
Bianca menatap hampa langit-langit kamar, luka-luka di tubuhnya terasa sangat menyakitkan. Bukan hanya itu, jiwanya pun terasa terguncang dengan kenyataan, bahwa dia harus menghadapi kebrutalan suaminya.
Suara teriakan dari luar kamar mengejutkan Bianca, dia berusaha berjalan keluar dari kamar dengan langkah tertatih-tatih. Bianca mengintip dari balik pintu. Arsen tampak menangis sejadi-jadinya, dia sedang berjuang melawan dirinya sendiri.
"Pergilah Arsen, jangan sakiti istriku, kenapa kau selalu menyakitinya?" teriak Arsen pada egonya.
"Aku sudah bilang padamu Arsen! Perempuan itu tidak baik untukmu, bukankah dia yang telah menghina dirimu dan merendahkan mu, hatiku masih sakit melihatnya, cepat kau ceraikan dia!" perintah ego dalam dirinya.
"Aku tidak mau," tantang Arsen.
"Kalau begitu baiklah, aku akan membuat kau terus menyiksanya, Arsen! Hingga tiba saatnya dia pergi dengan sendirinya,"
"Jangan! Jangan!," ku mohon Arsen, aku mencintainya, aku mohon jangan pisahkan kami!"
"Ha..Ha, kamu itu lucu Arsen," ego Arsen tertawa terbahak-bahak.
"Katakan, apa yang akan aku lakukan, agar kau mau memaafkan kesalahan yang telah di perbuat Bianca,"
"Tidak ada, aku menikmati kesakitannya, aku bahagia dengan teriakan sedihnya, hal itu akan membangkitkan hasrat ku,"
"Bajingan kau Arsen, kau jahat!" suara rintihan itu semakin lama semakin melemah. Arsen tergerak di lantai yang dingin.
"Arsen...!" Bianca keluar dari kamar, mendekati tubuh kaku itu. Wajah itu terlihat sangat menderita. Dengan susah payah, Bianca berusaha menarik tubuh Arsen yang berat kedalam kamar mereka. Keringat membasahi tubuhnya, menimbulkan rasa perih disetiap luka yang ditorehkan.
"Arsen, bangun!" ucap Bianca menguncang tubuh suaminya takut.
"Arsen, bangun, jangan membuat aku khawatir!" jerit Bianca.
Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Dia mencoba memeluk tubuh Arsen erat, hingga Bianca terlelap diatas tubuh kekar itu.
Arsen membuka matanya, saat seberkas cahaya mengenai mukanya. Dia merasakan sesuatu yang berat, menghimpit tubuhnya. Perlahan dia mendorong tubuh Bianca agar berbaring disisinya. Bianca mengerjapkan matanya sejenak, kemudian tertidur kembali karena seluruh tubuhnya terasa panas.
"Bi, kau demam?" Arsen meraba kening Bianca yang masih terlelap.
"Arsen, ....dingin sekali, aku menggigil!' rintih Bianca dalam tidurnya.
"Ya sayang, aku akan mengobati mu!" Arsen menutup tubuh Bianca dengan selimut. Kemudian memberikan obat penurun demam, melalui suntikan, yang biasa dilakukan Arsen.
Arsen memiliki obat-obatan lengkap dirumahnya, karena jika Bianca sakit dia akan mengobatinya sendiri dirumah, Karena jika Bianca di bawa ke dokter, orang-orang akan mengetahui jika Bianca di aniaya.
Seharian, Bianca tidur di kamar, tubuhnya masih terasa panas. Arsen mulai khawatir, saat Bianca mengigau memanggil nama Daddynya.
"Daddy...! Bianca mau ikut Daddy....jangan tinggalkan Bianca Dad!" racau Bianca.
__ADS_1
"Bianca, bangun!" Arsen menepuk-nepuk pipi istrinya pelan-pelan.
"Arsen, maafkan aku, dulu aku pernah menyakiti perasaanmu, aku memang keterlaluan, aku pantas menerima semua dendammu, maaf!" rintih Bianca, masih dengan mata yang enggan untuk terbuka.
"Bi, jangan bicara seperti itu!' Arsen menggenggam kedua tangan Bianca dan menciuminya bergantian.
"Maaf....maaf....!" ucap Bianca berulangkali, hingga suaranya tak terdengar lagi .
Arsen panik, bergegas dia membawa Bianca kerumah sakit, karena ditangannya, nyawa Bianca bisa saja tidak tertolong.
Arsen memberanikan diri untuk menghubungi Shanum, saat itu Shanum sedang sendirian di rumah, Harland sedang berada di luar kota untuk urusan pekerjaan. Sedangkan Mommy Sarah, mengunjungi keluarga suaminya di Jerman, dengan membawa si kembar Shena dan Shera. Sementara si kecil Flower, sedang bermain dengan pengasuh barunya, yang di carikan Harland, agar Shanum tidak terlalu lelah menjaga Flo, yang sedang aktif-aktifnya.
"Hallo Bi, ...!" jawab Shanum saat melihat nama yang tertera di layar ponselnya.
"Kak Shanum, ini aku Arsen!" sahut Arsen dengan suara gemetar.
"Ada apa, Arsen? Kau melakukannya lagi?" tanya Shanum berang.
"Kak, Bianca sedang di rumah sakit, datanglah kemari kak, aku butuh bantuan kak Shanum!" Arsen memohon.
Shanum menarik nafas panjang, dan bertanya, "Baiklah, di rumah sakit mana?"
"Di rumah sakit Medika Utama, Kak!"
Shanum berjalan dengan cepat, menyusuri sepanjang lorong utama rumah sakit, tanpa memperdulikan kehamilannya.
Shanum masuk ke dalam kamar, tempat Bianca tergolek lemah dengan dengan alat-alat kesehatan yang menempel ditangan dan di mulutnya.
Shanum memandang tajam ke arah Arsen, yang duduk sambil menangis di sudut kamar rawat Bianca. Shanum menghampirinya, dan...
PLAKK...!
Sebuah tamparan keras mengenai sebahagian wajah Arsen. Pria itu hanya menunduk sambil mengusap pipinya yang terasa panas.
"Puas kamu, Arsen?" geram Shanum.
"Maafkan aku, kak!" lirihnya.
"Maaf? Kau meminta maaf setelah kau memperlakukan Bianca seperti binatang, setelah kau membuatnya menderita sejak awal pernikahan, apa yang ada dalam pikiranmu, Arsen?" teriak Shanum.
"Aku tidak bisa mengendalikan egoku!"
"Jika dari awal, kau tidak mencintai Bianca, kenapa kau menikahinya? Untuk apa, Arsen? Untuk apa? Untuk melampiaskan dendammu? Iya?" Shanum memukul tubuh pria itu dengan keras, namun tidak sebanding dengan tenaganya yang mulai melemah.
__ADS_1
"Aku menyesal,Kak! Aku akan membebaskan Bianca, setelah dia sembuh?" ucap Arsen menitikkan air matanya.
"Kau boleh pergi sekarang, Arsen! Aku tidak mau Kak Harland mengetahui semua kejadian ini, atau dia akan membunuhmu!" ancam Shanum.
"Baik kak! Aku akan pergi, aku titip Bianca ya kak!, jika Bianca bangun,....katakan aku minta maaf! Aku sangat mencintainya!" ungkap Arsen, sambil berlalu keluar dari rumah sakit.
Arsen segera pulang kerumahnya, dia mengemasi barang-barang yang diperlukan dan memasukkannya kedalam sebuah koper besar, Tak lupa sebuah potret pernikahannya dengan Bianca, beberapa bulan yang lalu. Sebelum keluar kamar, Arsen meninggalkan sepucuk surat untuk Bianca di atas meja rias. Dan meninggalkan kartu-kartu debitnya diatas surat itu.
Dengan langkah gontai, Arsen berjalan menyusuri trotoar menuju sebuah halte, untuk menunggu bis yang akan membawanya keluar kota.
"Kak Shanum, Arsen mana?" tanya Bianca saat tidak melihat kehadiran pria itu didalam kamar perawatannya.
"Kamu sudah sadar, Bi! Syukurlah! Apa yang kamu rasakan sekarang?" Tanya Shanum tanpa menjawab pertanyaan Bianca.
"Aku merasa lebih baik kak, tapi mana Arsen, aku tidak melihatnya."
Shanum menarik nafas dalam-dalam, kemudian menghembuskannya perlahan.
"Arsen sudah pergi, Bi!" ucap Shanum lirih.
"Kenapa?" tanya Bianca bingung.
"Dia tidak ingin menyakitimu lebih dalam lagi, makanya dia pergi,"
Bianca tampak sedih, matanya kembali berkaca-kaca, sakit ditubuhnya, tidak sebanding dengan sakit yang dia rasakan dalam jiwanya. Arsen akhirnya pergi meninggalkan dirinya, dengan alasan Alter ego yang tidak bisa dia kendalikan. Padahal, Bianca sudah berjanji akan membantu Arsen keluar dari penderitaannya. Berjanji bahwa mereka akan menemui psikiater bersama, untuk mengobati penyakit mentalnya.
"Nyonya Bianca...!" seorang perawat masuk dengan membawa nampan berisi makanan dan segelas air putih dan beberapa macam obat berupa pil.
"Ada apa suster?" Bianca menoleh pada perawat bernama tag nama Viona.
"Makan dulu ya, habis makan minum obatnya!" perintah suster itu.
"Itu obat apa, suster?"tanya Bianca.
"Ini obat penghilang pusing dan mual, juga obat penguat kandungan, nyonya!" jawab suster itu.
Bianca tampak syok, dia memejamkan matanya sejenak.
"Anda tidak tahu, kalau anda hamil?" tanya perawat itu heran.
Bianca menggeleng, dia tidak pernah memeriksakan dirinya ke dokter.
"Usia kandungan anda sudah memasuki 16 Minggu, nyonya! Sebaiknya anda mulai menjaganya dengan baik, agar tidak terjadi keguguran," ujar perawat itu ramah.
__ADS_1
Bersambung...