
Setelah drama penolakan yang panjang, Shanum akhirnya luluh juga dengan rayuan Harland. Pria itu terlihat manja dan kekanak-kanakan. Shanum sudah mengisi bathtub dengan air hangat, dan memasukkan sabun cair kedalamnya. Harland duduk di sana sambil bersandar di ujung bathtub.
Dia meminta Shanum untuk mengusap seluruh tubuhnya dengan sabun.
"Kak Harland ih, basah nih," Shanum berdiri menghindar saat Harland menyiramnya dengan air dari bathtub yang dipenuhi busa sabun.
Harland menahan tangan Shanum untuk tidak pergi menjauh. "Aku belum selesai sayang, ayolah!"
"Tapi kak...!" Shanum menjerit kaget saat, Harland menarik tubuhnya kedalam bathtub dan memeluk Shanum dengan tubuh yang dipenuhi busa.
"Sayang, mumpung kita lagi berdua, kita bisa bercinta dulu disini sepuasnya," goda Harland, sambil melucuti pakaian istrinya yang sudah basah. Shanum hanya pasrah, saat kedua tangan Harland sudah bergerilya di setiap inci tubuhnya.
"Ahh;" suara laknat itu terlepas begitu saja dari mulut Shanum, saat Harland sudah menyatukan tubuhnya, dengan Shanum duduk di pangkuannya.
Harland benar-benar berbeda, saat mereka hanya berdua. Hasrat bercinta nya semakin menggebu-gebu, membuat Shanum kehilangan kewarasannya.
Apakah efek obat yang diberikan Monica begitu kuat, batin Shanum. Saat Harland tidak merasa lelah sedikitpun. Shanum pun tidak mau kalah, memperlihatkan sisi liarnya. Memanjakan Harland dengan tangan dan mulutnya.
Entah berapa kali Harland melepaskan benih-benih premiumnya, Shanum tidak ingat lagi untuk menghitungnya.
"Kak, aku lapar!" Shanum melepaskan diri dari pelukan Harland, saat mereka selesai bercinta di kamar mandi.
"Ya udah kita makan dulu, tapi suapin ya!" kata Harland tersenyum menggoda.
"Iya, manja banget sih!" Shanum menjepit hidung mancung Harland dengan dua jarinya.
"Nggak pa pa kali, manja sama istri sendiri!"
Shanum tersenyum manis, Dia mengambil makanan yang sudah disediakan di atas meja. Dan menikmatinya berdua bersama Harland. Sesekali Shanum menyuapi Harland dengan telaten.
"Lagi kak?"
"Nggak, udah kenyang!" Shanum meletakkan piring yang sudah kosong diatas meja dorong. Kemudian mengambilkan segelas air putih untuk Harland. Harland menerima minuman itu dan meminumnya hingga tandas.
Shanum kembali duduk disamping Harland, yang sibuk mengecek email yang masuk ke ponselnya.
"Ada kabar penting, kak?" tanya Shanum menyandarkan tubuhnya dipunggung Suaminya.
"Nggak ada sayang! Sepertinya kita bisa berlama-lama disini,"
"Nggak mau, kak! Kasihan anak-anak terlalu lama di tinggal," protes Shanum.
"Iya, kita pulang besok pagi saja!"
"Kak, ayolah, kita pulang nanti sore! Gabriel butuh ASI, lihatlah, dadaku bengkak, karena sudah 2 hari, nggak nyusuin Gabriel,"
Harland tersenyum, memandang dada Shanum dengan tatapan mesum. Shanum buru-buru menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Kak Aland...!" Shanum kaget saat wajah Harland sudah berada di dadanya, membuka kembali satu persatu kancing piyama yang dipakai Shanum. Dan menghisap dengan rakus, sumber kehidupan putranya, Gabriel.
Shanum merasa sedikit lega, nyeri di *********** sedikit berkurang, sudah 2 hari ASI nya tidak keluar, karena jauh dari Gabriel.
__ADS_1
"Sayang!" Harland memandangi wajah istrinya yang tampak memerah menahan hasrat, yang lagi-lagi datang, saat Harland mengusap dadanya lembut.
"Jangan ditahan!" bisik Harland. Shanum tersenyum penuh gairah, dia mendorong Harland untuk berbaring terlentang. Senyum manis tersungging di bibir Harland, saat Shanum dengan liar bergerak diatas tubuhnya.
Bulan madu dadakan mereka, menjadi hari-hari yang mengesankan, tidak ada lagi rasa canggung atau pun malu, saat kedua raga itu melebur menjadi satu.
...----------------...
Keesokan harinya pagi-pagi sekali, Shanum dan Harland, kembali ke Jakarta. Kebahagian terpancar diwajah keduanya. Mommy Sarah menyambut keduanya dengan senyum merekah.
"Mm, ada yang lagi happy nih," sapa Sarah.
"Iya dong, Mommy! Kapan lagi kita bisa berduaan, kalau nggak ingat Gabriel dan Flo, aku ingin menahan Shanum seminggu lagi," jawab Harland. Shanum membulatkan matanya,
"Nanti kalau, Gabriel bisa ditinggal, kalian harus pergi ke Jerman, menemui keluarga Daddy Aldrich di sana," ujar Sarah.
"Kita berangkat sama-sama, Mommy! Itu lebih seru, ajak anak-anak juga,"
"O ya, bagaimana kabar Monica, Land?" tanya. Sarah.
"Sepertinya sudah sembuh, Mom! Cuma sifatnya masih tetap sama, licik!" jawab Harland.
"Jadi, benar kan kata Mommy,"
"Iya Mom, aku berterimakasih, karena Mommy sudah menyuruh Shanum untuk menyusul ke Surabaya, kalau tidak aku tidak tahu, apalagi yang akan direncanakan ular itu," geram Harland.
Shanum pun tidak sanggup membayangkan, seandainya saja dia tidak datang diwaktu yang tepat, suaminya itu akan bercinta dengan Monica, sepanjang malam.
"Ya Mom, aku akan selalu mengingat nasehat Mommy," sahut Harland.
Bukan tanpa alasan, Mommy Sarah selalu mengingatkan Harland, agar tidak mudah percaya pada orang lain. Harland memiliki daya tarik yang luar biasa, bukan hanya wajahnya yang tampan, tapi kekayaannya yang tidak akan habis tujuh turunan. Banyak, relasi-relasi perusahaan mereka ingin menjadikan putri mereka istri Harland, walau bukan istri pertama atau kedua.
Mommy Sarah, dengan tegas menolaknya.
...----------------...
"Bunda, Bunda sudah pulang?" Jasmin menghampiri Shanum yang sedang menyusui Gabriel di kamar.
"Ada apa, sayang!" tanya Shanum, melihat raut wajah Jasmine yang tampak cemberut.
"Bunda, besok Ayah sama Bunda dipanggil kepala sekolah ke sekolah!" kata Jasmine.
"Jasmine membuat masalah lagi?" tanya Shanum datar.
"Maafkan Jasmine, Bunda! Jasmine tidak sengaja!"
"Coba ceritain dengan jujur, ada masalah apa?"
"Kemaren, ada anak baru, namanya Renata, dia membuat geng dengan teman sekelas yang terdiri dari anak-anak orang kaya. Dan mereka mem-bully Jasmine. Mereka bilang, Aku bukan anak keluarga Myer, mereka menghina Bunda, dan mengatakan Bunda hanya pembantu di rumah ini, aku marah Bunda!
"Lalu, Jasmine membalas mereka?" tanya Shanum.
__ADS_1
"Jasmine mendorong Renata hingga jatuh, kepalanya berdarah karena membentur ujung meja," jawab Jasmine jujur.
"Baiklah, besok kita ke sekolah, kita ajak Daddy Harland juga!" Ucap Shanum menenangkan putrinya.
Seperti yang sudah direncanakan, Harland dan Shanum berangkat ke sekolah Jasmine, untuk bertemu dengan orang tua Renata, anak yang telah menjadi 'korban' kekasaran Jasmine.
"Terimakasih sudah hadir di sekolah, Bu Shanum, Pak Harland!" sambut kepala sekolah. "Sambil menunggu, orang tua Renata, Bapak mau dengar, penjelasan dari Jasmine, tentang kronologi kejadian kemaren."
Jasmine pun menceritakan semua kejadiannya pada kepala sekolah tanpa di lebih-lebihkan.
Tak lama orang tua Renata datang, bersama putri mereka Renata, dengan kepala yang di balut perban. Wajah anak itu langsung cemberut saat melihat Jasmine.
"Selamat pagi, Pak Eman, Bu Eman, ini orang tuanya Jasmine." kepala sekolah memperkenalkan mereka, Harland mengernyitkan keningnya, dia merasa mengenal laki-laki itu. Tapi dimana? Harland lupa.
"Selamat Pagi, Pak Eman, Saya Harland Myers, daddy-nya Jasmine," Harland mengulurkan tangannya pada kedua suami istri itu.
"Pagi pak Harland" Laki-laki itu duduk di samping Harland dengan salah tingkah.
"Pak kepala sekolah, kami tidak terima putri kami mengalami luka seperti ini, kami menuntut ganti rugi," ujar ibunya Renata dengan suara tinggi.
"Tenang dulu, Bu Anita! Kita akan bicarakan itu baik-baik, saya rasa Pak Harland tidak keberatan untuk membiayai pengobatan Renata, bukan begitu Pak Aland?" tanya Kepala Sekolah.
"Iya Pak, berapa biayanya? Saya akan mentransfer uangnya sekarang, sebutkan nomor rekening anda Bu Anita!" kata Harland, mengeluarkan ponselnya.
Bu Anita sumringah, dia menyebutkan sejumlah angka. Tanpa membantah, Harland langsung mengirim uang yang di minta Ibunya Renata sebagai ganti rugi.
"Nah, sekarang anda puas, Bu Anita, saya rasa luka di kepala putri anda tidak terlalu parah, buktinya dia masih bisa bersekolah," kata Shanum kesal melihat tingkah Anita, yang meminta uang dalam nominal yang diluar akal sehat.
"Iya, Bu Shanum, lukanya memang tidak parah, tapi anak saya mengalami trauma, dan saya harus membawanya ke psikiater, biaya untuk ke Psikiater itu tidak sedikit, kami tidak punya uang lagi untuk itu!" jawab Anita. Renata menatap ibunya, dengan kesal.
"Bu Anita, disini putri saya yang menjadi korban Bullyan Renata dan teman-temannya. Wajar dia marah, tapi dia tidak sengaja membuat Renata terluka!" kata Harland.
"Benar begitu, Renata?" tanya Pak Eman menatap putrinya yang telah berbohong kepada mereka.
Renata menundukkan wajahnya dan menangis.
"I.. i..ya, Pa!" jawab Renata gugup."Saya hanya ingin berteman dengan Jasmine, tapi Jasmine tidak mau berteman dengan siapapun!" jawab Renata.
"Maaf, Renata! Jasmine memang begitu, dia tidak mudah akrab dengan siapa saja, itu karena Jasmine sering di bully sejak awal masuk Sekolah di sekolahnya yang dulu," kata Shanum.
"Saya minta maaf, Tante, Om!" kata Renata tulus.
"Ya sudah, kamu memaafkan mu, Renata, lain kali jangan di ulang lagi, baik pada Jasmine atau pun teman-teman yang lain," kata Harland.
"Ya, Om! Mama, kembalikan uang Daddy-nya Jasmine ya!" kata Renata pada ibunya.
Wanita itu membulatkan matanya, menatap Renata dengan tajam.
"Tidak usah di kembalikan Renata, ambil saja untuk biaya sekolahmu!" kata Harland tersenyum.
Bersambung
__ADS_1