Bunda (Cinta Yang Hilang)

Bunda (Cinta Yang Hilang)
MAAFKAN AKU


__ADS_3

Entah untuk ke berapa kalinya, Harland menuntaskan hasrat bercintanya yang menggebu-gebu. Hingga dia tidak menyadari jika Shanum sudah tidak sadarkan diri.


Cahaya matahari yang mengintip dari balik tirai kamar hotel tempat Harland dan Shanum menginap, membuat Harland terbangun dari tidurnya. Kepalanya masih terasa berat. Harland mengerakkan tubuhnya yang terasa kaku, dia ingat satu hal, semalam adalah malam pertama pernikahannya dengan Shanum, tapi...


"Shanum....!" Harland tampak kaget melihat Wanita yang telah dia nikahi kemaren, terkapar disebelahnya dalam keadaan yang mengenaskan. Darah segar mengalir dari sela -sela kedua pahanya.


"Oh....,tidak, Shanum, bangun sayang! Shanum..!" Harland tampak panik, pria itu bergegas membersihkan dirinya dikamar mandi dan mengenakan pakaian yang dia pakai semalam. Buru-buru Harland menyelimuti tubuh Shanum dan membawanya ke rumah sakit.


Harland mencoba mengingat kejadian yang menimpanya semalam, saat Monica memberinya sebuah minuman, sesaat sebelum Harland hendak masuk ke kamar Pengantin mereka, dimana Shanum sudah menunggu dengan gelisah.


"Brengsek, kau Monica! aku akan membuat perhitungan denganmu!" berang Harland. Harland merutuki dirinya sendiri yang telah membuat Shanum menjadi korban keganasan hasratnya.


Harland menelpon Mommy Sarah dan memintanya mengantar pakaian untuk dirinya dan Shanum kerumah sakit.


"Harland, ada apa dengan Shanum?" tanya Mommy Sarah cemas.


"Nanti aku ceritakan Mommy, sekarang tolong jagain Shanum, aku akan mencari Monica dan membuat perhitungan dengannya." geram Harland.


"Ya, Mommy akan kesana!" Jawab Mommy Sarah,


"Bi, jagain Flo ya, Mommy mau kerumah sakit," kata Mommy Sarah, saat Bianca keluar dari kamar.


"Siapa yang sakit, Mom?" tanya Bianca bingung.


"Shanum, sepertinya sesuatu yang buruk terjadi pada Shanum, Harland akan mencari Monica untuk membuat perhitungan."


Bianca mengangguk, dia mengerti apa yang terjadi dengan Harland semalam. Kakaknya itu pasti telah melampiaskan nafsunya pada Shanum, tanpa foreplay terlebih dahulu.


"Kasihan kak Shanum!" gumam Bianca sedih.


Mommy Sarah duduk di samping brankar tempat Shanum dirawat. Shanum baru saja membuka matanya, saat menemukan dirinya berada dirumah sakit dan slang infus dipergelangan tangannya.


*Kamu sudah sadar, Nak?" tanya Mommy Sarah lembut.


"Mommy! mana Flo?" tanya Shanum lirih, ia justru mengkhawatirkan anak asuhannya.


"Flo ada bersama Bianca, jangan risaukan mereka, bagaimana keadaanmu, Nak?"


Shanum memejamkan matanya, tetes air mata jatuh dari pelupuk mata.


"Aku, merasa hancur, Mommy!" lirih Shanum.


"Maafkan Alan ya nak, dia tidak menyadari apa yang dia lakukan, dia merasa bersalah membuatmu seperti ini." ucap Mama Sarah.


"Mana kak Alan, Mommy?"


"Dia sedang mencari Monica, dia akan membuat perhitungan dengan wanita ular itu!"


Shanum mengangguk lemah, dia memang tidak bisa menyalahkan Harland, tapi apakah Shanum masih bisa melakukannya dengan Harland, setelah Shanum merasakan trauma yang begitu dalam. Tubuh bagian intinya, begitu sulit untuk digerakkan apalagi Shanum mengalami pendarahan hebat sejak semalam.

__ADS_1


Harland, baru saja keluar dari apartemen Monica, tapi dia tidak menemukan wanita licik itu disana.


"Dimana kau Monica, aku akan mencarimu sampai ke lobang semut sekalipun," geram Harland.


Harland mengerahkan orang-orangnya untuk mencari Monica sampai ketemu. Dengan langkah gontai, Harland masuk keruangan tempat Shanum dirawat. Wanita itu memalingkan wajahnya saat Harland masuk, Shanum tidak sanggup melihat wajah suaminya itu, yang telah berubah menjadi monster yang mengerikan.


Harland duduk disamping tempat tidur Shanum dan meraih jemari wanita itu dengan lembut.


"Maafkan aku, Shanum!" ucap Harland lirih.


Shanum hanya diam dan sanggup untuk bicara.


"Shanum, jawab aku! jangan buat aku semakin merasa bersalah," Harland menggenggam jemari Shanum dan menciumnya dengan lembut. Air mata jatuh dipipinya yang ranum. Harland menyeka air mata itu dengan jemarinya.


"Kak,...aku bisa memaafkan kakak, tapi aku tidak tahu, apa aku masih bisa melayani kakak, setelah semua sakit yang aku rasakan," jawab Shanum lemah.


"Aku akan menunggu saat kau siap, aku akan berusaha mengobati luka hatimu secara perlahan. Jangan membenciku, Shanum!" Shanum menggeleng.


"Aku tidak membencimu, kak, tapi beri aku waktu untuk menghilangkan trauma ini."


"Aku mengerti, Shanum! Aku menyesal kenapa semua ini bisa terjadi,"


"Tapi setidaknya, kakak tidak tidur dengan Monica di malam pernikahan kita," ujar Shanum datar.


Harland mengangguk, dia tidak bisa membayangkan kehancuran Shanum, jika dia sempat tidur dengan Monica di malam pertama mereka.


" Istirahatlah,...aku mau pulang sebentar, kasihan Flower tidak melihat Ayah dan Bundanya dari semalam." ucap Harland lembut.


"Bawa Flo kesini ya, Kak!" pinta Shanum.


Harland menggangguk.


...----------------...


Monica berada di Apartemen Hary dari semalam. Dia tidak berani keluar dari tempat itu, karena Harland mencarinya dengan penuh kemarahan.


"Hary, tolongin gue dong, gue mau pergi ke Bali saja, Harland pasti nyariin gue!" Monica tampak panik.


"Lagian Lo sih, pake nyari masalah segala,"


"Gue kan kesal, gue nggak rela Harland memilih Shanum sebagai pengganti gue!" ujar Monica kesal.


"Dasar perempuan, egois,...kalau Lo nggak mau Harland sama orang lain, kenapa Lo ninggalin dia,...Lo dan Vania sama saja, " omel Hary dongkol.


"Ayolah Hary, bantuin gue keluar dari kota ini, gue takut, orang-orang suruhan Harland, menangkap gue."


"Gue bakal bantuin Lo, tapi kasih gue duit, 50 juta!"


.

__ADS_1


"Gue udah nggak punya uang sebanyak itu, Hary, Lo lihat kan gue lagi hamil, otomatis nggak ada job buat gue di agensi "


"Kenapa Lo nggak minta duit sama laki Lo,siapa namanya? Pak Eman itu, Lo kan lagi mengandung anaknya!" sahut Hary.


*Hah, si tua itu lagi di awasi sama istrinya, dia tidak bisa berkutik, sudah satu bulan dia tidak memanggil gue!" ucap Monica kesal.


"Lo minta lagi sama Vania, Lo kan punya senjata buat meras dia," lanjut Haru lagi.


"Benar juga Lo,...ide. bagus!" Monica tersenyum samar.


Tanpa menunggu lama, Monica kembali menghubungi Vania lewat ponselnya. Monica kembali mengubah suaranya.


"Vania, ....bagaimana kabarnya, gue butuh duit nih, 50 juta saja, tolong kirim ke nomor yang kemaren ya, kalau nggak, ingat, video Lo masih ada sama gue !" ujar Monica.


"Lo itu siapa sih, meras gue , gue nggak ada duit lagi!" gerutu Vania kesal.


"Oh kalau begitu, gue bakal ngirimin video Lo sama Hary atau Lo mau Devan tahu kalau Darren..."


"Lo Monica ya, brengsek Lo teman sendiri Lo kerjain juga," teriak Vania kesal.


"Ha...ha..ha, baiklah, gue ngaku...gue Monica , bagaimana kapan uangnya masuk ke rekening gue!"


"Gue nggak punya duit sekarang, brengsek, kasih gue waktu sampai besok lusa," jawab Vania geram. Sudah hampir satu bulan, Devan tidak memberinya uang, keadaan diperusahaan Devan juga sedang tidak stabil. membuat keuangan keluarga Mahendra sedikit terguncang. Hal tersebut membuat Nyonya Sonia panik, apalagi kerjasama dengan Perusahaan Harland dibatalkan.


Vania menghempaskan tubuhnya dengan kasar di tempat tidur. Putranya Darren masih tertidur lelap di atas ranjang. Vania tampak gelisah, tiba-tiba suara deringan telepon mengagetkan dirinya. Sebuah nomor tak dikenal terpampang dilayar ponselnya. Dengan ragu-ragu Vania mengangkat ponselnya.


"Hallo,...!" jawab Vania pelan.


"Vania, ini aku Harland!" jawab suara diseberang panggilan.


"Ya, ada apa Harland?" tanya Vania takut.


"Van, aku mau minta tolong!...jika kamu melihat Monica, cepat hubungi aku!" kata Harland


"Memangnya, kenapa Land?" tanya Vania.


"Perempuan itu harus bertanggung jawab, karena telah memberiku obat perangsang dosis tinggi, aku sedang mencarinya," ujar Harland.


Vania berpikir sejenak.


"Lan, gue tahu dimana Monica!" jawab Vania cepat.


"Oh ya! dimana dia?"


"Dia di apartemen seseorang bernama Hary, gue akan mengirimkan alamatnya," Vania mengetikkan alamat Monica dengan chat di WhatsApp.


"Oke, terimakasih Vania," ucap Harland sambil menutup ponselnya. Vania merasa lega, jika Monica ditangkap polisi, Vania bisa terbebas dari pemerasan wanita itu, pikirnya.


.

__ADS_1


__ADS_2