
Shanum baru saja selesai memandikan si bungsu Gabriel. Kemudian menidurkannya di boks bayi. Dari kamar sebelah, terdengar tangisan nyaring putrinya Flower. Shanum buru-buru menidurkan Gabriel. Setelah Gabriel tertidur pulas, Shanum bergegas ke kamar Flower, anak kecil yang sekarang berusia 2 tahun lebih itu, menangis dengan keras. Shanum mendekati Flower dan meraba kening anak itu.
"Astaga, kamu demam lagi,nak!" Shanum buru-buru mengambil kotak obat dan memberikan.obat penurun panas, sebagai pertolongan pertama.
"Ada apa, sayang? kelihatannya panik banget!" Harland menyusul Shanum ke kamar Flower.
"Flo demam lagi, kak? Tubuhnya panas," Shanum segera mengganti popok Flower dan menggendongnya keluar kamar.
"Kita ke rumah sakit saja kak!" ajak Shanum. Harland mengiyakan, dan tanpa berlama-lama, Shanum membawa Flo ke tempat dia biasa di rawat.
"Flo, demam lagi ya!" Dokter Stella yang sudah menjadi langganan Flower, faham dengan apa yang terjadi pada anak kecil itu.
"Iya dokter, aku khawatir, dari tadi Flo menangis terus, apa sakit jantungnya kumat lagi?" Kata Shanum sedih.
"Kita akan observasi lagi, Bunda! Jika memungkinkan untuk melakukan operasi, kita akan melakukannya," kata Dokter Stella lagi.
"Lakukan yang terbaik, dokter?" kata Harland.
"Tentu Pak Harland, jangan khawatir!" kata dokter Stella menenangkan.
Keadaan Flower, memang tidak begitu baik, dia sering demam dan kejang. Hal itu membuat Shanum merasa cemas. Penyakit jantung bawaan yang diderita Flower sejak kecil, mengharuskan Shanum lebih ekstra merawat Flower.
"Sayang, jangan nangis lagi ya!" bujuk Shanum sambil mengelus-elus rambut Flo dengan sayang.
"Kak, sebaiknya kakak ke kantor saja dulu, biar Aku yang jagain Flo disini, " kata Shanum.
"Baiklah, nanti kalau terjadi apa-apa, telpon aku secepatnya ya!' Pesan Harland, sambil mengecup lembut kening putrinya, yang sudah tertidur setelah dokter memberinya obat.
"Ya, kak! Hati-hati!" Shanum melambaikan tangannya, begitu Harland masuk kedalam mobilnya.
Shanum menatap iba gadis kecil itu,
"Kenapa denganmu, Flo? Kenapa kamu sering sakit-sakitan, Bunda sayang sama Flo, yang kuat ya nak!" bisik Shanum lembut.
"Kamu harus semangat sayang, Bunda ingin melihat Flo tumbuh besar, sekolah seperti kak Jasmin dan kak Shera, Shena,"
Penyakit Jantung Bawaan yang dirasakan Flower, kadang membuat Shanum merasa tidak tega, hampir tiap bukan, anak sekecil itu merasakan sakitnya jarum suntik, dan Flower akan menangis tak henti-hentinya hingga tertidur karena pengaruh obat.
Harland memuji kesabaran Shanum dalam merawat Flo dari bayi.
Sudah 2 hari Flower dirawat di rumah sakit, namun keadaannya belum juga membaik. Kondisi Flower makin lama makin menurun.
"Bunda Shanum, keadaan bayi Flo, sedang tidak baik, kami membutuhkan dua kantong darah untuk Flower, sementara persediaan di rumah sakit, sudah habis," kata dokter stella.
"Apa golongan darahnya, Dok?" tanya Harland
"AB pak, anda bisa mendonorkan darah untuk anak anda," kata dokter.
"Maaf dokter, golongan darah saya O, " kata Harland.
__ADS_1
"Bagaimana dengan anda Bu Shanum?"
"Periksa saja dulu, dok!" kata Shanum. Shanum diperiksa oleh tim dokter rumah sakit, namun tidak ada kecocokan diantara keduanya.
"Aku akan telpon, Mommy!" Kata Harland, buru-buru menelpon mommy Sarah.
"Ada apa, Aland?" tanya Mommy Sarah.
"Mom, Flower drop, dia butuh donor darah, Apa mommy bisa membantuku, mencarikan darah yang cocok untuk Flo?" ujar Harland panik.
"Astaga, baiklah Mommy akan mencarikan donor Darah untuk Flo, Mommy akan segera ke rumah sakit, " kata Mommy Sarah, buru-buru keluar rumah.
Di mobil, Mommy Sarah menghubungi ponsel Devan. Pria itu sedang mengadakan pertemuan dengan beberapa relasi perusahaan yang dikelolanya.
"Maaf, sebentar ada panggilan dari Bu Sarah, Ibunya Pak Harland," Devan meminta izin untuk menerima ponsel itu.
"Ada apa Bi Sarah?" tanya Devan dengan perasaan tidak nyaman.
"Devan, Kamu datanglah ke rumah sakit Medica Husada sekarang, kami membutuhkan bantuanmu, nak!" kata Sarah memohon.
"Bantuan apa, Bu Sarah, siapa yang sakit?"
"Cepatlah, berangkat sekarang juga! Nanti kamu akan tahu sendiri," seru Mommy Sarah.
"Baik, Bu Sarah! Saya akan segera kesana!" Devan buru-buru mengemasi file nya yang masih ada di meja rapat.
Devan berjalan terburu-buru mencari Bu Sarah, wanita itu sudah menunggu di ruangan dokter Stella untuk melakukan pengecekan darah.
"Ada apa Bu Sarah?" Devan makin penasaran.
"Kami membutuhkan darahmu, Devan! Untuk menyelamatkan nyawa Flower!" kata Mommy Sarah, setelah dokter mengatakan bahwa darah Devan memiliki kecocokan dengan darah Flower.
"Flower?" ulang Devan cemas.
"Iya, Flower sedang kritis sekarang, kami membutuhkan 2 kantong darah untuk saat ini, pak Devan," ujar dokter Stella mengiyakan.
"Kalau begitu, silahkan ambil darah saya dok?" kata Devan tanpa pikir panjang.
Setelah proses pengambilan darah selesai, Devan duduk di depan meja kerja dokter Stella. Di sana, Bu Sarah masih duduk menunggu Devan selesai meminum segelas jus yang disediakan asisten dokter Stella.
"Terimakasih Devan," ucap Mommy Sarah.
"Sama-sama Bu Sarah, tapi bagaimana dengan Harland,"
"Flo bukan anak kandungnya Aland, Flo di adopsi oleh Harland dan Monica, saat Flo baru lahir," jelas Sarah.
"Benarkah?" Devan tak menyangka sama sekali.
"Devan, sebenarnya Flower itu putrimu!" kata Mommy Sarah mengatakan rahasia yang telah disimpannya setahun belakangan ini.
__ADS_1
Devan menatap Mommy Sarah tak percaya.
"Aku sudah melakukan test DNA, terhadap Flo dan kamu, Devan. Hasilnya 99,9% identik,"
"Bagaimana bisa, Bu Sarah,"
Devan menceritakan tentang keadaan Shanum saat melahirkan flower, hingga bayi Flo di adopsi oleh Harland dan Monica.
"Apakah Shanum mengetahuinya, Bu Sarah?"
"Tidak, dia belum mengetahuinya,"
"Saya yang salah, Bu Sarah! Saya yang menelantarkan Shanum dan anak saya, karena keegoisan saya dan Mama," ujar Devan jujur.
"Shanum sudah menceritakan semuanya, Devan!"
"Terimakasih, anda telah begitu baik menjaga Shanum dan anak saya, Bu Sarah! Saya merasa malu, berhadapan dengan anda,"
Devan menangis tanda penyesalan.
"Sudahlah, sekarang kita fokus pada kesembuhan Flower, dia menderita penyakit jantung bawaan sejak berusia 5 bulan, dan harus keluar masuk rumah sakit, dua bulan sekali," terang Mommy Sarah.
Devan menarik nafasnya yang terasa sesak, ada rasa sesal yang mengganjal dalam hatinya, setelah bercerai dengan Shanum. Dan bayi mereka menjadi korban atas keegoisannya, yang menuntut seorang anak laki-laki pada Shanum.
Devan tidak pernah memperhatikan kehamilan Shanum, hingga dia melahirkan. Masih terbayang dalam ingatannya, Saat Shanum pulang dari rumah sakit seorang diri, dan mengatakan bahwa anaknya meninggal. Tapi Devan tidak perduli, karena saat itu, Vania juga sedang hamil anaknya. Hingga Shanum pergi meninggalkan rumah mereka, membawa luka yang teramat dalam.
Devan melangkah gontai menyusuri koridor rumah sakit, tempat Flower dirawat. Dokter baru saja selesai melakukan transfusi darah, untuk Flo. Gadis kecil itu terbaring lemah di tempat tidur. Shanum duduk disebelahnya, sambil mengelus-elus kepala flower dengan lembut. Devan menatapnya dari jendela di luar ruangan. Air matanya jatuh menetes di pipinya, hatinya merasa hancur, tidak tega melihat kesakitan yang dialami putri kecilnya
"Maafkan Ayah, nak!" bisik Devan. Shanum memandang ke arah jendela, sekilas dia melihat Devan berdiri disana sambil menatap Flo dengan air mata. Jantung Shanum berdegup kencang.
Sebelumnya dokter Stella mengatakan bahwa orang yang mendonorkan darah untuk Flo adalah ayah kandungnya. Shanum mencari orang yang dimaksud dokter Stella, namun dia tidak menemukan siapa-siapa selain Devan dan Mommy Sarah.
Jika Devan yang mendonorkan darahnya untuk Flower, itu artinya Flo adalah putrinya sendiri. Tubuh Shanum gemetar, dadanya terasa sesak. Dia memandang wajah pucat Flower dengan sedih. Wajah itu memang mirip dengan Devan, lebih tepatnya sangat mirip dengan Jasmine, putri pertamanya.
"Boleh aku masuk, Harland!" tanya Devan pada Harland yang duduk mematung di ruang tunggu rumah sakit.
"Oh ya, silahkan!" Harland mengangguk namun wajahnya tampak datar. Dia juga tidak menyangka, bahwa anak yang di adopsinya bersama Monica, adalah putrinya Devan dan Shanum.
Devan masuk ke dalam ruangan tempat Flower di rawat. Melihat Devan mendekat, Shanum keluar dari ruangan itu dan duduk bersama Harland. Dia menjaga hati suaminya, agar tidak berpikir macam-macam, jika dia dan Devan berada di ruangan yang sama.
"Flo sudah lebih baik, sayang?" tanya Harland saat Shanum duduk disampingnya.
"Ya kak, wajahnya sudah tidak pucat lagi," terbang Shanum. "Kak, maafkan aku, aku tidak mengenali putriku sendiri," sesal Shanum.
"Sudahlah, semuanya sudah berlalu, Flo akan tetap menjadi putriku, Shanum!" kata Harland memeluk istrinya erat.
"Terimakasih Kak!' Shanum menyandarkan kepalanya dibahu Harland.
Bersambung...
__ADS_1