
Pertengkaran demi pertengkaran, mulai menemani hari-hari Shanum. Tidak ada lagi tempat untuk Shanum berkeluh kesah. Devan sibuk dengan pekerjaan yang diberikan ayahnya. Bahkan, membuat Devan jarang pulang kerumah.
Jasmin dan si kembar Shera dan Shena, berkembang dengan baik dan sehat. Namun Shanum tidak bisa menyentuhnya, seolah ada dinding penghalang bagi mereka dirumah itu.
Anak -anak adalah alasan kenapa Shanum harus bertahan dirumah itu. Rumah yang hanya membuat Shanum hidup bagai di neraka.
Tekadnya sudah bulat, dia ingin mengakhiri pernikahannya dengan Devan, secepatnya dan meminta hak asuh salah satu putrinya.
"Kak, aku ingin kita cerai," ujar Shanum malam itu saat Devan pulang lebih awal dari biasanya.
Devan memandang kearah ku dengan tatapan tak biasa.
"Kenapa...?" tanyanya singkat, dengan wajah yang tak lagi ramah.
"Aku capek, kak! aku tidak sanggup lagi menerima semua perlakukan kakak dan mama, kalian semua jahat padaku!" protes Shanum.
"Kamu pikir, aku nggak capek Shanum, kenapa kau selalu merasa menjadi korban dirumah ini, semuanya sudah aku berikan, kau tidak perlu sibuk ngurus anak, karena sudah mama yang ngurus, lalu apalagi, seharusnya kamu itu berterimakasih pada mama," ucap Devan dengan nada kesal.
"Aku hanya ingin meminta hakku sebagai seorang ibu....tapi kalian melarangku mendekati anak-anakku, hanya karena aku miskin tidak punya pendidikan tinggi, selalu itu yang kalian jadikan alasan, lalu untuk apa lagi aku bertahan dirumah ini, sementara Kakak tidak menganggap aku lagi," Shanum melepaskan rasa sesak di dalam jiwanya.
"Cukup Shanum! aku capek, aku mau istirahat, kalau kau mau pergi, pergi saja!" Devan berlalu dari hadapan Shanum. Pria itu masuk ke kamar tamu yang ada diseberang kamar mereka, dan mengunci diri disana.
Shanum duduk disisi ranjang dengan wajah yang sedih dan berurai air mata.
Shanum merasa tubuhnya lemah seketika. Dia berbaring diranjang, kepalanya terasa berat. Rasa cemas membuatnya asam lambungnya naik. Shanum jatuh tak sadarkan diri.
"Tuan...! Tuan...! Nyonya Shanum pingsan," teriak Arma , asisten yang bertugas melayani Shanum. Saat pagi, Arma mengantar sarapan untuk Shanum dikamarnya. Namun tidak ada suara dari dalam kamar itu, Arma menyadari kalau majikannya itu, tidak sadarkan diri.
"Sejak kapan, bi...?" tanya Devan bergegas kekamar Shanum.
"Tidak tau, Tuan!"
"Telpon dokter Hana, suruh datang kemari secepatnya !" perintah Devan.
"Baik, Tuan?"
Devan memandang, wanita yang dulu membuatnya jatuh cinta, namun sekarang cinta itu pupus begitu saja. Devan tidak mengerti apa yang salah. Perkejaan dikantor yang bertumpuk-tumpuk, membuatnya tidak ada waktu lagi untuk Shanum dan anak-anaknya. Ditambah lagi kehadiran Vania dalam hidupnya, yang telah dia nikahi diam -diam tanpa sepengetahuan Shanum.
Pernikahan yang hanya dihadiri kedua orang tuanya dan keluarga Vania. Demi memenuhi ambisi sang mama, untuk mendapatkan seorang anak laki-laki sebagai pewaris keluarga Mahendra.
Beberapa menit kemudian, dokter Hana datang dengan perlengkapan medisnya.
__ADS_1
"Kenapa lagi dengan istri anda, Pak Devan?" tanya dokter Hana, dengan tutur katanya yang lemah lembut.
"Entahlah dok, Anda periksa saja!" ucap Devan kasar.
Dokter Hana memeriksa denyut nadi Shanum yang lemah.
"Sepertinya, Shanum hamil lagi, Pak Devan !" ujar dokter Hana, sambil memberikan vitamin ditubuh Shanum.
"Hamil?" Devan menatap dokter Hana tak percaya.
"Ya, kali ini, tolong jaga Shanum agar tidak stress, kasihan dia kalau setiap kehamilannya harus dihinggapi perasaan cemas dan takut. Ibu hamil itu harus bahagia, Pak Devan!" ujar dokter Hana.
"Baik, dok...!" jawab Devan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Kehamilan ketiga Shanum, makin membuatnya depresi. Apalagi, Devan dan mamanya menuntut seorang anak laki-laki pada kehamilan Shanum kali ini.
"Shanum....! dengar ya, jika kamu melahirkan anak laki-laki untukku, aku tidak akan menceraikan mu, tapi kalau anak yang sekarang perempuan lagi, aku tak peduli lagi padamu," ancam Devan.
"Kamu egois, kak! Bagaimana mungkin aku bisa mengatur kelahiran anakku, semua sudah takdir Tuhan kak," Shanum tampak emosi.
"Aku tidak mau tahu, Shanum! Aku akan pergi keluar negeri selama sebulan, kuharap kau bisa mengurus dirimu sendiri!" Ketus Devan.
Shanum hanya bisa diam, mau protes percuma, karena tidak ada seorang pun yang membelanya dirumah itu. Rasa sakit hati, kecewa dan marah telah mengakar dalam hatinya. Rasa cinta dan sayang yang dulu ada, hilang begitu saja berganti kebencian.
Shanum merasa haus, dia turun dari kamar menuju ruang dapur.
Samar-samar dia mendengar percakapan Devan dengan kedua orang tuanya, diruang tengah.
"Ma, Shanum hamil lagi," ucap Devan dengan raut wajah bingung.
"Hamil Lagi? perempuan itu kayak kucing saja, pake alat kontrasepsi kek," jawab mertuanya tidak suka.
"Aku sudah bilang pada Shanum, kalau anaknya perempuan lagi, aku akan menceraikannya!" kata Devan tanpa ragu.
"Itu lebih baik, Devan. Sekarang kamu harus prioritaskan kehamilan Vania, dari hasil USG kemaren, bayi dalam kandungan Vania laki-laki," wajah wanita angkuh itu berubah ceria.
"Ya Ma, beberapa bulan ini, aku akan tinggal dirumah kami," kata Devan.
"Memangnya, sudah berapa bulan kehamilan Vania, Van?" tanya Sang papa Adam Mahendra.
"Baru 3 bulan, Pa. Aku akan mendampingi Vania, biar dia tidak stres, seperti Shanum, "ucap Devan.
__ADS_1
"Iya, kamu harus memperhatikan kehamilannya Vania, biar tidak depresi kayak istrimu yang satu itu !" sahut Papa Adam.
Shanum merasa hatinya dicabik-cabik mendengar perkataan suami dan kedua mertuanya.
Shanum memberanikan diri menghampiri suaminya diruang tengah. Nyonya Sonia menatapnya dengan tatapan tidak suka.
"CERAIKAN AKU SEKARANG, DEVAN!" ujar Shanum dengan wajah yang penuh amarah.
"Aku tidak bisa menceraikanmu sekarang Shanum, tunggulah sampai anakmu lahir!" kata Devan tanpa rasa bersalah.
"AKU SUDAH TIDAK TAHAN LAGI, DEVAN, KENAPA KAU TIDAK MEMBUNUHKU SAJA!" teriak Shanum sambil memukul dada suaminya dengan kedua tangannya.
"JANGAN MERUSAK KEBAHAGIAAN KAMI, PEREMPUAN MISKIN!" Nyonya Sonia menarik tubuh Shanum dengan kasar, agar menjauh dari Devan. Devan hanya diam, sepertinya pikirannya sudah diracuni oleh ibunya yang angkuh itu.
"KALIAN YANG MERUSAK KEBAHAGIAANKU, KALIAN YANG TELAH MENGHANCURKAN HIDUPKU!" teriak Shanum histeris.
Jasmine dan si kembar Shera dan Shena, terpaku memandang Shanum yang menangis histeris.
"MASUK KE KAMARMU, SHANUM !" Devan menarik tubuh Shanum keluar dari ruangan itu.
"AKU BELUM SELESAI, DEVAN AGYA MAHENDRA, APA KAU TIDAK SADAR, KALAU SEMUA INI ADALAH ULAH MAMAMU YANG SOMBONG ITU. KALIAN KEJAM, KALIAN MEMISAHKAN AKU DENGAN ANAK-ANAKKU, BAHKAN UNTUK MENYENTUH MEREKA PUN, KALIAN TIDAK MENGIZINKANKU, ....!" Shanum mengatur nafasnya yang terasa sesak.
" ...DAN LIHATLAH HASIL DIDIKAN KALIAN, JASMINE MENJADI ANAK YANG SOMBONG DAN AROGAN, TIDAK PUNYA RASA HORMAT DAN EMPATI KEPADA ORANG LAIN, AKU MEMANG MISKIN, TAPI AKU PUNYA HATI...!"
Rasa sesak didada Shanum akhirnya terbebas juga, ketiga orang didepannya hanya diam dan tak lagi bicara. Tiba-tiba dunia Shanum kembali gelap, dia jatuh tak sadarkan diri, untuk kesekian kalinya.
Shanum tersadar dari pingsannya saat pagi menjelang. Si kembar Shera dan Shena duduk disamping Shanum, Shanum tidak percaya dengan penglihatannya.
"Shera...! Shena....!" Shanum memeluk kedua putri kembarnya itu dengan erat. Inilah pertama kali dalam hidupnya, begitu dekat dengan kedua putrinya.
"Bunda, jangan menangis lagi, ya!" ucap Shera sambil mengusap air mata diwajah Shanum.
Shanum terharu, sebuah panggilan yang dari dulu ingin dia dengar dari anak-anaknya. Panggilan pertama yang menjadikannya seorang ibu.
"Iya, Bunda, jangan nangis! Kami sayang Bunda!" ucap Shena sambil mencium pipi Shanum lembut. Shanum tidak tahu harus berkata apalagi.
"Bunda ...!" Suara Jasmine terdengar bergetar memanggil Ibunya.
"Jasmine....!" Shanum memeluk ketiga putrinya itu dengan penuh kasih sayang.
"Trimakasih, Tuhan!" puji syukur Shanum, saat begitu dekat dengan anak-anaknya.
__ADS_1
Dan Shanum berharap semua itu bukan hanya mimpi.