
Hanya tiga hari, Shanum berada di rumah kecilnya dikampung. Karena tidak ada pekerjaan yang bisa dilakukan Shanum disana, akhirnya Shanum mengikuti Mila ke ke Jakarta.
Shanum menerima tawaran untuk bekerja sebagai baby sister disebuah rumah mewah di kawasan Permata Hijau.
Mereka disambut baik oleh Nyonya Riska, majikan Mila, yang juga teman majikan Shanum tempat nantinya dia akan bekerja.
"Jadi, kamu yang namanya Shanum ?" tanya Nyonya Riska ramah.
"Iya, Nyonya. ! saya temannya Mila dari kampung," jawab Shanum senang.
"Aku sudah menghubungi temanku, nanti sore dia ada dirumah, aku akan mengantarmu kesana!" kata Riska temannya Shanum.
"Terimakasih, nyonya Riska!" jawab Shanum sopan.
Nyonya Riska mengantar Shanum kerumah temannya bernama Monica. Nyonya Monica adalah seorang model terkenal ibu kota, tubuhnya yang tinggi dan langsing serta wajahnya yang cantik, mempesona, tampak elegan walaupun hanya memakai baju rumahan, tapi Shanum tidak melihat wanita itu seperti wanita yang baru melahirkan.
"Hai Ris, apa kabar ? " Nyonya Monica menyapa sahabatnya dan cipika cipiki sesaat.
"Monic, aku mau nganterin orang yang akan menjadi Baby sister anakmu, namanya Shanum !" tutur Riska.
"Oh Iya ! aku hampir lupa, ...kamu bisa merawat bayi, Shanum?" tanya Monica pada Shanum yang dari tadi berdiri didepan gerbang rumah mewah itu.
"Bisa, nyonya..." Shanum mengangguk.
"Kalau begitu masuklah...kamu boleh mulai bekerja sekarang," kata Nyonya Monica.
"Terima kasih, Nyonya Monica," Wanita berpakaian sexy dan elegan itu mengantar Shanum kekamar bayinya
.
"Nah, Shanum, ini anak saya, namanya Flo...kamu boleh menemaninya, aku akan mengobrol dengan Riska dibawah, jika kamu butuh sesuatu, bilang saja !" kata nyonya Monica dengan senyum mengambang diwajahnya.
"Baik nyonya!"
Shanum meletakkan tas kopernya dilantai kamar bayi Flo. Bayi kecil berjenis kelamin perempuan itu, memiliki wajah yang manis, matanya yang indah mengingatkan Shanum akan mata Jasmine.
"Hi, Flo ...kenalin aku pengasuh barumu, panggil aku Bunda ya !" Shanum berbisik lembut ditelinga bayi mungil itu. Sepertinya umurnya baru beberapa hari. Bayi Flo menatap Shanum tanpa berkedip.
"Kenapa liatin Bunda kayak gitu? senang ya!, biar Bunda gendong ya !" Shanum mengambil bayi itu dari atas tempat tidurnya. Sebuah baby box yang diberi gambar kartun lucu, hello Kitty.
Miris memang, Shanum meninggalkan bayinya dirumah sakit dan meminta orang lain mengadopsinya. Sementara ia harus menjadi pengasuh dirumah orang lain, tapi demi uang, Shanum akan bekerja sebaik mungkin.
"Bagaimana, Shanum...! kau bisa merawat Baby Flo, !" tanya Nyonya Monica dengan senyuman manisnya.
__ADS_1
"Bisa nyonya Monica, .baby Flo, sepertinya anak yang baik, dia tidak cengeng!" angguk Shanum.
"Baguslah, kalau begitu, malam ini aku mau keluar, ada acara fashion Show, di hotel Blue," Kata Monica keluar dari kamar baby Flo.
"Baik nyonya! saya akan menjaga Baby Flo dengan baik!" ucap Shanum tersenyum tipis.
Merawat bayi seumuran baby Flo, tidak begitu mengeluarkan tenaga Ekstra. Shanum hanya memastikan bayi itu nyaman dan tidak kelaparan. Jika sudah kenyang, bayi mungil itu bisa tidur seharian. Shanum pun bisa membantu asisten Rumah Tangga yang ada dirumah itu untuk sekedar memasak.
"Mbak Mirna, ada yang bisa saya bantu ?" Shanum menawarkan dirinya, untuk memasak didapur.
"Kamu bisa masak Num ?" tanya Mbak Mirna, seperti kurang Yakin.
"Tentu saja bisa mbak, aku pernah bekerja dicafe...masak apa saja aku bisa ?"seloroh Shanum.
"Oya..!?, kalau begitu bantuan aku bikin SOP daging ya Num!"
"Beres, Mbak! biar aku ngerjain," ujar Shanum.
"Ya udah, biar mbak kerjakan yang lain dulu," Mbak Mirna merasa senang, karena tugasnya ada yang bantuin
.
"Mbak, yang ada dirumah ini, berapa orang ? tanya. Shanum.
"Mmh, ada tiga. Tuan muda, nyonya Monica dan non Flo," jawab Mirna.
"Tuan sedang melakukan perjalanan bisnis keluar negeri..." jawab Mbak Mirna.
"Oh...!" jawab Shanum singkat.
...----------------...
Sudah hampir seminggu, Shanum bekerja dirumah keluarga nyonya Monica. Namun, wanita yang berprofesi sebagai Model itu, makin jarang dirumah. Tapi Shanum tidak berani menanyakannya, karena hal itu bukanlah urusannya.
"Hai, Baby Flo, cantik banget sih!" puji Shanum. Saat sedang bermain-main dengan Bayi mungil itu dihalaman belakang.
"Mmmh, cantik berjemur dulu ya! biar Bunda siapin susu formulanya!"
"Num! susu buat Flo udahan nih, mau minum dimana?" tanya Mbak Mirna sambil membawa sebotol susu dalam botol minuman bayi mungil itu.
"Disini aja, mbak!" Shanum mengajak Mirna ke halaman belakang. Mirna duduk disana, setelah menyelesaikan pekerjaannya.
"Udah sarapan, Num?" tanya Mbak Mirna.
__ADS_1
"Belum, nanti saja mbak, kalau baby Flo udah tidur!"
Shanum memandang bayi mungil itu intens, lagi-lagi dia teringat akan Jasmin dan sikembar Shera dan Shena. Dia menarik nafasnya dalam, ada keresahan dalam diri Shanum yang tidak bisa ungkapkan.
"Shanum kenapa melamun?" Mbak Mirna menepuk pundak Shanum, hingga Shanum tersentak kaget.
"Nggak Mbak, aku nggak habis pikir, kenapa ya, ada orang tua, yang sibuk terus-terusan, tanpa peduli anaknya, padahal banyak diluar sana pasangan yang menginginkan seorang anak," Ucap Shanum.
"Iya Num, dulu, Tuan Harland dan nyonya Monica menginginkan anak, sekarang udah ada anak, mereka malah makin sibuk tapi, kita bisa apa Num, kita cuma pelayan disini!" sesal Mbak Mirna.
"Iya Mbak, aku kasihan aja sama bayi ini. Tidak mendapat kasih sayang utuh dari orangtuanya, " Gumam Shanum sambil mengangkat bayi mungil itu kedalam pelukannya.
Menurut cerita Mbak Mirna, belakangan ini, Nyonya Monica dan Suaminya sering cek cok.
Tuan David Harland Myers, suami nyonya Monica adalah seorang pebisnis, dan pengusaha ternama dikota Jakarta.
Kesibukan Harland dengan pekerjaannya, membuat Nyonya Monica jenuh dirumah, kemudian diapun menyibukkan diri dengan kembali kedunia model yang telah dia geluti sejak masih remaja.
Pada suatu malam, tanpa sengaja Shanum mendengar suara teriakan dari lantai atas rumah mewah itu. Nyonya Monica sedang bertengkar hebat dengan suaminya , Tuan Harland.
"CUKUP HARLAND, AKU CAPEK!" terdengar suara bentakan Nyonya Monica yang sedang bertengkar dengan suaminya.
"DENGAR MONICA! AKU TIDAK MENGIZINKAN MU UNTUK KEMBALI KE DUNIA MODEL ITU, TAPI KENAPA KAU MASIH SAJA PERGI KESANA?" Suara Bariton Tuan Harland terdengar menggema dikamar itu.
"AKU CAPEK, KAMU SELALU SIBUK DENGAN PEKERJAANMU, KAMU TIDAK PUNYA WAKTU SEDIKITPUN UNTUKKU!" teriak Monica sambil menahan air mata.
"ITU BUKAN ALASAN, MONICA, AKU BEKERJA JUGA UNTUK MEMENUHI KEBUTUHANMU, LALU APALAGI YANG KAU INGINKAN," Ucap Tuan Harland dengan emosi.
"AKU MAU KITA CERAI!" pinta Monica, menatap Harland dengan tajam.
"OKE, KALAU ITU KEINGINAN MU, MULAI SEKARANG KAMU BUKAN LAGI ISTRIKU !" Ucap Tuan Harland memberi talak untuk Nyonya Monica.
"AKU JUGA SUDAH MUAK DENGAN MU, HARLAND, AKU MUAK DENGAN IBUMU, YANG SELALU MENUNTUT ANAK DARIKU,AKU MAU PERGI SEKARANG JUGA!" terdengar suara pintu yang dibanting nyonya Monica dengan kasar.
Tak lama nyonya Monica keluar dari dalam kamarnya sembari menyeret koper besarnya.
"SHANUM....!!" teriak nyonya Monica memanggil Shanum dikamarnya.
"Ya, Nyonya!" Shanum buru-buu keluar dari kamarnya.
"Ini gajimu untuk 6 bulan kedepan, setelah itu jika kamu mau berhenti, silahkan! aku mau pergi!" ucap nyonya Monica memberikan sebuah amplop berisi uang pada Shanum.
"Bagaimana dengan Bayi anda Nyonya ?" Shanum mencemaskan bayi yang diasuhnya.
__ADS_1
"Tanya saja sama Tuan Harland! bayi itu bukan anakku!" ketus Monica, kemudian keluar dari rumah besar itu, dengan wajah kesal dan marah.
Shanum tampak bingung, sudut matanya berkerut, dia memandang kembali wajah baby Flo yang terlelap dalam pangkuannya. Memang, wajah baby Flo tidak mirip dengan nyonya Monica. Tapi dengan Tuan Harland, Shanum tidak tahu, karena dia belum pernah bertemu dengan sang Tuan Rumah.