Bunda (Cinta Yang Hilang)

Bunda (Cinta Yang Hilang)
KETAHUAN


__ADS_3

Hampir satu bulan lamanya, Arsen menyembunyikan Ryu dari semua orang. Dia memperkenalkan Ryu di kantor sebagai staf ahli yang akan membantu mengembangkan usaha bisnis digitalnya.


Hingga sikap Ryu berubah posesif, dan ingin memiliki Arsen seutuhnya. Hal itu membuat Arsen gelisah. Di satu sisi, Arsen masih mencintai Bianca, namun disisi lain, dia nyaman bersama Ryu. Atas desakan Ryu, akhirnya Arsen memilih untuk menceraikan Bianca, Karena tidak ingin menyakiti Bianca terlalu dalam.


"Ayolah, Arsen! Kamu putuskan sekarang, izin tinggal ku di Indonesia hanya dua hari lagi, kamu ikut aku ke Jepang, atau aku yang akan menetap disini," kata Ryu memberi pilihan yang sama-sama sulit.


"Baiklah, aku akan ikut bersama mu ke Jepang!" kata Arsen pada akhirnya. "Sudah ku bilang, kan! Kalau di negara ini, orang seperti kita di tentang oleh masyarakat."


"Pilihan yang bagus, Sayang!" Ryu tersenyum penuh kemenangan.


...----------------...


Disinilah, Arsen sekarang, di Apartemen milik Ryu. Ryu berjanji akan memberi Arsen pekerjaan di perusahaannya. Setelah izin menetap Arsen disetujui oleh dinas imigrasi kota Tokyo.


"Arsen! Bangunlah, aku membelikan makanan untukmu, kamu pasti lapar, kan?" kata Ryu menggoyang pundak Arsen.


"Mm, sebentar sayang, aku masih ngantuk!" Arsen kembali memejamkan matanya, yang masih terasa berat.


"Nanti makanannya dingin, Arsen! Ayolah,"


"Lima menit lagi, Bianca! Aku masih lelah!"


"Arsen!" teriak Ryu kesal, saat Arsen menyebut nama Bianca. Pria itu merajuk.


Arsen bangkit, saat menyadari ucapannya.


"Ryu, sorry...aku tidak sengaja!" Arsen memeluk Ryu dari belakang.


"Please, jangan merajuk dong! Oke aku makan, tapi suapin ya!" goda Arsen, hingga wajah Ryu kembali cerah.


Sementara itu, Bianca mulai menata kembali hidupnya. Dia tidak ingin larut dalam kesedihan terlalu lama. Bianca kembali bekerja di perusahaannya.


Bianca telah bersiap dengan setelan kantornya, memandang tubuhnya dibalik cermin. Masih langsung seperti biasa, senyum cerah menghiasi wajah cantiknya.


Dia datang lebih awal ke kantor, dan menunggu Devan di ruangannya.


"Bianca! ... tumben main ke kantor?" ujar Devan kaget melihat kehadiran Bianca di kantornya.


"Aku bosan di rumah Kak, jadi aku memutuskan untuk bekerja kembali," jawab Bianca sambil bersandar di meja kerjanya


"Baiklah, kamu boleh kembali duduk di kursi mu!" kata Devan.


"Tidak kak! kakak saja yang duduk disitu, aku di bagian yang lain saja," kata BIanca.


"Apa Arsen mengizinkan kamu kembali bekerja Bianca?" tanya Devan.


Bianca diam, saat Devan menyebut nama Arsen. Air matanya jatuh membahasi pipinya yang mulus.

__ADS_1


"Kenapa Bi? Bicaralah! Bisik Devan lembut. Bianca ragu untuk berterus terang pada Devan. "Apa yang terjadi?"


"Arsen menceraikan ku, kak! Aku tidak tahu Dimana dia sekarang."


"Keterlaluan sekali anak itu," geram Devan menarik Bianca yang tampak sedih kedalam pelukannya.


"Tapi, aku mohon, jangan beritahu Kak Harland ya, kak!" kata Bianca cemas.


"Iya, jangan khawatir!" bisik Devan lembut.


"Oh, maaf!" Bianca mengurai pelukannya, saat menyadari dia berada dalam pelukan Devan.


"Bianca, aku senang, kamu mau berbagi kesedihanmu denganku," kata Devan kemudian.


"Aku juga senang, kakak mau mendengarkan keluh kesah ku!" Bianca kembali duduk di sofa.


"Bagaimana keadaan Arkan?" tanya Devan


"Arkan baik kak, kemaren sempat demam, tapi sekarang sudah sembuh,"


"Sekarang, mari mulai bekerja, jangan sampai kamu sakit, karena terlalu banyak pikiran," nasehat Devan. Bianca tersenyum tipis.


Kehadiran Devan, sedikit membuat Bianca merasa tenang. Dan melupakan rasa gelisah nya.


Sebulan setelah kepergian Arsen dari hidupnya, Bianca mulai terbiasa, dia menghabiskan waktunya di kantor, dengan membawa Arkan. Jika waktu istirahat tiba, Devan akan bermain dengan Arkan, hingga anak itu lengket dengannya.


Rumor kedekatan Devan dan Bianca kembali menjadi topik pembicaraan karyawan mereka di kantor, hingga sampai di telinga Mommy Sarah.


"Mommy?" Bianca kaget saat melihat Mommy Sarah, tiba-tiba muncul di depannya. Menatap mereka dengan penuh tanda tanya.


"Bu Sarah, selamat siang!" sapa Devan.


"Selamat siang, Devan. Maaf, nak! Ibu ingin bicara dengan Bianca sebentar," kata Mommy Sarah.


"Baik Bu, saya permisi! Bianca, Arkan aku ajak keluar ya!" kata Devan mengendong bayi Arkan keluar ruangan, tanpa menunggu persetujuan Bianca.


Setelah Devan keluar, Mommy Sarah duduk di sofa sambil menatap Bianca lekat.


"Bi, apa benar kamu berhubungan dengan Devan, ibu mendengar gosip itu kemaren," tanya Sarah.


"Kalau benar, nggak apa-apa kan,Mom! Aku janda dan Kak Devan juga sudah berpisah dengan istrinya," kata Bianca santai.


"Sejak kapan kamu menjadi janda, Bi? Suara Mommy Sarah terdengar kaget.


"Oh, sejak sebulan yang lalu, Mom," jawab Bianca akhirnya jujur, karena keceplosan.


"Kenapa kamu tidak kasih tahu,Mommy?" Mommy Sarah tampak kecewa dengan keadaan putrinya.

__ADS_1


"Aku tidak mau membuat kalian gelisah memikirkan aku, " kata Bianca


"Bianca, kamu baik-baik saja, Nak?"


"Ya, Aku baik-baik saja Mom! Awalnya memang sedikit galau, tapi setelah itu, aku sudah terbiasa," kata Bianca.


"Kenapa kalian bercerai?" tanya Mommy Sarah.


"Aku juga tidak tahu Mom, tiba-tiba Arsen pulang dalam keadaan kacau, dan malam itu dia bilang akan menceraikan ku, Karena tidak ingin membuatku lebih terluka lagi."


"Yah, Mommy bisa apa, kalau emang itu jalan yang berbaik bagi kalian berdua, tapi bagaimana jika dia kembali?"


"Aku sudah bertekad untuk melupakan Arsen, Mommy," Jawab Bianca.


"Kamu menyukai Devan?" tanya Sarah. Bianca diam sejenak, dia tidak ingin munafik, hari kecilnya sangat menginginkan Devan menjadi pelindung dirinya dan Arkan.


"Aku tidak tahu,Mom! Aku hanya merasa nyaman berada di dekat kak Devan. Arkan juga begitu akrab dengannya," kata Bianca.


"Kamu harus memikirkan segala sesuatunya, sebelum dekat dengan seorang pria!" kata Sarah.


"Ya Mom! Aku hanya mengikuti alurnya saja, jika suatu hari nanti, aku berjodoh dengan kak Devan. Aku akan menerimanya!" kata Bianca, yakin.


"Bagi Mommy, siapa pun pilihanmu,Mommy tidak akan melarang. Yang penting, dia bisa mencintaimu dan Arkan" ucap Mommy.


"Ya Mom, Kak Devan itu orangnya baik, dan sayang pada anak-anaknya, pada Arkan juga,"


"Mommy tahu, ...dulu Devan, dibawah kendali ibunya, hingga harus berpisah dengan Shanum."


"Kak Devan juga sudah pernah cerita, Mom!" kata Bianca tersenyum.


...----------------...


"Apa? Arsen menceraikan Bianca?" seru Harland mendengar cerita Mommy Sarah, dengan wajah penuh amarah.


"Aku akan mencari bajingan itu, Mom!"


"Sudahlah, Nak, tidak perlu memakai kekerasan, toh Bianca sudah menerima keputusan Arsen, dia tampak lebih bahagia sekarang," kata Mommy Sarah.


"Baguslah, sekarang Bianca sadar, kalau bajingan itu tidak pantas untuknya," ucap Harland.


"Bianca kembali bekerja, Mom?" tanya Shanum.


"Iya, dia membawa Arkan ke kantor, anak itu lengket dengan Devan." ujar Mommy.


"Jadi gosip mereka pacaran itu benar?" tanya Harland.


"Mereka memang dekat, tapi mereka tidak pacaran. Tapi kalau memang mereka berjodoh, Mommy tidak keberatan," kata Mommy Sarah tersenyum.

__ADS_1


Harland dan Shanum saling pandang. Kemudian Shanum mengangguk tanda setuju.


Bersambung


__ADS_2