Bunda (Cinta Yang Hilang)

Bunda (Cinta Yang Hilang)
KEMBALI KE JAKARTA


__ADS_3

Pagi-pagi sekali, Devan bersiap untuk berangkat kembali ke Jakarta. Daniel sudah menunggu Devan di mobilnya.


"Aku berangkat dulu, kalau ada apa-apa, cepat hubungi aku, aku sudah membuat kontak pribadiku, di ponsel barumu!" pamit Devan.


"Hati-hati dijalan ya kak! kabari aku jika sudah sampai!" pesan Shanum melepaskan diri dari pelukan suaminya.


"Tentu, aku akan mengabari mu! jika kau butuh sesuatu, telpon saja Daniel !"


"Baik kak...! sana berangkat, nanti telat sampai di Jakarta," Devan tersenyum manis sambil mendaratkan ciuman manis dibibir istrinya.


Setelah menempuh perjalanan hampir kurang lebih 3 jam perjalanan. Devan sampai dikantor pusat di Jakarta. Jam di dinding kantornya sudah menunjukkan pukul 09.00 pagi.


"Peserta rapat sudah datang, Mel ?" tanya Devan pada sekretarisnya.


" Sudah, pak...! mereka sudah menunggu diruang rapat." sahut sekretaris Devan yang bernama Melisa.


"Tolong siapkan berkas yang sudah aku minta kemaren, Mel!" titah Daniel, sambil membuka laptopnya.


"Baik, pak !" Mellisa mengambil sebuah map berwarna biru dimeja kerjanya.


"Ini,pak!" Melisa menyerahkan map itu pada Devan.


"Taruh aja di situ," ujar Devan menunjuk meja kerjanya.


Melissa tampak mengamati sang bos diam-diam, biasanya sang bos, sangat teliti jika menerima setiap berkas. Tapi kali ini, Devan tidak melakukannya. Dia sibuk merapikan penampilannya. Aura yang terpancar pada diri Devan, menunjukkan pria tampan itu sedang berbahagia.


Tak sengaja Mellisa melihat jejak merah keunguan dileher bos nya yang putih itu. Bukan hanya satu, tapi banyak.


" Maaf Pak, apa tidak sebaiknya leher bapak ditutupi, nanti anggota rapat menanyakan tentang status bapak, masalahnya disini orang belum tahu kalau bapak sudah menikah!" tegur Mellisa.


Devan menyadari statusnya sekarang memang sudah menikah, tapi dia sedang menyembunyikan pernikahannya. Dia tidak mau papanya menganggap Devan bermain wanita.


"Oh, iya ... trimakasih sudah mengingatkan Mel " Devan mengambil sebuah syal di ruang pribadinya dan menutupi lehernya dengan syal itu.


"Mel, kau tahu dari mana aku sudah menikah ?" Devan memandang Mellisa, penuh selidik.


"Maaf Pak, aku mendengarnya dari saudaraku yang bekerja di proyek hotel Bapak yang di Bandung." Jawab Mellisa merasa tidak enak.


"Kalau begitu, tolong rahasia kan pada semua orang yang ada dikantor ini, sebelum aku sendiri yang mengumumkannya,"


" Baik pak !" Sahut Mellisa mengerti.


Devan segera menuju ruang rapat saat, waktu sudah menunjukkan pukul 09.30. Semua peserta rapat sudah hadir menunggu kehadiran pemilik perusahaan properti itu.


Pembicaraan mengenai pembangunan hotel yang dipercepat berjalan dengan alot. Ada yang setuju ada yang tidak. Keputusan ada ditangan Tuan Adam Mahendra selaku pemilik sekaligus pemegang saham terbesar di hotel itu.


"Apa alasanmu, hingga pembangunan hotel itu harus dipercepat, Devan," tanya sang Papa.


"Aku hanya tidak ingin terlalu lama disana, Pa, pekerjaanku disini juga sedang banyak, jika jumlah pekerja ditambah waktu kita bisa lebih efisien." ungkap Devan.


"Kalau menurut papa, lebih baik kita selesaikan pembangunan menurut aturan yang sudah kita sepakati bersama, 3 bulan lagi, bukan waktu yang lama, Van!" ujar sang papa. "Kalau begitu, baiklah...! jika tidak ada yang setuju, mungkin aku tidak akan lebih lama tinggal disana, kalau begitu rapat kita tutup sampai disini. Keputusannya adalah pembangunan hotel menurut rencana yang sudah diatur dari awal. Trimakasih," ucap Tuan Adam Mahendra tegas.


Devan segera berdiri dan keluar dari ruangan rapat, dengan wajah datar.

__ADS_1


Devan masuk ke ruangannya, dia lupa untuk mengabari Shanum, kalau dia sudah sampai di Jakarta.


Buru-buru Devan mengambil ponsel yang sedari tadi di tinggal di laci mejanya.


Devan menghubungi Shanum segera, beberapa saat sambungan telepon itu terhubung melalui Video Call.


"Hallo, kak...kakak sudah sampai di Jakarta?" tanya Shanum dari balik ponsel.


"Iya Sayang, aku sudah di Jakarta, maaf ya, aku lupa, aku sudah sampai dari tadi, baru saja selesai rapat,"


"Oh,...ya udah, kakak sudah makan?"tanya Shanum.


"Belum sih, ...aku kangen sama masakanmu, kamu sudah makan !" Devan balik bertanya


"Belum kak, aku belum lapar..!"


"Kak, kakak sakit ?" tanya Shanum saat melihat leher Devan yang diikat sebuah syal.


"Iya, sakit nih, semalam ada yang gigit dan nyakar jadinya merah begini !" sahut Devan sambil tersenyum menggoda.


"Ih...kakak, itu kan...!" Shanum menjeda ucapannya, dia menjadi malu sendiri.


"Apa?" goda Devan.


"Nggak jadi, malu...!"


"Ngapain malu, digigit istri sendiri itu menyenangkan. Itu tandanya hubungan suami istri yang bahagia.


"Kalau begitu, kakak kerja aja dulu, aku mau makan kak!"


"Kakak habis ini makan ya! jangan sampai terlambat," pesan Shanum.


"Oke sayang,...love you !"


"Love you too, kak!" senyum manis mengembang disudut bibirnya yang ranum.


Devan menutup panggilannya, dia tidak sadar, kalau sang papa sudah berada didepannya.


"Siapa Van !" tanya sang papa, membuat Devan menjadi kaget.


"Bukan siapa-siapa, Pa! hanya seorang teman," Devan berusaha menutupi kegugupannya.


"Kapan kau akan kembali ke Bandung !"


"Mungkin besok,Pa ... aku mau menemui mama dulu, sebelum pulang," kata Devan.


"Ya, mamamu dan Vania selalu nanyain, sebelum kamu kembali ke Bandung, sebaiknya kita adakan pertunanganmu dulu dengan Vania," saran Sang Ayah.


"Pertunangannya, nanti saja Pa...jika pembangunan hotel sudah selesai," tolak Devan halus.


"Itu terlalu lama, Van....! Papa rasa umurmu sudah cukup untuk menikah," kata Tuan Adam lagi.


"Aku ingin hidup bebas dulu, Pa ? Kalau aku sudah menikah sama Vania, aku tidak bisa lagi kemana- mana, papa tahu kan, Vania itu seperti apa, kalau saja mama tidak memaksaku menikah dengan Vania, aku pasti sudah menikah dengan orang lain."

__ADS_1


keluh Devan.


"Nanti malam, mamamu mengadakan jamuan makan malam dirumah, kau harus datang !"


"Aku ada janji reunian sama teman-teman SMA, Pa, " Devan berusaha mencari alasan agar tidak menghadiri pertemuan keluarganya.


"Ini penting, Van !" seru Tuan Adam.


"Ini juga penting, Pa...temanku namanya Mario, dia sedang mengembangkan bisnis Travel dan Wisata. Aku akan membicarakan peluang agar dia bisa menjadikan hotel kita sebagai tempat tujuan jika ada turis yang ingin menginap. Aku juga ingin membangun sebuah resort di Bali, tapi ini dengan usahaku sendiri," kata Devan.


"Ya, terserah padamu lah, memangnya acara reunian nya, dimana?"


"Belum ada pemberitahuan sih, pa ! jika udah ngumpul, baru dishare lokasinya!" ucap Devan meyakinkan papanya.


Devan sudah berencana, untuk menemui mamanya sebentar dirumah, setelah itu dia akan kembali ke Bandung, menemui istrinya.


Selesai makan siang, Devan pulang kerumahnya, menemui sang mama. Nyonya Sonia tampak sibuk mengatur tampilan rumah agar terlihat luas.


"Siang, Mama !" Devan memeluk wanita yang telah melahirkannya itu dengan hangat.


"Devan, ...akhirnya kau pulang nak! nanti malam keluarga Vania akan datang kemari, kita akan membicarakan pertunangan kalian terlebih dahulu!"


ujar sang mama, membuat Devan merasa tidak nyaman.


"Mama, nanti malam aku tidak bisa, aku ada janji sama teman untuk membangun sebuah resort di Bali, please ma, proyek ini penting buatku !" pinta Devan.


"Kamu sudah berkali-kali menolak pertemuan dengan keluarga Vania, Devan...Mama jadi nggak enak sama orangtuanya," kata Mama Sonia tampak kesal.


"Ma,...aku sudah pernah bilang, aku tidak mau menikah dengan Vania, tapi mama maksa!"


"Dengar Mama Van, Vania itu gadis yang cocok untukmu, dia baik, berpendidikan, dan lagi dia berasal dari keluarga yang setara dengan kita," ucap Sang Mama egois.


Devan menarik nafas panjang. Dia kesal dengan ulah maminya yang selalu ingin menjodohkannya dengan Vania. Menurut Devan, Vania hanyalah seorang wanita manja yang menyebalkan. Kerjanya hanya belanja, ke salon dan traveling keluar negeri menghabiskan uang dari orangtuanya.


"Aku akan berusaha pulang secepatnya, jika urusanku dengan temanku sudah selesai! " sahut Devan pada akhirnya.


Devan kemudian masuk kedalam kamarnya dan mengambil beberapa barang nya untuk dibawa ke Bandung. Kemudian dia keluar lagi dari rumah, menuju sebuah Mall terbesar dikota Jakarta. Devan masuk kesebuah gerai yang menjual perhiasan. Dan memilih beberapa buah perhiasan disana.


"Van, kamu disini! kebetulan sekali, kamu mau membeli apa?" suara seseorang yang ingin dia hindari terdengar dari arah kirinya.


Devan kaget, dan menyembunyikan cincin couple yang baru saja dibelinya.


"Eh,...Vania! aku mau membeli hadiah untuk seorang teman yang mau menikah!" jawab Devan sedikit berbohong.


"Oh, kukira kau mau membeli cincin untuk pertunangan kita, kemaren aku melihat cincin keluaran terbaru, aku ingin cincin itu," rengek Vania dengan manja menarik lengan Devan.


"Nanti kita cari...aku mau buru-buru Vania!" Devan segera kemeja kasir untuk membayar belanjaannya. Dan meninggalkan Vania begitu saja.


"Mbak, orang yang tadi, beli apa ya?" tanya Vania ingin tahu, pada petugas kasir gerai perhiasan itu.


"Maaf, mbak ! kita tidak bisa beritahu...itu privasi pelanggan kita!" kata petugas kasir itu ramah.


"Tadi itu, calon suami aku mbak, aku ingin membeli cincin couple yang kulihat kemaren. Siapa tahu dia sudah membeli duluan, biar jadi surprise !"

__ADS_1


"Oh,...mbak ini calon istrinya, kebetulan mas tadi juga membeli cincin Couple !" jawab petugas kasir di gerai perhiasan itu. Vania tersenyum lebar.


"Jadi cincin nya sudah diambil ya mbak !? kalau begitu trimakasih ya!" Vania tampak tersenyum bahagia. Vania berfikir cincin itu akan dihadiahkan Devan untuknya, pada acara pertunangannya nanti malam.


__ADS_2