
Setelah mendapat informasi dari Vania, Harland bergegas menuju apartemen seorang pria yang bernama Hary. Apartemen itu terletak di pusat kota, tak jauh dari perusahaan DHM company. Monica tidak dapat mengelak, saat Harland datang menangkapnya bersama dua orang polisi.
"Harland, jangan bawa gue kekantor polisi, please! " Monica memohon.
"Kamu sudah keterlaluan Monica, kamu harus bertanggung jawab atas apa yang telah kamu perbuat,"ujar Harland marah.
"Aku tahu aku salah, semua karena aku masih mencintai Harland," ratap Monica bersimpuh di kaki mantan suaminya itu.
"Hah, percuma sekarang kamu bilang cinta, Monica, aku sudah memberimu kesempatan, tapi kau menyia-nyiakan kesempatan itu, sekarang kau harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu karena kau telah membuat istriku hancur!" Harland meninggalkan Monica dan meminta polisi membawa mantan istrinya itu.
"Harland....! Tunggu aku...!" teriak Monica memanggil pria itu. Namun Harland tidak menoleh lagi padanya.
"Ayo Nyonya! ikut kami ke kantor polisi!" kedua petugas dari kepolisian itu memasangkan borgol ketangan Monica dan menggiringnya ke kantor polisi.
Monica menangis sejadi-jadinya, tapi percuma, tidak ada seorang pun yang mau menolongnya, begitupun dengan Hary dan juga selingkuhannya Bos Eman.
Monica meringkuk seorang diri, dilantai penjara yang dingin, dia masih berada di kantor polisi sektor. Monica menghubungi Eman, pemilik agensi yang juga selingkuhannya. Namun pria itu tidak mengangkat panggilannya.
"Brengsek kalian semua!' teriak Monica marah, wanita itu tampak kacau, Monica memukul-mukul perutnya dengan keras.
"Semua karena kamu, anak sialan...karena kamu aku tidak bisa lagi bekerja jadi model, Semua karena Eman sialan itu," Monica berteriak-teriak kesetanan.
"NYONYA, TOLONG JANGAN BERISIK!" bentak petugas polisi yang sedang berjaga.
"Keluarkan aku pak! Kalian tidak tahu siapa aku, aku ini selebritis!" teriak Monica seperti orang gila.
"Silahkan hubungi pengacara anda, Nyonya!" petugas itu segera pergi dari sel tempat Monica ditahan. Monica menyandarkan tubuhnya di tembok penjara yang dingin.Tubuhnya luruh kelantai, dia tidak punya uang lagi untuk membayar pengacara, seluruh tabungannya telah habis untuk berfoya-foya.
"Selamat Siang, Monica!" sapa seseorang dari luar sel, dengan senyum jahatnya.
"Vania, tolong gue...keluarkan gue dari sini, Please! hanya Lo teman baik gue kan?" seru Monica menghiba, saat Vania datang menemuinya.
__ADS_1
"Teman...?" Apa seorang teman itu, tega memeras temannya sendiri? Kurasa tidak, maaf Monica aku tidak bisa membantumu!" jawab Vania santai.
"Please Vania, gue nggak bakal memeras Lo lagi, gue akan menghapus video itu dari ponsel gue!" janji Monica.
"Gue tidak percaya lagi pada lo, Monica! Lo itu licik, Lo pantas berada disini. Selamat menikmati indahnya menginap di hotel prodeo ini, bye!" Vania berjalan dengan santai meninggalkan Monica yang tampak kesal dan marah.
"Awas Lo, Vania! Lo gue akan sebar Video mesum Lo di media sosial, biar kita sama-sama hancur." geram Monica.
Monica memejamkan matanya, penyesalan memang selalu datangnya diakhir. Masa-masa indah yang dijalani bersama Harland, hanya menjadi tinggal kenangan. Semua karena kesalahan Monica sendiri. Monica yang terbuai oleh indahnya rayuan seorang pria yang menjadi bos agensi model tempat dia bernaung.
Pertemuan Monica dengan Harland bermula, saat Monica dan Vania menjadi Brand ambassador sebuah produk kecantikan yang diproduksi perusahaan Harland. Saat itu, Harland memang tidak mempunyai kekasih, karena dia adalah seorang pekerja keras. Harland berusaha menyelamatkan perusahaan yang telah dirintis Daddy Aldrich dan Mommy Sarah, setelah Daddy Aldrich meninggal.
Monica dan Vania, bersaing mendapatkan perhatian Harland. Pilihan Harland jatuh pada Monica, pada saat itu Harland merasa bersalah, karena telah meniduri Monica dalam keadaan mabuk berat. Harland tidak menyadari kalau Monica yang telah menjebaknya. Hingga mereka menikah.
Kehidupan Monica berjalan sempurna, selama beberapa tahun pernikahan. Hingga Mommy Sarah menuntut Monica untuk memiliki seorang anak. Monica yang tidak ingin mempunyai anak. Demi menjaga bentuk tubuhnya agar tetap ideal, Monica menggunakan alat kontrasepsi tanpa sepengetahuan Harland.
Kesibukan Harland mengurus perusahaannya di luar negeri, membuat Monica kesepian dan berselingkuh dengan Bos Agensinya, yang memberinya kehangatan dan kepuasan. Hingga Mommy Sarah mengetahui tentang perselingkuhannya dan menuntut Monica untuk menceraikan Harland.
Shanum masih tergolek lemah di brankar rumah sakit. Dia masih belum berani bergerak, karena bagian tubuh bawahnya masih terasa sakit. Bahkan untuk buang air pun, Shanum harus menahan sakit yang luar biasa.
"Shanum,...kamu menginginkan sesuatu?" tanya Harland saat menjaga Shanum dirumah sakit.
"Tidak kak,...bagaimana kabar anak-anak?" tanya Shanum lirih.
"Jasmine dan si kembar sudah di jemput Devan, ...Flo bersama Bianca," jawab Harland lembut.
"Kak, apa kakak sudah menemukan Monica?" tanya Shanum.
"Sudah, dia sekarang berada di penjara," kata Harland.
__ADS_1
"Kasihan Monica ya Kak, dia lagi hamil...tapi suaminya tidak ada!" ujar Shanum.
"Dia tidak pantas dikasihani, Shanum! Dia harus menerima konsekuensi atas perbuatannya," jawab Harland.
"Ya, Kak!" jawab Shanum mengangguk.
"Kamu mau makan, biar Aku suap kan!" Harland mengambil makanan yang ada diatas meja yang baru saja di antar petugas rumah sakit.
"Dikit aja ya kak !" ujar Shanum. Harland menyuapi Shanum dengan telaten.
"Kak, Kakak nggak ke kantor?" tanya Shanum.
"Sekarang ada Arsen, sejak ada Arsen dikantor, semua pekerjaan di handle sama dia, aku bisa sedikit lebih santai. Dan yang terpenting aku punya banyak waktu bermain dengan anak-anak," jawab Arsen.
Shanum tersenyum, dia.mengagumi Harland sebagai seorang ayah yang baik untuk Flower, Harland juga menyayangi Jasmine dan si kembar Shera dan Shena.
"Kak Aland, apakah Kakak menginginkan seorang anak dariku?" tanya Shanum.
Harland memandang Shanum dengan tatapan mesra. Pria itu mengusap pipi Shanum lembut.
"Tentu saja, Shanum, walau sudah ada Flower, aku menginginkan anakku yang lahir dari rahimmu," Ujar Harland sambil menyentuh perut Shanum yang masih rata.
"Tapi, tidak harus laki-laki kan?" tanya Shanum lagi. Shanum masih trauma dengan pernikahannya dengan Devan yang menuntut seorang anak laki-laki darinya.
"Laki-laki atau perempuan, tak masalah asalkan dia sehat." Shanum tersenyum bahagia.
"Kak, aku ingin cepat pulang kerumah, kasihan Flo terlalu lama ditinggal,"kata Shanum.
"Kalau sudah merasa lebih baik, nanti kita bicarakan dengan dokter," Shanum menggangguk, kehadiran Harland membuat Shanum merasa lebih baik, dia sudah menerima perbuatan Harland yang membuatnya harus menginap di rumah sakit, setelah pria itu berkali-kali meminta maaf, setiap kali menemaninya di rumah sakit.
"
__ADS_1