
Tidak ada yang bisa dilakukan Devan, karena kepalanya masih terasa sakit dan berat. Hampir seharian dia tidur diruang tamu. Tanpa memperdulikan Vanya yang marah-marah dan mengomel tidak menentu. Dia bangun menjelang sore, setelah selesai membersihkan diri dan berpakaian rapi. Devan keluar dari rumah, tanpa sepengetahuan Vanya.
Dia pergi kerumah Mama Sonya dan menemui sikembar Shera dan Shena.
"Ayah....!" sikembar memeluk kedua kaki ayahnya bersamaan.
"Sayang, kalian mau ikut....ayah akan mengajak kalian pergi ke wahana bermain di Mall," kata Devan Sumringah.
"Beneran ayah? ...hore!" Shena melompat-lompat kegirangan, bocah berusia 5 tahun itu tampak berseri-seri.
"Beneran, ajak kakak Jasmine juga!" ujar Devan merasa senang, melihat si kembar tampak bersemangat.
" Ya, Ayah!" Shena berlari ke kamar Jasmine. Gadis kecil itu memanggil Jasmine dengan suara imutnya.
"Kakak ....! kakak....! mau ikut nggak, Ayah ngajakin kita ke Mall, " teriak Shena begitu sampai di kamar, Jasmine.
"Sekarang?" tanya Jasmin, menatap adik kembarnya tak percaya.
"Iya sekarang, kak...ayolah, ayah sudah nungguin," sorak Shera gembira.
"Ya deh, Kakak ikut sebentar ya!" Kata Jasmine sambil bergegas mengganti pakaiannya. Tak lama kemudian bocah 7 tahun itu bergabung dengan adik dan ayahnya.
"Jasmine, Ayah senang kamu mau ikut, ayo kita berangkat !" ucap Devan, sambil menggandeng ketiga putrinya, keluar dari rumah itu, dengan wajah yang berseri-seri. Sungguh, sebuah pemandangan yang langka, terjadi dirumah keluarga Mahendra. Biasanya putri sulungnya itu tidak mau lepas dari ponselnya.
Mereka sampai di Mall terbesar di Jakarta. Devan mengajak ketiga putrinya ke arena bermain anak-anak. Ada seluncuran dan kolam bermain mandi bola. Ketiganya tampak ceria dan tertawa dengan riang.
Devan tersenyum lebar, sambil memperhatikan mereka dari tempat duduk yang disediakan. Baru pertama kali dalam hidup Devan, menyempatkan diri untuk bermain bersama anak-anaknya. Sejak Jasmin lahir, karena kesibukannya dikantor dan tugas yang dibebankan ayahnya, yang membuat Devan tidak punya waktu untuk memperhatikan putri-putrinya. Walau Mama Sonya merawat mereka dengan baik dan materi yang melimpah. Namun, anak-anak tidak mendapat kasih sayang yang utuh darinya.
"Ayah, aku haus, aku mau es krim?" ujar Shera menghampiri ayahnya.
"Shera beli sendiri ya, ini uangnya! beliin juga Shena dan Kak Jasmine!" Devan memberikan. uang kertas limapuluh ribuan ketangan Shera.
"Makasih, Ayah!" Shera berlari mencari kakaknya Jasmine dan Shena untuk mengajak mereka membeli es krim, disebuah gerai yang ada diluar wahana bermain.
Tanpa sengaja, Shera melihat Shanum sedang berada didepan gerai es krim sambil menggendong seorang anak kecil
"Bunda....!" teriak Shera memeluk kaki Shanum erat. Di ikuti Shena dan Jasmine.
"Shera, Shera, Jasmine, sama siapa disini, nak?" tanya Shanum lembut.
__ADS_1
"Sama Ayah, Bunda!" Shanum merasa terharu dan memeluk ketiga putrinya itu bergantian .
"Siapa mereka, Shanum?" tanya Harland yang dari tadi memperhatikan mereka.
"Mereka putri-putri saya,Tuan...!" Jawab Shanum, sambil menyeka air mata yang menggenang dipelupuk matanya.
"Oh, cantik-cantik ya, persis Bundanya !" Puji Harland sambil tersenyum cerah.
"Om ini, siapa?" tanya Shera penasaran karena pria itu sangat akrab dengan Bunda mereka.
"Om temannya, Bunda, kalian mau es krim? ambilah, nanti om yang bayarin!" ucap Harland.
"Adik kecil namanya siapa, Om?" tanya Jasmine yang tampak gemas melihat Baby Flo.
"Namanya Flower, panggil Flo saja !" Jasmin tampak senang berinteraksi dengan Harland. Pria itu sepertinya sangat menyukai anak-anak. Shera dan Shena asyik melepas rindu dengan Bundanya.
Harland menyadari sesuatu, bahwa ada kesamaan antara Flo dengan ketiga anak kecil itu. Mata Flo yang mirip dengan Jasmine, dan raut wajah yang mirip sikembar.
Karena terlalu lama menunggu, Devan menyusul ketiga putrinya keluar wahana. Devan kaget saat melihat Shanum bercengkrama dengan putri-putrinya.
Disana juga ada seseorang yang sangat dikenal baik oleh Devan, Pria yang tadi pagi akan dijumpainya dalam sebuah pertemuan bisnis. Devan mendekati mereka perlahan.
"Pak Devan, senang bertemu anda disini?" sapa Harland, Devan tampak gugup saat melihat kearah Shanum, yang sekarang berubah menjadi lebih cantik dan berisi.
"Eh, iya pak Harland, maaf tadi pagi saya tidak bisa menemui anda, karena anak-anak menuntut saya untuk menemani mereka dirumah!" beber Devan memberi alasan.
"Oh, nggak masalah, Pak Devan, kepentingan anak-anak memang harus diprioritaskan, agar mereka tumbuh dan berkembang dengan baik,saya juga demikian," sahut Harland.
"Anda sudah punya anak?" Devan mengernyitkan dahinya.
"Iya, kenalkan ini putri cantik, Daddy! kenalin sama Om Devan! namaku Flower, Om !" Harland menirukan suara anak kecil dengan imut.
"Hai, Flower!" Devan berjongkok, sambil menyalami bocah berusia 1 tahun lebih. Hatinya bergetar saat bocah kecil itu tersenyum padanya. Senyuman yang sering dia lihat dari ketiga putrinya.
Devan memandang ke arah Shanum, Shanum pun tanpa sengaja memandang kearahnya, Shanum hanya tersenyum mengangguk. Beribu pertanyaan hinggap di otak Devan, ada hubungan apa Shanum dengan orang terpandang seperti Harland.
Harland menyadari tatapan Devan yang intens pada Shanum.
"Sayang, bagaimana kalau kita ajak anak-anak makan dulu, setelah itu kita bermain lagi!" ujar Harland.
__ADS_1
Devan tampak kaget, saat Harland memanggil Shanum dengan sebutan sayang. Shanum pun kaget mendengarnya, namun dia harus mengikuti permainan Harland.
"Baik, Daddy! ayo anak-anak kita makan dulu, kalian mau ayam goreng atau burger?"tanya Shanum.
"Ayam goreng saja, Bunda!" jawab Jasmine.
"Aku nggak ikut, Pak Harland kalian saja, biar aku menunggu disini," ucap Devan, dia merasa tidak nyaman harus bergabung dengan Shanum dan juga Harland.
"Ayolah Ayah! ayah juga belum makan, kan?" kata Shena menarik tangan ayahnya untuk ikut.
"Iya, Pak Devan, nggak apa-apa" ujar Harland sambil mengendong si kecil Flo. Devan terpaksa menuruti keinginan putrinya. Dia berjalan dibelakang Harland yang merangkul Shanum dengan mesra.
Devan, merasa kepanasan, dia menyesal telah menyia-nyiakan Shanum, hanya demi mengikuti kemauan mamanya. namun Devan juga merasa lega, karena Shanum berada ditangan orang yang baik, dan lebih baik darinya.
Setelah selesai makan di restoran cepat saji, Harland mengajak Shanum untuk pulang, karena baby Flo sudah mulai rewel.
"Anak-anak Om mau ngajak Bunda pulang dulu ya, adik Flo sudah rewel, kalau kalian mau ketemu Bunda datang saja kerumah, minta ayah yang antar!" ucap Harland ramah.
"Emangnya boleh, Om!" tanya Jasmine.
"Boleh sayang, rumah Bunda kan rumah kalian juga!" kata Harland tersenyum penuh makna.
Entah apa yang ada dalam pikiran Harland saat ini, untuk apa dia berbuat seolah-olah Shanum adalah istrinya. Dan membuat Devan terbakar api cemburu.
"Ayah, boleh kan, kami main kerumah Bunda?" tanya Shera pada Devan, ayahnya.
"Boleh!" jawabnya singkat.
"Hore! kalau begitu liburan nanti, kita main kerumah Bunda ya!" Kata Shena girang. Shanum hanya tersenyum simpul.
"Kalau begitu, kami permisi dulu, pak Devan, anak-anak!" Harland melambaikan tangan nya pada putri-putri Shanum. Yang tampak bahagia setelah bertemu Bunda mereka. Diikuti Shanum dari belakang.
Devan memandang kepergian mantan istrinya itu dengan tatapan kosong.
"Ayah, kita mau main lagi atau pulang?" tanya. Jasmine.
"Kita pulang saja ya kak,...Minggu depan kita main lagi !" kata Devan merangkul ketiga putrinya itu dengan perasaan tak menentu.
"Tapi kalau sampai dirumah, kalian nggak boleh bilang apa-apa sama Oma, apalagi bertemu dengan Bunda, Oke !" pesan Devan pada anak-anaknya sebelum pulang.
__ADS_1
"Baik ayah, kami janji !" kata Jasmine mengangguk.