Bunda (Cinta Yang Hilang)

Bunda (Cinta Yang Hilang)
COUVADE SYNDROM


__ADS_3

Arsen merasa semakin hari tubuhnya semakin lemah, dia memuntahkan semua makanannya setiap kali dia mencoba untuk makan. Perutnya merasa mual dan kembung. Penciumannya sangat sensitif dengan aroma yang berbau tajam. Hal itu berlangsung hampir setiap hari, hingga Arsen tidak bisa beraktifitas dengan tenang. Marisa merasa cemas dengan keadaan Arsen.


Sore itu, Marisa menemani Arsen ke dokter untuk memeriksakan diri. Awalnya Arsen menolak, tapi Marisa tetap memaksanya, karena tubuh Arsen lemas dan pucat.


"Tidak ada satupun penyakit serius pada tubuh anda pak Arsen," kata dokter Farhan, saat memeriksa keadaan Arsen.


"Benarkah? Tapi kenapa tubuh saya makin lemah, dokter? Saya sering pusing, mual dan muntah setiap kali saya mengkonsumsi makanan," keluh Arsen.


"Apakah anda sudah menikah, Pak Arsen?" tanya dokter Farhan memandang Arsen dengan seksama. Arsen mengangguk.


"Apakah istri anda sedang hamil?" tanya dokter Farhan lagi. Arsen termenung sesaat, pernikahannya dengan Bianca baru berjalan beberapa bulan, tapi apakah Bianca bisa hamil secepat itu.


"Saya tidak tahu, dokter! Saya sudah berpisah dengannya 2 bulan yang lalu," jawab Arsen jujur.


"Menurut analisa saya, anda mengalami couvade Syndrom atau kehamilan simpatik, mungkin saja istri anda saat sedang hamil, dan anda yang mengalami gejala morning sickness, seperti hal nya perempuan yang baru hamil. Anda merasa mual mencium bau sesuatu yang menyengat?"


Arsen mengangguk.


"Berapa lama saya harus mengalami couvade Syndrom ini, dok?" tanya Arsen serius.


"Biasanya pada trimester pertama dan ketiga kehamilan, bisa saja hingga bayi anda lahir, penyakit itu akan hilang dengan sendirinya, saya hanya bisa memberi anda obat pusing dan mual, Pak Arsen!" terang dokter Farhan, sambil meresepkan beberapa obat untuk Arsen.


Arsen menarik nafasnya kasar, benarkah Bianca sedang hamil anaknya sekarang, jika iya, Bianca pasti merasa sulit menerima kehamilannya. Tanpa kehadiran suami di sisinya. Atau ini adalah karma atas perbuatannya yang telah membuat Bianca menderita, hingga sekarang, Arsen harus menerima kenyataan itu dengan ikhlas.


Marisa hanya bisa memandangi putranya dengan sedih. Dia ingin membantu Arsen untuk berbagi kesakitannya, tapi dia tidak mampu melakukan apa-apa.


Arsen hanya pasrah dengan penyakit yang dideritanya selama beberapa bulan ini. Makin lama tubuh Arsen makin kurus, dia hanya bisa diam di tempat tidur, tanpa melakukan apa-apa. "Bi, aku merindukanmu!" gumam Bianca dalam tidurnya.


...----------------...


Bianca sudah merasa lebih baik, sejak kepulangan Mommy Sarah, dan Shanum yang selalu memberi semangat untuknya. Apalagi kehamilan Bianca tidak membuatnya harus diam ditempat tidur, dia justru menyibukkan dirinya di perusahaan yang ditinggalkan Arsen begitu saja.


"Bi, Kakak dan Mommy akan membeli peralatan untuk melahirkan, kamu ikut ya! Ajak Shanum siang itu.


"Boleh kak, aku juga mau membeli peralatan untuk bayiku!" ucap Bianca bersemangat.


"Nah gitu dong, yang semangat, ayolah Mommy sudah nungguin di mobil?" Shanum menarik tangan Bianca keluar dari kamarnya.


Bersama Mommy Sarah, Bianca dan putri-putrinya, Shanum berbelanja ke Mall, untuk membeli peralatan bayi dan kebutuhan anak-anaknya. Jasmine dan si kembar tampak gembira ikut memilih hadiah untuk calon adik mereka.

__ADS_1


"Bunda, adik bayinya cowok apa cewek?" tanya Jasmine.


"Cowok," jawab Shanum tersenyum cerah.


"Kalau begitu, Jasmine pilih hadiah sepatu aja ya," ucap Jasmine


"Terserah Jasmine saja, sayang! Jangan lupa pilih apa yang Jasmine suka, untuk Jasmine dan adik-adik!" ucap Shanum.


"Oke Bunda, makasih ya!" Jasmine memeluk Shanum dengan sayang.


"Sama-sama, sayang!"


...----------------...


Persalinan Shanum tinggal menghitung hari, Harland sudah memboking rumah sakit, jauh-jauh hari. Dia menyewa satu lantai rumah sakit, agar keluarganya bisa datang kerumah sakit tanpa ada gangguan dari orang lain.


Jasmine bersama si kembar Shera dan Shena serta Flo menemani bundanya ke rumah sakit. Keluarga besar Harland tampak bahagia menyambut kelahiran bayi Shanum.


Harland tampak gugup berdiri di depan ruangan tempat Shanum melahirkan.


"Alan, masuk sana! Temani Shanum," ujar Mommy Sarah.


"Aku takut Mom!" jawab Harland menggenggam kedua tangannya yang berkeringat dingin.


Shanum tersenyum saat suaminya masuk, menggenggam jemarinya erat. Persalinan Shanum berlangsung normal dan singkat. Seorang bayi laki-laki, yang menggemaskan.


"Selamat Bu Shanum, pak Harland, bayinya laki-laki," ucap suster yang membantu proses kelahiran bayi Shanum.


Kedua pasangan itu tersenyum sumringah. Harland membelai kening Shanum yang basah oleh keringat dan mengecupnya lembut.


"Terimakasih sayang, sudah memberikan hadiah yang begitu berharga dalam hidupku!" ucap Harland tulus.


"Sama-sama, kak!Aku juga bahagia, bisa memberimu seorang anak laki-laki yang kakak idamkan,"


"Aku ingin mengadakan pesta syukuran atas kelahiran putra kita, sayang!"


"Terserah padamu, Kak!" Ucap Shanum menyandarkan tubuhnya dalam pelukan Harland.


Mommy Sarah juga ikut bahagia dengan kelahiran cucu pertamanya. Dulu dia pesimis jika Harland memiliki keturunan, saat Monica tidak kunjung hamil. Sekarang kekhawatirannya pupus sudah, dengan kehadiran bayi mungil berkulit putih dan berhidung mancung itu.

__ADS_1


"Kamu sudah menyiapkan nama untuknya, Lan?" tanya Mommy Sarah.


"Sudah ada beberapa nama, Mom! Tapi aku akan mencari yang cocok untuk bayiku yang tampan ini!" Harland tak hentinya menciumi wajah menggemaskan putranya.


"Coba sebutkan, biar nanti Mommy yang pilih!"


"Bagaimana kalau Gabriel Harland Myers, Mom!"


"Gabriel, Mommy suka!" ucap Mommy tersenyum senang.


"Aku juga suka nama itu, Mom!" ujar Bianca tersenyum, sambil memegang perutnya yang mulai membesar.


"Apa bayiku akan setampan Baby Gabriel, Kak!" tanya Bianca polos.


"Tentu saja, Bi! Karena Arsen juga tampan," sahut Shanum. Bianca tampak muram, mendengar nama itu. Shanum merasa tidak enak hati


"Maaf Bi! Kakak tidak bermaksud membuatmu sedih," Shanum meraih tangan Bianca dan menguatkan agar tidak bersedih.


"Tidak apa-apa, Kak!" Bianca memaksakan diri untuk tersenyum.


Disaat keluarga Myers sedang bersuka cita, dengan kehadiran seorang jagoan keluarga mereka. Berita duka datang dari keluarga Mahendra, Adam Mahendra meninggal dunia karena penyakit jantung yang dideritanya.


Devan tampak terpukul, karena tidak mampu menyelamatkan nyawa ayahnya, karena biaya pengobatan yang tidak sedikit. Sementara uang yang dipinjamkan Harland untuk mengatasi hutang-hutang perusahaannya, habis dibawa lari Vania untuk berfoya-foya.


Dan meninggalkan anaknya Darren bersama Devan.


"Devan, Mommy tidak menyangka, Vania akan tega melakukan semua ini pada kita," ujar Sonia pada putranya Devan setelah pemakaman Adam Mahendra.


"Aku sudah curiga dari awal, Ma! Tapi mama terus saja membela Vania, sekarang lihat, kita sudah benar-benar bangkrut Ma," jawab Devan kesal.


"Mama minta maaf, Devan! Mama menyesal telah memaksamu menikah dengan Vania, dan memisahkan kamu dengan Shanum!" ucap Mama Sonia tulus.


"Semua sudah terlambat untuk meminta maaf, ma, Shanum tidak akan kembali pada kita!"ujar Devan kecewa. "Sekarang aku harus memikirkan bagaimana caranya membayar uang yang kita pinjam dari Harland?" Devan memijit pelipisnya dengan keras. Kepalanya terasa mau pecah.


"Mama punya beberapa koleksi barang branded di kamar, kita bisa menjualnya," kata Sonia.


"Aku akan mencoba menghubungi situs jual beli online, Ma, jika masih kurang, aku terpaksa harus menjual rumah ini!" Kata Devan sedih. Mama Sonia hanya mengangguk tanda setuju.


"Mama akan menghubungi orang tua Vania dan menuntut mereka agar mau membayar uang yang telah di bawa lari putrinya!" kata Sonia dengan wajah emosi.

__ADS_1


"Percuma saja, Ma! Sudahlah biarkan saja, aku akan menjual rumahku juga, termasuk barang-barang berharga Vania yang ada dirumah itu!" Ujar Devan, mencoba untuk tidak terbawa emosi.


Bersambung...


__ADS_2