hubungan kita!" kat Arsen resah.
"Aku tidak akan mengganggu hubunganmu dengan istrimu, Arsen! Jangan khawatir!" ujar Ryuzu santai, saat Arsen menemuinya di salah satu hotel ternama di Jakarta.
"Ryu, aku berjanji akan mengunjungimu nanti!" ucap Arsen. Pria itu tersenyum manis, dia duduk di sofa dengan menyilangkan kedua pahanya, sangat elegan dan berkelas.
"Aku ke Jakarta atau kamu yang ke Jepang, sama saja, Arsen! Aku merindukanmu!" Ryu berdiri dan berjalan mendekati Arsen.
"Kamu tidak merindukan aku, Arsen?" tanya Ryu dengan raut wajah pura-pura sedih, pria itu duduk di pangkuan Arsen sambil melingkarkan kedua tangannya di leher Arsen.
Arsen hanya mendengus kasar. Namun dia tidak menolak saat Ryu mencumbunya dengan mesra. Pria itu menjadi sangat agresif apabila bertemu dengan Arsen, yang telah dia tandai sebagai kekasihnya.
Bersambung...
__ADS_1