
Setelah sampai di Surabaya, Marisa langsung mengajak Bianca ke rumah kecilnya,.yang ada di daerah pedesaan yang asri, Bianca menyukai suasana Desa yang nyaman dan sunyi.
"Ayo masuk, Bi!"
Bianca masuk perlahan kedalam rumah minimalis itu, rumah itu hanya memiliki dua buah kamar, satu kamar mandi dan dapur.
Marisa masuk ke kamar Arsen, mencari putranya, namun Arsen tidak ada disana.
"Arsen! Dimana anak itu?" Marisa tampak bingung.
"Kenapa Bu?"
"Arsen tidak ada dikamarnya, Nak!" Marisa tampak panik, dia keluar dari rumah, dan menanyakan keberadaan Arsen pada tetangganya.
"Arsen baru saja dibawa kerumah sakit, Bu! Dia pingsan waktu keluar dari rumah, untung warga melihatnya,"
"Dimana rumah sakitnya, Pak? Tanya Bianca
"Di kota, nak! Kalian bisa naik angkot dari jalan raya." kata pak Hasan tetangga Marisa
"Terimakasih pak!" Bianca dan Marisa segera keluar dari rumah dan berjalan ke arah jalan besar dan menaiki angkot menuju rumah sakit.
Bianca tampak tak percaya melihat keadaan Arsen yang tinggal kulit pembalut tulang, wajahnya yang tampan kehilangan auranya, wajah itu pucat pasi. Dokter sedang berusaha untuk membuat pasiennya terjaga. Tubuh lemah itu, sudah dipasang alat infus, alat pernapasan dan juga slang kateter. Denyut jantungnya masih terlihat lemah. Bianca duduk disisi brankar tempat Arsen dirawat. Perlahan dia meraih tangan lemah itu dengan lembut.
"Arsen, ini aku Bianca, bangunlah!" bisik Bianca lembut. Namun raga itu tidak bergeming, matanya seolah enggan untuk dibuka.
"Kamu harus kuat, Arsen! Aku membutuhkanmu, kau harus mendampingiku jika anak kita nanti lahir,"
Bianca menatap wajah itu dengan sedih, dia mencium kening Arsen lembut. Kemudian meletakkan tangan Arsen di perutnya. Bayi dalam perut Bianca seolah mengerti kesedihan ibunya, perut Bianca bergerak dengan nyata, memberikan tendangan halus, namun Arsen bisa merasakannya. Mata sayu itu terbuka, dia mencoba untuk tersenyum, namun terasa sulit.
"Bianca...!" bibir Arsen bergetar memanggil namanya, namun suaranya tercekat di tenggorokan.
"Arsen! Bangunlah, kami membutuhkanmu!" Bianca memeluk tubuh ringkih itu erat.
Air mata menetes dari sudut matanya yang sayu.
"Bianca, aku merindukanmu!" hati kecil Arsen berkata, tangan lemah itu, berusaha menyentuh rambut Bianca.
__ADS_1
"Jangan memaksakan diri, Arsen!" Bianca seolah mengerti ada yang ingin disampaikan pria itu. "Aku akan merawat mu disini, kamu harus sembuh!"
Arsen hanya mengedipkan matanya.
Bianca menemani Arsen di rumah sakit setiap harinya. Hanya Marisa yang harus bolak-balik dari rumah ke rumah sakit, karena dia tidak ingin Bianca kelelahan, apalagi dengan perutnya yang semakin membesar.
Satu bulan Arsen dirawat di rumah sakit, tubuhnya mulai berangsur pulih. Dia sudah bisa menerima makanan yang di berikan Bianca, tanpa harus memuntahkannya. Sudah bisa duduk sendiri, tanpa bantuan Bianca. Sudah bisa berjalan lagi, walau harus berpegangan pada sebuah tongkat penopang.
"Terimakasih sudah mau merawat ku, Bi!" ucap Arsen tulus, saat dirinya sudah mampu untuk bicara lagi.
"Itu sudah tugasku, Arsen, aku ingin kamu pulih seperti semula, jika kamu masih sakit, siapa yang akan merawat ku, jika aku melahirkan nanti. Kasihan ibumu, harus bolak-balik ke rumah,"
"Berapa lama lagi kamu akan melahirkan, Bi?tanya Arsen lirih.
"Perkiraannya, satu bulan lagi!" Bianca tersenyum meraba perut buncitnya. Arsen turun dari tempat tidurnya, dan duduk di atas kursi roda. Dia menyentuh perut Ava perlahan, dan mendekatkan telinganya disana.
"Sayang, ini Papa nak!" bisik Arsen lembut. "Papa sudah tidak sabar untuk melihat kamu lahir," Bianca tersenyum melihat Arsen yang sudah mulai bersemangat.
"Bi, aku ingin pulang ke rumah, aku merasa tubuhku sudah baikan," ujar Arsen.
"Nanti kita bicara dengan dokter ya! Kalau dokter mengizinkan kita akan pulang besok," jawab Bianca lembut. Sambil membelai rambut Arsen yang sudah mulai memanjang.
"Bi, tidak apa-apa kan, kita tinggal di rumah kecil seperti ini," kata Arsen, saat keduanya sudah berada di dalam kamar, di rumah kecilnya.
"Tidak masalah, Arsen! Kita bisa merenovasinya nanti jika anak kita sudah lahir," jawab Bianca tulus.
"Bianca!" Arsen menatap wajah wanita cantik itu lekat. "Ada apa, Arsen?" Bianca merasa salah tingkah, melihat tatapan mata Arsen yang bercahaya.
"Bolehkan aku menjenguk anak kita?" tanya Arsen sambil menarik Wajah Bianca untuk mendekat. Sebuah ciuman mendarat di bibir manis Bianca yang sudah lama tidak pernah dia rasakan.
Bianca mengangguk, dia tidak ingin membohongi dirinya sendiri, jika dia menginginkan sentuhan pria itu, apalagi kehamilannya, membuat hasrat bercinta Bianca semakin besar. Tubuhnya bergetar dengan hebat, sangat jemari suaminya sudah bergerilya menjelajahi setiap jengkal tubuhnya.
Sebuah ******* laknat, keluar begitu saja dari mulutnya.
"Kenapa berhenti?" Bianca merasa kecewa saat Arsen mengehentikan cumbuannya, sementara Bianca sudah tersulut api gairah yang sudah lama tidak dia rasakan.
"Aku takut akan menyakitimu, Bi!"
__ADS_1
"Lakukan dengan perlahan, Arsen! Lakukan dengan cinta, kalahkan egomu," bisik Bianca.
"Aku akan mencobanya,"
Bianca tersenyum, saat Arsen kembali mencumbunya, sekarang bibirnya yang bekerja. Arsen ******* bibir Bianca dengan lembut. Melepaskan satu persatu kancing piyama satin yang di pakai Bianca, menampakkan tubuh polos Bianca, yang tampak semakin padat dan berisi.
"Kamu makin seksi, Bi!" bisik Arsen tersenyum menggoda. Wajah cantik itu memerah. Bianca seperti seorang anak perawan yang baru mengenal cinta.
Bianca mengigit bibir bawahnya, saat Arsen menyatukan diri dalam selimut malam yang menggairahkan. Arsen menepati janjinya, memperlakukan Bianca dengan baik, tidak ada kekerasan, tidak ada tangisan pilu Bianca yang merasa dilecehkan.
Yang hanya ada suara ******* dan lenguhan panjang, dari dua orang insan berlainan jenis, yang sudah terlalu lama berpisah, dan menuntaskan segala kerinduan yang telah lama terpendam.
Cahaya matahari pagi, berkilauan mengintip dari balik tirai kamar minimalis, tempat kedua insan itu memadu kasih. Bianca menggeliat perlahan, seluruh tubuhnya terasa kaku dan lelah, dia tidak bisa menghitung, berapa kali Arsen menuntaskan hasratnya. Arsen masih tertidur pulas disampingnya, sambil memeluk tubuh polos Bianca dengan posesif.
Wajah tampan itu begitu damai.
Perlahan Bianca mengangkat tangan Arsen dari atas perutnya. Dia ingin pergi ke kamar mandi. Namun Arsen menahannya.
"Mau kemana, sayang?" gumam Arsen, dengan mata yang masih setia terpejam.
"Aku mau mandi, Arsen!"
"Jangan lama-lama, nanti balik lagi kemari ya!" Bianca tidak menjawab, dia hanya ingin segera mandi dan membersihkan tubuhnya yang terasa lengket.
Kamar mandi yang ada dikamar itu, sangat kecil dibanding dengan kamar mandi dirumah Bianca. Namun, Bianca menikmatinya, Dia mengguyur kepalanya dengan gayung, air pedesaan itu memang jernih dan menyegarkan.
"Biar aku yang mandikan," Bianca kaget dengan kehadiran Arsen yang tiba-tiba. Tangan yang mulai berisi itu memeluk tubuhnya dari belakang. Mengusap tubuh polos Bianca yang sudah diberi sabun cair.
"Arsen, aku sudah mau selesai!" Bianca melepaskan diri dari pelukan Suaminya itu.
"Tapi, aku belum Bi?"
"Jangan bilang, kamu mau melakukannya disini!" Bianca melebarkan bola matanya.
"Sepertinya ide yang bagus," Arsen tertawa.
"Arsennnn...!" teriak Bianca, saat pria itu mulai mencumbunya lagi dan lagi.
__ADS_1
Bersambung...