Bunda (Cinta Yang Hilang)

Bunda (Cinta Yang Hilang)
KELICIKAN MONICA


__ADS_3

Dengan langkah lebar, Harland turun dari taksi, bergegas ia berjalan menuju gedung rumah sakit, tempat Monica di rawat. Vania menyambut Harland dengan senyum merekah di wajahnya.


"Harland, akhirnya kamu datang juga?" Seru Vania ingin memeluk pria itu, namun Harland menolak untuk di sentuh.


"Sorry, Vania! Di mana letak ruangan Monica?" tanya Harland.


"Di ruangan sebelah kiri dari lorong ini, kamar nomor 152," jawab Vania masam.


Harland bergegas, memasuki ruangan yang dimaksud oleh Vania. Perlahan Harland membuka pintu kamar, seorang perawat baru saja selesai membersihkan tubuh Monica, yang masih koma.


"Monica, ini aku Harland, bangunlah! Apa yang terjadi denganmu?" Harland duduk di samping tempat Monica terbaring.


Tidak ada sahutan. Harland kemudian keluar dari ruangan itu dan mencari dokter yang menangani Monica.


"Nyonya Monica mengalami gegar otak, tapi masih bisa disembuhkan." Kata dokter.


"Berapa lama Monica harus dirawat disini, dok?"


"Melihat keinginan Nyonya Monica untuk hidup, Pak Harland, jika dia mampu bertahan, dia akan sembuh!" kata dokter.


"Baiklah, lakukan yang terbaik, Dokter! Berapapun biayanya!" pinta Harland.


"Baik Pak Harland!" kata dokter.


Harland kembali ke ruangan tempat Monica dirawat. Dia menghubungi Shanum via Video Call.


"Kak Aland, Kakak sudah sampai?" tanya Shanum sambil mengarahkan kamera ponsel pada putranya, Gabriel.


"Baru saja, Bunda! Anak Daddy lagi ngapain? Hai Gabriel!" Harland melambaikan tangannya pada si kecil, anak itu tertawa lebar melihat Harland di layar ponsel.


"Bagaimana keadaan Monica,Kak?" tanya Shanum.


Harland mengarahkan kameranya pada Monica yang masih belum bangun dari komanya.


"Kasihan Monica ya, Kak!"


"Iya sayang, mungkin aku akan beberapa hari disini!"


"Harland...!" panggil Mommy Sarah, mengambil ponsel Shanum dari tangannya.


"Ya Mom!" jawab Harland.


"Dengar Mommy, jangan terlalu memberi perhatian pada Monica, nanti dia bisa besar kepala, hati-hati dengan ular itu! Jangan sampai kamu terjerat untuk yang kedua kalinya." tegas Mommy Sarah.


"Ya, Mom! Aku mengerti, jika Monica sudah sadar, aku akan mencari orang untuk merawatnya hingga sembuh," kata Harland.


"Begitu lebih baik, Aland!" ucap Mommy Sarah.


Hari ketiga Harland di rumah sakit, Monica mulai sadar dari komanya, dia tampak bahagia dengan kehadiran Harland didekatnya.


"Harland, kamu disini!"


"Syukurlah, kamu sudah sadar, Monica!"


"Harland, maafkan aku, aku sudah banyak melakukan kesalahan, tapi kamu masih mau merawat ku disini," kata Monica tulus.


"Aku melakukannya karena permintaan Shanum," Kata Harland, membuat wajah Monica langsung berubah merah.


"Oh, sampaikan rasa terima kasihku pada Shanum!" ujar Monica menyembunyikan rasa kesalnya.


"Nanti akan aku sampaikan, bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya Harland.

__ADS_1


"Sudah lebih baik, aku ingin pulang secepatnya, Harland!"


"Nanti akan ku bicarakan dengan dokter, kalau kamu sudah bisa pulang, aku akan mengantarmu, setelah itu aku akan kembali ke Jakarta," Monica mengangguk.


Harland kembali menghubungi Shanum, dan mengatakan kalau Monica sudah sembuh.


"Kapan kamu kembali, ke Jakarta Lan?"tanya Mommy Sarah.


"Mungkin besok Mi, setelah mengantar Monica pulang dari rumah sakit!" jawab Harland.


Mommy Sarah menarik nafas panjang,


"Shanum, susul Harland ke Surabaya!" kata Mommy Sarah.


"Memangnya kenapa, Mi? besok Kak Harland kan pulang!"


"Kalau kata Mommy pergi, pergi Shanum, jangan sampai kamu nanti menyesal, Mommy sudah bilang, kalau Monica itu licik, jangan sampai dia mengambil kesempatan atas kebaikan Harland!" ucap Mommy Sarah.


"Baiklah, Mommy, Aku berangkat sekarang, aku titip Gabriel ya Mi!" kata Shanum.


"Nggak usah bawa banyak barang, Shanum, beli aja di sana, nanti!"


"Ya Mi! Aku berangkat ya!" pamit Shanum, sambil mencium punggung tangan mertuanya hormat.


"Hati-hati, Shanum!" pesan Sarah. Shanum mengangguk.


Shanum sampai di Surabaya, waktu sudah menunjukkan pukul 08.00 malam. Dia kemudian menanyakan kamar tempat Harland menginap. Petugas hotel memberikan kunci kamar Harland, setelah memperlihatkan identitasnya kepada petugas.


Shanum segera membersihkan dirinya di kamar mandi. Di luar, Harland baru saja datang dalam keadaan mabuk, di papah oleh Monica dengan dibantu seorang petugas keamanan hotel.


"Kamar atas nama Harland Myers, kamar nomor berapa ya?" tanya Monica pada resepsionis.


"Oke, makasih!" Senyuman lebar tergambar di wajah Monica, membayangkan dirinya akan memiliki Harland malam ini seutuhnya.


"Cepetan Mas!" seru Monica pada petugas hotel yang membantu memapah Harland ke kamarnya.


"Sudah Mas, kamu boleh keluar!" kata Monica pada petugas keamanan hotel, sambil memberinya uang tips.


"Sebentar Mas!" Shanum keluar dari kamar mandi, dan kembali memanggil petugas itu.


Monica tampak kaget melihat kehadiran Shanum di kamar Harland.


"Ada apa, Nyonya ?" tanya petugas itu heran.


Shanum berjalan mendekati Monica yang sudah duduk di atas ranjang bersama Harland.


"Terimakasih, sudah mengantar suamiku ke mari, Monica! Kamu boleh pergi sekarang!" ujar Shanum.


"Kau...!!" Monica tampak marah, dan hendak menyerang Shanum. Namun Shanum masih bisa menghindar.


"Mas, tolong bawa wanita tidak tahu diri ini, keluar," kata Shanum.


"Baik, Nyonya!" Petugas keamanan itu menarik Monica keluar dari kamar hotel. Shanum tersenyum simpul sambil melambaikan tangannya, dan segera mengunci pintu kamar hotel.


Shanum menarik nafas lega, ternyata feeling Mommy Sarah benar, Monica memang seorang wanita yang licik, dan menghalalkan segala cara untuk mencapai ambisinya.


Shanum mendekati Harland yang tampak mulai gelisah, pria itu melonggarkan dasi yang dia pakai.


"Kenapa panas sekali, Sayang?" Harland menarik kemeja yang dipakainya dan membuangnya ke sembarang arah.


"Kak, sebaiknya Kakak berendam dulu ke kamar mandi?" kata Shanum.

__ADS_1


"Shanum, kamu kah itu?" Harland mengucek matanya, pandangan nya terasa kabur.


"Iya kak, ini aku Shanum?" Shanum membaringkan tubuhnya disamping Harland.


"Shanum, Oh...aku tidak tahan lagi!" Harland menarik tubuh Shanum dalam kungkungannya. Tubuhnya seperti terbakar hasrat yang menyala-nyala, dan membutuhkan pelampiasan untuk memadamkannya.


Harland sudah melepaskan seluruh pakaiannya, Shanum pun sudah bersiap untuk menghadapi serangan suaminya, walau ada rasa takut, dengan kejadian yang sama saat malam pertama mereka.


Shanum menggigit bibir bawahnya dengan keras, saat Harland melakukan penyatuannya. Menciumi setiap inci kulitnya dengan buas. Untunglah sekarang Shanum bisa mengimbangi permainan suaminya. Hingga Shanum bisa menikmati indahnya surga dunia.


Shanum meregangkan tubuhnya yang terasa pegal, karena gempuran suaminya semalam.


Harland masih tertidur dengan lelap, sepertinya pengaruh obat perangsang itu masih terasa kuat.


Shanum, Melepaskan diri dari pelukan suaminya. Bergegas ke kamar mandi, untuk membersihkan diri. Beberapa menit kemudian Shanum sudah kembali ke kamar.


Dia melihat Harland yang tampak bingung dengan keadaan tubuhnya yang hanya ditutupi selimut.


"Sudah bangun, Kak?" Shanum mendekati Harland yang tersenyum lega setelah melihatnya.


"Shanum, kamu disini? Aku pikir...!"


"Tidur dengan Monica?" potong Shanum.


"Bagaimana bisa kamu ada disini, sayang!" Harland menarik Shanum ke dalam pelukannya.


"Ternyata, feeling Mommy benar, Mommy memaksaku untuk menyusul kakak kemari!" Shanum melingkarkan kedua tangannya di leher Harland.


"Kemana perginya, wanita itu?"


"Entahlah, aku hanya menyuruh satpam membawanya keluar kamar, mungkin dia masih didepan nungguin kita keluar," ujar Shanum tertawa lepas.


"Wanita itu tidak ada kapok-kapoknya!" gerutu Harland kesal.


"Sudahlah, biar jadi pelajaran buat kita, agar tidak terlalu percaya kepada orang lain, apalagi orang seperti Monica," kata Shanum.


"Kamu benar, sayang!" Harland mengecup kening istrinya dengan lembut.


"Sekarang mandi dan kita makan, perutku lapar sekali, belum makan sejak berangkat kemaren, setelah itu kita kembali ke Jakarta!" kata Shanum.


"Kita kembali ke Jakarta besok saja, kita akan menghabiskan hari di sini, hitung-hitung, mengganti hari bulan madu kita yang tertunda," goda Harland, sambil kembali menciumi leher Ava.


"Kak, makan dulu, lapar!" rengek Shanum manja.


"Pesan layanan kamar saja," Harland menelpon petugas hotel untuk memesan makanan.


"Ya udah, sekarang mandi dulu sana? Bau!" Shanum mendorong Harland agar mau ke kamar mandi.


"Mandiin!"


"Nggak mau!"


"Kenapa?"


"Aku udah mandi, nanti basah lagi!"


"Nggak Pa pa! Aku ingin memberi adik buat Gabriel," Goda Harland


"Kaaakk!" Shanum menjerit kecil saat Harland mengangkat tubuhnya ke kamar mandi.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2