
Bianca masih berada di ruangan Harland, Arsen kembali ke ruang kerjanya yang terletak di sebelah kantor Harland. Bianca berjalan keluar ruangan, dia mendengar suara tawa renyah dari ruangan kerja Arsen, rasa penasaran membuat Bianca mengintip dari balik pintu yang sedikit terbuka.
"Arsen, sepertinya nona Bianca menyukaimu!" kata Maya yang berdiri tepat disamping Arsen.
"Tidak, justru dia sangat membenciku, biarkan saja aku juga tidak menyukainya, dia itu sombong dan Arogan, dulu aku memang menyukainya, tapi sekarang rasa itu sudah hilang!" jawab Arsen.
"Mmh, jadi aku masih punya kesempatan dong, untuk menjadi kekasihmu?" rayu Maya sambil menyandarkan tubuhnya dibahu Arsen dengan manja.
"Mmmh,...tentu saja!" jawab Arsen tersenyum manis. Bianca tampak marah dan kecewa, dia segera berbalik dan meninggalkan kantor Harland dengan berlinang air mata.
...----------------...
Bianca melempar tas kecilnya ke sembarang arah dan menjatuhkan tubuhnya kasar di atas sofa.
"Bianca, kenapa sayang? Kok wajahnya cemberut begitu?" sapa Shanum saat melihat adik iparnya itu diam dengan wajah kecewa.
"Arsen Kak?" rengek Bianca.
"Kenapa dengan Arsen?" tanya Shanum penasaran. Bianca menceritakan tentang pembicaraan Arsen dengan sekretaris Harland dikantor Harland.
"Benarkah?" Shanum tak percaya.
"Iya kak, aku denger sendiri, Arsen bicara seperti itu."
"Kakak akan bicara dengan Arsen nanti, kamu jangan khawatir, Arsen akan menjadi milikmu, Bianca!" ujar Shanum.
"Tapi kak!"
"Percayakan semua pada Kakak!" kata Shanum, dan meninggalkan Bianca termangu sendiri diruang keluarga.
Sejak kejadian itu, Bianca lebih banyak diam dan menghindar agar tidak bertemu Arsen. Dia meminta Mommy Sarah segera membelikannya tiket pesawat, untuk segera kembali ke Amerika Serikat.
"Kenapa buru-buru Bi, bukankah kamu tinggal menunggu wisuda sayang! Mommy Sarah mengingatkan.
"Iya Mom, tapi aku ingin menyelesaikan semuanya sebelum wisuda, aku menunggu Mommy dan Kak Harland juga Kak Shanum bisa hadir saat aku wisuda nanti!" ucap Ava.
"Baiklah kalau itu keinginanmu, Mommy pasti akan pergi kesana jika kamu wisuda nanti!" jawab Mommy Sarah.
__ADS_1
Bianca bersiap-siap untuk kembali ke negara Paman Sam, dengan tidak terlalu membawa banyak barang. Dia sudah meminta izin Harland sebelum kakaknya itu berangkat ke kantor.
"Mommy...! Kak Shanum...! Aku berangkat ya!" Bianca pamit pada Mommy dan kakak iparnya.
"Yakin, tidak mau diantar Bi?"tanya Mommy Sarah lagi.
"Ya Mommy! Aku naik Taxi online saja, sebentar lagi taksinya pasti datang, aku tunggu diluar, bye Mommy!" Bianca mencium pipi Sang Mommy lembut sebelum Gadis itu keluar dari halaman rumahnya yang luas.
Beberapa saat Bianca berdiri, tiba-tiba seseorang menyekapnya dari belakang, Bianca dipaksa masuk ke dalam mobil, yang dikendarai oleh seseorang yang begitu ingin dia hindari.
"Apa yang lakukan, Arsen?Kenapa Kau menculik ku?" Bianca tampak kesal dan marah.
"Kenapa menghindar dariku?" Arsen balik bertanya.
"Karena aku membencimu, Arsen!" teriak Bianca.
"Benci dan cinta itu beda tipis Bianca!"! ujar Arsen tersenyum tipis.
"Kau akan membawaku kemana, Arsen? lepaskan aku! Atau aku akan melompat dari mobil ini," ancam Bianca.
"Jangan macam-macam denganku, Arsen! Atau kau akan berurusan dengan kakakku!" Teriak Bianca marah.
"Aku tidak akan melakukan apapun padamu, Bianca, kalau bukan kamu yang memaksa!" Arsen mengendarai mobilnya menuju sebuah villa yang terletak di pinggir pantai.
"Ayo turun, Bi!" Arsen membukakan pintu mobilnya untuk Bianca, namun gadis itu menolaknya.
"Aku tidak mau, Arsen! antar kan aku ke bandara!" teriak Bianca.
"Aku akan mengantarmu, setelah kita selesai bicara, sekarang menurut lah!" Arsen menarik tangan Bianca untuk segera turun dari dalam mobil. Kemudian membawanya masuk ke dalam Villa dan duduk di balkon yang mengajak langsung ke laut lepas.
Keduanya saling diam, yang terdengar hanyalah suara deburan ombak laut yang berlarian memecah di pinggir pantai.
"Bi, aku minta maaf, harus melakukan hal ini padamu! Karena kamu menghindar beberapa hari belakangan ini," jelas Arsen.
"Apa salahnya aku menghindar, bukankah kamu juga membenciku?"
"Siapa bilang aku membencimu? Perasaanku tidak berubah padamu, Bianca! walaupun kau menolak ku berkali-kali."
__ADS_1
"Bukankah kau yang bilang, kalau aku ini sombong dan Arogan dan kamu membenciku, bukan?" Bianca mencoba untuk meminta penjelasan tentang perasaan Arsen padanya.
"Ya, aku sengaja mengatakan itu, karena aku ingin tahu perasaanmu yang sebenarnya padaku, aku tahu kamu menghindariku karena cemburu pada Maya," Bianca memalingkan wajahnya memandang kosong kearah laut lepas. Namun Arsen benar, dia menghindar dari Arsen karena cemburu melihat kedekatan Arsen dengan sekretaris kakaknya Maya.
"Ya, aku cemburu, lalu apa lagi yang kau inginkan, sekarang antar kan aku ke Bandara, sebentar lagi pesawatku akan take off," Bianca masih dalam mode kesalnya.
Arsen mendekatkan tubuhnya kearah Bianca, Bianca mencoba menghindar, namun dibelakangnya terhalang dinding pembatas Balkon.
Arsen meraih wajah Bianca perlahan, wajahnya semakin mendekat, mengikis jarak yang ada diantara mereka, Bianca menahan nafasnya saat hangatnya nafas pria itu menyentuh bibirnya, Bianca terkesiap spontan dia mendorong tubuh Arsen dengan kuat, namun tenaganya kalah kuat oleh tubuh Arsen yang kekar.
"Lepaskan aku, Arsen, jangan kurang ajar!" Bianca berusaha melepaskan diri dari Arsen. Namun Arsen mengunci kedua tangannya keatas kepalanya. Dan kembali ******* bibir ranum Bianca dengan lembut. Bianca terbuai sesaat, hatinya ingin menolak tapi tubuhnya berkata lain.
"Bianca, asal kamu tahu, aku menjaga hatiku selama ini, hanya untuk dapat memilikimu, aku berjuang keras, agar aku merasa pantas bersanding denganmu!" Arsen menjeda ucapannya. Bianca menelan ludahnya kasar.
"Aku mencintaimu Bianca?" Arsen memberanikan diri memeluk wanita itu, Bianca merasa lemah, membiarkan dirinya luruh dalam pelukan Arsen. Bianca menangis haru. Dia tahu Arsen telah berjuang keras untuk mendapatkan cintanya. Tapi Bianca merasa takut jika Arsen hanya mempermainkan dirinya. Karena menurut Bianca, Arsen pasti masih menyimpan dendam padanya. Karena pernah menolaknya berkali-kali.
"Kau meragukan ku, Bianca!" Arsen seolah mampu membaca pikirannya.
"Maafkan aku Arsen!" Bianca menangis dalam pelukan pria itu.
"Katakan kalau kau juga mencintaiku Bianca!" desak pria itu.
Bianca mencoba menyelami pikiran Arsen, keraguan itu kembali muncul, ketakutan Bianca justru semakin menjadi.
"Aku takut!" jawab Bianca jujur.
"Takut apa?"
"Aku takut kau akan mencampakkan aku, setelah aku jatuh dalam perangkap mu!" entah dari mana datangnya keberanian Bianca untuk mengatakan yang sejujurnya kepada Arsen.
Arsen tertawa samar, "Pikiran seperti apa itu, sayang! Aku mencintaimu, Bianca! aku akan membuktikannya padamu," Sepertinya Arsen belum menyerah untuk meyakinkan Bianca, bahwa cintanya untuk Bianca tidak pernah berubah.
"Bianca!" Arsen menyentuh wajah lembut Bianca dengan tangannya, membelainya dan mencium lembut kening Bianca. Bianca memejamkan matanya, sentuhan lembut Arsen membuatnya terbuai, makin lama sentuhan itu semakin menuntut, sekarang bukan lagi wajah, jari jemari Arsen menari dengan lincah menyusuri setiap jengkal tubuh Bianca, melepaskan satu demi satu kancing kemeja yang dipakai gadis itu.
"Ah...Arsen, apa yang kau lakukan padaku?" Suara de***an Bianca membuat Arsen semakin berani menjamah tubuh ramping itu. Bianca sudah berada di atas awan, terbang bersama indahnya kupu-kupu yang beterbangan. Di iringi deburan ombak yang memecah di pantai, dan tiupan angin yang menyegarkan Sukma. Keduanya tenggelam dalam hasrat yang bergelora. Hingga tanpa sadar Bianca sudah menyerahkan dirinya pada pria yang di cintainya itu.
Bersambung....
__ADS_1