Bunda (Cinta Yang Hilang)

Bunda (Cinta Yang Hilang)
AKU INGIN BUNDA


__ADS_3

Shera dan Sheina menangis sejadi-jadinya, begitu mereka sampai dirumah.


"Kenapa nangis, Sayang? ada apa ?" Devan memeluk kedua putri kembarnya itu.


"Tadi kami ketemu Bunda, Ayah! Tapi Oma tidak mengizinkan kita bicara sama Bunda," adu Shera.


"Ketemu Bunda dimana?"


"Di Mall ayah, aku ingin bertemu Bunda !" rengek Shera.


"Aku juga Ayah, aku ingin Bunda!" Shena ikut menangis memeluk ayahnya.


"Ya udah, kalian kekamar dulu ya, nanti ayah bicara sama Oma!" Devan keluar mencari mamanya, wajahnya tampak suram.


"Mereka hanya salah orang, Devan!" ketus Nyonya Sonia, begitu masuk kedalam rumah.


"Salah orang gimana, Ma? Nggak mungkin kan Shena dan Shera salah ngenalin Bundanya," ujar Devan kesal dengan sikap arogan mamanya.


"Sudahlah Devan, mama capek? mulai sekarang kamu urus saja anak-anakmu itu sendiri," teriak Mami Sonia kesal. Kemudian dia masuk kedalam kamar, dan menguncinya dari dalam.


Devan menarik nafas panjang. Devan keluar dari rumah, kepalanya pusing, Sikembar Shera dan Shena tidak mau bicara dengannya sebelum bertemu Bunda mereka. Putri sulungnya Jasmine pun mengunci diri kamarnya, tidak ada yang dia lakukan selain bermain game lewat ponselnya.


Sementara, Vania sibuk dengan teman-teman arisannya. Bahkan mengabaikan putra kecilnya, Darren.


"Dari mana saja kamu, Vania!" tanya Devan saat, wanita itu masuk kedalam rumah, waktu menunjukkan pukul 02.00 dini hari.


"Ada party dirumah temanku," jawab Devan santai.


"Sampai larut malam begini? kamu nggak kasihan sama Darren?" ucap Devan dengan emosi.


"Ya elah, Van! kan ada mbak Ani yang jagain, gitu aja kok marah sih, aku juga butuh hiburan kali," jawab Vania santai.


"Kamu itu kok sudah dibilangin sih, Van, nggak kayak Shanum yang nurut, nggak bertingkah yang aneh-aneh kayak kamu!" gerutu Devan.


"Oh ya !? sudah mulai banding-banding kan nih, emang aku bukan Shanum, aku bukan perempuan bodoh, yang mau saja dibohongi," Vania tampak emosi.


"Nggak dirumah mama, disini, semuanya sama maunya menang sendiri," dengan kesal Devan keluar dari rumah Vanya dan pergi ke Club malam untuk menenangkan pikirannya yang kacau.


Devan memesan minuman beralkohol disana, baru kali ini dalam hidup Devan, berkenalan dengan minuman keras. Kepergian Shanum dari hidupnya, membuat Devan menyadari bahwa, Shanum adalah wanita yang baik dan sangat menghormatinya, Shanum tidak pernah membantah, walaupun keinginannya sering Devan abaikan.


"Maafkan aku, Shanum!" gumamnya sambil memejamkan matanya yang terasa berat. Devan berjalan gontai keluar Club malam, seorang wanita berpakaian sexy menghampirinya dengan bergelayut manja dilengan Devan.

__ADS_1


"Mau aku antar pulang, Mas?" ucapnya manja.


"Pergi! jangan ganggu gue!" Devan mendorong tubuh wanita itu dengan kasar.


"Kasar amat sih, mas,"gerutu wanita itu cemberut. Devan pulang kerumah dengan menggunakan taksi dan meninggalkan mobilnya di Club malam itu.


"Devan...! kamu mabuk?" Vanya tampak kaget saat Devan pulang dalam keadaan kacau dan berantakan.


"Awas, jangan ganggu aku, aku mau tidur," Devan masuk ke kamar tamu dan menghempaskan tubuhnya diranjang, tanpa memperdulikan omelan Vania.


...----------------...


"Vania, Devan mana? kenapa dia belum berangkat ke kantor, orang-orang dikantor nyariin Devan!" tanya mama Sonia, saat menghubungi ponsel Vania, Karena ponsel Devan tidak bisa dihubungi.


"Devan masih tidur, Mam! dia ke Club semalam, dan baru pulang subuh, dalam keadaan mabuk," adu Vanya.


"Apa? Devan mabuk ? jangan bohong kamu, Vanya!" sahut mama Sonya tidak percaya, karena setahunya Devan tidak pernah menyentuh minuman haram tersebut.


"Kalau mama tidak percaya, ya udah...liat saja sendiri kemari!" ujar Vanya ketus


Selama ini, Mama Sonia, mengenal Devan sebagai anak yang baik dan tidak macam-macam, putranya itu selalu menjaga pola makannya, rajin berolahraga dan hidup sehat.


Tapi sekarang, mama Sonia kaget , mendengar Devan pulang dalam keadaan mabuk. Wanita baya itu segera pergi kerumah menantunya, Vanya.


"Devan, bangun!" Mama Sonya menggoyang-goyangkan pundak anaknya itu dengan wajah kesal.


"Ada apa sih, Ma? jangan ganggu aku, aku lagi pusing.!" jawab Devan dengan suara seraknya.


"Devan, hari ini ada pertemuan dengan Tuan Harland, dia itu orang penting, jangan sampai kerjasama kita dengan perusahaan internasional itu gagal, karena kamu mabuk begini?" ujar Mami Sonya.


"Biarin saja, Ma! aku pusing, capek!" Devan menutup kedua kupingnya dengan bantal.


"Devan, kamu jangan gini, dong! jangan bikin papamu kecewa!" teriak Mama Sonia lagi.


"Ya udah suruh saja Papa yang kesana," ketus Devan.


"Devaaan...!" teriak Mami Sonya dengan kesal. Namun Devan tidak bergeming.


Entah apa yang membuat Devan merasa kehilangan semangat hidupnya. Diawal pernikahannya dengan Vanya, semuanya baik-baik saja. Namun setelah Shanum pergi, Devan seolah kehilangan separuh jiwanya. Walau dia mencoba mengingkari perasaannya. Namun makin lama, hatinya makin merasa hampa. Devan merasa sedih, setiap kali anak-anak menanyakan tentang Bunda mereka.


Devan marah pada mama Sonya dan Vanya, yang sekarang tidak memperdulikan mental anak-anaknya. Namun dia tidak bisa melakukan apa-apa, karena Devan sendiri masih bergantung pada keluarganya.

__ADS_1


...----------------...


Harland baru saja sampai dirumah, padahal waktu baru menunjukkan pukul 10 pagi.


"Lho, kok udah pulang, Lan," tanya Sang Mommy, saat melihat Harland masuk kedalam rumah.


"Pertemuannya batal, Mom!"


"Kenapa bisa batal? nggak profesional sekali mereka!" ucap Mami Sarah.


"Nggak tau Mom, biarin aja...kita nggak bakalan rugi, jika tidak bekerja sama dengan perusahaan Adam Mahendra," kata Harland santai.


"Lain kali, nggak usah ladenin mereka, jika mereka datang lagi!" ujar Mommy Sarah.


Harland hanya mengangguk, mengiyakan maminya.


"Flo, mana Mom,...aku mau bermain sama dia!" kata Harland mengingat putri kecilnya.


"Sebentar Mommy panggilkan Shanum!" Mommy Sarah naik kelantai atas untuk memanggil Shanum.


"Shanum, ajak Flo ke bawah ya, Daddynya ingin bermain!" kata Mami Sarah.


"Iya sebentar Mami, Saya bersihin dulu, soalnya Flo habis pub," sahut Shanum


"Oh, ya udah, Mommy turun dulu ya !"


" Ya Mom!" Shanum segera merapikan baby Flo dan menghiasi rambut tebal Flo dengan bandana lucu.


"Mmh, anak Bunda udah cantik, ayo kita ketemu Daddy!" seru Shanum sambil mencium pipi Flo yang sudah semakin Chubby.


"Daddy....Flo datang !" seru Shanum sambil menurunkan Flo didepan Harland.


Harland tersenyum, saat Shanum menirukan suara bayi dan memanggilnya Daddy. Shanum menyadari ucapannya dan menutup mulutnya malu.


"Maaf, Tuan!" ucap Shanum saat menyadari kesalahannya.


"Tidak masalah, Shanum...nanti sore aku mau mengajak Flo ke wahana bermain,kamu harus ikut!" perintah Harland.


"Baik, Tuan!" jawab Shanum singkat.


Harland tampak riang bermain dengan putri kecilnya itu. sekali-kali pria itu mengangkat tubuh mungil itu keatas kepalanya. Membuat Baby Flo tertawa bahagia.

__ADS_1


Tak terasa, air mata menetes disudut kelopak matanya yang indah. Shanum teringat anak-anaknya yang tidak pernah mendapatkan kasih sayang yang utuh dari Ayah dan Ibunya.


__ADS_2