Bunda (Cinta Yang Hilang)

Bunda (Cinta Yang Hilang)
ANCAMAN NYONYA SONIA


__ADS_3

Dengan berat hati Devan meninggalkan rumah orangtuanya dan mengajak Shanum tinggal diapartemen miliknya.


"Kak...! apa tidak sebaiknya, aku kembali ke Bandung?" ujar Shanum pelan.


"Tidak, sayang! kita akan menghadapi semua ini bersama, aku tidak akan meninggalkanmu sendirian di Bandung, sementara aku bekerja disini," Devan memeluk tubuh Shanum erat.


"Sepertinya sulit mengambil hati Mamamu, kak! dari awal dia sudah tidak merestui pernikahan kita," keluh Shanum.


"Kita akan berusaha lagi nanti, sekarang kita hanya perlu berdoa, agar papa dan mama mau menerima pernikahan ini," Devan memeluk tubuh Shanum erat. Wanita itu tampak pucat, tetes air mata jatuh disudut matanya yang bening.


Waktu berjalan sangat cepat, hari-hari dilalui Shanum dengan tenang saat berada diapartemennya. Hingga pada suatu hari, Nyonya Sonia mendatangi apartemen itu, saat Devan tidak ada disana.


"Silahkan duduk, Mama ..!" ujar Shanum saat wanita itu masuk, dengan sikap sombongnya.


"Tidak perlu, ... aku datang hanya untuk mengingatkanmu, perempuan kampung., pertama jangan panggil aku mama, ...karena aku tidak Sudi punya menantu sepertimu. Kedua, sebaiknya kau itu tahu diri, tempatmu bukan disini, ...kau harus bercerai dari dari Devan secepatnya. Aku akan memberikan uang padamu, berapapun yang inginkan, asalkan kau meninggalkan Devan," ujar Nyonya Sonia dengan angkuhnya.


Shanum diam seribu bahasa. tidak ada kata yang terucap dari mulutnya. Dia mencoba menenangkan hatinya., agar tidak menangis dihadapan wanita itu.


"Dan, satu lagi....cepat atau lambat Devan akan menikah dengan Vania, jadi kau harus bersiap-siap, untuk pergi dari kota ini," lanjutnya lagi.


Shanum menarik nafas dalam-dalam, dadanya terasa sesak, tubuhnya mendadak lemah. Shanum jatuh dilantai tak sadarkan diri.


Nyonya Sonia, tampak panik, melihat tubuh Shanum yang terletak dilantai. Buru-buru dia keluar dari apartemen itu, meninggalkan Shanum tanpa perasaan bersalah.


Untunglah, Devan pulang tak lama kemudian.


"Shanum...!Shanum ...!bangun sayang, apa yang terjadi padamu!" Devan mengangkat tubuh ramping Shanum ketempat tidur.


Devan mencoba membangunkan istrinya dengan memberikan minyak kayu putih , namun Shanum belum tidak kunjung sadarkan diri.


Akhirnya, Devan membawa Shanum kerumah sakit terdekat dengan apartemennya.


"Pak Devan, sepertinya istri anda sedang hamil, dia mungkin dia kelelahan, untuk lebih jelasnya, sebaiknya bapak membawanya ke dokter OBGYN, saya sarankan anda membawanya ke klinik dokter Hana," ujar sang dokter yang memeriksa Shanum.


"Baik, dok!" secercah senyum mengembang diwajah Devan.


"Kak,...kenapa aku berada dirumah sakit?" tanya Shanum lemah.


"Tadi kamu pingsan di apartemen, aku khawatir karena kamu tidak sadar juga, terpaksa kakak membawamu kesini," jawab Devan.


"Aku kenapa kak ?"tanya Shanum lagi.


"Sayang, kau hamil, kita akan punya anak!" seru Devan bahagia.


Shanum tersenyum getir. Kebahagian seharusnya menjadi milik Shanum sekarang. Namun ancaman nyonya Sonia tadi tidak bisa diabaikan.


"Aku hamil, kak!" ulang Shanum


"Ya,kenapa? bukankah itu bagus, mamaku pasti senang mendengar kabar ini, karena dia menginginkan cucu, untuk melengkapi keluarga kami," ujar Devan tampak bahagia.

__ADS_1


Shanum memaksa untuk tersenyum, dia tidak ingin menghancurkan kebahagiaan Devan. Jika saja Devan tahu, kalau mamanya datang mengancam Shanum, entah apa reaksi pria itu.


"Kak, kita pulang ya!"ajak Shanum.


"Apakah kamu sudah merasa baikan, sayang?"


"Sudah kak,"


"Tunggu, aku panggil dokter dulu, biar dokter yang memastikan, kalau kamu bisa pulang atau tidak," Shanum mengangguk.


Seorang dokter wanita, berparas ayu, datang menghampiri mereka.


"Tubuhmu masih lemah, Shanum, sebaiknya istirahat disini dulu," saran dokter Hana.


"Aku baik-baik saja, dok!" ucap Shanum.


"Kalau kau ingin bercerita sesuatu, bicaralah aku siap mendengarmu, Shanum! seorang wanita akan merasa bahagia dengan kehamilannya, tapi aku lihat kau malah sedih!" ujar dokter Hana.


Shanum menarik nafas perlahan, butir air matanya jatuh dipipinya.


"Dokter, aku takut, mertuaku menyuruhku untuk bercerai dari suamiku," lirih Shanum.


"Kenapa bisa begitu?" tanya dokter Hana.


"Orang tua suamiku, tidak merestui pernikahan kami, cepat atau lambat, Devan akan mereka nikahkan dengan pilihan mereka," mata Shanum mulai.berkabut.


"Cobalah untuk tenang, Shanum! jangan buru-buru mengambil keputusan. Siapa tahu mereka menerimamu setelah mereka tahu, kau mengandung cucu mereka!" nasehat dokter Hana.


"Ayo tersenyumlah, kau tidak boleh stress, Shanum...ini kehamilan pertamamu, kau harus bahagia!" dokter Hana menyemangati pasiennya itu dengan sabar.


"Terimakasih, dokter ! sudah mau mendengar keluh kesah ku!" Shanum merasa sedikit lega, setelah menceritakan tentang kesedihannya ada dokter Hana, seorang dokter kandungan yang baru saja dikenalnya.


Dokter Hana tersenyum, dan meminta Shanum untuk beristirahat terlebih dahulu.


...----------------...


Devan melangkahkan kakinya, dirumah besar keluarga Mahendra, dengan senyum lebar menghiasi wajahnya.


"Ma,...!" panggilnya, saat melihat wanita yang telah melahirkannya itu, duduk sendirian di taman belakang. Nyonya Sonia, menoleh sejenak dan mengalihkan pandangannya segera.


"Bagaimana keadaan istrimu !" tanya nyonya Sonia, Devan mengerutkan dahinya. Tumben sang mama menanyakan tentang istrinya.


"Shanum masih dirumah sakit, Ma! kenapa tiba-tiba mama nanyain istriku ?"


"Tidak...cuma heran, kenapa kau datang sendiri," sebenarnya dalam hati Nyonya Sonia, takut jika Devan tahu, kalau dia datang ke apartemen Putranya sebelum Shanum pingsan.


"Ma ...! apakah mama dan papa akan menerima pernikahanku, jika Shanum hamil?" ucap Devan dengan hati-hati.


"Memangnya sekarang dia hamil?" ketus Mama Sonia.

__ADS_1


"Iya ma, Shanum sedang hamil, dia sedang mengandung cucu kalian," ucap Devan memandang wajah mamanya, berharap mendapatkan restu wanita itu.


Nyonya Sonia diam sejenak, dia sedang merencanakan sesuatu dalam pikirannya, agar hubungan putranya dengan Shanum segera berakhir.


"Baiklah,tapi kalian harus tinggal dirumah ini," ucap Nyonya Sonia akhirnya mengalah.


Devan tersenyum memeluk nyonya Sonia erat,


"Trimakasih, Ma! aku akan mengajak Shanum tinggal dirumah kita," Devan tampak gembira dengan ucapan mamanya.


Nyonya Sonia hanya tersenyum tipis.


...-------------...


Dengan semangat 45, Devan menjemput Shanum kerumah sakit, dia tidak sabar untuk memberitahu istrinya, kalau Mama Sonia mau menerima mereka kembali kerumah.


"Benarkah, kak!" Shanum sedikit ragu.


"Iya sayang, aku baru saja dari rumah mama, dia ingin kita tinggal disana, agar dia mudah mengawasi kehamilanmu,"


Shanum bimbang, dia merasa tidak percaya, Nyonya Sonia berubah begitu cepat. Tapi sebelumnya Nyonya Sonia tidak mengetahui kehamilannya. Mungkin dia menjadi berubah karena kehamilan Shanum.


Dengan berat hati, Shanum akhirnya mengikuti kemauan mertuanya, untuk tinggal dirumah keluarga suaminya. Sejak itulah Shanum mulai merasakan hidup seperti di neraka.


"Heh, orang kampung, kau pikir semua fasilitas yang ada dirumah ini gratis," ketus Nyonya Sonia, di hari pertama Shanum tinggal dirumah itu, saat Devan sudah berangkat bekerja.


"Maksudnya, apa Nyonya ?" sahut Shanum


"Kau harus bekerja dirumah ini, jangan harap kau akan menjadi ratu, kerjakan tugasmu, kau bisa bertanya pada Surti," Nyonya Sonia meninggalkan Shanum yang tertegun ditempatnya berdiri.


Kemudian dia melangkah ke dapur, untuk mencari asisten rumah tangga keluarga itu.


"Mbak, apa yang bisa saya kerjakan, Nyonya Sonia memintaku menanyakan tugasku padamu," ujar Shanum.


"Nih, baca disitu!" Mbak Surti menyerahkan selembar kertas berisi catatan pekerjaan yang harus dilakukan Shanum setiap hari. Mulai dari menyapu, ngepel, membuang sampah dan semua pekerjaan berat lainnya.


"Baiklah, saya harus mulai dari mana, Mbak?"tanya Shanum.


"Semua yang dilantai bawah, tapi tidak dengan kamar nyonya Sonia, kau dilarang masuk kesana!" ucap Mbak Surti ketus. Sepertinya wanita itu ikut-ikutan membenci Shanum.


"Baiklah,!" Shanum memulai pekerjaannya, mengikuti semua yang dituliskan nyonya Sonia. Untunglah kehamilannya tidak begitu menyiksanya, hingga Shanum bisa bekerja dengan baik.


Hampir setengah hari, Shanum baru selesai membersihkan rumah besar itu. Dia merasa lapar, dan haus, karena perutnya belum diisi dari pagi.


"Mbak, aku lapar, apa aku sudah boleh makan?" tanya Shanum pada Mbak Surti, yang sedang sibuk menyiapkan makanan untuk makan siang.


"Nih,jatahmu?" Surti menunjuk sepiring nasi, dengan lauk seadanya, sepotong tahu dan tempe serta telur ceplok. Buat Shanum tidak masalah, karena dari dulu, itu adalah makanan sehari-hari nya.


"Terimakasih, Mbak !" Shanum segera memakan makanan itu dengan lahap, karena perutnya sangat lapar sekali. Apalagi, dia harus berbagi dengan bayi yang ada didalam rahimnya.

__ADS_1


"Sabar ya nak, jangan nakal dalam perut, mama!" Shanum mengelus perutnya yang masih rata.


__ADS_2