
Suasana dirumah keluarga Mahendra terlihat sepi, Tuan Adam Mahendra dan putranya Devan Agya Mahendra sedang pergi keluar kota, untuk menyelesaikan pekerjaan yang berhubungan dengan pekerjaan mereka dikantor. Vania sedang berada dirumah Mama Sonia untuk merencanakan sesuatu demi obsesi licik mereka untuk menjauhkan Shanum dari David Harland Myers. Yang menurut Mama Sonia, akan mengganggu, kerjasama antara Perusahaan yang dipimpin Harland dengan perusahaan keluarga Mahendra.
Setelah cara pertama gagal, mereka merencanakan cara lain untuk memisahkan Shanum dan Harland
"Mama, aku punya ide, bagaimana kalau kita jebak Shanum dengan Devan, seolah-olah mereka kembali bersatu," seru Vania
"Ide konyol apa itu, Vania? nggak....nggak, mama tidak setuju kalau kamu melibatkan Devan, nanti malah kita yang dipermalukan," ujar Mama Sonya.
"Trus apa dong, Mam?"
Mama Sonia mengerutkan keningnya, sambil memijit pelipisnya dengan jari tangannya.
"Kalau begitu kita culik saja Shanum?" seru Vanya lagi.
"Kamu pikir gampang, kita harus membayar orang dengan mahal, kalau ketahuan kita bisa dipenjara Vania, punya ide kok nggak ada yang bagus!" gerutu mami Sarah.
"Ya udah, Mami pikir saja sendiri, aku akan melakukan sendiri dengan caraku!" Vana tampak kesal dan pergi dari rumah itu.
Tanpa sengaja Jasmine, putri sulung, Shanum dan Devan, mendengar percakapan Omanya dan Mami sambungnya Vania. Jasmine mulai mengerti bahwa Bundanya menerima ketidakadilan dirumah itu. Gadis kecil yang sekarang menginjak usia 8 tahun, merencanakan untuk pergi menemui Bundanya. Diam-diam, Jasmine keluar dari rumah besar itu, dan menyusuri jalanan ibu kota yang panas dan menyengat siang hari. Jasmine tidak tahu pasti dimana tempat tinggal Bundanya, dia hanya mengikuti kemana kakinya melangkah.
Vania dengan penuh percaya diri, datang sendiri ke perusahaan Harland.
Walau tidak diizinkan untuk masuk, wanita itu nekad untuk menemui Harland.
"Ada apa lagi, Vania?" tanya Harland dengan suara dingin dan datar. Saat wanita tidak tahu diri itu masuk.
"Harland, aku cuma mengingatkanmu, bahwa Shanum tidak sebaik yang kamu pikirkan, ...dia itu munafik, kamu hanya dia jadikan alat untuk bertahan hidup, sama seperti halnya yang terjadi pada Devan," hasut Vania.
"Oh Ya !?...apakah itu merugikan mu?" tanya Harland santai.
"Oh, tidak sih, cuma aku kasihan sama kamu, kita sudah sahabatan dari lama, tidak ada salahnya kan, aku mengingatkanmu, sama seperti Monica dulu!"
"Tapi aku tidak keberatan, kalau Shanum menghabiskan uangku, kalau dia mau, aku akan memberikan 50% sahamku diperusahaan keluarga kami, sebagai hadiah pernikahan kami," lanjut Harland dengan sengaja memanas-manasi Vania. Wajah Vania berubah merah, dia tidak percaya Harland memberikan kekayaannya untuk Shanum, wanita kampung yang tidak berpendidikan.
"Oh ya, Vania....bilang sama keluarga Mahendra, sepertinya kerjasamaku dengan keluarga Mahendra tidak bisa kami lanjutkan, sekarang silahkan keluar, saya mau bekerja..!" Harland mengusir Vania dari ruangannya.
Vania akhirnya keluar dengan wajah masam.
"Apa sih istimewanya anak kampung itu, hingga Devan dan Harland bertekuk lutut," gumam Vania kesal.
Vania masuk kedalam rumah keluarga Mahendra dengan wajah cemberut.
"Gimana Vania, berhasil?" tanya Mama Sonia menunggu menantunya masuk ke dalam ruangan.
"Nggak Ma, Harland bilang tidak akan melanjutkan kerjasama dengan keluarga kita," ujar Vania.
"Pasti karena perempuan kampung itu, telah mempengaruhinya, awas ya!" Mama Sonia mendekap kedua tangannya di dada, wajahnya tampak kesal.
__ADS_1
Devan pulang ke rumah dengan tubuh yang lelah dan kusut, hari ini terasa berat ia jalani. Setelah gagal mencari tahu tentang putrinya yang ditinggalkan Shanum dirumah sakit. Sebuah Email masuk ke ponselnya, memberitahukan pengajuan kerjasama dengan perusahaan Harland ditolak.
"Ayah...!Ayah...! Kak Jasmine hilang!" seru si kembar berlarian dari lantai atas, menuruni tangga.
"Hilang bagaimana?" Devan buru-buru naik kelantai atas, dan masuk ke kamar Jasmine.
"Kakak pergi ayah, kakak mau cari Bunda?" kata Shena.
"Jasmine....!" gumam Devan, Devan merasa tubuhnya makin lemah.
"Ayah....ayo kita cari kak Jasmine!" kata Shera menarik tangan ayahnya.
"Baiklah, kalian ikut?"
"Ya Ayah, kami ikut," si kembar Sheira dan Sheina segera mengikuti ayahnya keluar rumah. Ketiganya masuk kedalam mobil, tanpa menghiraukan teriakan Mama Sonia yang menghentikan mereka.
Devan menyusuri jalanan kota yang ramai siang itu. Si kembar Sheira dan Shena menengok ke kiri dan ke kanan jalan, mencari sosok sang kakak. Tapi mereka tidak menemukannya.
"Aku akan menemui Shanum," gumam Devan, kemudian melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju tempat Shanum tinggal.
Mommy Sarah mengizinkan Devan untuk masuk, setelah Devan mengatakan kalau Jasmine menghilang.
"Bu Sarah, izinkan aku bertemu Shanum, sebentar saja!" mohon Devan.
"Tapi Shanum tidak ada disini, Devan, Shanum sedang keluar bersama Harland!" sahut Mommy Sarah.
"Kalau begitu, tolong hubungi dia!" desak Devan panik.
"Ya Mom, ada apa?" tanya Harland, saat telpon itu terhubung.
"Devan dirumah, katanya Jasmine menghilang, dia keluar dari rumah, hendak mencari Shanum, Bundanya,"
"Ya udah, Mom...! Kami akan segera pulang,"ucap Harland, sambil menarik nafas perlahan.
"Ada apa, Kak?" tanya Shanum memandang Harland khawatir.
"Jasmine menghilang, dia kabur dari rumah karena ingin mencarimu," kata Harland.
"Ya ampun, Jasmine!" Shanum tampak panik, dia mengkhawatirkan putri sulungnya itu.
"Tenang dulu, Shanum! Jangan panik...kita cari sama-sama," ujar Harland.
Harland segera masuk kedalam mobil diikuti Shanum dari belakang. Harland menghubungi Arsen dan meminta asistennya itu menyusuri jalanan menuju Mall, tempat Shanum pernah bertemu dengan Jasmine.
Hingga malam menjelang, Jasmine belum berhasil ditemukan. Hingga keesokan harinya, pencarian mereka gagal.
Shanum tidak berhenti menangis, dia mencemaskan Jasmine. Tiba-tiba Harland menerima telepon dari seseorang, yang mengatakan bahwa ia mengetahui keberadaan Jasmine.
__ADS_1
"Siapa ini?" tanya Harland.
"Ini aku Monica, aku akan memberitahu kamu dimana Jasmine berada, asal kau berikan uangku yang 1M itu," kata Monica.
"Kau mau memeras ku, Monica? Serahkan Jasmine atau kau akan berurusan dengan polisi!" ancam Harland.
"Aku tidak memeras mu, Harland, aku hanya menginginkan hak ku yang kau tangguhkan," ucap Monica.
"Baiklah, aku akan memberikan uang padamu, tapi kembalikan Jasmine dalam keadaan sehat." ucap Harland geram.
"Oke, aku akan mengantar Jasmine ke rumahmu, tapi transfer dulu uangnya!" kata Monica tersenyum jahat.
"Kau pikir aku bodoh, Monica! Aku akan mentransfer uangmu, kalau Jasmine sudah berada di rumahku." kata Harland lagi.
"Ya...ya, aku akan mengantar nya sekarang!" ujar Monica. Wanita itu membangunkan Jasmine dari tidurnya.
"Jasmine, bangun! Tante akan mengantarmu kerumah Bunda Shanum!" sahut Monica menguncang tubuh kurus Jasmine.
"Benarkah?" Jasmine segera bangkit dari tidurnya. Dan mengikuti Monica keluar rumah.
Sebelumnya,
Jasmine yang kabur dari rumah, masuk kesebuah cafe untuk membeli makanan, karena dia lapar. Monica yang kebetulan berada di cafe itu bersama Vania, mendekati Jasmine, dan menanyakan tujuannya.
"Ngapain anak itu, kemari?" tanya Vania melihat Jasmine masuk kedalam Cafe.
"Kamu kenal, Van?" tanya Monica.
"Ya, dia anaknya Devan dengan perempuan kampung itu!"
"Aku akan tanya dia dulu, kamu diam saja disini!" kata Monica mendekati Jasmine.
"Oke, tapi jangan kasih tahu aku disini, ya!" kata Vania.
"Hai, Jasmine !" sapa Monica. Anak itu menoleh,
"Tante kenal aku?" katanya.
"Iya, kamu anaknya Bunda Shanum, kan?"tanya Monica.
"Tante kenal Bundaku?" tanya Jasmine senang.
"Iya, Jasmine mau kemana?"
"Jasmine mau nyari Bunda, Tante!"
"Mmmh, baiklah! Besok Tante antar Jasmine ke rumah Bunda, ya! Malam ini, Jasmine tidur di rumah Tante dulu," ujar Monica.
__ADS_1
"Ya Tante...!"
Akhirnya, Jasmine ikut Monica kerumahnya, dan menjadikan Jasmine alat untuk memeras Harland.